Perkembangan Sosiologi dan Empat Pendekatan Utama

Perkembangan Sosiologi dan Empat Pendekatan Utama

Penulis: Redaksi Pojok Wacana

Pada tulisan sebelumnya, kita telah membicarakan tentang pengertian sosiologi, pada tulisan kali ini kita akan membicarakan tentang perkembangan sosiologi dan kemudian disusul oleh penjelasan empat pendekatan utama dalam sosiologi.

Perkembangan Sosiologi

Materi bab Perkembangan Sosiologi ini, kami sarihkan dari tulisan Bagong Suyanto berjudul “Perkembangan dan Peran Sosiologi” dalam buku berjudul “Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan”.

Sebenarnya jauh sebelum Auguste Comte yang kemudian dikenal sebagai bapak sosiologi modern memperkanalkan sosiologi, pondasi dasar kajian sosiologi sudah berlangsung lama. Misalnya saja pada akhir abad pertangahan seorang filsuf dan sejarawan Arab bernama Ibnu Khaldun sudah menafsirkan kejadian-kejadian sosial dalam peristiwa sejarah.

Namun memang yang pertama kali menggunakan istilah sosiologi adalah Auguste Comte melalui ”Positive Philosophy”(1838). Sudah disinggung pada bagian sebelumnya bahwa sosiologi berasal dari dua kata, yakni “socius” (kata latin) yang berarti kawan, dan “logos” berarti kata atau berbicara. Sehingga sosiologi adalah berbicara mengenai masyarakat.

(Auguste Comte. Sumber Gambar: Wikipedia)

Pandangan Comte yang dianggap memiliki kontribusi besar sebagai “Bapak Sosiologi Modern” adalah ia percaya sosiologi harus didasarkan pada klasifikasi dan observasi yang sistematis, tidak lagi pada spekulasi.

Sekitar setengah abad kemudian, istilah sosiologi semakin populer karena jasa besar Herbert Spencer dengan bukunya berjudul “Principle of Sociology” (1876). Gagasan pembaruannya adalah mengaplikasi teori besar evolusi sosial yang berdasarkan pada evolusi organik dalam kehidupan masyarakat.

Banyak pula yang berpendapat bahwa faktor utama yang melatarbelakangi lahirnya sosiologi adalah faktor krisis yang terjadi di dalam masyarakat. misalnya saja penjelasan Laeyendecker yang mencari hubungan lahirnya sosiologi dengan sederetan krisis yang berlangsung di Eropa Barat.

Maksud dari krisis-krisis yang terjadi misalnya tumbuhnya kapitalisme pada abad ke-15, perubahan pasca reformasi Martin-Luther, sikap individualisme yang semakin meningkat, revolusi industri abad ke-18, dan tidak ketinggalan Revolusi Prancis.

Sosiologi menjadi semacam ilmu yang mempelajari permasalahan-permasalahan sosial yang dialami masyarakat di era perbagai perubahan dan krisis yang berlangsung.

Perkembangan sosiologi semakin mapan di tangan Emile Durkheim pada tahun 1895. Ilmuwan asal Prancis tersebut menerbitkan buku berjudul “Rules of Sociological Method”. Buku tersebut menekankan bahwa betapa pentingnya mempergunakan serangkaian metodologi tertentu dalam kajian sosiologi.

Atas jasanya tersebut, ia dijuluki sebagai “Bapak Metodologi Sosiologi”. Bahkan pujian Reiss lebih jauh lagi bahwa Emile Durkheim adalah penyumbang utama munculnya sosiologi.

Menurut tokoh besar lainnya yakni Durkheim, sosiologi mengkaji fakta-fakta sosial, yakni kekuatan struktural di eksternal manusia, yang akhirnya dapat membentuk perilaku manusia.

Singkatnya, fakta sosial adalah “cara-cara bertindak, berpikir,  dan berperasaan, yang berada di luar idividu, dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikannya. Fakta sosial ini tidak hanya bersifat materi belaka, namun juga immaterial seperti agama, budaya, dan institusi sosial.

Berlainan dengan pendapat Emile Durkheim, Max Weber sebagai tokoh sosiologi besar lainnya lebih menekankan makna dan perubahannya di dalam masyarakat, bukan pada faktor eksternal di luar diri. Ia mengajak sosiolog untuk lebih mendalami relativitas intepretasi makna yang lebih membentuk perilaku sosial.

Meski kedua tokoh sosiologi tersebut berbeda pandangan, namun perbedaan tersebut semakin membuat pendekatan sosiologi bukannya menyempit, tapi semakin kaya karena keragaman perspektif yang ditawarkannya.

Memasuki Abad ke-20, pendekatan dan teori-teori sosiologi semakin kaya dengan lahirnya tokoh-tokoh baru. Misalnya saja yang paling populer adalah Anthony Giddens dengan teori strukturasi, sebuah upaya untuk mendamaikan ketegangan basis struktur dan individualisma dalam praktik sosial.

Di era tahun 2000-an ini kehadiran sosiologi semakin variatif. Merujuk pada penjelasan Horton dan Hunt, kini cabang-cabang sosiologi semakin banyak, seperti: sosiologi agama, sosiologi menyimpang, sosiologi militer, sosiologi terapan, perilaku kelompok, sosiologi industri, sosiologi hukum, sosiologi pendidikan, sosiologi pedesaan, sosiologi perkotaan, dan masih banyak cabang-cabang dan pengembangan lainnya.

 

Empat Pendekatan Sosiologi

Dari perkembangan sosiologi rentang waktu yang panjang, paling tidak terdapat empat pendekatan atau perspektif utama dalam sosiologi.

Pertama, Perspektif Evolusionis; Kedua, Perspektif Interaksionis; Ketiga, Perspektif Fungsionalis; Keempat, Perspektif Konflik.

Penjelasan ini kami sarihkan dari Bahan Kuliah “Pengantar Sosiologi” (FISIP UNAIR 2015).

Berikut penjelasan singkat masing-masing pendekatan:

Perspektif Evolusionis

Ini adalah pendekatan paling awal dalam sosiologi dengan tokoh besarnya Auguste Comte dan Herbert Spencer .

Perspektif ini menjelaskan bagaimana masyarakat berkembang dan tumbuh. Para Sosiologi pengikut perspektif ini berusaha mencari pola perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat yang berbeda, apakah ada urutan umum yang ditemukan.

Misalnya saja memunculkan pertanyaan seperti “Apakah pengaruh industrialisasi terhadap keluarga di negara maju sama dengan di negara sedang berkembang?”.

Perspektif Interaksionis

Perspektif ini tidak menyarankan teori-teori besar tentang masyarakat, karena istilah “masyarakat”, “negara”, dan “lembaga masyarakat” adalah abstraksi konseptual.

Jadi apa yang dipelajari?

Yang ang dikaji adalah orang-orang dan interaksinya. Para ahli teori ini misalnya GH. Mead dan CH Cooley memusatkan perhatiannya pada interaksi antara individu dan kelompok, menggunakan simbol. Bagi kelompok ini, manusia tidak bereaksi terhadap dunia secara langsung, tetapi bereaksi terhadap makna yang dihubungkan dengan benda atau kejadian di sekitarnya.

Pendekatan ini (disebut juga pendekatan interaksi simbolis), yakni menekankan pentingnya  ‘makna sosial’ (social meanings) dari perilaku manusia yang melekat pada dunia sekitarnya.

Sebagai contoh adalah Tiga Premis Herbert Blumer:

Pertama, manusia bertindak terhadap sesuatu atauorang berdasarkan bagaimana mereka memberi makna terhadap sesuatu atau orang tersebut. Kedua, ‘makna’ merupakan produk sosial yang muncul dari interaksi.

Ketiga, ‘Social Actor’ (pelaku sosial) memberikan makna melalui proses interpretasi. Dimana Penafsiran merupakan sesuatu yang esensial yang mempengaruhi ‘definisi sosial’. Sedangkan ‘Konsep diri’ merupakan definisi yang diciptakan melalui interaksi dengan orang lain.

Pendekatan ini menekankan bahwa untuk mempelajari tingkah laku manusia perlu memahami sistem makna yang diacu oleh manusia yang dipelajari.

Beberapa prinsip dasar pendekatan interaksionisme simbolik:

A. Manusia, tidak seperti hewan rendah lainnya, diberkahi dengan kapasitas berakal.

B. Kapasitas untuk berpikir itu terbentuk karena interaksi sosial.

C. Didalam interaksi sosial manusia mempelajari arti dan simbol-simbol yang membuatnya dapat melakukan kapasitas berpikir sebagai manusia.

D. Arti dan simbol membuat manusia melakukan tindakan dan interaksi manusia secara berbeda

E. Manusia mampu memperbarui atau mengubah arti dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan berinteraksi atas dasar interpretasi mereka terhadap keadaan.

F. Manusia dapat membuat modifikasi dan perubahan tersebut karena kemampuannya berinteraksi dengan dirinya sendiri, yang membuatnya dapat meneliti kemungkinan serangkaian tindakan, menilai keuntungan dan kerugian relatif mereka, dan kemudian memilih salah satunya.

Pendekatan Fungsional

Tokoh besarnya adalah Talcott Parson.  Selain itu ada Kingsley Davis dan Robert Merton.

Garis besar pendekatan ini  adalah masyarakat itu dapat dianalogikan sebagai organ tubuh  manusia, yang terdiri dari bagian/komponen/ subsistem yang saling berhubungan dan saling bergantung  untuk mewujudkan keseimbangan. Konsekuensinya, rusak atau terganggunya satu bagian akan mengganggu bagian yang lain atau bahkan keseluruhan bagian.

Di dalam perspektif fungsional, masyarakat dilihat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerjasama secara teorganisir dan bekerja secara teratur menurut seperangkat aturan dan nilai yang dianut oleh sebagian besar masyarakat.

Masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang stabil dengan kecenderungan ke arah keseimbangan, untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang.

Setiap kelompok atau lembaga melaksanakan tugas tertentu dan terus menerus karena hal itu fungsional. Sekolah mendidik anak, mempersiapkan para pegawai, mengambil alih tanggung jawab orang tua dalam sebagian waktu dan sebagainya.

Agar masing masing komponen itu fungsional, diperlukan Sosialisasi dan kontrol sosial.

Lebih jauh dijabarkan harus berlangsung di dalam sistems sosial proses yang biasanya disingkat sebagai A.G. I. L. atau AGIL (Adaptation, Goal attainment, Integration, dan Latent Pattent Maintenance).

Berikut penjelasannya:

Adaptation  menunjuk pada kemampuan sistem menjamin apa yang dibutuhkannya dari lingkungan serta mendistribusikan sumber-sumber tersebut ke dalam seluruh sistem.

Goal attainment adalah pencapaian tujuan sistem dan penetapan prioritas tujuan, sedangkan Integration merupakan koordinasi dan kesesuaian bagian-bagian sistem sehingga seluruhnya fungsional.

Dan terakhir Latent Pattent Maintenance adalah menunjuk pada bagaimana menjamin kesinambungan tindakan dalam sistem sesuai dengan aturan atau norma-norma yang berlaku.

Pendekatan Konflik

Tokoh besar pendekatan ini adalah Karl Marx. Pendekatan ini melihat masyarakat berada dalam konflik yang terus menerus antara kelompok dan kelas. Analisis Marx memusatkan perhatian pada pertentangan antar kelas untuk pemilikan kekayaan produktif.

Perjuangan meraih kekuasaan dan penghasilan sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Dengan kata lain, masyarakat terikat bersama karena kekuatan kelas atau kelompok yang dominan.

Secara garis besar  dalam  masyarakat selalu ada sekelompok orang yang menguasai alat produksi yang jumlahnya sangat sedikit (disebut klas bourjuis) dan ada sekelompok orang yang tidak menguasai alat produksi yang jumlahnya sangat banyak (sering disebut sebagai klas proletar). Hubungan kedua kelas itu selalu terjadi perbedaan kepentingan. Klas atas menginginkan  status quo, sedang klas bawah, menginginkan hilangnya klas.

 

 

Sumber Rujukan

Karnaji. 2014 “Pengantar Sosiologi”. Bahan Ajar Mata Kuliah Pengantar Sosiologi. FISIP UNAIR.

Suyanto, Bagong. 2014. “Perkembangan dan Peran Sosiologi”. dalam Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Prenada Media Group.

 

 

Baca Juga:

Pengertian Sosiologi: Hakikat Sosiologi, Definisi, dan Obyek Kajian

Teori Thomas Hobbes Tentang Leviathan dan Kekuasaan Negara

Teori Montesquieu Tentang Pembagian Kekuasaan dan Sistem Pemerintahan

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments