Thales, Anaximander dan Anaximenes, Filsafat Alam Mazhab Milesian

Mazhab Milesian (Mazhab Miletos/Miletus), atau ada pula yang menyebutnya “Mazhab Ionia”, merujuk pada tiga tokoh besar perintis filsafat Yunani: Thales, Anaximander, dan Anaximenes. Mazhab Milesian adalah sebutan bagi filsuf dari Miletos, sebuah kota yang terletak di Ionia, termasuk wilayah Asia Minor (hari ini Turki Barat).

Thales adalah orang asli Miletos, begitu juga dengan muridnya Anaximander, dan muridnya Anaximander bernama Anaximenes.

Dikisahkan oleh Bertrand Russell dalam “Sejarah Filsafat Barat” bahwa Miletos mengalami pertumbuhan sangat signifikan dalam bidang ekonomi dan politik di abad ke-6 dan ke-7 SM. Awalnya, kekuasaan dipegang oleh kalangan tuan tanah, kemudian muncul periode pedagang yang mengambil alih.

(Thales: Sumber gambar: Wikipedia)

Miletos memiliki hubungan baik dengan Kerajaan Lydia yang terletak di sebelah timur kota-kota Yunani. Utamanya ketika Kerajaan Lydia dipegang oleh Croesus, raja terakhir, yang kemudian ditaklukan oleh Cyrus pada tahun 546 SM. Lydia memiliki Hubungan erat dengan Mesir yang menjadikan beberapa kota di Yunani menjadi pusat kepentingan dagang. Salah satunya dengan Miletos sebagai kota perdagangan yang makmur.

Layaknya sebuah kota perdagangan, pemikiran masyarakatnya berpotensi untuk terbuka karena banyak mengalami perjumpaan dengan berbagai bangsa. Di sinilah letak penting Miletos terdampak pemikiran Yunani, Babilonia (salah satu wilayah si Mesotomia), dan Mesir. Ionia memegang peran terpenting dalam peradaban Hellenis secara kultural, Hingga pada akhirnya kawasan Ionia ditaklukan oleh Darius pada awal abad ke-5 SM.

Masih menurut Russell, Kawasan Miletos ini hampir tidak pernah mengalami penetrasi gerakan keagamaan Olympian, atau bisa jadi masyarakatnya kurang menaruh minat terhadap ajaran rumpunnya seperti agama Orpheus dan Bacchus yang sangat kuat di Yunani. Tidak heran Mazhab Miletos tidak terlalu mencampuri bahasan antropomorfis (kecenderungan meletakkan sifat-sifat manusia terhadap makhluk lain seperti binatang) dan moral.

Sebaliknya, Mazhab Milesian memusatkan perhatian terhadap filsafat alam (kosmologi). Sehingga mazhab ini disebut “filsuf alam Ionia” atau “filsuf alam Milesian”.

Mazhab Milesian memiliki perhatian besar terhadap pertanyaan utama berupa “Apakah yang merupakan substansi utama yang menciptakan dan mengatur semua perubahan dalam alam semesta yang kita kenal ini?”.

Thales adalah tokoh utama Mazhab Milesian, meski beberapa pikirannya dianggap masih mentah, namun membekali apa yang harus dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Ia diperkirakan lahir tahun 630 SM dan meninggal 546 SM. Tahun itu hanya perkiraan karena sosok Thales sangat samar untuk mengetahui sumber yang detail mengenai riwayatnya.

Menurut catatan Aristoteles, Thales bergumen bahwa air adalah substansi yang membentuk alam semesta. Ia juga mengatakan bahwa keberadaan bumi mengapung di atas air. Thales juga bisa dikatakan berhalauan dinamisme ketika menyebut bahwa segala benda memiiki jiwa di dalamnya. Sebagaimana ia menemukan magnet yang mampu menarik besi.

Menurut Cerita, Thales melawat ke Mesir dan kemudian membawa pelajaran dan menyempurnakan Geometri ke Yunani. Ia menemukan bagaimana menghitung jarak kapal di laut berdasarkan observasi dua tempat di daratan, dan mengukur tinggi bayangan yang memiliki persamaan dengan piramida yang asli. Ia juga populer karena bisa memprediksi dengan tepat terjadinya gerhana bulan pada tahun 585 SM.

Kita tidak perlu terlalu mempersoalkan benar dan salah terhadap gagasan-gagasannya di era itu, namun upaya dia memprovokasi untuk melakukan observasi dan merangsang pemikiran adalah suatu gagasan luar bisa di zamannya.

Filsuf berikutnya adalah Anaximander (atau Anaximandros). Sama dengan Thales, tidak ada yang tahu pasti tahun kelahirannya. Di beberapa teks filsafat hanya menulis masa hidup Anaximander sekitar pertengahan abad keenam sebelum masehi. Russell mengarakan perkiraan ia berusia 64 pada tahun 546 SM. Konon, Anaximander adalah orang pertama yang membuat peta.

Anaximander menyepakati Thales bahwa substansi asali adalah sesuatu yang tunggal, namun ia keberatan kalau air adalah substansi itu. Menurutnya, api, air, dan tanah (yang dikonsepsikan layaknya dewa) senantiasa berusaha memperbesar kerajaannya masing-masing. Namun segala substansi tersebut bisa sirna dan berubah, misalnya api hancur menjadi abu dan cikal bakal tanah.

Ia menyangkal bahwa substansi asali itu bukan air, api, atau apa pun. Sebab, setiap substansi itu senatiasa memiliki oposisi, seperti air yang dingin musuh dari api yang panas. Jika salah satu substansi menang, maka yang lain sirna. Ternyata substansi-substansi sama-sama eksis dan tidak punah.

Untuk mengurai pertentangan setiap substansi yang terus-menerus saling meniadakan, maka ada substansi lain yang menjaga keseimbangan. Substansi ini harus bersifat kekal, tidak berubah, dan tidak terbatas dan melingkupi seluruh dunia. Karena ia tidak terbatas, pada dasarnya dunia itu juga mengikuti sifat dari substansi prima tersebut, artinya masih banyak terdapat dunia lain di luar dunia kita (mungkin layaknya konsep multiverse di Marvel Cinema Universe).

Singkatnya, substansi asali ini harus netral dari pertentangan kosmik yang mengakibatkan gerak abadi bagi terciptanya asal-usul dunia-dunia (banyak dunia) yang bersifat evolusioner. Dunia tidaklah diciptakan, sebagaimana pemahaman agama, namun ia lahir karena evolusi. Makhluk hidup muncul karena evolusi dari matahari yang menyengat unsur basah yang mengakibatkan penguapan.

Hasil uapan itu sebagian menjadi daratan, dan yang basah menjadi lautan. Makhluk yang pertama kali hadir adalah ikan, dan dari binatang ini berevolusi menjadi manusia dengan bentuk yang bertransformasi menjadi seperti sekarang.

Terakhir adalah Anaximenes (hidup sekitar 550 sebelum masehi, meski tepatnya sebenarnya sangat tidak pasti). Ia memiliki pemahaman lain. Pertama-tama ia menyepakati Anaximender bahwa substansi inti adalah sesuatu yang tidak terbatas, tapi ia tidak berada di luar alam manusia, namun berada dalam bagian dari hidup kita.

Substansi inti adalah udara. Jiwa adalah udara, dan api adalah udara yang encer; ketika dipadatkan, udara akan menjadi air, dan ketika kepadatan bertambah akan menjadi tanah. “Arti penting teori ini adalah membuat pelbedaan antara pelbagai kuantitas substansi, yang sepenuhnya bergantung pada tingkat kepadatannya” (Russell, 2021: 36).

Kattsof dalam “Pengantar Filsafat” menyebut teori Anaximenes sebagai “perenggangan-perapatan”. Seperti yang sudah dijelaskan, proses perenggangan-perepatan ini melahirkan berbagai unsur seperti udara, api, dan tanah. Udara beredar dalam dirinya sendiri yang tidak ikut dalam proses hukum alam perenggangan-dan perapatan tersebut. Bahkan, udara adalah unsur yang mengakibatkan proses tersebut terjadi. Jadi, udara adalah substansi inti alam semesta.

Sebagai catatan: Mazhab Milesian memiliki arti penting dalam sejarah filsafat, bahkan sebagai peritis filsafat, bukan karena kebenaran hasil pemikiran mereka atau apa yang sudah mereka capai, namun apa yang mereka usahakan dalam proses pencarian kebenaran alternatif di luar doktrin keagamaan. Dalam konteks kesejarahan, sebagai kalangan intelek Miletos, Mazhab Milesian memiliki peran penting karena sebagai potret kontak pemikiran Yunani dengan Babilonia dan Mesir.

 

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca juga:

Mengapa Yunani Disebut sebagai Tempat Kelahiran Filsafat dan Ilmu Pengetahuan?

Filsafat Aristoteles Tentang Logika, Negara, dan Sistem Pemerintahan

Filsafat Plato Tentang Idea, Etika, dan Negara

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments