Pengertian “Cogito ergo Sum” dalam Metode Filsafat Kesangsian Rene Descartes

Rene Descartes

Pengertian “Cogito ergo Sum” dalam Metode Filsafat Kesangsian Rene Descartes

“Cogito ergo Sum” (Aku Berpikir Maka Aku Ada).  Rene Descartes

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Kini, kita telah memasuki pembahasan filsafat modern dengan sosok Rene Descartes (1596-1650) sebagai pendirinya. Ungkapan bahwa Rene Descartes sebagai Bapak Filsafat Modern tentu sangat berasalan.

Bertrand Russell dalam “Sejarah Filsafat Barat” mengatakan bahwa Descartes adalah “orang pertama yang memiliki kapasitas filosofis yang tinggi dan sangat dipengaruhi oleh fisika dan astronomi baru”.

Kutipan di atas menegaskan bahwa gelora filsafat Descartes menunjukkan relevansi dengan pertumbuhan minat pengembangan keilmuan yang menjadi ciri zaman modernitas. Tidak heran, tulisan Descartes juga membahas penemuan baru di zamannya seperti ilmu optik dan menaruh minat besar terhadap geometris (misalnya dalam bukunya berjudul “Essais Philosophiques”).

Adalah sebuah konsekuensi logis kemudian kandungan dalam pemikiran Descartes memiliki kaitan dengan sains.

Hal yang mungkin bisa dipastikan: sebuah zaman yang relatif baru menuntut adanya pemikiran baru agar sesuai dengan kebutuhan zaman. Modernitas yang mengandaikan manusia-manusia yang subjektf dan individualis nampak sangat sempurna dalam rumusan filsafat Descartes.

Bahkan metode pencarian pengetahuan dalam kandungan filsafat Descartes menjadi tonggak baru dalam sejarah filsafat. Russell dengan tegas mengatakan semenjak Plato melalui dunia ide dan berakhr dengan Aristoteles melalui sumber gerak, empirisme, dan silogisme, semenjak itu pemikiran filsafat benar-benar tidak ada yang baru sama sekali.

Keseluruhan gagasan-gagasan filsuf dalam periode-periode berikutnya kurang lebih adalah sebuah catatan kaki atau pengembangan lebih lanjut dari pemikiran Plato atau Aristoteles. Kebaruan filsafat pengetahuan murni dari Descartes menunjukkan rasa optimisme dalam senjakala zaman modernitas untuk menciptakan bentuk metode filsafat baru.

Berkaitan dengan hal di atas, kali ini kita hanya berurusan dengan filsafat murninya, terutama dengan bangunan filsafatnya yang populer dengan semboyan “Cogito ergo Sum” (Aku Berpikir Maka Aku Ada).

Metode Kesangsian Rene Descartes

Ulasan bagian ini disarihkan dari penjelasan Bertrand Russell dalam “Sejarah Filsafat Barat, khususnya “Bab IX Descatres.

Dua buku yang menjadi pijakan dalam menelaah pemikiran Rene Descartes adalah “”Discourse on Method (1637)” dan “Mediations” (1642). Materi dalam kedua buku tersebut saling melengkapi rumusan filsafat murni Descartes, sehingga tidak perlu untuk dibicarakan secara terpisah.

Dalam kedua buku tersebut, Descartes mengawali pembahasan dengan menawarkan metode yang kemudian disebut sebagai “Metode Kesangsian”, atau ada yang menyebutnya sebagai “Metode Cartesian”.

Untuk membangun ulang bangunan filsafatnya yang kokoh, Descartes pertama-tama mengawalinya dengan meragukan segala sesuatu sepanjang hal tersebut dapat diragukan. Mulai dari pengetahuan bersadasarkan pengamatan indrawi.

Ilustrasi untuk memudahkan:

Benarkah aku sekarang sedang berada di ruang kerja Pojok Wacana sembari duduk di depan laptop dan mengerjakan tulisan? Kadang-kadang aku bermimpi sedang menulis, padahal aku sedang berada dalam kondisi tidur telanjang di kamar. Kita sering menduga orang gila mengalami halusinasi, jangan-jangan layaknya orang gila, aku juga sedang berhalusinasi?

Inti kesangsiannya: apakah realitas inderawi; apa yang bisa dilihat mata, didengar telinga, dikecap oleh lidah, dan sebagainya, adalah kenyataan sebetulnya, dan bukan ilusi semata? Keraguan ini mengantarkan kepada kita sebuah penyangkalan terhadap segala kebenaran dari pengetahuan inderawi.

Di sisi yang lain, kerap kali pengetahuan inderawi menjadi unsur penting dalam membentuk kesadaran pikiran kita, bahkan dalam kondisi mimpi sekalipun. Tubuh memang terlelap, tapi pikiran tidak bisa berhenti bekerja.

Kita. Misalnya, memimpikan adanya kuda bersayap. Gambaran tentang kuda bersayap bukan pemikiran orisinil dari kita, namun adalah perpaduan pengetahuan inderawi karena kita pernah melihat “kuda” dan “sayap”.

Gamblangnya, pikiran kita kerap kali merefleksikan timbal balik dari pengetahuan inderawi. Padahal, seluruh pengamatan inderawi selalu melibatkan materi, gerak, dan pengembangan. Pada akhirnya, kita bisa menyangkal keseluruhan pengetahuan sejati yang berasal dari ikhwal badaniyah. Akhirnya seluruh pengetahuan-pengetahuan tersebut bisa menyesatkan, minimal kita pertanyakan kebenarannya.

Di luar materi realitas inderawi, ada yang namanya matematika. Kita bisa menghitung aritmatika dan geometri secara bebas tanpa belenggu unsur inderawi yang menyertainya. Sehingga, kebenaran aritmatika dan geometri, yang berlainan dengan objek fisika dan astonomi, lebih bisa menjadi pegangan daripada perspektif materi.

Aritmatika dan geometri senantiasa benar dan lebih pasti dalam penghitungan dan pekembangan materi terlepas apakah kita ada dalam keadaan sadar atau mimpi. Dua hal ini akhirnya lebih rendah tingkat kesangsiannya daripada yang pertama.

Persoalan berikutnya muncul, aritmatika dan geometri ternyata tidak bisa terlepas dari kemungkinan ketidakpastian. Bisa saja ada Tuhan yang membuat kita melakukan kesalahan dalam menghitung deretan angka.

Jika nada negatif tidak patut diarahkan pada Tuhan, bisa jadi ada setan yang cerdas dan mampu mengkaburkan kepastian matematika dalam pikiran kita. Jika seaindainya ada setan se-intelek itu, kita akan terperangkap dalam sebuah ilusi yang seakan-akan adalah kebenaran.

Akan tetapi, ada satu hal yang tidak mungkin bisa diragukan dan bersifat pasti, yakni “aku yang sedang berpikir”. Jika ada setan yang menipuku, hal yang tidak bisa diragukan adalah “aku itu ada”. Kalau “aku” tidak ada, maka siapa yang menjadi objek pembekokkan ilusi, entah dari Tuhan atau setan.

Pertanyaan lebih lanjut kemudian, “aku itu siapa?”.

Aku dalam wujud badaniyah terbuka peluang adalah ilusi. Badan ini tidak nyata ada. Sesuatu dari diri saya yang penuh kepastian ada adalah “aku yang sedang berpikir”. Dengan demikian, kenyataan sejati tentang apa yang ada hanyalah pikiran, selain itu semuanya bisa menuju pemahaman sesat.

“Aku berpikir maka aku ada”, hanya dengan aku yang sedang dalam proses berpikir menjadi runtuh kesangsian tentang aku yang tidak ada. Demikian pula, ketika aku berhenti berpikir, maka aku sesungguhnya tidak ada.

Berikut ini kutipan agak lengkap dari pernyataan Rene Descartes yang memuat penggalan untuk memahami pengertian “Cogito Ergo Sum, “aku berpikir maka aku ada” seperti yang sudah saya utarakan lebih jelas:

“Kadang pancaindera terkadang menipu kita, aku mengandaikan bahwa tak ada hal yang menampakkan diri sebagaimana adanya, dan karenanya dalam pembuktian bahkan pernyataan-pernyataan geometri sederhana sekalipun sering terjadi kekeliruan dan kesimpulan salah…Aku menolak segala alasan. Akhirnya, aku mengenali bahwa pikiran yang sama baik di saat berjaga maupun dalam mimpi dapat muncul dalam diri kita tanpa memberi alasan kepada kita; karena itu akan sengaja membayangkan segala hal yang kutemui di dalam pikiranku tidak lebih benar daripada tipu muslihat mimpi-mimpi. Namun di sini segera aku menyadari sementara aku mau menilai segalanya sebagai keliru, aku sendiri yang sedang memikirkan hal itu secara niscaya pasti ada, dan aku menemukan kebenaran ‘aku berpikir, maka aku ada’ (Cogito ergo Sum) sedemikian kokoh dan pasti, sehingga pandangan kalangan skeptic yang paling sengit tidak akan dapat menggoyahkan kebenaran tersebut. Demikianlah aku meyakini dapat mengambil tesis ini tanpa ragu untuk prinsip pertama filsafat yang kucari” (Descartes dalam terjemah teks Budi Hardiman, 2019: 37-38).

Demikianlah Rene Descartes membangun prinsip filsafat pertamanya yang termaktub dalam kata  ‘aku berpikir, maka aku ada’ (Cogito ergo Sum).

Kesejatian aku adalah seluruh zat dan esensi dari berpikir, sedangkan tubuh dan jiwa berbeda seolah-olah tidak ada. Seturut dengan penjelasan Hardiman, “cogito” adalah kepastian mutlak.

Pemikiran yang sangat bercorak subjektivisme dan individualisme ini adalah penanda dari karakter zaman modern yang sudah kita bicarakan dalam tulisan sebelumnya.

Bangunan filsafat murni untuk mencapai pengetahuan melalui metode kesangsian Descartes ini tidak bisa kita capai hanya dengan intuisi semata (Plato) maupun deduksi sederhana dengan seperangkat silogisme Aritoteles.

Demikian daripada itu, sebagaimana premis di awal tulisan, Rene Descartes membangun pondasi filsafat murni dalam proses pencarian pengetahuan setelah Aristoteles tidak ada lagi yang cukup orisinil.

Pemikiran lainnya yang relatif baru dalam kajian filsafat yang merupakan turunan dari ‘aku berpikir, maka aku ada’ (Cogito ergo Sum) adalah jiwa (dalam arti pikiran sebagai substansi murni) terpisah dari badan. Jiwa tidak menjadi faktor penggerak badaniyah. Keduanya adalah unsur independen.

Persepsi Inderawi

Setelah serangkaian penjelasan yang bersifat destruktif, selanjutnya Descartes mulai membangun ulang filsafat pengetahuannya secara kontruktif.

Sayangnya, pemikiran konstruktif Rene Descartes, seperti diungkap oleh Russell, jauh tidak begitu menarik dibanding upaya dekonstruktifnya melalui metode kesangsian. Pemikiran Descartes memiliki corak yang mirip ala-ala Plato maupun Thomas Aquinas (tentang topik ini, bisa dibaca di sini).

Kita bahas secara ringkas saja.

Secara tidak langsung, Menurut Russell, Descartes memilah ide menjadi tiga bentuk (ide di sini artinya persepsi inderawi). Pertama, ide bawaan. Kedua, ide dari luar. Ketiga, ide-ide yang kita ciptakan..

Sedangkan menurut Hardiman menunjuk tiga macam dengan ide menurut Descartes yang lebih spesifik: pemikiran, Tuhan, keleluasan (materi atau inderawi).

Keduanya sama saja dalam membicarakan kaitan apakah ide itu hanya ada di dalam diri kita atau juga mencakup apa yang ada di luar diri kita? Lebih mudah kita pakai Hardiman saja dalam kasus ini.

Hal ini bisa dilihat ketika ia mengatakan bahwa ada yang namanya ide bawaan. Kepercayaan terhadap Tuhan adalah bersifat asali atau bawaan. Hal ini kemudian terikat dengan ide bawaan lainnya bahwa kita memiliki tubuh jasmani yang benar-benar nyata. Ketika ternyata tubuh kita adalah ilusi, berarti Tuhan adalah jahat karena menipu manusia. Padahal tidak mungkin Yang Maha Baik melakukan hal seburuk itu. Maka, jasmani yang melakat pada “aku” adalah kebenaran.

Pada akhirnya selain pemikiran, menurut Descartes Allah atau Tuhan pun adalah substansi. Cara mengetahui keberadaan Allah melalui kesamaan substansi dengan pemikiran adalah tinjauan ontologis. Pernyataan ini mengingatkan kita pada teori gerak pertama dari Aristoteles yang diadopsi oleh Aquinas.

Tuhan adalah substansi pokok karena ialah yang menciptakan pikiran manusia.

Pada gilirannya, keleluasaan yang dimaksud menunjukkan bahwa Tuhan harusnya menjadi ukuran bagi segala sesuatu. Ialah yang menciptakan jasmani bagi diri kita beserta realitas eksternal yang harus kita olah dalam pikiran kita.

Dengan landasan semacam itu, sangat penting ditekankan bahwa Descartes tidak begitu ekstrem untuk menyangkal sepenuhnya adanya eksistensi dunia eksternal. Kecuali kita bisa membuktikann bahwa Tuhan itu tidak ada (metfisika ini kemudian lebih sistematis dijelaskan pengikut Descartes, Spinoza. Kita bahas pada tulisan selanjutnya).

Mungkin kita segera bisa menduga adanya inkonsistensi dalam pikiran Descartes. Mengapa tidak berhenti saja bahwa esensi yang sejati adalah pikiran, tanpa perlu menyertakan ide bawaan seperti tubuh dan esensi Tuhan? Lain kata, kenapa tidak mengatakan yang esensi adalah pikiran tanpa tubuh?

Makanya, destruktif Descartes lebih menarik daripada konstruktifnya.

Terlepas daripada itu, pemikiran Descartes kemudian merangsang untuk mempertanyakan ulang dimana kebenaran esensi itu. Perbincangan seputar persepsi inderawi dan pikiran akan menyeret polemik tersendiri tentang dimana sebenarnya pengetahuan mendarat: empiris atau rasional? Hal yang kemudian memicu perdebatan sepanjang filsafat modern.

Tentu cukup jelas bahwa Descartes menempatkan pemikiran jauh lebih unggul daripada fakta empiris. Ia mengajukan pendekatan apa yang disebut sebagai “representasionisme”, dimana sejatinya pikiran merefleksikan kesadaran di luar diri kita.

 

Baca Juga:

3 Alasan Mengapa Filsafat Islam Tidak Sekadar Menjiplak Filsafat Yunani

5 Argumen Tuhan Itu Ada Menurut Thomas Aquinas

Pemikiran Plotinus: Trinitas Suci dalam Metafisika Neoplatonisme

3 Alasan Mengapa Filsafat Islam Tidak Sekadar Menjiplak Filsafat Yunani

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments