Pemikiran Gottfried Leibniz: Monade dan Pre-established harmony

Gottfried Wilhelm Leibniz

Pemikiran Gottfried Leibniz: Monade dan Pre-established harmony

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Kini kita sampai pada pembahasan filsafat Leibniz. Sama halnya dengan Descartes dan Spinoza yang sudah kita bahas, Gottfried Leibniz mendasarkan pada rasio dalam menyusun filsafat murninya dengan substansi sebagai pijakan metafisikanya, tapi memiliki perbedaan pandangan.

Descartes menyatakan bahwa zat terbagi menjadi tiga: pikiran, Tuhan, dan materi. Kadang menyebut pikiran sebagai substansi pokok, kadang Tuhan sang Pencipta pikiran.

Spinoza menolak adanya perpecahan pada tiga macam zat tersebut dengan mengajukan pandangan monisme logis: hanya ada satu, yakni rasio absolut atau Tuhan. Keseluruhan zat lain seperti pikiran dan materi adalah jelmaan dari Tuhan (Lebih jelasnya bisa baca tulisan-tulisan sebelumnya).

Leibniz tidak menyepakati tentang konsep pengembangan atas substansi, baik dari Descartes maupun Leibnaz, namun mempertahankan keterpisahan pikiran dan materi yang digariskan Descartes. Leibniz menolak penampakkan realitas materi dan keseluruhan digantikan oleh pemahaman tentang eksistensi jiwa.

Ia menawarkan “monade” sebagai basis substansi yang berjumlah tidak terbatas. Secara bahasa “monos” artinya satu; monade: kesatuan. Ia adalah bagian terkecil dari sebuah substansi yang berlimpah jumlahnya.

Dalam matematika ada titik, dalam fisika ada atom, dalam metafisika disebut sebagai monade. Monade yang ia sebut tak berjendela di sini bukan sebagaimana materi, tapi kenyataan mental yang berisikan persepsi dan hasrat. Monade adalah kesadaran diri yang tertutup layaknya “cogito” Descartes. Monade adalah subtansi purba yang lekat dengan pemahaman spiritual (Hardiman, 2019).

Budi Hardiman (2019) merumuskan lima tesis utama yang dapat membantu kita memahami monade dalam keseluruhan sistem metafisika Leibniz:

  1. Alam semesta ini sepenuhnya rasional
  2. Setiap bagian elementer alam semesta berdiri sendiri.
  3. Ada harmoni yang dikehendaki Allah di antara segala hal di alam semesta ini.
  4. Dunia secara kuantitatif dan kualitatif tidak terbatas.
  5. Alam dapat dijelaskan secara mekanistis selamanya.

Setiap monade dalam diri manusia mencerminkan realitas alam semesta, bukan karena alam semesta menampakkan dirinya kepada kita, namun Tuhan telah memberikan sifat yang secara spontan yang menyebabkan perncerminan demikian melalui monade.

Setiap monade tidak memiliki hubungan satu sama lain yang bersifat kausal, sehingga jika terkesan saling terkait hanyalah ilusi semata.

“Substansi-substansi tidak saling bertindak, tetapi sepakat melalui semua yang mencerminakan alam semesta, masing-masing dari sudut pandangnya sendiri. Tidak mungkin ada interaksi, karena semua yang terjadi pada setiap subjek adalah bagian dari konsepnya sendiri, dan selamanya tertentu jika substansi itu eksis.” (dalam Russell, 2021: 777)

Apakah pencerminan monade dalam diri setiap orang memiliki keserupaan? Iya, karena “Pre-established harmony” antara perubahan-perubahan monade satu dengan monade yang lain sehingga menghasilkan kemiripan penampakkan.

Layaknya sebuah jam yang berdenting bersamaan berdasarkan mekanisme sistem tertentu. Keseluruhan adalah harmoni deterministik berdasarkan mekanisme akurat yang dirancang Tuhan.

Seaindanya kita melihat sebuah pohon yang tumbang karena terkena petir, bukan karena pohon itu senyatanya menampakkan dirinya kepada kita, namun ada monade dalam diri manusia yang menciptakan cerminan peristiwa yang menggambarkan tumbangnya pohon karena petir.

Sedangkan contoh tidak ada kausalitas dalam setiap peristiwa adalah bukan petir yang mengakibatkan pohon tumbang, tapi monade pohon dan monade petir berkesuaian menciptakan cerminan peristiwa tumbangnya pohon ke dalam kesadaran kita.

Sesuatu yang kita anggap rangkaian dari petir merobohkan pohon sebenarnya adalah unsur kecocokan spontan dari monade yang sudah terbangun lama, dalam membentuk keselarasan dan harmoni yang ditata Tuhan sedemikian rupa.

Monade-monade memiliki struktur hierarkis dalam hal kejelasan dan keberadaannya terhadap penampakkan alam semesta. Setiap monade memiliki tingkat kebingungannya dalam mempersepsikan sesuatu.

Sebagaimana tubuh manusia mengandung berlapir-lapis monade, pikiran adalah monade dominan yang tidak menyusun tangan. Gerakan tangan kita adalah hasil kehendak diri dalam pikiran. Pikiran lebih memiliki kejelasan dalam memahami dan mempersepsi hasrat diri daripada tangan.

Konsepsi Leibniz tentang monade-monade yang mencirikan keteraturan mekanis dalam bekerjanya alam semesta menjadi acuan pula untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Jika seluruh jam (perlambangan alam semesta) mampu saling menjaga waktunya masing-masing tanpa ada interaksi kausal apa pun di antara mereka, pasti ada penyebab Tunggal yang merancang semua jam. Ini adalah pemikiran khas dari Leibniz tentang agumentasi dari rancangan mekanis sebagai bukti eksistensi Tuhan (Russell, 2021).

Salah satu pemikiran unik dari Leibniz adalah kemungkinan adanya berbagai bentuk dunia (Russell, 2021). Sebelum menciptakan dunia, Tuhan telah merenungkan bagaimana sebagainya dunia yang ingin ia wujudkan. Beragam alternatif bermunculan, mulai dari dunia sepenuhnya penuh kebaikan, atau sebaliknya, sepenuhnya penuh kejahatan.

Dunia yang kemudian terbaik yang diciptakan adalah dunia ini ketika ada persimpangan antara kebaikan dan keburukan. Hal ini juga merupakan bagian dari konsekuensi logis dari kebaikan memerlukan keburukan untuk menampakkan dirinya.

Dalam kaitannya dengan diskusi doktrin keagamaan, diskusinya adalah seputar kehendak bebas dan dosa. Kebebasan kehendak bagi manusia adalah kebaikan, namun kebaikan dalam sifat kehendak bebas berimplikasi pada sebuah konsep yang dinamakan dosa. Maka dari itu, ia menganugerahi kehendak bebas bagi Adam, meskipun mengetahu pada akhirnya memakan buah Apel adalah dosa.

Kenapa ada kejahatan di dunia ini jika seandainya Tuhan adalah Sang Pencipta yang maha baik? Kejahatan adalah implikasi bagi fitrah kebebasan kehendak manusia, jika tidak ada kejahatan dan dosa, maka Tuhan akan melenyapkan kehendak bebas bagi manusia. Begitu juga fungsi kejahatan adalah memperjelas eksistensi kebaikan (Russell, 2021). (Sementara tidak usah dibalik, berarti keburukan juga bisa membutuhkan kebaikan agar bisa eksis).

Kebebasan Tuhan berlaku sama. Ia selalu melakukan perbuatan-berbuatan baik tapi tidak dibawah ketentuan logis untuk memaksa-Nya. Selaras dengan gagasan Agustinus, Leibniz berpendapat bahwa Tuhan tidak bisa melakukan perbuatan yang melawan-melawan hukum-hukum logika, tetapi Ia mampu menciptakan segala sesuatu berdasarkan yang mungkin secara logis, ini kebebasan untuk memilih (Russell, 2021).

 

Daftar Rujukan

Hardiman, Budi. 2019. Pemikiran Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche. Yogyakarta: Kanisius.

Russell, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

Baca Juga:

3 Alasan Mengapa Filsafat Islam Tidak Sekadar Menjiplak Filsafat Yunani

3 Hal Dasar Tentang Filsafat dan Teologi Santo Agustinus

5 Argumen Tuhan Itu Ada Menurut Thomas Aquinas

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments