Mengapa Yunani Disebut sebagai Tempat Kelahiran Filsafat dan Ilmu Pengetahuan?

Ketika mengikuti permulaan belajar filsafat, kita umumnya segera berhadapan dengan materi pembahasan filsafat Yunani, baik periode pra-Socrates maupun langsung menukik era Socrates dengan Plato dan Aristoteles sebagai tokoh besarnya.

Mungkin terbesit satu pertanyaan mendasar, “mengapa belajar filsafat harus dari Filsafat Yunani?”, atau lagi spesifik lagi “mengapa Yunani kuno menjadi tempat kelahiran filsafat dan menjadi pijakan pertama memulai materi pelajaran?”.

Bertrand Russell dalam bagian pembuka bukunya berjudul “Sejarah Filsafat Barat” memberikan penjelasan cukup panjang. Ia menarasikan perjalanan perjumpaan kesejarahan antara kebangkitan peradaban Yunani yang terkoneksi dengan peradaban-peradaban yang lebih mapan sebelumnya, utamanya Mesir dan Mesopotamia (sekarang masuk wilayah Irak). .

Satu hal yang bisa ditangkap dari penjelasan Russell adalah menautkan makna “kebangkitan peradaban” yang berkonotasi dengan “kebangkitan intelektual”. Dalam arti, suatu peradaban adalah wujud sekumpulan kebudayaan dari perubahan sudut pandang terhadap dunia (worldview) dan perkembangan keilmuan (science) yang pada gilirannya melahirkan kebudayaan. Selanjutnya, kebudayaan-kebudayaan dari hasil perubahan sudut pandang dan keilmuan tersebut melahirkan kemajuan suatu peradaban. Kemajuan peradaban sama dengan kemajuan keilmuan.

Russell mengatakan orang-orang Yunani kuno “menemukan matematika, ilmu pengetahuan, dan filsafat; merekalah yang pertama kali menulis sejarah (history) yang berbeda sekadar tarikh (annals); mereka melakukan spekulasi bebas tentang hakikat dunia dan tujuan hidup, tanpa terbelenggu oleh paham-paham kolot yang diwarisi” (Russell, 2021: 3).

Kata terakhir dalam kutipan tersebut mudah ditebak adalah menunjuk pada sudut pandang dunia manusia tentang mitos maupun agama yang sebelumnya mendominasi cara pikir perlbagai kebudayaan-kebudayaan sebelumnya.

Mesir dan Mesopotomia sebagai peradaban yang lebih matang dan kental dengan kebudayaan sudut pandang agama telah menyebar ke pelbagai negara tetangga. Menariknya, ketika sampai di Yunani, mereka memperlakukan kebudayaan tersebut secara lebih intelektual dan tidak sepenuhnya tergantung pada dogma.

Meski harus dicatat bukan berarti surut sepenuhnya pengaruh agama dari kalangan filsuf awal Yunani, namun era klasik proses transisi penting dari agama menuju filsafat atau ilmu pengetahuan.

Salah satu contoh yang biasa dikemukakan adalah seputar persoalan kosmik. Orang-orang Yunani memiliki ketakjuban tersendiri ketika melihat tatanan alam semesta yang nampaknya sangat teratur.

Pertanyaannya kemudian adalah siapa atau apa yang menciptakan alam semesta ini dan mengurusinya sehingga bekerja dengan tertib?

Para filsuf filsuf yang populer dengan sebutan “Mazhab Milesian”, atau Louis Kattsoff dalam “Pengantar Filsafat” menyebutnya sebagai “Mazhab alam Ionia”, memberikan jawaban di luar dogma agama dan mitos yang beredar di kala itu.

Misalnya Thales mengajukan argumen air adalah substansi dasar alam semesta. Muridnya Thales, Anaximander, mengatakan adalah sesuatu yang berada di luar dunia manusia yang bersifat kekal sehingga mampu menciptakan dan mengatur segalanya yang tidak kekal ini, sedangkan Anaximender mengajukan teori “perenggangan-perapatan” dengan menunjuk udara sebagai inti alam semesta.

Dari penjelasan tersebut, Mazhab Milesian memunculkan argumentasi, yang tanpa perlu kita koreksi kebenarannya, berdasarkan upaya pencarian mereka berdasarkan penalaran maupun pengalaman.

(Thales. Sumber gambar: Wikipedia)

Thales yang konon suka berlayar ke Mesir dan mengamati ketergantungan manusia tehadap sungai Nil dan mengatakan air adalah sumber segalanya. Thales juga populer dengan prediksi terjadinya Gerhana Bulan pada tahun 858 SM, teorinya tentang mengukur tinggi piramida berdasarkan bayangan, dan rumusan geometrinya.

Mungkin dalam konteks dewasa ini, ia lebih patut diperlakukan sebagai ilmuwan daripada seorang filsuf. Terlepas dari hal itu, baik filsafat dan ilmu pengetahuan pada awalnya memang tidak berdiri sendiri-sendiri.

Pelbagai penjelasan yang diajukan tentu bertolakbelakang dari kepercayaan yang bersumber dari Homerus tentang dewi-dewi Olympia yang era itu menjadi pegangan masyarakat Yunani, khususnya kaum bangsawan, maupun agama non-Olympia yang berada di kawasan pinggiran.

Alhasil, kembali pada pertanyaan pertama dalam pembukaan tulisan ini, “mengapa harus dari Filsafat Yunani?” Jawabannya adalah sumbangsi mereka memperlakukan kebudayaan dengan cara khusus, sudat pandang baru dan pengembangan ilmu pengetahuan yang bertolak dari era sebelumnya dengan nuansa mitologi yang begitu kental.

Era transisi dari “mitos” menuju “logos” bermula dari Yunani dengan Thales sebagai perintis. Hal ini berarti pula awal abad ke-6 SM di Yunani adalah era kelahiran filsafat dan ilmu pengetahuan.

 

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

 

Baca juga:

Filsafat Plato Tentang Idea, Etika, dan Negara

Filsafat Aristoteles Tentang Logika, Negara, dan Sistem Pemerintahan

“Man’s Search for Meaning” karya Victor Frankl: Tentang Pencarian Makna Hidup dalam Logoterapi

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments