Pemikiran Skeptisisme Radikal David Hume

David Hume

Pemikiran Skeptisisme Radikal David Hume

Penulis: Dian Dwi Jayanto

David Hume (1711-1776) memiliki arti penting dalam lintasan sejarah filsafat modern, utamanya dalam bangunan filsafat empirisme. Bahkan, David Hume membuat empirisme menjadi sangat radikal.

Menurut Bertrand Russell dalam “Sejarah Filsafat Barat”, David Hume memiliki peranan penting dalam membuat sintesa akhir dari pemikiran John Locke dan Berkeley.

Arti sintesa akhir di disi merujuk pada sebuah titik puncak dari pengembangan gagasan puncak empirisme yang sudah tidak bisa lagi menuju kemana-mana. Ia membangun empirisme dengan skeptisisme radikal dari landasan Locke dan Berkeley secara konsisten dan sistemik.

Sebagian kalangan menganggap bahwa Hume ingin menghancurkan filsafat karena gagasan skeptisismenya, sebagaian kalangan agama menuding ia telah memporak-porandakan sistem kepercayaan agama yang telah mapan.

Menurut Hardiman (2019), Hume tidak ingin menghancurkan filsafat tapi menawarkan pemikiran yang bertolak-belakang dari keseluruhan anggapan benar selama ini. Kaitannya dengan agama, sebagai orang yang terkenal ateis, dogma menjadi sasaran kritik yang tidak bisa dihindari oleh Hume.

Merujuk pada penjelasan Hardiman (2019) dalam buku “Pemikiran Modern”, skeptisisme Hume berpijar pada kritik terhadap tiga hal:

  1. Hume ingin melawan ajaran-ajaran bercorak rasional yang mengandung keyakinan tentang idea bawaan dan bekerjanya jagat raya ini secara keseluruhan saling bertautan.
  2. Sebagai seorang ateis, wajar pula ia mengatakan agama adalah irasional. Misalnya Hume mengkritik ajaran teologi Agama Kristen, Anglikan dan seluruh agama yang meyakini bahwa Allah membiarkan dunia ini berjalan secara mekanis tanpa keterlibatan-Nya lagi.
  3. Kritik terhadap kalangan empiris sendiri yang masih percaya adanya substansi.

Kita akan membicarakan lebih jauh tiga poin kritik yang dipaparkan Hardiman untuk memahami lebih jauh bagaimana pondasi skeptisisme David Hume, yang selanjutnya termuat dalam tiga bahasan: kritik substansi dan kesadaran diri (poin nomor 3), persoalan kausalitas (poin nomor 1), dan skeptis terhadap agama (poin nomor 2).

Substansi dan Kesadaran Diri

Meski John Locke terkenal sebagai bapak empirisme filosofis, namun dalam gagsannya masih mengandung substansi berupa persepsi. Iya, dia membedakan realitas empiris (objek) dan kemudian dioleh oleh persepsi yang disebut substansi inderawi atau persepsi inderawi (subjek).

Hume menolak persepsi inderawi karena tidak ada kejelasan bagaimana kaitan persepsi tersebut berdasarkan realitas empiris. Hume meyakini substansi itu bukan pada objek materi, tapi tertanam pada persepsi.

Penjelasan ini mengingatkan kita pada substansi batin dalam pemikiran Berkeley dan mengingkari keberadaan objek materi. Hume kemudian lebih jauh melangkah menandaskan kesangsiannya terhadap keberadaan “si aku”.

Kita senantiasa meyakini bahwa ada sekumpulan persepsi seperti sifat hitam, keras, dan tajam pada krikil. Sekumpulan persepsi itu adalah sekumpulan ilusi semata, seaindainya kita lenyapkan keseluruhan persepsi tersebut, bersamaan pula “si aku” sebenarnya tidak nyata. Sebagaimana kita tidur tanpa mimpi dan menanggalkan keseluruhan persesi sehingga kita sirna.

Kenyataan sejati adalah setelah kita mati, sehingga keseluruhan persepsi itu turut hancur bersama diri. maka kita benar-benar baru menyadari bahwa diriku adalah bukan entitas apapun (non-entity).

Jika Berkeley masih mempercayai substansi rohani, meski mengngkari objek inderawi ala Locke, Hume dengan radikal meragukan substansi apa pun dalam diri hingga kedirian (si aku) itu tidak nyata.

Kritik David Hume Terhadap Hukum Kausalitas

Sederhananya, kausalitas adalah pengandaian bahwa A terjadi kemudian mempengaruhi B. jika ada kertas terbakar, maka api adalah penyebab kertas tersebut terbakar. Ini kausalitas, jika api didekatkan kertas, maka kertas terbakar.

Kausalitas adalah persoalan klasik dalam filsafat. Para agamawan mempercayai bahwa segala sesuatu ditentukan oleh penyebab pertama yang mengharuskan ia sebagai Tuhan. Filsafat lainnya mengandaikan kausalitas sebagai pengetahuan dunia luar atau alam semesta.

Hume menolak hukum logika kausalitas. ia mengatakan kita tidak sepenuhnya tahu kalau api adalah penyebab terbakarnya kertas. Yang kita tahu, kertas terbakar setelah api menyentuhnya. Yang bisa kita amati adalah gejala yang satu disusul gejala yang lain, bukan sebagai penyebab dari gejala yang lain. Kausalitas tidak bisa kita amati dan hanya kepercayaan naïf belaka.

Menurut Russell, kritik Hume terhadap kausalitas ini merupakan perluasan pada kritiknya terhadap metode berpikir induksi. Pada masa lalu kita meyakini bahwa hukum sebab-akibat adalah perjumpaan landasan dan konsekuensi dalam logika, yang seluruhnya bagi Hume keliru. .

Skeptisisme Terhadap Agama  

Hume secara tegas mengambil sikap terhadap agama secara keseluruhan. Ia menyangkal bahwa dunia bekerja secara mekanis layaknya arloji yang sudah diatur sebelumnya. Pemikiran tersebut seperti sudah kita bahasa berasal dari Lebniz.

Hume lebih jauh menyangkal keseluruhan dari turunan kausalitas, misalnya apa yang diyakini filsuf kalangan skolastik tentang sebab pertama atau sumber utama yang menciptakan alam semesta. Kausalitas atas penyebab pertama dan bagaimana Tuhan melihat dunia dengan harmonis adalah pandangan yang sepenuhnya ditentang oleh Hume.

Tak ketinggalan ia juga meragukan kalau Tuhan, seaindanya ada, adalah maha sempurna dan sumber kebaikan. Kenyatannya, di dunia ini lahir banyak kejahatan, berarti Ia sumber kejahatan pula?

Yang jelas, tentang Tuhan kita tidak tahu sama sekali tentang realitas di luar dunia ini, bagaima bisa kita mempercayai keberadaan-Nya? Sebuah seruan yang dekat dengan agnostik paham yang menekankan bahwa kita tidak tahu apakah Tuhan itu ada atau tidak.

Ia juga mengingkari dogma keabadian hidup di akhirat kelas. Hume mengatakan bah mengapa untuk menjadi bermoral harus ada kompensasi yang tidak nyata tentang immortalitas? Tanpa ilusi kepercayaan semacam itu kita bisa sampai pada kehidupan yang penuh moral.

Ia lebih jauh menuding agama telah terlalu banyak diliputi takhayul. Ia menyerukan kembali agar agama dibersihkan dari seluruh komponen takhayul dan kembali pada hal-hal yang empiris.

Dengan serangkaian tiga poin yang sudah kita singgung, cukup jelas dimana letak skeptisisme Huma yang sangat radikal: tidak ada sesuatu yang bisa dipelajari dari pengalaman dan pengamatan (membantah Locke), dan juga dari substansi diri melalui persepsi rohani (Berkeley), begitu juga tidak ada namanya kebenaran dalam prinsip induksi kausalitas, dan skeptisisme terhadap agama adalah kritik skeptisisme yang sehat.

 

Daftar Rujukan

Hardiman, Budi. 2019. Pemikiran Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche. Yogyakarta: Kanisius.

Russell, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

 

Baca Juga

Pemikiran Plotinus: Trinitas Suci dalam Metafisika Neoplatonisme

Al-Falsafah Al-Ula (Filsafat Pertama): Metafisika Al-Kindi, Sang Filsuf Arab

4 Hal Dasar Tentang Filsafat Stoisisme

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments