Penyangkalan Realitas Empiris George Barkeley

George Berkeley

George Barkeley (1685-1753) menempati posisi penting dalam perbincangan filsafat karena penyangkalannya terhadap realitas empiris, dan menekankan persepsi sebagai pangkal pengetahuan.

Cara paling mudah memahami gagasan Barkeley adalah mengaitkannya dengan tokoh besar empirisme, Jhon Locke. Seperti penjelasan Hardiman (2019), memang Berkeley terpengaruh oleh Jhon Locke, namun menolak pengandaian-pengandain pemikirannya.

Locke membedakan posisi idea dan pengalaman. Pengalaman merupakan hasil dari objek, sedangkan idea adalah apa yang mengendap dalam kesadaran subjek. Locke mengatakan bahwa pengetahuan berasal dari realitas empiris yang kemudian diproses oleh persepsi. Realitas empiris dan persepsi adalah jalinan pengalaman inderawi.

George Barkeley berpandangan bahwa pengalaman dan idea adalah sama saja. Ia tidak mempercayai adanya ide-ide di luar pikiran manusia. Ketika suatu objek itu dinyatakan ada, hal ini karena objek tersebut mampu dipersepsikan oleh pikiran kita. Sebaliknya, keseluruhan pandangan metafisik yang tidak mampu dicerna dalam persepsi pikiran kita adalah kenyataan-kenyataan kosong atau omong kosong.

Dengan demikian, dunia materi atau realitas empiris adalah sama saja dengan dunia ide kita sendiri. Jadi dunia materi itu tidak ada, yang ada adalah ide atau persepsi seturut penangkapan pikiran kita. Dunia-dunia hanya idea-ide kita.

Gamblangnya,objek materi itu ada karena adanya penglihatan kita, suara itu ada karena pendengaran kita dan seterusnya. Jika kita tidak mempersepsi realitas objek, maka ia tidak ada.

Sebuah nyinyiran kemudian hadir, seperti dijelaskan Russell (2021), apakah kemudian ketika semua orang di dunia menutup mata, maka kemudian eksistensi pohon di seluruh dunia itu lenyap seketika?

Berkeley berargumen bahwa Tuhan senantiasa melihat segala sesuatu. Seandainya Tuhan itu tidak ada, maka segala realitas persepsi inderawi dan kenyataan hadir serba spontan. Jika kita membuka mata, tiba-tiba Tuhan menciptakan pohon, atau sesuatu mendadak hilang karena kita menutup mata.

Karena Tuhan itu ada dan senantiasa mengawasi segala sesuatu, pohon dan bebatuan, karena berkat persepsi Tuhan, secara kontinyu memiliki eksistensi seturut dengan bagaimana kita mempersepsikan realitas yang dicerna oleh akal sehat. Argumen ini juga sekaligus ditujunkkan oleh Berkeley sebagai bukti keberadaan Tuhan (Russell, 2021).

Nampak mencolok perbedaanya adalah Locke menekankan makna pengalaman adalah pengalaman inderawi, dan Berkeley lebih pada pengalaman batin. Meski memiliki kecondongan berbasis pemikiran rasio, Berkeley tetap masuk kategori filsuf empirisme karena kenyataan yang ia pahami tetap beradasarkan realitas empiris, meski menurut persepsi batin (Hardiman, 2019).

 

Daftar Rujukan

Hardiman, Budi. 2019. Pemikiran Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche. Yogyakarta: Kanisius.

Russell, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

 

Baca Juga:

Filsafat Empirisme John Locke

Pemikiran Plotinus: Trinitas Suci dalam Metafisika Neoplatonisme

Perjalanan Singkat Pemikiran Stoisisme: dari Zeno hingga Epictetus dan Marcus Aurelius

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments