Pemikiran Utilitarianisme, Prinsip Kebahagiaan Terbesar Menurut Jeremy Bentham

Jeremy Bentham

Pemikiran Utilitarianisme, Prinsip Kebahagiaan Terbesar Menurut Jeremy Bentham

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Utilitarianisme merupakan gagasan filsafat yang diusung oleh Jeremy Bentham dan James Mills (Ayah James Stuart Mill). Pengertian utilitarianisme, secara sederhana, adalah aliran filsafat etis yang menekankan maksimalisasi nilai guna dari keseluruhan tindakan. Maksimalisasi nilai guna ini secara spesifik  merujuk pada pencapaian kebahagiaan terbesar dalam hidup.

Jeremy Bentham membangun seluruh rangkaian filsafatnya, khususnya tentang utilitarianisme, melalui dua prinsip dasar: “prinsip asosiasi” (association principle) dan “prinsip kebahagiaan terbesar” (greatest happiness principle).

Kita bahas dulu prinsip Asosiasi.

Prinsip asosiasi adalah pengembangan dari dari jalinan stimulus-stimulus yang lahir karena eksperimen terhadap binatang di dalam sebuah laboratorium. Dalam pengetahuan modern kita mengenal Pavlov tentang “reflek yang dikondisikan” melalui eksperimennya.

Semisal: terjadi sebuah reflek tertentu sehingga stimulus B menghasilkan C, dan seekor binatang tertentu sering mengalami stimulus A dan pada saat yang sama mengalami stimulus B, dan bahkan tanpa perantara B sekalipun, A menghasilkan stimulus bagi C. Penentuan keadaan dari jalinan stimulus ini lahir dari eksperimen-eksperiman tertentu.

Jika asosiasi eksperimen Pavlov berkaitan dengan fisiologis, oleh Bentham mengalami perluasan menjadi asosiasi ide yang bermuatan mental murni. Ringkasnya, jika stimulus A, B, dan C digantikan dengan ide-ide tertentu, maka menjadi asosiasi antar ide.

Bentham, yang mengikuti Hartley, ingin menjadikan prinsip asosiasi (association principle) menjadi  faktor determinasi psikologis dan sekaligus prinsip dasar bagi psikologi.

Asumsinya: jika ada stimulus tertentu yang dihadapi seseorang, maka respon atau reaksi mental manusia yang berwujud melalui tindakan cenderung sama satu dengan yang lain. Tujuannya untuk bisa mencapai laporan mental secara deterministik dari kaitan satu ide dengan ide yang lain.

Bentham memandang prinsip asosiasi ini amat penting karena ia ingin membangun pemikiran tentang hukum, bahkan suatu sistem sosial secara umum, yang bisa bertindak secara otomatis agar manusia menjadi orang yang bijak.

Setelah prinsip asosiasi ide tentang determinasi mental, Bentham mengungkapkan prinsip keduanya untuk mengisi pengertian dari nilai-nilai kebijakan itu. Nilai-nilai yang kebajikan itu adalah kebahagiaan terbesar bagi manusia.

Bentham memandang bahwa kebaikan dan kenikmatan (sebagai sinonim) adalah kebajikan dasar manusia. Lawannya, penderitaan adalah bernilai buruk. Kondisi yang disebut bajik dan ideal adalah ketika keadaan yang mencakup kesenangan yang lebih besar dari penderitaan, atau penderitaan yang kecil dibanding kesenangan yang lebih besar.

Inilah yang kemudian menjadi dasar bagi filsafat moral utilitarianisme.

Lebih jauh, Bentham mengungkapkan bahwa setiap manusia selalu berburu kebahagiaan. Tidak jarang, perburuan kebahagiaan bagi satu orang bisa mengganggu kebahagiaan bagi orang lain (membuat yang lain menderita). Di sini kemudian muncul bagaimana menyelaraskan kepentingan publik dengan kepentingan pribadi.

Tugas pemerintah, utamanya legislator, adalah merumuskan peraturan untuk menjaga kepentingan publik melalui mekanisme hukum tertentu. Hukum pidana bagi kriminal tujuannya adalah menyelaraskan agar kepentingan pribadi tidak mengganggu kepentingan publik. Hukum pidana berarti memiliki semangat mencegah kejahatan, bukan karena kita membenci kriminal.

Sedangkan hukum perdata menurut Bentham memiliki empat fungsi: menjaga keberlanjutan hidup, kecukupan, keamanan, dan kesetaraan. Ia mengabaikan apa yang disebut “hak asasi manusia” atau kebebasan.

Hal ini mungkin selaras dengan pikirannya dalam membentuk struktur sosial, yang di dalamnya memuat aturan hukum, agar mencapai keharmonisan hidup yang mengekspresikan prinsip kebahagiaan tertinggi.

Ringkas kata, berlandaskan prinsip asosiasi dan prinsip kebahagiaan tertinggi melahirkan pandangan Bentham bahwa kebahagiaan umum adalah kebahagiaan tertinggi (Summum bonum).

Mungkin pembaca bisa mengajukan sebuah pertanyaan atas prinsip filsafat Bentham: bagaimana cara menjamin para legislator benar-benar mengedepankan pentingan publik, dan bukannya kepentingan pribadi atau kepentingan golongan mereka sendiri?

Kelihatannya Bentham meyakini prinsip asosiasi mental: dimana praktik demokrasi bersamaan dengan pengawasan ketat publik mampu menghasilkan stimulus agar setiap kepentingan pembuat undang-undang harus sejalan dengan kepentingan publik. Meski rasanya kita masih naïf untuk meyakininya.

Di samping sarana hukum, adalah etika sebagai kontrol sosial yang efektif. Etika menempati posisi penting sebagai alat meredam konflik hasrat manusia yang masing-masing ingin mengejar kebahagiaannya sendiri-sendiri. Penyebab konflik adalah egoisme hasrat tersebut. Memang kenyatannya orang akan lebih mempedulikan kesejahteraan pribadinya dibanding kesejahteraan orang lain.

Demi mencegah konflik sosial akibat gesekan hasrat egoisme ini, etika akhirnya memiliki dua peran ganda: menemukan pengertian untuk bisa membedakan mana hasrat yang dipandang baik dan mana yang di pandang buruk.

Kedua, melalui sarana berupa kecaman dan pujian membuat adanya mekanisme untuk meredam hasrat buruk dan mendorong lahirnya hasrat baik. Hasrat-hasrat tersebut kemudian secara serentak melahirkan kebahagiaan umum.

Mungkin kemudian muncul pertanyaan lagi, “kalau setiap orang berambisi mengejar kepentingannya sendiri-sendiri, bukankah tidak ada gunanya menyuruh mereka melakukan sesuatu dengan mengorbankan atau sekurang-kurangnya mengurangi kepentingannya?”

Saran John Stuart Mills menjadi masuk akal untuk menekankan manusia agar senantiasa terlebih dahulu mengedepankan kepentingan orang lain, dengan harapan berupa imbalan suatu waktu kepentingan kita akan didahulukan.

Dari sini sebuah kerjasama persekongkolan, utamanya dalam politik, dalah sebuah keharusan demi terpenuhinya keseluruhan kepentingan keseluruhan, dalam kelompok itu tentunya.

 

*Sumber tulisan ini disarihkan dari buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2021). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, khususnya bagian “Utilitarian” hal. 1006-1017.

 

Baca Juga

Perjalanan Singkat Pemikiran Stoisisme: dari Zeno hingga Epictetus dan Marcus Aurelius

Filsafat Kebahagiaan Epicurus (Epikurus)

Filsafat Sinisme di Era Hellenisme, Ajaran Diogenes dan Antisthenes

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments