Pemikiran Emile Durkheim Tentang Solidaritas Sosial dan Tertib Sosial

Pemikiran Emile Durkheim Tentang Solidaritas Sosial dan Tertib Sosial

Pemikiran Emile Durkheim Tentang Solidaritas Sosial dan Tertib Sosial

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Secara garis besar, pemikiran Emile Durkheim tentang struktur sosial cenderung berwawasan konsesus dan terkesan ortodoks.

Poin pentingnya: Emile Durkheim memandang struktur sosial terdiri dari nilai-nilai dan norma-norma, dimana nilai dan norma tersebut telah terdefinisikan sebagai seperangkat sistem kebudayaan dan selanjutnya menjadi panduan berperilaku yang penting dan pantas seturut setting sosial yang berlangsung.

Emile Durkheim Lahir di Lorraine, Prancis, pada tahun 1858, dan meninggal di Paris tahun 1917. Beberapa karya utamanya antara lain: The Division of Labour in Society (1893), Rules of Sociological Method (1895), Suicide (1897) dan The Elementary Forms of Religious Life (1912).

Kutipan Emile Durkheim di bawah ini cukup jelas menegaskan kandungan utama pikirannya:

Tatkala saya melaksanakan tugas-tugas saya sebagai saudara, suami, atau warga negara dan melaksanakan komitmen tersebut, saya menjalankan kewajiban yang didefinisikan oleh aturan dan adat dan berada di luar diri saya dan tindakan saya.

Sekali pun aturan dan adat itu sesuai dengan pikiran dan sentimen saya dan jika saya merasakan realitas itu dalam diri saya, realitas itu tidaklah objektif, karena bukan saya yang menentukan kewajiban-kewajiban yang saya emban itu; saya menerimanya melalui pendidikan …..

Sama pula halnya pemeluk agama mendapatkannya sejak lahir, sudah ada sebelumnya keyakinan dan praktik agama tersebut, dan terus hadir di luar dirinya. (Durkheim 1982, dalam Pip Jones, 2016: 85).

Kongkritnya: tampaknya saja kita terasa bebas menentukan perilaku kita terhadap orang lain. Kenyatannya, bagaimana cara kita berperilaku dalam realitasnya sudah ditentukan melalui standar nilai-nilai dan norma tertentu.

Cara pandang demikian meletakkan Emile Durkheim sebagai salah satu tokoh besar pendekatan struktur-fungsional. Pendekatan struktur-fungsional menekankan bahwa kehidupan sosial layaknya sistem biologis yang tersusun dari bagian-bagian yang tidak terpisahkan agar bisa berfungsi bersama.

Pada gilirannya, ia menekanan bahwa kehidupan sosial adalah harmonis sembari menyarankan tertib sosial agar keberlangsungan sistem sosial yang serasi itu tetap terjaga.

Dengan kata lain, eksistensi keteraturan dalam kehidupan sosial, yang ia sebut sebagai solidaritas sosial, berlangsung melalui sosialisasi. Melalui sosialisasi, proses pembelajaran bersama antar masyarakat tentang standar hidup tentang berlangsung untuk mengendalikan perilaku sosial.

Ia juga sosiolog pertama yang menyatakan bahwa meski nilai dan norma dapat diajarkan, pada dasarnya itu tidak dapat begitu juga diwariskan.

Contohnya, ketika orang Islam laki-laki rutin setiap Jumat siang menunaikan ibadah Sholat Jumat, anjuran melaksanakannya memang bisa lahir dari didikan orang tua, namun pada dasarnya sistem keagamaan dan juga kandungan nilai yang termaktub dalam khotbah Jumat (sebagai sistem nilai agama tertentu) adalah sudah berlangsung lama jauh sebelum si laki-laki itu lahir. Inilah yang dimaksud sistem nilai dan norma sudah terwujud sebelumnya, bukan dari warisan orang tua atau pengalaman.

Apa yang kemudian disebut sebagai standar yang mengkonstruksi tindakan manusia dalam berperilaku itu disebut sebagai fakta sosial. Kata lain, fakta sosial adalah unsur eksternal yang mendisiplinkan perilaku. Meski fakta sosial tidak tampak secara jelas, namun ia bisa dibaca melalui referensi dari pola perilaku sosial manusia.

Bagi Durkheim, persoalan utama eksistensi sosial adalah keteraturan, atau dalam bahasa lain bagaimana mencapai solidaritas sosial yang kuat di dalam masyarakat. Dari upaya pencapaian solidaritas sosial dalam konteks masyarakat yang berbeda, Durkheim lebih jauh membedakan dua bentuk solidaritas sosial: solidaritas mekanik dan solidaritas organik.

 

Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik Menurut Emile Durkheim

Solidaritas mekanik adalah bentuk solidaritas sosial dari hasil pembagian kerja yang relatif sederhana di dalam masyarakat pra-modern. Masing-masing individu dalam kehidupan bersama tidak memiliki keberagaman peran yang kompleks karena variasi kebutuhan masyarakat juga tidak banyak. Alhasil, solidaritas mekanik ini mengandaikan bahwa solidaritas sosial yang berlangsung relatif mudah tercapai.

Berbeda dengan masyarakat modern. Salah satu penanda penting era modern adalah lahirnya diferensiasi dan spesifikasi yang amat beragam sebagai konsekuensi jenis kebutuhan yang semakin bervariasi. Terbentuknya solidaritas sosial di era modern semakin susah tercapai dibanding solidaritas organik.

Pemisahan kerja antar yang beravariatif dan menguatnya sikap individual tak ayal menimbulkan kekhawatiran akan adanya disintegrasi sosial dalam masyarakat modern. Kecenderungan individualis akan semakin memupuk perasaan egoisme manusia yang membuat satu sama lain bersifat anti-sosial.

Kondisi demikian oleh Durkheim disebut sebagai anomi sosial. Jika dibiarkan berlanjut terus, bahaya laten yang segera disusul secara aktual adalah terancamnya solidaritas dan keteraturan sosial dalam eksistensinya. Maka, perlu adanya dorongan untuk mencegah anomi sosial berlangsung.

Untuk mencapai harapan tersebut, Durkheim menyarakan agar masyarakat modern bisa mencapai apa yang ia sebut sebagai solidaritas organik. Solidaritas organik ini lahir dari harapan atas kenyataan bahwa diferensiasi dan spesifikasi peran masyarakat di era modernitas, dan khususnya kaitannya dalam transaksi ekonomi, tetap mengharuskan adanya sikap ketergantungan satu dengan yang lain.

Kita butuh komponenen-komponen lain dalam menunjang berlangsung kehidupan sosial. Agar tetap hidup kita tetap mebutuhkan orang lain dan eksistensi masa depan tergantung sifat saling tergantung tersebut.

Namun bukannya seperti sudah disebutkan bahwa manusia di era modern semakin menguatkan sifat egois yang mengancam terjadinya anomi? Bagaimana bisa manusia modern mampu menyadari saling ketergantungan sehingga mampu terwujud solidaritas organik yang dicita-citakan Durkheim?

Dari sini inti analisis dari Durkheim mengemuka: ia berpegangan pada keyakinan bahwa masyarakat modern adalah masyarakat yang stabil dan harmonis, dan secara terus-menerus harus diajari cara berpikir dan berperilaku agar menjamin saling ketergantungnnya demi kebaikan dirinya sendiri dan orang lain. 

Pandangan tersebut pada gilirannya menelurkan gagasan-gagasan turunan lainnya dengan tema yang berbeda, tapi pada intinya saling terkait demi keberlangsung solidaritas sosial. Tiga hal itu adalah:

(1.). Sosiologi adalah ilmu pengetahuan dan kita harus bisa menemukan bukti yang kita perlukan untuk memahami tatanan sosial.

(2). Durkheim menunjukkan bahwa masyarakat bekerja dalam sistem sosial yang selaras dengan prinsip-prinsip struktur-fungsional.

(3). Menekankan pentingnya peran agama dalam menjaga ketertiban dan solidaritas sosial dan sekaligus mencegah anomi dan disintegrasi sosial.

Menurut Pip Jones (2016), tiga pembahasan persoalan di atas adalah inti pikiran Emile Durkheim yang tersebar dalam karya-karyanya. Ketiga pembahasan dasar tersebut (sosiologi sebagai ilmu memahami tatanan sosial, prinsip struktur sosial, dan peran praktis agama dalam mengendalikan perilaku) menunjukkan keselarasan atas semangat mencapai solidaritas sosial. Sebuah gagasan yang ia percaya dan harus tetap dilestarikan di era masyarakat modern.

 

*Tulisan ini disarihkan dari penjelasan Pip Jones Dkk. 2011. Pengantar Teori-teori Sosial. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, khususnya bagian “Emile Durkheim”, hal. 83-114.

 

 

Baca Juga:

Pemikiran Skeptisisme Radikal David Hume

Penyangkalan Realitas Empiris George Barkeley

Pemikiran Gottfried Leibniz: Monade dan Pre-established harmony

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments