Perkembangan Nasionalisme dan Model-model Nasionalisme

Perkembangan Nasionalisme dan Model-model Nasionalisme

Penulis: Redaksi

Pada tulisan sebelumnya, kita telah mendiskusikan tentang perbedaan akar sejarah lahirnya nasionalisme di Barat dan Negara Dunia Ketiga. Kali ini, kita akan lebih jauh mengeksplorasi perkembangan konsep nasionalisme dan juga klasifikasi terhadap model-model nasionalisme yang merupakan akibat dari perkembangan konsep tersebut.

Bahan tulisan ini keseluruhan kami sarihkan dari tulisan Sutrisno berjudul ”Pemikiran Politik Indonesia: Nasionalisme” Bahan Ajar Mata Kuliah Pemikiran Politik Indonesia Universitas Airlangga (2015).

Perkembangan Nasionalisme

Semenjak kemunculannya hingga hari ini, konsep nasionalisme telah begitu banyak mengalami perubahan bentuk dan bagaimana ekspresinya yang menimbulkan kesulitan tersendiri untuk membuat satu definisi baku.

Meski demikian G. J. H. Hayes (dalam Sutrisno, 2015) mengatakan bahwa di dalam nasionalisme berisikan dua bentuk ekspresi emosi modern yang bekerja, yakni nationality  dan patriotisme.

Sederhananya, nationality merujuk pada kesamaan dari sekelompok orang yang memiliki bahasa, sejarah, dan tradisi bersama yang diakui secara massal. Akar-akar dari nationality ini sendiri bisa bahasa, tradisi sejarah, adat istiadat, seni, agama, lembaga-lembaga sosial, dan semacamnya.

Sedangkan patriotisme, seperti dijelaskan Chavan (dalam Sutrisno, 2015) menunjuk pada pengertian cinta pada tanah kelahiran ini kemudian meluas pada kecintaan terhadap desa,  suku,   nation,   dan   pada   pemimpin   pemimpin militer maupun politik.

Dalam konteks masyarakat Barat, nasionalisme yang berkembang di abad ke-18 lalu adalah suatu gerakan politik yang bertujuan membatasi kekuasaan pemerintah sekaligus menjamin hak-hak warga negara. Tujuan utamanya bisa ditebak adalah membina suatu masyarakat sipil yang liberal dan rasional.

Hal ini tidak terlepas dari aspek pertumbuhan nasionalisme di Barat yang pada waktu itu memiliki standart peradaban dengan ditandai penghormatan kepada sesuatu yang bersifat kemanusiaan umum atau humanisme, kepercayaan penuh terhadap rasionalisme dan persamaan derajat.

Akhirnya, nasionalisme tumbuh dan berkembang dalam suasana keyakinan-keyakinan kosmopolitan dan rasa cinta umat manusia tanpa memandang batas-batas wilayah (Hans Kohn, 1984 : 19 dalam Sutrisno, 2015).

Barbara Word (alam Sutrisno, 2015) melalui tulisannya berjudul ”Nationalitsm and Ideology” mendeskripsikan bahwa, terdapat relevansi antara perkembangan nasionalisme dan kebutuhan masyarakat akan terjadinya transformasi teknologi modern karena faktor industrialisasi yang pesat. Word menyebut betapa sulitnya perkembangan itu terjadi di Barat jika nasionalisme belum dikenal secara lebih luas dan diterima.

Aspek-aspek seperti kompetisi yang melahirkan golongan pengusaha; atau perang yang meningkatkan industrialisasi senjata. Sementara itu, terkait dengan peradaban Barat dari segi politik, nasionalisme menyiapkan seperangkat basis filosifis yang membuat akses  hak masyarakat bisa tersalurkan seperti  perluasan  hak  suara,  hak – hak  politik  masyarakat dan lain sebagainya.

Sejarah kemudian menceritakan bahwa nasionalisme yang mendorong pertumbuhan ekonomi tidak bisa menyelesaikan persoalannya sendiri. Meski telah mampu menyiapkan basis bagi terwujudnya transformasi sosial dari tradisional ke modern, namun pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan suatu negara tidak bisa mencukupinya. Alhasil, fenomena yang menyejarah adalah muncul yang nasionalisme mendorong diterapkannya kolonialisme dan imperialisme.

Negara-negara Eropa setelah revolusi industri di Inggris mulai menampakkan dirinya sebagai negara industri yang terus berkembang. Namun karena kompetisi yang ketat mendorong negara-negara Eropa tersebut melakukan ekspansi ke luar wilayahnya. Terjadilah kolonialisme.

Dimulailah perjalanan melintas batas untuk mencari daerah-daerah baru yang cocok dijasikan daerah pedukung ekspansi ekonomi mereka, baik sebagai pasar penjualan barang-barang hasil industri maupun sebagai sumber bahan mentah untuk memasok proses produksi.

Di negara-negara Asia, sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, yang terjadi justru sebaliknya. Nasionalisme muncul sebagai reaksi terhadap kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan, terutama, oleh negara-neraga Eropa. Penindasan yang dilakukan oleh pihak penjajah, eksploitasi ekonomi dan politik, mendorong munculnya sentimen-sentimen kedaerahan untuk melawan “orang asing”.

Gambaran singkat ini menjelaskan kepada kita bagaimana proses kesejarahan yang terjadi dan kemudian mengakibatkan pemaknaan ulang dari nasionalisme. Singkatnya, bisa bisa lihat betapa nasionalisme mengalami perkembangan dalam bentuk dan ekspresi yang cukup beragam.

Perkembangan Model-model Nasionalisme

Keberagaman hasil dari perkembangan kesejarahan membuat nasionalisme melahirkan beragam bentuk atau model-model yang berbeda.

Chavan (dalam Sutisno, 2015) secara garis besar membuat klasifikasi dari bentuk nasionalisme di dunia ini menjadi lima, yakni nasionalisme rasial, nasionalisme demokratik, nasionalisme tradisional, nasionalisme liberal dan nasionalisme integral.

Nasionalisme Rasial

Nasionalisme Rasial adalah adalah nasionalisme yang hanya sekadar mau  mengakui keunggulan rasnya saja sebagai satu-satunya akar nasionalisme. Dalam bentuknya yang politik konkrit, nasionalisme tipe ini memanifestasi dalam suatu cita-cita besar: satu ras satu bangsa, satu bangsa satu negara.

Nasionalisme demokratik

Nasionalisme demokratik atau juga disebut nasionalisme Jacobin. Nasionalisme tipe ini adalah perkembangan lebih lanjut dari teori humanitarian Rousseau dan pengaruh nilai-nilai revolusi Perancis. Nasionalisme tipe ini tidak menghendaki adanya peperangan. Kalu terjadi peperangan, maka peperangan itu dilakukan untuk mempertahankan prinsip dasar tentang kebebasan dan persamaan.

Begitu juga dengan kekuatan militer tidak boleh dilakukan kecuali untuk memperoleh kebebasan dan kemerdekaan rakyat. Pada gilirannya tipe nasionalisme ini dikenal fanatik karena mengadopsi simbol-simbol dan upacara-upacara untuk membangkitkan perasaan nasional, seperti bendera nasional, lagu kebangsaan, hari libur nasional, hukum nasional, tempat tinggal, parade upacara dan sebagainya.

Tipe ini kemudian dikenal dengan nama nasionalisme Jacobin, yang di Perancis berhasil mengantarkan Napoleon memperoleh kemenangan di Eropa.

Nasionalisme Tradisional

Nasionalisme Tradisional dikembangkan dari filsafat yang mengkritik Jacobinisme. Tipe nasionalisme ini dikembangkan oleh filsuf kenamaan Edmund Burk, suatu nasionalisme yang memuliakan para aristrokrat dan percaya pada loyalitas famili, lokal, dan regional.

Penganut nasionalisme tradisional percaya akan adanya/perlunya nasionality, bahwa negara tidak berbeda dengan rakyat. Persekutuan negara dengan rakyat tidak hanya terbatas di antara mereka yang tinggal dalam satu wilayah saja, tetapi juga antara mereka yang sudah mati dan yang baru lahir.

Nasionalisme Liberal

Nasionalisme Liberal hadir sesudah era Napoleon. Nasionalisme tipe liberal ada di antara nasionalisme demokratik Jacobin dan nasionalisme tradisional, yang di Inggris dikembangkan oleh Jeremy Bentham. Teorinya yang terkenal adalah negara harus menghormati kebebasan ekonomi dan kebebasan individu untuk terlibat dalam banyak profesi dan industri. Nasionalisme liberalisme akan mempertahankan atau menciptakan kedamaian universal dan organisasi internasional.

Secara umum, nasionalisme liberal muncul dimaksudkan untuk memberi dukungan pada pemerintah untuk mengakhiri tekanan, pengaruh aristokrat dan gereja, dan untuk mencapai kebebasan individu. Tipe ini menghendaki tiap-tiap negara menerapkan kebijaksanaan anti-militer, anti-perang dan kerjasama internasional. Sesudah Perang Dunia Pertama, nasionalisme ini bentrok dengan ideologi baru seperti fasisme, komunisme dan sosialisme.

Nasionalisme Integral

Sebagai reaksi terhadap nasionalisme liberal, muncullah Nasionalisme Integral yang elemen-elemennya berisi fasisme, komunisme dan sosialisme. Nasionalisme integral secara garis besar bertujuan untuk memperluas teritori, melindungi perdagangan dan kepentingan-kepentingan ekonomi nasional, dan membuat kebijakan-kebijakan yang meletakkan kepentingan nasional di atas kepentingan individu dan kemanusiaan.

Tipe nasionalisme ini juga dijabarkan dalam nasionalisme biologikal dikemukakan oleh Arthur de Gabineau. Akar nasionalisme ini adalah ras dan darah.

Meski demikian, Sutrisno memberi catatan bahwa tipe ini bisa berlawanan dengan konsep asli nasionalisme, yang meletakkan nasionalisme sebagai kesatuan politik individu yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan.

Menurut teori ini, rasial menciptakan ras manusia yang superior dan inferior; dan hanya ras yang superiorlah yang akan memerintah ras yang inferior.

Nasionalisme Totalitarian

(Hitler melalui Nazi berupaya menegakkan model nasionalisme totalitarian. Sumber Gambar: Lifehackk)

Terakhir adalah Nasionalisme Totalitarian. Nasionalisme totalitarian menekankan kekuasaan mutlak terhadap pada negara, yang berarti membolehkan tekanan atau paksaan yang dilakukan negara terhadap individu. Nasionalisme inilah yang lebih lanjut dikembangkan oleh negara-negara fasis dan komunis.

 

Baca Juga:

Perbedaan Kemunculan Nasionalisme di Negara Dunia Ketiga dan Negara Barat

Pengertian Oligarki dan Demokrasi di Indonesia Menurut Vedi Hadiz, Richard Robinson, dan Jeffrey Winter

Pengertian Negara, Sifat-sifat Negara, dan Unsur-unsur Negara dalam Kajian Ilmu Politik

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments