Pengertian dan Karakter Age of Enlightenment (Zaman Pencerahan)

Pengertian Age of Enlightenment (Zaman Pencerahan)

“Milikilah keberanian (Sapere aude!) untuk menggunakan akalmu sendiri! Adalah semboyan Age of Enlightenment (Zaman Pencerahan)”

Immanuel Kant

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Kita telah membahas pengertian dasar dari modernis dan renaisans pada kesempatan-kesempatan sebelumnya, kini kita mendiskusikan pengertian dasar dari Zaman Pencerahan (Age of Enlightenment) beserta karakter yang menjiwai era yang dianggap zaman keemasan bagi peradaban Eropa.

Bagi yang belum baca tentang karakter modern, bisa klik tautan di bawah ini:

Dua Karakter Utama Filsafat Modern

3 Ciri Zaman Modernitas

Zaman Pencerahan (Age of Enlightenment) merupakan letusan puncak dari era modernitas yang telah dimulai semenjak era renaisans sebelumnya. Perkembangan lebih lanjut yang dirintis oleh Descartes melalui rasio sebagai tonggak (modernitas), dan kemudian melahirkan penyangkalan yang melahirkan para filsuf empiris (John Locke, Berkeley, & Hume), terlepas dari berbagai perbedaan pendapat yang berlangsung, keseluruhan menancapkan prinsip untuk mengutamakan kekuatan utama manusia: rasionalisme.

Pada abad ke-18, gagasan tersebut berlangsung dengan serentak bukan hanya dalam bidang intelektual, tapi meliputi aspek sosial, politik, dan kebudayaan. Dengan kata lain, zaman pencerahan menandai konklusi dari karakter modernitas yang berwawasan subjektif dan rasional.

Untuk lebih jelasnya, kita akan membicarakan pengertian yang meliputi ciri dari Zaman Pencerahan pada bagian selanjutnya.

Materi dalam kelanjuan tulisan ini disarihkan dari buku Budi Hardiman (2019) berjudul “Pemikiran Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche”, khususnya Bab “Optimisme di Zaman Fajar Budi”.

Pencerahan dalam bahasa Jerman disebut “Aufklarung”, “Les Lumieres” dalam bahasa Prancis, “Ilustraction” menurut terjemah Spanyol, “Iluminismo” dalam terjemah Italia, dan paling terkenal “Enlightenment” dalam bahasa Inggris. Padanan dalam bahasa Indonesia kerap diterjemahkan sebagai “Fajar Budi” atau “Pencerahan” secara umum.

Zaman Pencerahan (kita gunakan istilah ini sebagai terjemah dari Age of Enlightenment) adalah fase dari akumulasi optimisme manusia terhadap rasionalisme dan subjektivismenya.

Senada dengan gelora modernisme semenjak era renaisans, zaman  ini menyimpan kulminasi pemberontakan lebih masif bagi gagasan yang berbau Abad Pertengahan, dimana kebebasan rasio manusia ditundukkan dibawah doktrin Gereja.

Baca filsafat Agustinus dan Aquinas dalam tautan berikut ini:

3 Hal Dasar Tentang Filsafat dan Teologi Santo Agustinus

5 Argumen Tuhan Itu Ada Menurut Thomas Aquinas

Pengertian Negara Agama atau Negara Teokrasi

Tentu hal lain yang tidak bisa diremehkan adalah kondisi ekspansi ekonomi dan perkembangan sains yang menunjang era pencerahan berlangsung.

Pengertian  zaman pencerahan secara umum mengikuti gambaran dari deskripsi yang digariskan oleh salah satu tokoh besarnya, Immanuel Kant.

Immanuel Kant melalui buku tipisnya berjudul “Bentwortung der Frage: Was ist Aufklaerung (Menjawab Pertanyaan: Apakah Pencerahan Itu?), mendefinisikan zaman pencerahan sebagai:

“Pencerahan adalah jalan keluar manusia dari ketidakdewasaan yang disebabkan oleh kesalahan-kesalahannya sendiri. Ketidakdewasaan merupakan ketidakmampuan untuk menggunakan akalnya tanpa tuntunan orang lain. Ketidakdewasaan ini adalah akibat dari kesalahannya sendiri, jika penyebab ketidakkedewasaan itu tidak terdapat pada kurangnya akal, melainkan pada ketetapan hati dan keberanian untuk mempergunakan akalnya tanpa tuntunan orang lain. Milikilah keberanian (Sapere aude!) untuk menggunakan akalmu sendiri! Adalah semboyan pencerahan” (dalam Hardiman, 2019: 95).

Dari definisi tersebut, ada beberapa pernyataan yang bisa kita uraikan untuk memperjelas pengertian pencerahan dari Immanuel Kant.

Ketidakdewasaan merupakan ketidakmampuan untuk menggunakan akalnya tanpa tuntunan orang lain”

Tidak perlu terlalu susah untuk memahami ketidakdewasaan manusia adalah sebuah kritik tajam kepada dogma Abad Pertengahan yang membuat manusia tidak mampu menggunakan akalnya sendiri dalam mencapai kebenaran.

Rasa bersalah manusia karena memiliki ketergantung dominan terhadap dogma Gereja sehingga mengakibatkan manusia tidak independen dalam menggunakan anugerah pikirannya sendiri.

Dengan demikian, pencerahan adalah sebuah era kesadaran baru untuk memfungsikan rasio sepenuhnya dan mempertangungjawabkan rasionya sendiri. Jika tidak dilaksanakan, kebahagiaan bagi manusia tidak akan terwujud.

“Milikilah keberanian (Sapere aude!) untuk menggunakan akalmu sendiri! Adalah semboyan pencerahan”

Seruan “Sapere aude!” Mengindikasikan bahwa rasio saja tidak mencukupi untuk mencapai kebahagiaan manusia, namun harus memuat sebuah kandungan untuk mencapai keutamaan melalui sebuah kebenaran.

Alhasil, pencerahan, menurut Kant, adalah pertautan antara rasio dengan keutamaan moral yang berisikan makna keberanian. Rasio dan kebenaran sebagai sebuah deskripsi yang mencirikan zaman pencerahan menguatkan kembali semangat modernitas untuk bersikap kritis.

Berkaitan dengan itu, tidak heran kemudian sangat terkenal Kant mendefinisikan berpikir kritis artinya adalah keberanian untuk berpikir di luar tradisi atau dogma. Sebuah definisi tentang berpikir kritis yang merupakan ekspresi dari semangat zaman pencerahan.

Kritis kemudian memiliki pertautan yang sangat menonjol bagi makna kemajuan, pemikiran yang mendorong lahirnya kebahagiaan manusia yang terikat kuat dalam pemahaman materialisme.

Singkatnya, zaman pencerahan adalah upaya mempertajam zaman renaisans (dimulai sekitar tahun 1500-an dengan tokoh besar seperti Machiavelli dan Bacon) untuk menekankan dunia ini alamiah ini baik selama menjadikan rasio ke singgasana sehingga bernilai bagi dirinya.

Sebuah doktrin yang sangat berseberangan dengan cara pikir Abad Pertengahan hingga era akhir Skolastik, dimana pada dasarnya takdir awal manusia cenderung suram karena dosa warisan yang membuat manusia membutuhkan kekuatan adikodrati untuk mengangkat derajatnya.

Di tangan pemikir zaman pencerahan, dunia ini baik dan derajat manusia terangkat jika memfungsikan rasionya agar bisa mencapai kemajuan. Di sini, Isaac Newton melalui perkembangan sainsnya menunjukkan bukti optimisme fajar baru ini.

Tentu apa yang sudah kita perbincangan di sini adalah ciri-ciri umum yang dalam sudut pandang tertentu terkesan menyederhanakan kompleksitas dari era pencerahan. Meski demikian, beberapa hal pokok seperti rasio dan keberanian yang bertautan dengan kemajuan menjadi penanda penting.

Sebagai contoh misalnya karakter zaman pencerahan di Inggris tidak selalu menunjukkan kecendrungan membobol pemahaman dasar Gereja sampai ke akar-akarnya.

Karakter pencerahan di Inggris disebut sebagai “deisme”, sederhananya deisme adalah

“mengacu pada suatu pandangan bahwa dunia alamiah ini bekerja secara mekanistis menurut hukum-hukum yang berlaku objektif dan ketat, maka sekiranya Allah itu bisa diyakini eksistensinya, paling-paling Dia hanya menciptakan dunia mekanistis itu dan selanjutnya membiarkan berjalan sendiri (Hardiman, 2019: 97).

Kecenderungan zaman pencerahan di Inggris tidak selalu mengarah pada ateisme, mereka masih memiliki ruang untuk mempercayai Tuhan. Meski demikian, beberapa hal misalnya wahyu atau seruan kitab suci bagi mereka masih merasa sulit. Kalau mereka berbicara Kristen, itu bukan sebagai agama adikodrati tanpa mengalami tuntutan sebagai agama yang rasio.

Sebagai contoh, ajaran William Wollaston melalui “The Religion of Nature Delineated” yang berpandangan bahwa moralitas tidak harus bersandar pada mekanisme wahyu yang bersifat adikodrati. Kita harus bisa menggalinya melalui asas-asas rasional dalam dunia materialis ini.

Deisme yang cenderung rasional dan moralitas individual juga turut berpengaruh bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat baru untuk menegakkan “kepentingan pribadi”. Dukungan bagi masyarakat pasar paling jelas tentang gagasan ini berasal dari Adam Smith melalui “The Wealth of Nations”.

Tidak heran Smith beragumen bahwa manusia yang saling menyadari satu sama lain dalam mementingkan diri sendiri sebagai sifat alamiah bisa mencapai titik ekuilibrium (keseimbangan).

Sebagaimana di Inggris, karakter-karakter dari setiap zaman modern di negara-negara lain, seperti di Prancis, dan Jerman, masing-masing memiliki kekhasannya, namun secara garus besar, apa yang sudah kita katakan tentang rasio dan keberanian untuk melahirkan kritik adalah ciri-ciri sentral dari zaman pencerahan.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments