Politik dan Poster: Pemerintah Alergi Terhadap Poster (?)

(Sumber Gambar: Djawa News)

Penulis: Daniel Pradina Oktavian (Penulis lepas dan asisten peneliti di Pusat Kajian Otonomi Daerah)

Aksi seorang mahasiswa (13/9) yang membentangkan poster bertuliskan, “Pak, tolong benahi KPK”, saat kunjungan Presiden Joko Widodo ke Solo berujung dramatis. Ia diamankan ke Mapolresta Solo oleh beberapa anggota kepolisian yang sedang melakukan pengamanan tertutup. Menurut Ketua BEM UNS, mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa aktif UNS dan ditangkap beserta beberapa rekan lainnya.

Taklama sebelumnya ada juga seorang peternak ayam di Blitar (8/9) yang diamankan pihak kepolisian sesaat setelah membentangkan poster bertuliskan, “Pak Jokowi Bantu Peternak Beli Jagung Dengan Harga Wajar.” Berdasarkan video yang beredar, peternak itu melakukan aksinya saat rombongan presiden hendak menuju makam Bung Karno.

Dua peristiwa ini mengingatkan kita pada kejadian di penghujung 2019 ketika tiga orang petani di Tuban ditangkap kepolisian saat Presiden Jokowi melakukan kunjungan ke proyek tapak kilang minyak PT Trans Pasific Petrochemical Indotama. Duduk perkaranya, ketiga petani enggan menjual tanahnya kepada perusahaan. Ketiganya membentangkan poster yang bertuliskan, “Tanah Tidak Dijual Pak Jokowi Jangan Paksa Kami Jual Lahan.”

Meskipun dalam ketiga kasus itu semuanya dibebaskan, bahkan untuk kasus di Blitar, ada wacana peternak tersebut diundang ke Istana oleh presiden tetap membuat kita bertanya-tanya mengenai seberapa besar ancaman atau pengaruh yang diakibatkan dari poster.

Pada dasarnya poster merupakan gambar yang mengombinasikan unsur-unsur visual seperti garis, gambar, dan kata-kata yang bermaksud menarik perhatian serta mengomunikasikan pesan secara singkat. Demikian yang disampaikan Anitah dalam bukunya berjudul Media Pembelajaran (2008).

Manfaat penggunaan poster, antara lain sebagai media penyampaian ide, gagasan, dan informasi dan juga media yang menarik perhatian. Poster umumnya hanya menyajikan satu ide untuk mencapai satu tujuan pokok.

Penggunaan poster sebagai media kritik dapat kita analisis berdasarkan pendapat Donal K. Wright (2010) yang menjelaskan mengenai etika. Ia mengungkapkan bahwa etika adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan perilaku moral atau seperangkat prinsip atau kode etik moral.

Dalam hal ini, poster dikategorikan sebagai media penghantar kritik perlu dibingkai dalam kotak etika moral. Kritik yang merupakan suatu ekspresi tanggapan terhadap suatu keadaan perlu disampaikan dengan memperhatikan kaidah atau tolok ukur tertentu.

Dalam tulisan Ibnu Fitrah berjudul Poster dan Protes, pengkritik harus memiliki kemampuan kritik dengan baik. Maksudnya, pengkritik haruslah memiliki pemahaman memadai perihal yang dikritisi sekaligus dengan cara mengomunikasikannya. Jika tidak, penggunaan poster yang sedemikian kita ketahui menjadi bias atau malah tidak bermanfaat sama sekali.

Ia mencontohkan penggunaan ironi seperti satire dan sarkastis dalam menyampaikan kritik dalam sebuah poster. Penggunaan keduanya dapat membantu pengkritik menyampaikan pesan dengan lugas.

Pemakaian poster sebetulnya telah banyak digunakan dalam upaya-upaya kritik di berbagai tempat. Misalnya, sebuah proyek yang bernama Anti-Tank. Proyek ini secara aktif menyampaikan kritik-kritik dalam bentuk poster yang ditempel di berbagai persimpangan lampu lalu lintas di Yogyakarta.

Aksinya yang membawa propaganda sebagai respon atas berbagai kondisi politik dan sosial telah menyita perhatian banyak pihak. Proyek yang diinisiai pada tahun 2008 ini sukses membawa pesan-pesan kritik yang bermakna melalui tulisan-tulisan singkatnya yang berseni.

Menurut Richard Hollis, dalam bukunya berjudul Graphic Design a Concise History, yang diterjemahkan Gogor Bangsa, pada era penghujung abad ke-19, poster banyak digunakan sebagai wadah ekspresi kehidupan ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Semuanya bersaing untuk menarik perhatian dari banyak orang.

Di Paris, penggunaan poster juga dipakai dalam aksi politik untuk mengkritik sikap calon Presiden Prancis, Le Pens, yang seringkali diskriminatif, memecah-belah, anti terhadap imigran dan rasis. Poster yang digantung di kaki menara Eiffel itu bertuliskan “Liberte, Egalite, Fraternite” yang berarti kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.

Ungkapan tersebut ditujukkan sebagai sebuah peringatan bagi Le Pens mengenai rencana program kerjanya yang dianggap berbahaya oleh banyak kelompok masyarakat.

Mengutip dari buku berjudul The Art of Influence: Asian Propaganda karya Mary Ginsberg, karya seni yang dipadu dengan muatan politik disebut juga revolutionary art. Umumnya, revolusi ini muncul sebagai suatu pergolakan sosial yang dengan propaganda bermaksud memotivasi atau menghasut.

Menurutnya, propaganda takselalu memiliki makna negatif, tapi selalu ada sebagian orang yang memahaminya sebagai suatu kejahatan atau tindakan yang manipulatif. Propaganda ditakutkan memiliki kekuatan untuk membangkitkan kesadaran bersama.

Kembali dalam persoalan penangkapan orang-orang yang membentangkan poster, ini bisa dilihat bahwa aksi mereka dimaknai sebagai suatu kejahatan yang memiliki potensi negatif. Sebab, dalam pengalaman sejarah, propaganda seperti ini sering dipakai sebagai bentuk pendidikan politik yang praktis dalam membentuk sikap dan perilaku. Mary Ginsberg juga mengungkapkan bahwa propaganda secara eksploratif mampu menumbuhkan semangat revolusi.

Jika merujuk pada teori semiotika yang mendasarkan pemahaman terhadap sesuatu berdasarkan logika, Charles Sanders Pierce mengungkapkan logika mempelajari bagaimana orang bernalar melalui tanda-tanda yang ada. Dengan tanda-tanda inilah, kita, sebagai penanda, mampu untuk berpikir dan memberi makna atas apa yang ditampilkan.

Berdasarkan pandangan Barthes, hubungan antara tanda dan penanda ini tidaklah bersifat alamiah, yaitu mensyaratkan adanya rangsangan ataupun pengalaman personal. Ini menguatkan anggapan bahwa mungkin saja penangkapan yang dilakukan didasarkan atas pemahaman aparat yang memaknai isi poster sebagai sesuatu hal yang mengancam.

Sayangnya, pemaknaan tersebut diikuti dengan penangkapan yang juga dinilai represif. Mengingat, takada satupun kata-kata yang dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk ancaman maupun provokasi.

Terlebih, jika apa yang dilakukan memang sedang menggambarkan keadaan yang sebetulnya. Jika saja menggunakan alasan menghindari kerumunan, mengapa semuanya aksi tersebut berujung penangkapan?

Jika pemerintah enggan dikatakan alergi terhadap poster-poster, pemerintah perlu menghindari paradigma bahwa kritik merupakan sebuah kejahatan atau pun ancaman. Selain perlu menciptakan ekosistem sosial dan politik yang aman bagi warganya untuk berpendapat, pemerintah juga perlu membentuk paradigma jajarannya agar takkeliru dalam memahami isi dari sebuah kritik.

Sebab, kritik merupakan bagian dari upaya kontrol yang sehat dan perlu diakomodasi dalam tatanan demokrasi. Mahfud mengungkapkan bahwa kritik juga bisa diartikan sebuah inovasi dengan gagasan-gagasan baru yang mampu membongkar berbagai sifat konservatif, status quo, dan vested interest.

Referensi

Anitah, Sri. 2008. Media Pembelajaran. Surakarta : LPP UNS dan UNS Pers.

Bangsa, P. Gogor. 2016. Desain Grafis : Sebuah Sejarah Singkat, terjemahahan dari buku berjudul Graphic Design a Concise History karya Richard Hollis. Yogyakarta : UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta

Ginsberg, Mary. 2013. The Art of Influence, Asian Propaganda.

Ibnu Fitrah, Muhammad. 2020. Poster dan Protes : Analisis Semiotika Terhadap Poster Anti-Tank di Yogyakarta/Skripsi.

Mahfud, Moh., Edy Suandi Hamid, Suparman Marzuki, Eko Prasteyo. 1887. Kritik Sosial dalam Wacana Pembangunan. Yogyakarta : UII Press

Vera, Nawiroh. 2014. Semiotika dalam Riset Komunikasi. Bogor : Ghalia Indonesia

Witabora, Joneta. tanpa tahun. Peran dan Perkembangan Ilustrasi/Jurnal.

Wright, Donald K, dan Michele, D Hinson. 2010. An Analysis of New Communications Media Use In Public Relations : Results of A Five-Year Trend Study. Public Relations Journal Vol. 4, No 2.

Baca Juga:

MUNISPALISME LIBERTARIAN: TAWARAN RADIKAL DEMI RAKYAT YANG BERDAULAT

Bagaimana Demokrasi Mati? Suatu Lonceng Peringatan!

A Man Called Ahok dan Keberlanjutan Upaya Pencapaian Identitas Tionghoa

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments