Pengertian Renaisans yang Menginspirasi Pemikiran Sekuler

Renaisans

Renaisans, atau “renascita” dalam bahasa Italia dan “rinasci” dalam bahasa Latin, secara istilah artinya “kelahiran kembali”.

Kelahiran kembali di sini dalam arti gerakan intelektual untuk menelaah ulang teks-teks filsafat Yunani dan Romawi Kuno serta mengintepretasikan ulang sesuai kebutuhan zaman yang sedang berlangsung.

Dengan demikian, renaisans tidak hanya dapat dipahami kembali mengemukanya ajaran klasik Yunani dan Romawi, namun para cendekiawan di era tersebut (sekitar tahun 1500-an) menafsirkan ulang pemahaman teks-teks tersebut dengan kondisi zaman yang sedang berlangsung.

Penelusuran terhadap minat filsafat klasik menjadi sebuah bahan perenungan bagi masa depan Dunia Barat, dimana rasionalisme merupakan mahkota besar bagi tumbuh-kembangnya sebuah peradaban.

Kalangan humanis sebagai pelopor renaisans meyakini bahwa rasionalitas berada di atas iman. Konsekuensinya, sebuah teks kitab suci ditafsirkan layaknya buku-buku filsafat pada umumnya dalam perspektif rasio belaka.

Kalangan humanis awalnya berasal dari Italia, yang pada gilirannya menjalar ke Prancis dan Jerman melalui warisan terjemahan dari Dunia Arab. Di saat yang sama Paus Leo X malah menjadi pendukung humanisme yang solid (Hardiman, 2019).

Beberapa tokoh aktivis humanis misalnya Petrarkha, Eramus, Rabelais, Thomas More, dan Cervantes. Salah satu tokoh renaisans paling populer dari Italia adalah Machiavelli. Ia adalah sosok pemikir, terlepas dari kontrversi yang menyertainya, yang menggugat kekuasaan berbasis legitimasi tradisional menjadi rasional.

Itu artinya, renaisans tidak hanya bermakna nostalgia semata terhadap warisan sejarah pemikiran masa lalu, namun mengambil inspirasi yang turut membentuk pemikiran dan berangsur-angsur mendorong sebuah perubahan sosial.

Singkatnya, renaisans yang berawal dari gerakan kebudayaan dan intelektual mampu mengilhami gerakan teologis dan politik sebagaimana ditunjukkan oleh Martin Luther.

Salah satu buah dari pemikiran politik renaisans adalah pemikiran sekuler.

Berikut penjelasan atas pertautan singkatnya:

Pemikiran rasional turut merembet untuk memikirkan ulang kondisi sosial politik yang sedang berlangsung, utamanya ketika melihat Gereje sebagai institusi pengendali kehidupan manusia. Tak ayal, kalangan humanis di era renaisans membidik kekuasaan Gereja yang berbasis legitimasi religius. Sebagai tandingannya, konsep sekular (pemisahan agama dan negara/politik) semakin menggema.

Bagaimana kaitan teks-teks Yunani, Romawi, bahkan telaah ulang ajaran agama monoteisme mempengaruhi kalangan humanis di era renaisans untuk menyodorkan gagasan sekuler?

Pertama, ajaran pemikiran politik dari filsafat Yunani klasik seperti Plato dan Aristoteles telah menggariskan bahwa tatanan politik adalah ekspresi dari kebutuhan dasar manusia. Aristoteles mengemukakan bahwa negara adalah kesatuan organik dari persemakmuran kolektif tertinggi dari yang terendah berupa keluarga.

Itu artinya, sebuah sistem politik sama halnya menekankan bagaimana manusia mencapai keutamaan. Politik adalah sarana bagi tujuan-tujuan utama manusia mencapai kebutuhan dirinya. Tentu hal demikian ini jauh berbeda ketika Gereja mendisplinkan secara total kehidupan warga negara berdasarkan wahyu.

Kedua, dari teks-teks Romawi kita akan banyak belajar bagaimana tatanan imperium tersebut mampu berdiri cukup alam adalah karena faktor pengaturan mekanisme hukum. Hukum menjadi sebuah keharusan dalam pengelolaan negara, sekaligus untuk menjamin tertib sosial dan menjaga hak-hak warga negara.

Ketiga, menurut Magnis Suseno (2007), pembacaan ulang ajaran agama monoiteisme (baik Kristen dan Islam) menganggap sebuah kekuasaan politik bukan perwujudan mutlak yang bersifat sakral, dengan tanpa cela untuk meminta pertanggungjawaban moral.

Alhasil, terdapat landasan teologis bagi warga negara untuk menuntut jalannya kekuasaan jika dianggap tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Ramuan dari tiga unsur-unsur ajaran tersebut saling menyokong untuk bersama-sama mendobrak kekuasaan agama di Abad Pertengahan.

 

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Baca Juga:

3 Hal Dasar Tentang Filsafat dan Teologi Santo Agustinus

Pemikiran Plotinus: Trinitas Suci dalam Metafisika Neoplatonisme

4 Hal Dasar Tentang Filsafat Stoisisme

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments