Pengertian Teori Ketergantungan (Dependency Theory)

Andre Gunder Frank, Tokoh Teori Ketergantungan

Kolonialisme adalah pemindahan kekayaan dari daerah koloni ke daerah peng-koloni, dan selanjutnya menghambat kesuksesan pengembangan ekonomi”

Andre Gunder Frank, Tokoh Teori Ketergantungan (dependency theory)

Penulis Dian Dwi Jayanto

Teori ketergantungan (dependency theory) adalah teori yang beragumen bahwa keterbelakangan pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh negara-negara dunia ketiga, dan senyatanya timpang dengan negara-negara industri, karena faktor “ketergantungannya” atau keikutsertaannya terhadap sistem integrasi ekonomi kapitalisme global.

Hal yang patut diingat, teori dependensi merupakan salah satu pendekatan yang mencuat, khususnya dari sudut pandang negara-negara dunia ketiga terhadap konsekuensi modernitas yang bercirikan perkembangan industri kapitalisme.

Pemrakarsa teori dependensi kebanyakan adalah kaum Neo-marxis yang banyak mengambil gagasan kritis terhadap modernitas, beserta konsekuensi sistem kapitalismenya yang menyengsarakan kelompok proletar, dimana proletar dalam kamus teori dependensi di sebut negara pinggiran/periphery. Perintis teori dependensi (dependency theory) adalah Paul Baran (tahun 1950-an) dan Andre Gunder Frankl (pertengahan tahun 1960-an).

Teori dependensi (dependency theory) berupaya untuk memberikan jawaban alternatif dari pertanyaan, “mengapa negara-negara berkembang atau negara dunia ketiga tidak kunjung mampu menutup gap dalam pertumbuhan ekonominya  dengan negara-negara industri?”.

Para teoritis teori dependensi memiliki pandangan yang berbeda dengan para pemikir ekonomi liberal pada umumnya tentang jawaban Dari pertanyaan di atas. Dari sini, kita bisa mulai masuk pada pembahasan yang lebih dalam.

Misalnya para teoritis ekonomi liberal mengemukakan faktor non-ekonomi seperti keterlibatan pemerintah dalam merumuskan kebijakan dan menggalakkan integrasi ekonomi nasional dengan sistem ekonomi global.

Lain kata, mereka mengandaikan bahwa ekosistem ekonomi global berlangsung secara inheren dan adanya saling ketergantungan antar negara menjadi keniscayaan agar suatu negara segera cepat mengakselarasi pertumbuhan ekonominya. Lain kata, negara berkembang agar bisa mengalami pertumbuhan layaknya negara industri harus tutur berpatisipasi dalam pergaulan ekonomi global.

Pandangan ini juga menyiratkan roh pikiran Adam Smith bahwa ekonomi liberal pada ujungnya akan mencapai titik keseimbangan. Kelompok liberal klasik menaruh kepercayaan penuh terahadap hukum pasar (supply creates its own demand).

Padangan senada juga bisa kita jumpai dalam gagasan ahli ekonomi yang tidak selalu berhalauan liberal, bahkan marxis seperti A. A. Rostow.  Dalam bukunya berjudul “The Stages of Economic Growth, A Non-Communist Manifesto”, Rostow mengemukakan teori pertumbuhan adalah suatu bentuk teori modernisasi yang menggunakan metafora pertumbuhan, yaitu tumbuh sebagai organisme.

Teori pertumbuhan melalui lima tahapan: masyarakat tradisional, kondisi pra-lepas landas, lepas landas, bergerak menuju kedewasaan ekonomi, dan berujung pada era konsumsi masal yang tinggi (high mass consumption). Caranya adalah dengan menekankan pendayagunaan sumber daya, tenaga kerja, teknologi, dan investasi kapital.

Cara pandang lima tahapan Rostow mengingatkan kita pada determinasi historis Karl Marx (dari tradisional menuju masyarakat sosialis). Rostow memang menilai  bahwa modernisasi sebagai cara untuk membendung semangat sosialisme.

Baca tulisan berikut Garis Besar Pemikiran Karl Marx

Meski analisisnya bercorak Marxian, Rostow tetap memiliki keserupaan dengan para ekonom liberal dalam menitikberatkan peran penting pemerintah dan integrasi ekonomi global dalam mempercepat tahapan pembangunan negara.

Dewasa ini, suatu proses pengintegrasian ekonomi nasional bangsa-bangsa ke dalam suatu sistem ekonomi global adalah salah satu pengertian globalisasi, dimana fase ini hanyalah perkembangan kapitalisme liberal.

Para teori dependensi, yang banyak mendapatkan inspirasi pemikiran dari Marx dan neo-marxian, melihat bahwa negara berkembang mengalami ketimpangan dengan negara industri bukan karena mereka terisolasi dari integrasi ekonomi global, melainkan adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari dari integrasi ke dalam sistem kapitalisme global.

Seturut dengan cara pikir Marxian, teori dependensi menyatakan hubungan produksi dalam sistem kapitalisme yang mengakibatkan struktur pertukaran yang tidak setara. Kapitalisme telah telah mendistribusikan sebagian besar keuntungan produksi kepada segelintir orang saja, dan menyisahkan sedikit bagi kepentingan domestik.

Tak ubahnya dalam sistem intenasional, struktur pasar global mendistibusikan kekayaan kepada negara-negara industri atau negara maju dan sisa getahnya untuk negara-negara berkembang atau negara dunia ketiga.

Bagaimana solusi dari para teoritis dependensi mengatasi problem ketimpangan tersebut?

Untuk menjawabnya, kita perlu mengetahui bahwa intelektual teori dependensi terbagi menjadi dua kelompok berdasarkan sudut pandang yang menyertakan solusi masing-masing.

Kelompok pertama yang diprakarsai oleh perintis awal teori dependensi seperti Paul Baran (tahun 1950-an) dan Andre  Gunder Frankl (pertengahan 1960-an). Kelompok ini tercakup dalam “development underdevelopment”.

Analisis mereka menekankan pada politik domestik dan faktor sosial politik dengan ,memberikan sedikit perhatian terhadap analisis aktor domestik dan institusi. Hal tersebut menegaskan perbedaan perspektif mereka dibanding kelompok ekonomi liberal dan Rostow yang menekankan peran pemerintah dan kelembagaan.

Kelompok ini menyepakati untuk bisa memutus tali dependensi yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan negara dunia ketiga adalah dengan mengajukan pandangan revolusi Marxian. Kata lain, negara-negara dunia ketiga harus menghentikan ketergantungan mereka, keikutsertaan mereka, di dalam sistem kapitalis global. Sebuah pandangan yang menekankan revolusi politik.

Kelompok teori dependensi kedua dengan tokohnya bernama Immanuel Welleerstein tidak menyepakati solusi dari Baran dan Frank. Kelompok ini menekankan analisis dan solusinya pada aspek agensi dari aktor politik dan kondisi domestik di negara periphery (pinggiran) agar bisa segera menyusul ketertinggalan. Kelompok ini bisa disebut sebagai kelompok “dependency theory without revolutionary Marxism”.

 

Bacaan lebih lanjut

Frank A. Boyd. 2011. “Dependency and Development”, dalam John T. Ishiyama Marijke Breuning. “21st political science:  a Reference Handbook”. SAGE Publications, khususnya  99-106.

 

 

 

Baca Juga

Garis Besar Pemikiran Karl Marx

Pengertian Sosialisme dan Sosialisme Demokrasi

Kritik Atas Kritik: Masalah Kaum Anarkisme Dan Membicarakan Masa Depan Sosialisme

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments