Tradisionalisme Jawa: Pemikiran Politik Indonesia

Tradisionalisme Jawa: Pemikiran Politik Indonesia

Penyusun: Redaksi Kajian Politik

Seperti yang sudah disinggung dalam tulisan sebelumnya, Herbert Fieth and Lance Castles dalam buku berjudul “Indonesian Political Thinking 1945-1965” menyebut salah satu pemikiran politik di Indonesia pada awal kemerdekaan adalah tradisionalisme Jawa.

Pertanyaannya kemudian, apa alasan Fieth dan Castles memasukkan tradisionalisme Jawa sebagai bagian dari pemikiran politik Indonesia? Alasannya bisa ditebak. Terdapat dua hal yang menjadi faktor kunci:

  1. Hampir separuh dari penduduk Indonesia berada di Jawa, dan
  2. Sebagian besar administrator pemerintahan dipegang oleh orang Jawa

Dua faktor itu menjadi Fieth dan Castles berargumen bahwa tradisionalisme Jawa menjadi salah satu pemikiran politik dominan dan penting di Indonesia.

Tulisan ini akan menyajikan, atau mungkin lebih tepatnya, menyebutkan beberapa gambaran bagaimana pemikiran politik dalam konteks tradisionalisme Jawa, utama tentang bentuk negara ideal, konsep kekuasaan, kepemimpinan, dan etika.

Keseluruhan bahan dalam tulisan ini diambil dari penjelasan Suttisno (2015) dalam makalah berjudul ”Pemikiran Politik Tradisionalisme Jawa” Handout Mata Kuliah Pemikiran Politik Indonesia FISIP Universitas Airlangga.

 

Konsep Tradisionalisme Jawa Tentang Sistem Politik Ideal

Kata kunci memahami salah satu konsep sentral pemikiran sistem politik ideal tradisionalisme jawa adalah ”Integralistic state” (manunggaling kawulo lan Gusti). Konsep politik ideal ini tercermin dalam pidato Soepomo dalam sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945.

Dasar argumen dari konsep negara integral ini adalah bahwa setiap negara punya kekhasan dan latar belakang sejarah yang berbeda, sesuai dengan kultur masing-masing, sehingga tidak bisa diperbandingkan antara negara satu dan lainnya. Seperti negara-negara barat yang mengagungkan individualisme dan liberalisme.

Sistem politik yang cocok adalah yang sesuai dan tidak bertentangan dengan kultur bangsa Indonesia, yakni kekeluargaan ( atau disebut demokrasi ala Indonesia).

Contoh: Desa (pada waktu itu) sebagai model, hubungan antara rakyat dan pemimpin sangat akrab. Ada kesatuan antara mikro kosmos dan makro kosmos, antara jagad cilik dan jagad gede, antara dirinya sendiri dan masyarakat.

Idealisasinya adalah terwujudnya ”toto titi tentrem kerto raharjo, gemah ripah low jinawi(tercermin dalam Jejer Wayang Purwo). Oleh sebab itu, tidak dikenal adanya konsep oposisi atau kritik sosial, apalagi konsep kekuasaan tandingan (matahari kembar), sama sekali tidak dibenarkan dalam pemahaman negara integral ala tradisionalisme Jawa.

Konsep Tradisionalisme Jawa Tentang Kekuasaan

Benedict ROG Anderson dalam “The Idea of  Power in Javanese Culture”, (dalam Claire Holt, ed. Culture and Politic in Indonesia, Cornell UP, 1972) menjelasan konseps-i-konsepsi dasar kekuasaan Jawa.

(Ben Anderson, seorang Indonesianis yang menguraikan perbedaan kekuasaan di Barat dan di Jawa. Sumber Gambar: Times)

Menurut Anderson, konsepsi kekuasaan menurut Jawa berbeda secara radikal dengan konsep kekuasaan yang sudah berlaku di Barat sejak abad pertengahan. Pemahaman tentang kekuasaan menurut Jawa dapat dipermudah dengan mempertentangkannya secara skematis dengan aspek-aspek yang lebih menonjol dalam konsep Eropa Modern.

Berikut perbedaannya:

Kosep Kekuasaan di Barat:

  • Kekuasaan itu abstrak, dalam pengertian yang terbatas berarti “tidak ada”. Adalah sebuah kata yang dipergunakan untuk menjelaskan sebuah hubungan abstrak. Contoh: kewibawaan atau kebenaran, juga abstrak.
  • Sumber kekuasaan adalah heterogen
  • Pengumpulan kekuaasan tidak mempunyai batas-batas yang tak terpisahkan (inheren)
  • Secara moral kekuasaan itu berwatak rangkap

Konsepsi Kekuasaan Jawa:

  • Kekuasaan itu konkrit, dalam arti ”ada” tidak tergantung orang yang menggunakannya, dan merupakan kenyataan exsistensial yang wujud.
  • Kekuasaan itu homogen, mempunyai jenis yang sama dan sumber yang sama.
  • Besarnya kekuasaan dalam alam semesta adalah konstan. Dalam alam pikiran Jawa, alam semesta tidak mengembang atau mengkerut.
  • Kekuasaan tidak menimbulkan persoalan pengesahan, sah atau tidak sah,kekuasaan itu ada.

 

Konsep Tradisionalisme Jawa Tentang Kepemimpinan

Beberapa konsep kepemimpinan Jawa yang populer diantaranya adalah Astho Brotho. Astho Brotho adalah Wejangan Romo kepada Gunawan Wibisono pada saat dilantik menjadi Raja Alengka menggantikan Rahwana. Astho memiliki arti delapan dan Brotho berarti laku.

Sederhanya,  delapan sifat dewa yang harus dicerminkan dalam sikap dan perilaku pemimpin.

Bahwa Astho Brotho itu merupakan suatu keseluruhan dan tidak berdiri sendiri-sendiri, sehingga pemahaman tentang salah satu brotho selalu terkait dengan brotho-brotho yang lain.

Seorang pemimpin yang menjalankan Asta Brata mempunyai kekuasaan dan kewibawaan yang sangat besar, sehingga dengan mudah dapat menggerakkan bawahannya bekerja melaksanakan tugas masing-masing. Pemimpin yang demikian memiliki kemampuan berani mengambil keputusan dan menanggung resiko atas akibat-akibat dari keputusan yang diambil. Mendapatkan kesetiaan dan ketaatan dari bawahan untuk menjalankan perintah-perintah dari pemimpin tersebut.

Delapan laku dalam Astho Brotho adalah

Pertama, Indra Bratha (dewa hujan). Seorang pemimpin harus dapat memberi kesenangan jasmaniah bawahannya (ini yang merupakan dasar dari human relations). Seperti dewa Indra memberi hujan dan air, sehingga menyebabkan hidup suburnya semua makhluk hidup didunia. Kebutuhan jasmaniah dianalogikan sebagai kebutuhan ekonomi, seperti gaji dan upah yang cukup.

Kedua, Yama Bratha (Yamadipati dewa pencabut nyawa) menunjukkan adilnya seorang pemimpin (dalam memberikan sanksi);

Ketiga, Surya Bratha (dewa matahari) dapat menggerakkan bawahan secara persuasif; Keempat, Caci/Candra Bratha (dewa bulan) dapat memberi kesenangan yang bersifat rokhaniah;

Kelima, Bayu Bratha (dewa angin) menunjukkan keteguhan pendirian dan dapat merasakan kesulitan bawahan; Keenam, Dhanaba/Kuwera Bratha menjadi panutan dan dapat menunjukkan sikap yang patut dihormati;

Ketujuh, Paca/Baruno Brotho dapat menunjukkan kelebihan, kepandaian, dalam ilmu pengetahuan;

Kedelapan, Agni Bratha (dewa api) memberikan semangat (enthusiasm).

Selain Astho Brotho juga dikenal konsep kekuasaan lainnya seperti ”Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” dari Ki Hajar Dewantara, Satriya Pinandita (konsep Redi Tanoyo) Watak Ksatriya dan Pendeta, dan tentunya masih banyak yang lainnya.

 

Konsep Tradisionalisme Jawa Tentang Etika

Banyak sekali ajaran terkait etika dalam tradisionalisme Jawa. Berikut ini disebutkan beberapa:

Gambuh, bait ke 4 (dalam Wulang Reh oleh Sri Paku Buwono IV) berbunyi:

”Ana pocapanipun, adiguna adigang adigung, pan adigang kidang adigung pan hesthi, adiguno ulo iku, telu pisan mati sampyoh”. Bait ke 11: “Katelu nora patut, yen tiniru mapan dadi luput, titikane wong anom kurang wawadi, bungah akeh wong anggunggung, wekasane kajalomprong…” 

Artinya: Ada ucapan adigang, adigung dan adiguno. Adigang dilambangkan seekor kijang yang mengandalkan kegesitanya melompat dan lari kencang. Adigung dilambangkan seekor gajah yang mengandalkan kebesaran dan kehebatan kekuatan tubuhnya. Adiguno dilambangkan seekor ular yang mengandalkan kemujaraban bisa racunnya.

Ketiga-tiganya mati bersama-sama. Seorang putra raja sebaiknya jangan memiliki ketiga sifat tersebut, sebab: menyombongkan dirinya sebagai putra raja sambil menepuk dada dan mengatakan: siapa yang berani dengan saya? Hal demikian akan berakibat tidak terhormat.

Menyombongkan kepandaiannya sambil menepuk dada dan mengatakan kepandaian siapa yang dapat menyamai kepandaian saya? Tapi sebenarnya dia sama sekali tidak punya kepandaian apa-apa. Menyombongkan keberaniannya, akan tetapi setelah dihadapi sungguh-sungguh, ternyata dia tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan menjadi bahan tertawaan.

Oleh karenanya orang hidup di dunia harus bersikap rereh (sabar), ririh (perlahan, tidak tergesa-gesa), dan berhati-hati.

Ada lagi Pangkur, bait 29 (dalam Wulang Reh oleh Sri Paku Buwono IV) sebagai berikut:

”Bronggan tan mrelokena, mungguh ugering ngaurip, uripe lan tri prakoro: wiryo, arto, tri winasis, kalamun kongsi sepi, saka wilangan tetelu, telas tilasing janma, aji godhong jati aking; temah papa papariman ngulandara.

Artinya: Adalah salahnya sendiri jika orang mengabaikan perikehidupan dan penghidupannya yang terdiri dari tiga macam (tiga syarat hidup di dunia) yakni:

(a) Wirya, artinya berusaha bekerja untuk mencapai kedudukan yang layak sesuai dengan kemampuan dan prestasi kerja yang membawa penghasilan  sumber hidup (gaji/penghasilan, dan sebagainya);

(b) Harta, artinya berusaha mendapatkan modal uang yang halal dari sedikit demi sedikit, agar dapat berdagang, bertani atau nukang, dan sebagainya.

(c) Cendekia/winasis, artinya berusaha mendapatkan pengetahuan atau ketrampilan baik kasar maupun halus yang membawa sumber penghidupan. Bilamana satu dari tiga syarat hidup tersebut tidak dilaksanakan atau tidak dicapai maka hidupnya didunia ini tak ada gunanya, ibarat daun jati kering yang tak berharga akhirnya jadi peminta-minta atau gelandangan.

Sinom, bait ke 15 (dalam Wedhotomo oleh KGPAA Mangkunegoro IV), sebagai berikut:

”Nulada laku utama; tumrap ing wong tanah Jawi, wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senapati, kapati amarsudi, sudaning hawa lan nafsu, pinesu tapa brata, tanapi ing siyang ratri, amamangun karyenak tyasing samama”.

Artinya: orang yang demikian itu antara lain  mendiang Panembahan Senapati dari Mataram. Orang yang siang maupun malam selalu berusaha memadamkan berkobarnya hawa nafsu dan membangun watak cinta kasih diantara sesamanya.

Asmorodono, bait ke XI (dalam Wulangreh oleh Sri Paku Buwono IV) sebagai berikut.:

”Bait (1) Padha netepana ugi, parentahing sarak, terusna lair batine, sholat limang wektu uga, tan kena tininggala, sapa tinggal dadi gabug, yen misih dhemen neng praja. (3) Kudu uga den lakoni, rukun lilimo punika, mapan ta sakuwasane, nanging aja tan linakyan, sapa tan nglakonana, tan wurung nemu bebendu, pada siro estokena ….”

Artinya: Orang hidup di dunia, setidak-tidaknya harus menjalankan rukun Islam sholat lima waktu, serta patuh pada peraturan agama. Barang siapa tidak menjalani rukun Islam bakal mendapat bala’. Patuhlah pada sabda Tuhan  melalui nabi Muhammad, sebagaimana disebut-sebut dalam hadist. Anak cucu, dalam hidup janganlah kalian terbuai oleh keindahan duniawi, ingatlah bahwa kelak kalian akan mati.

 

Baca juga tulisan lainnya:

Pemikiran Politik Indonesia: Latar Belakang dan Beragam Alirannya

Jokowi dan Konsep Kekuasaan Jawa

Pengertian Sosialisme dan Sosialisme Demokrasi

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments