Perbedaan Kemunculan Nasionalisme di Negara Dunia Ketiga dan Negara Barat

Perbedaan Kemunculan Nasionalisme di Negara Dunia Ketiga dan Negara Barat

Penulis: Redaksi Pojok Wacana

Semenjak awal abad 20, para ilmuwan politik menaruh minat besar tentang studi nasionalisme yang menyeruak di negara-negara Dunia Ketiga. Nasionalisme di sini bukan sekadar merujuk ala perlawanan atas kolonialisme dari negara jajahan yang bersifat sporadik dan primordial, namun lebih termotivasi oleh semangat berbasis nation atau nasionalisme.

Misalnya hal ini terjadi pada Gerakan perlawanan masyarakat Dunia Ketiga, seperti di Afghanistan, India, Pakistan, Indonesia, China, Malaysia, Philipina, Korea, dan Vietnam yang akhirnya membangkitkan semangat anti-asing yang ditujukan untuk menantang Eropa sebagai pemegang kekuasaan.

Sehingga tidak mengherankan, kolonialisme memberikan sumbangsih besar atas suburnya nasionalisme di Negara-negara Dunia Ketiga. Nasionalisme telah memberikan semacam kesadaran untuk berusaha membebasakn diri dari imperialisme Barat. Tentu beberapa persitiwa di negara lain turut memotivasi semangat tersebut.

Misalnya Kemenangan Jepang atas Rusia dalam perang memperebutkan wilayah formosa (Taiwan) dan semenanjung Korea pada 1905. Dalam koteks Indonesia, tidak pula ketinggalan peran para terpelajar yang turut mengenyam pendidikan di Barat dan akhirnya berusaha menerapkannya di Indonesia.

Menariknya, jika kita telisik ke belakang, ideologi nasionalisme sendiri awalnya berasal dari Barat. Salah satunya adalah kemunculan Protestan untuk melawan dominasi Gereja digadang-gadang sebagai salah satu awal dari kemunculan paham nasionalisme. Pada akhirnya, nasionalisme yang diadopsi oleh Negara jajahan Barat dipergunakan untuk melawan kolonialisme Barat itu sendiri.

Tulisan ini menjelaskan lebih jauh topik di atas, utamanya terkait perbedaan nasionalisme di Barat dan Negara Dunia Ketiga seperti yang sudah kita singgung sebelumnya. Bahan tulisan ini sebagaian besar kami ambil dari tulisan Sutrisno berjudul ”Pemikiran Politik Indonesia: Nasionalisme” Bahan Ajar Mata Kuliah Pemikiran Politik Indonesia Universitas Airlangga.

 

Nasionalisme Di Negara Dunia Ketiga

Seperti telah disinggung sebelumnya, nasionalisme yang muncul di Eropa Barat merupakan awalnya adalah reaksi global atas kekuasaan Gereja di Roma, menjelang runtuhnya Abad Tengah yang terkenal dengan konsep negara teorikrasi (tentang pengertian negara teokrasi baca di sini).

Beberapa peristiwa yang melatarbelakanginya adalah: Para penguasa aristrokat mulai berusaha memisahkan dominasi kekuasaannya gereja atas negara-bangsa. Faktor lain adalah gelombang penemuan teknologi dan ilmu pengetahuan alam berkembang dengan pesat yang mengakibatkan masyarakat bersifat lebih kritis terhadap dominasi Gereja yang mengatur segala sesuatu.

Setelah kekuasaan Gereja dapat ditumbangkan, konsep negara (nation-state) muncul di bawah kekuasaan Raja. Dimana basis legitimasi filosofisnya bersandarkan mitologi Yunani Kuno.

Chavan menyimpulkan bahwa nasionalisme gelombang pertama ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kemunculannya bukan karena faktor primordial, namun lebih pada loyalitasnya terhadap Yunani Kuno.

Tentu peran berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi harus disebut karena membuat masyarakat dapat melepaskan hegemoni geraja dalam pemikiran dan filsafat.

Singkat kata, nasionalisme gelombang pertama di Eropa Barat karena perlawanan terhadap Gereja di Romawi, bukan ditentukan oleh aspek kolonialisme sebagaimana di Negara Dunia Ketiga.

Di sisi lain, nasionalisme di Asia, Afrika, dan Amerika Latin kebanyakan sebagai reaksi atas dominasi kekuasaan asing di negara tersebut. Lewat interaksi kekuasaan kolonialisme Eropa itulah bangsa di negara Asia, Afrika dan Amerika Latin berjumpa dan mengenal konsep nasion-state. Dimana dengan konsep itu dipergunakan untuk melawan imperialisme dan kolonialisme Barat.

Sebagai contoh gerakan nasionalisme yang merupakan respon perlawanan balik adalah di India yang ditujukan kepada bangsa Inggris yang telah menduduki negeri tersebut sejak abad ke-19.

Terjadi yang dikenal sebagai pemberontakan “Sepoy” atau “The Indian Mutiny”. Pemberontakan ini bertujuan mengusir kongsi dagang Inggris dari India (EIC) dan mengembalikan kekuasaan kerajaan Moghul di India. Tokoh besarnya adalah Ranee Lakhsmi Bai, Nana Shib dan Tantya Tope.

Jika bicara nasionalisme India, maka tokoh besar Mahatma Gandhi tidak bisa terlepas darinya. Beberapa ajarannya telah menekankan aspek nasionalisme untuk melawan penajajahan.

Misalnya seperti Ahimsa (gerakan anti peperangan atau anti kekerasan yang melarang pembunuhan), Satyagraha (Satya adalah kebenaran jiwa; agraha berarti kekuatan) adalah gerakan untuk tidak bekerjasama dengan kaum penjajah.

Ada lagi Hartal (pemogokan, yakni perlawanan rakyat India melalui gerakan tidak berbuat apa-apa, meskipun mereka datang ketempat kerja) dan Swadesi (suatu gerakan untuk mempergunakan produksi sendiri, tidak menggantungkan kepada produk bangsa lain).

(Mahatma Gandhi, tokoh besar nasionalisme dan penggerak anti kolonialisme di India. Sumber Gambar: Wikipedia)

Mark N. Hagopian (dalam Sutrisno, 2015) mengindikasikan terdapat unsur etnosentris dan egalitarian yang timbul bersama sekaligus bersifat kontradiksi yang menjadi bahan bakar semangat timbulnya nasionalisme di Asia dan Afrika. Dengan kata lain, Hagopian ingin mengatakan bahwa nasionalisme di Negara Dunia Ketiga lebih bersifat sebagai gerakan sosial daripada analisis bersifat ideologis.

Karena semakin populer di negara-negara jajahan, oleh sebab itu konsep nasionalisme modern Eropa Barat Abad ke17 dan 18 semakin mendapatkan tempat popularitasnya setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, dimana waktu itu adalah momentum para negara jajahan mulai merasakan kemerdekaannya.

Akibatnya, sejak tahun 1940-an konsep-konsep seperti nation-state, national and Character building, integrasi nasional, nasionalisme, patriotisme, dan neo-imperialisme semakin populer dan intim bagi masyarakat negara yang baru merdeka.

 

Baca juga:

Pengertian Oligarki dan Demokrasi di Indonesia Menurut Vedi Hadiz, Richard Robinson, dan Jeffrey Winter

Pengertian Negara, Sifat-sifat Negara, dan Unsur-unsur Negara dalam Kajian Ilmu Politik

Pengertian Sosiologi: Hakikat Sosiologi, Definisi, dan Obyek Kajian

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments