The Power of Ustaz Digital Friendly

(Evie Efendi, salah seorang ustaz kenamaan di media sosial dan kalangan remaja. Sumber Gambar: Masjid Trans)

Center for The Study of Religion and Culture (CRSCS) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama sama dengan beberapa pihak, diantaranya PPIM UIN Jakarta dengan dukungan UNDP dan CONVEY, melakukan penelitian yang kemudian hasilnya dibukukan dengan judul “Kaum Muda Muslim Milenial: Konservatisme, Hibridasi Identitas, dan Tantangan Radikalisme” (2018).

Penelitian tersebut dilaksanakan pada September 2017 hingga Januari 2018 yang melibatkan para pemuda-pemudi muslim dengan rentang umur 15-24 tahun, yang tersebar di 18 Kabupaten di 14 provinsi di Indonesia, diantaranya Jakarta, Bandung, Balikpapan, Banda Aceh, Makasar dan lain-lain.

Para pemuda tersebut dianggap mewakili aktifis Islam atau yang berkecimpung dalam pengurus dari mulai Rohis (Kerohanian Islam) maupun OSIS di sekolah menengah hingga Ormek (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus) maupun BEM di kampus.

Salah satu hasil temuannya mengungkapkan bahwa ustaz paling dikenal oleh publik dan generasi muda adalah Aa Gym, Yusuf Mansur, (alm) Jefry al-Bukhory dan lain-lain. Selain itu, ada bebepa nama Ustaz yang dikenal luas karena mereka viral di media sosial, sebut saja Hanan Attaki, Adi Hidayat, Abdul Somad, Khalid Basalamah, dan Felix Siaw.

Nama lain yang cukup dikenal masih merujuk pada pendakwah lokalitas yang rajin mengunggah pengajiannya di internet, seperti Evie Efendi dan Jujun Junaidi di Jawa Barat serta Salim A Fillah di Yogyakarta. Lebih jauh lagi, popularitas mereka melampaui tokoh-tokoh organisasi Islam mainstream di Indonesia. Beberapa tokoh agamawan yang masih ada tidak terlalu banyak atau bahkan tidak dikenal oleh para remaja muslim.

Misalnya figur dari Muhammadiyah yakni Haedar Nashir maupun dari NU seperti Said Aqil Siradj tidak banyak disebut. Bahkan tokoh sekelas (mantan) Ketua MUI Kyai Ma’ruf Amien yang memiliki pengaruh sosial politik luar biasa (sekarang jadi Wapres) sebelumnya tidak begitu dikenal. Dari pemuda NU lebih banyak mengenal sosok mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan seorang ulama kharismatik dari Rembang, yakni Kiai Musthafa Bisri (Gus Mus) yang sebenarnya tidak masuk kategori Ustaz viral.

Ada beberapa alasan yang membuat para Ustaz Internet tersebut sangat hits di kalangan pemuda Muslim. Diantaranya, pertama. Kemudahan untuk mengakses dakwah melalui internet. Kedua, konten ceramah dan penampilan pendakwah lebih menarik serta dapat memahami psikologis anak muda dengan berbagai persoalannya, seperti tuntutan berprestasi, pacaran dan seterusnya.

Penjelasan terakhir hampir sama dengan apa yang disampaikan oleh Ariel Heryanto. Ariel Heryanto  melalui buku “Identitas dan Kenikmatan” menyatakan, “Bagi sebagian besar orang di negeri dengan jumlah Muslim terbesar di dunia, terutama bagi kaum mudahnya, ketaatan beragama dan modernitas sama menariknya dan tak selalu keduanya saling bertentangan (Heryanto, 2018: 47). Masyarakat modern, khususnya pemuda urban, mengalami semacam dilema antara dua hal, mereka tetap ingin berpartisipasi penuh dalam dunia modern, namun tetap ingin tidak menanggalkan identitas keagamaan mereka.

Mereka tetap ingin menikmati gairah konsumsi kapitalisme global yang modern, maka agama berperan menjadi basis bagi legitimasi mereka merayakan gengsi dan kenyamanan yang mereka dapatkan.

Untuk menjembati dua identitas tersebut, muncul para pendakwah baru bagi masyarakat urban. Mereka adalah makhluk luar biasa yang sebagian tidak mengalami proses pembelajaran keagamaan di pondok pesantren maupun institusi sekolah formal keagamaan.

Mengingat segmentasi para pendakwah baru adalah kaum muda perkotaan, persoalan-persoalan yang sering muncul dalam dakwah berpusat sekitar problematika kehidupan remaja, seperti soal pacaran, hukum bermain game, diet, kosmetik, menjadi penggemar K-Pop dan seterusnya. Intinya mereka memberikan jawaban atas segala persoalan yang lagi trend bagi kalangan pemuda urban.

Penampilan mereka pun kadang layaknya artis yang fashionable. mereka senantiasa mengikuti apa saja yang sedang trend dan terkesan menghapus jarak mereka dengan para audiens. Tentu hal ini berkebalikan dengan gaya dakwah konvensional yang seakan-akan memberikan batasan yang cukup jauh antara pendakwah dengan pendengarnya. Ditambah lagi gaya mereka dalam mengkomunikasikan dakwah dengan santai dan kadang sering disisipi humor.

Jelas selain itu kehadiran mereka menjadi solusi bagi masyarakat perkotaan yang ingin mendapatkan pemahaman agama secara instan. Para pendakwah baru tersebut telah berhasil mengatasi dilema hasrat modernitas dengan identitas keagamaan yang telah menyatu begitu erat.

Mereka memiliki keunggulan dalam hal berkomunikasi dan memanfaatkan media baru, yang juga menandai era interaksi modernitas global, yaitu internet. Internet menjadi teknologi yang tidak bisa dibendung memberikan fasilitas bagi para pendakwah generasi baru tersebut untuk muncul sebagai pemandu atas berbagai persoalan keagamaan.

Kembali pada temuan penelitian PPIM, bahkan menurut beberapa informan dalam penelitian mengungkapkan para pendakwah internet tersebut bukan hanya menambah asupan materi keagamaan saja, tapi juga mampu mengubah sikap keagamaan.

Sebagaimana yang dialami Shekila Zahra, official admin Niqob Squad Jakarta, yang memutuskan bercadar setelah mendengar video ceramah Ustaz Kholid Basalamah di Youtobe yang menjelaskan karakter calon perempuan penghuni surga.

Lebih jauh lagi, para pemuda muslim yang sangat menggandrungi para pendakwah tersebut bukan hanya terinspirasi untuk menjalankan ajaran dalam kehidupan sehari-hari, mereka pun rajin membagi pengajian-pengajian di dunia maya.

Pada akhir kesimpulannya dalam bab “Media Sosial dan Reduksi Pembelajaran Keagamaan”, penelitian tersebut menyatakan, pengetahuan yang didapat di jagat media maya telah benar-benar memproduksi kesadaran dan perilaku bagi para pemuda.

Temuan lain berkaitan dengan hal tersebut adalah bagaimana kekuatan arus agama melalui internet telah benar-benar mereduksi peran keluarga dan sekolah formal dalam membentuk pemahaman pemuda muslim.

Hal terakhir yang diungkap di atas wajar mengingat secara praktek memang pendidikan orang tua benar-benar berlangsung ketika seorang masig kecil sebelum kemudian dititipkan kepada lembaga pendidikan.

Di sekolah pendidikan pun, yang notabennya bukan sekolah keagamaan maupun bukan dalam lingkup pesantren, komposisi materi keagamaan terasa sangat kurang sebagai pedoman dalam menghadapi kompleksitas kehidupan modern yang begitu cepat berlangsung. Kurikulum yang digunakan hanya bisa menyentuh wilayah permukaan dari apa yang dibutuhkan dari kehidupan mental modern para remaja.

Akhirnya, di sini kembali lagi, para ustaz internet menjadi semacam mentor kerohanian yang mengisi kehampaan akan kebutuhan jiwa anak muda dalam mengarungi kehidupan.

Saya teringat perkataan salah satu pengamat teroris di salah satu stasiun televisi swasta yang menyatakan, berbagai kutukan bagi yang dilakukan MUI, NU maupun Muhammadiyah kepada aksi teror memang baik, namun kurang berdampak luas untuk mencegah bias informasi tentang kejadian teror agar tidak dianggap sebagai “pengalihan isu”. Ustaz-ustaz viral di Indonesia yang sebenarnya perlu ditunggu responnya kepada publik. Jika mereka mengatakan bahwa bom adalah pengalihan isu semata, di media sosial akan ramai mengikuti statement itu.

Pernyataan tersebut dapat dibenarkan mengingat hari ini para pendakwah milenial inilah yang lebih diikuti oleh para pengguna media sosial dibanding pemegang otoritas tradisional.

Ancaman Bagi Otoritas Tradisional

Nadirsyah Hosen (2008) dalam tulisannya berjudul “Online Fatwa in Indonesia: From Fatwa Shopping to Googling Kiai” menjelaskan, perkembangan internet di Indonesia telah merubah pola bagaimana cara mensosialisasikan fatwa dan bagaimana seorang individu mencari jawaban atas pertanyaan agama.

Fatwa merupakan pandangan hukum Islam yang dikeluarkan oleh para ilmuwan agama atas pertanyaan yang diajukan oleh kebutuhan seseorang, hakim, pemerintah maupun badan tertentu.  Tiga organisasi yang dianggap memiliki otoritas untuk menerbitkan fatwa bagi masyarakat adalah NU, Muhammadiyah dan MUI.

Ketiga organisasi tersebut menyebarkan fatwa-fatwa mereka kepada komunitas muslim lebih luas melalui kertas atau buku. Misalnya NU dengan buku kompilasi berjudul “Masalah Keagamaan Hasil Mukhtamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama 1926-1994” (1997), Muhammadiyah dengan “Himpunan Putusan Tarjih”.

Perkembangan teknologi terutama melalui internet telah membuka ruang lebar bagi para penggiat dakwah keagamaan menyediakan alternatif fatwa di luar pihak yang memiliki otoritas tradisional yang telah dijelaskan sebelumnya.

Meskipun harus dicatat kemudian, menurut Hosen, pola semacam ini tidak berlaku bagi keseluruhan umat Islam di Indonesia. Maraknya fatwa online tentu masih menyasar kalangan urban, terpelajar dan kelas menengah di Indonesia. Di kampung-kampung, masyarakat masih banyak yang setia untuk tetap mengikuti panduan fatwa dari organisasi keagamaan yang mereka ikuti atau tokoh ulama atau yang menjadi panutan.

Pertanyaan yang kemudian muncul terkait perdebatan fenomena fatwa online adalah kredibilitas pemberi fatwa tersebut yang masih bisa dipersoalkan. Seperti sudah disinggung sebelumnya, sebagian besar para pendakwah baru tersebut tidak memiliki latar belakang pendidikan keagamaan.

Fenomena internet membuat diskusi yang lebih menarik terkait kebenaran agama bersifat menyebar atau memusat. Terlepas dari hal tersebut, kehadiran internet telah membuat realitas bahwa para pendakwah generasi baru bisa memasuki arena diskusi dan fatwa keagamaan sekaligus dapat menjadi ancaman bagi pemegang otoritas keagamaan tradisional.

Dengan kata lain, hal demikian menandai sebuah massa dimana kebenaran ajaran agama, melalui perkembangan teknologi internet sebagaimana pertumbuhan teknologi informasi di era radio dan televisi, telah menjadikan sifat dari kekuasaan dan kebenaran bersifat menyebar dan bisa digunakan siapa saja untuk bisa tampil ke permukaan, tidak lagi bersifat memusat terhadap otoritas tradisional.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Baca juga:

PKS: “The New Santri” yang Berjuang Mengislamkan Indonesia

Fenomena Politik Identitas Abad 21 dan Gagasan Liberal Fukuyama

Identitas dan Kenikmatan, Pergulatan Kekuasaan dan Identitas di Indonesia Pasca Reformasi

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments