Pengertian Epistemologi: Pemaknaan, Kebenaran, dan Sahnya Pengetahuan

Pengertian Epistemologi: Pemaknaan, Kebenaran, dan Sahnya Pengetahuan

Pengertian Epistemologi: Pemaknaan, Kebenaran, dan Sahnya Pengetahuan

Penulis Dian Dwi Jayanto

Dari segi etimologis, epistemologi, atau “epistemology” dalam bahasa Inggris, berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata “episteme” dan “logos”. Episteme memiliki arti kebenaran dan pengetahuan, sedangkan logos berarti pikiran atau ilmu.

Jika kita satukan, kita bisa memaknai dari segi bahasa bahwa epistemologi adalah pikiran-pikiran tentang pengetahuan atau kebenaran.

Secara umum, pengertian epistemologi adalah “penyelidikan filsafati terhadap pengetahuan khususnya tentang kemungkinan asal mula, validitas, batas, sifat dasar, dan aspek pengetahuan berkait lainnya” (Bernadien, 2011: 54).

Dalam teks-teks filsafat, epistemologis biasanya menjadi salah satu cabang filsafat. Sebagaimana  menurut Louis Kattsoff dalam “Pengantar Filsafat: Buku Pegangan untuk Menngenal Filsafat” mengemukakan bahwa pengertian Epistemologi adalah “cabang filsafat yang menyelidiki asal mula, susunan, metode-metode, dan sahnya pengetahuan” (Kattsoff 2004: 74).

Dengan demikian, epistemologi berkaitan dengan konsep ilmu (pemikiran tentang pengetahuan atau kebenaran), khususnya tentang bagaimana suatu pengetahuan dapat tercapai serta tervalidasi sebagai kebenaran.

Lebih jauh Kattsoff memerinci beberapa pertanyaan mendasar dari apa yang digali dalam epistemologi:

Apakah mengetahui itu? Apakah yang merupakan asal mula pengetahuan kita? Bagaimana cara kita mengetahui jika kita mempunyai pengetahuan? Bagaimana cara kita membedakan pengetahuan dan pendapat? Apakah yang merupakan bentuk pengetahuan itu? Corak-corak pengetahuan apakah yang ada? Bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? Apakah kebenaran dan kesesatan itu? Apakah kesesatan itu?

Kattsoff lebih jauh mengemukakan bahwa dari keseluruhan pertanyaan-pertanyaan di atas, kita bisa menarik benang simpul menjadi dua pertanyaan yang bersifat umum.

Pertama, pertanyaan seputar sumber pengetahuan kita. Pertanyaan ini disebut sebagai epistemologi kefilsafatan.

Kedua, masalah-masalah semantik yang lebih banyak membicarakan hubungan antar pengetahuan kita dengan objek pengetahuan tersebut.

Alhasil, secara lebih padat,  pengertian epistemologi adalah sebuah penyelidikan yang mengacu tentang  “bagaimana cara kita mengetahui kenyataan dan kemudian dapat menentukan apa yang kita ketahui”.

Bisa juga kita balik, atas dasar apa kita bisa menentukan makna yang kita ketahui, dan bagaimana caranya membuktikan kalau pernyataan kita seturut dengan apa yang kita ketahui benar adanya.

Perlu ditekankan, kerap kali terjadi pemahaman kurang tepat ketika kita tidak berhati-hari. Kita bisa memahami epistemologi sebagai “apakah kenyataan itu”. Ini sudah wilayah ontologis (teori tentang hakikat/wujud/kenyataan). Sudah kita bahas dalam tulisan sebelumnya.

Ontologi berkaitan dengan pertanyaan “apa”, epistemologi berurusan dengan metode yang lekat dengan “bagaimana” cara kita mengetahui kenyataan sebagai dasar menentukan pengetahuan apa yang kita dapat. Pada gilirannya epistemologi kerap disebut sebagai teori tentang ilmu.

Sebagai contoh ada ungkapan berbunyi “demokrasi adalah sistem pemerintahan terbaik”. Ketika suatu klaim sudah diajukan, maka ia terbuka lebar untuk mendapat penyangkalan: “darimana pernyataan tersebut lahir?”, “Bukti seperti apa yang mendukung pernyataan tersebut valid?”

Ini adalah contoh bagaimana wilayah kerja epistemologis yang bertanggung jawab melakukan penyelidikan sehingga suatu pengetahuan dianggap sah. Validitas pernyataan perlu disokong pembuktian.

Dalam konteks yang lebih dasar lagi tentang asal-mula, kita bisa menanyakan misalnya, “apa yang Anda maksud dengan demokrasi?”

Pertanyaan di atas tentu krusial sebelum lebih jauh apakah pernyataan demokrasi adalah sistem pemerintahan terbaik benar atau menyesatkan. Bagaimana mungkin kita bisa lebih jauh menyelidiki kebenaran atau kesalahan klaim kalau kita acuh terhadap betapa pentingnya makna yang terkandung di dalamnya. Mempertanyakan mengenai makna dan kemudian menetapkannya adalah penyelesaian yang harus didahulukan.

Terkadang kita sering sekali memperdebatkan sesuatu bukan soal validitas kebenaran dari pernyataan tertentu, namun masing-masing kepala memiliki makna yang bisa berbeda satu sama lain dan menghasilkan debat panjang dalam ruang-ruang konsep yang berbeda.

Satunya setuju, satunya tidak, ternyata pemahaman demokrasi itu sendiri itu memiliki makna yang berbeda. Apalagi demokrasi dan topik-topik lainnya yang berkaitan adalah konsep yang cenderung abstrak.

Menurut Kattsoff, ada tiga corak pemaknaan yang pokok: pragmatis, semantik, dan sintaksis. Misalnya pengertian polisi dalam makna sematik tinggal melihat pendefinisian dalam undang-undang.

Makna pragmatis yang bisa diubah-ubah tergantung konteks masa yang mengiringinya. Makna polisi memiliki arti berbeda menurut demonstran dan pemilik pabrik seturut wujud kegunaan pragmatis dari apa yang disebut polisi. Makna pragmatis ini bisa bersifat emosional dan bisa juga tergantung adat atau tata-krama yang berlaku.

Terakhir adalah makna sintaksis yakni suatu makna yang sepenuhnya sama dalam setiap pemakaiannya. Meski hal ini rumit dan terkesan terbatas. Arti force dalam bahasa Inggris tidak bisa sepenuhnya selalu bermakna tenaga jika misalnya kita tambahkan arti police force (angkatan kepolisian).

Yang terpenting dalam merujuk pemaknaan adalah menganalis makna di dalam tanda yang terkandung di dalam makna. Pembahasan ini nanti cukup panjang, kita sederhanakan saja.

Salah satu cara paling umum dalam upaya penentuan makna suatu kata adalah penggunaan definisi. Kembali pada contoh demokrasi.

Seseorang menjawab dengan mengutip pendapat Joseph Schumpeter bahwa demokrasi adalah mekanisme prosedural menentukan pemimpin politik dan dengan legitimasi pemilihan tersebut ia bisa membuat kebijakan yang mengikat. Demokrasi mengandung makna dengan tanda sistem prosedural.

Teman lain membantah dengan menggunakan definisi dari Betham bahwa namanya demokrasi adalah pemenuhan hak atas eksistensi “social control” sebagai bagian dari hak asasi manusia dalam menjalankan pemerintahan. Pemilu bukan definisi yang menjadi ciri khas dari demokrasi, tapi bagian dari konsekuensi dari pemenuhan hak asasi manusia dan kontrol publik dalam bekerjanya pemerintahan kuasa rakyat.

Ini sekadar contoh bagaimana bahwa bisa jadi tidak ada definisi riil dari istilah tersebut, namun kita bisa menetapkan makna tertentu bagi suatu objek dengan pengertian yang khusus sesuai dengan makna yang sedang kita kehendaki.

Terpenting kita bisa memahami bagaimana menentukan apa yang dimaksud asal-mula dalam penyelidikan filsafat.

Terdapat berbagai aliran filsafat yang berbeda yang akan memberikan definisi dari awal mula yang berbeda pula. Misalnya makna selalu tersirat dalam pengalaman seperti kata John Locke dan Hume. Setiap pengetahuan harus bermula dari pengalaman.

Tokoh filsuf pragmatis seperti James dan Dewey akan menekankan bahwa makna terikat kuat dengan konsekuensi. Pengertian kata adalah unsur di dalam segi pragmatisnya dalam memberikan konsekuensi kongkrit bagi tindakan.

Singkatnya, makna dalam epistemologi berangkat dari mana kita memahamkan istilah atau pengertian tentang sesuatu yang hendak kita klaimkan.

Titik berangkat filsafat tertentu yang kita ikuti juga berdampak pada bagaimana secara epistemologis kita menentukan kebenaran. Kalangan empiris yang menekankan kebenaran berdasarkan realitas indrawi akan menguji suatu pernyataan sebagai hipotesa, dan kemudian dianggap benar jika sudah sesuai dengan ramalan atau prediksi.

Sedangkan kelompok pragmatis lebih menekankan aspek konsekuensi terhadap perilaku yang bertujuan untuk menyelesaikan persoalan hidup. Tinggal diuji saja apakah benar demokrasi dalam praktiknya bisa menyelesaikan problem-problem kehidupan manusia.

Akhir kata, penetapan asal mula makna dan mencapai kebenaran bukan melalui metode baku aliran filsafat tertentu, tapi memiliki seperangkat sarana untuk bisa mencapai keduanya.

Pada ujungnya, pengertian epistemologi sebagai “asal mula, susunan, metode-metode, dan sahnya pengetahuan” adalah upaya sistematis untuk membangun jalinan validitas pengetahuan. Dengan tradisi epistemologis filsafati kita bisa membuktikan suatu pernyataan ilmiah sesuai kaidah sahnya pengetahuan.

 

Daftar Rujukan

Bernadien, Win Ushuluddin. 2011. Membuka Gerbang Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Kattsoff, Louis. 2004. Pengantar Filsafat: Buku Pegangan untuk Mengenal Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

 

 

Baca Juga:

Filsafat Arthur Schopenhauer: Kehendak dan Penderitaan Hidup

Dialektika Friedrich Hegel: Tesis, Antitesis, Sintesa

Dialektika Friedrich Hegel: Tesis, Antitesis, Sintesa

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments