“Man’s Search for Meaning” karya Victor Frankl: Tentang Pencarian Makna Hidup dalam Logoterapi

“Man’s Search for Meaning” karya Victor Frankl: Tentang Pencarian Makna Hidup dalam Logoterapi

Penulis: Dian Dwi Jayanto
Sampul buku Man’s Search for Meaning” karya Victor Frankl dalam versi bahasa Indonesia.

Buku yang sudah terjual sebanyak 16 juta eksemplar dengan pebagai versi dan terjemahannya ini memiliki arti penting, menurut saya, karena ditulis oleh seorang psikiater yang turut mengalami langsung penyiksaan di Kamp Nazi. Jika “Man’s Search for Meaning” ini hanya sekadar menceritakan bagaimana kekejaman yang berlangsung di era Nazi melalui Kamp-kamp pemusnahannya dari sudut pandang orang yang pernah mengalaminya, mungkin buku ini tidak akan seterkenal hari ini. Bisa juga laris manis layaknya buku undercover-undercover lainnya.

Yang menjadikannya unik adalah cara Frankl bercerita untuk memberikan potret cerita pilu dan pada gilirannya mencetuskan sebuah ilham bagi perkembangan ilmu psikologi, khususnya seputar “logoterapi”. Kemampuan bercerita dengan latar belakang yang begitu menarik memiliki kekuatan tersendiri sebelum akhirnya melegenda dalam katalog kontribusi ilmu pengetahuan.

Singkatnya, bagaimana ia mencetuskan pendekatan psikologisnya melalui latarbelakang kisah yang begitu menarik menjadi simpul bagaimana isi buku ini begitu kuat dan bahkan menyandang predikat buku terlaris #1 versi Amazon.

Siapa Victor Frankl?

Victor Frankl adalah seorang psikolog, khususnya seorang psikiater, yang pernah mendekam di Auschwitz, sebuah jaringan kamp konsentrasi dan pemusnahan Nazi antara tahun 1942 dan 1945. Serentetan cerita kelamnya tersebut ia tuangkan dalam buku ini. Sebagaimana ia melihat tawanan yang jatuh sakit atau telah melemah dan dianggap tidak mampu lagi bekerja, kemudian mereka akan dilempar ke kamar gas dan akhirnya meninggal di sana.

Hampir semua tawanan mengalami kecemasan sambil menunggu giliran akan terdampar pula di kawasan pembunuhan tersebut. Menariknya, sebagian besar orang yang meninggal malah sebelum masuk ke kamp pembantaian tersebut.

Victor Frankl lebih memperhatikan mengapa sebagian orang bertahan hidup di tengah kematian di depan mata, dan sebagian lagi meninggal terlebih dahulu. Ia menemukan bahwa tawanan yang merasa putus asa akan kehidupan ke depan yang lebih baik, atau bahkan tidak punya gambaran sama sekali sekadar untuk memiliki harapan adalah mereka-mereka yang kemudian meninggal terlebih dahulu. Itu adalah penyebab mereka meninggal, bukan karena persoalan kurang makan atau perawatan medis dan obatan-obatan.

Bagaimana Victor Frankl tetap bertahan hidup di sana?

Ia menceritakan layaknya seorang pujangga yang penuh kasmaran akan bayangan istrinya, yang sekarang entah dimana; entah masih hidup atau sudah meninggal. Bayangan istrinya dan harapan perang ini segera berakhir dan dunia bisa kembali pulih seperti sedia kala adalah bahan bakar bagi Frankl untuk tetap menjalankan hidup di tengah penindasan.

Ia menyimpulkan melalui buku “Man’s Searh for Meaning” penentu kehidupan seseorang lebih ditentukan oleh bagaimana ia memaknai hidupnya. Satu orang memiliki makna hidup atau memiliki alasan mengapa dia harus tetap hidup menjadi penuntun kuat akhirnya seseorang tetap bertahan hidup.

Bahkan penyiksaan atau bahkan penderitaan seperti apapun yang dialami seseorang bisa membuat kehidupan seseorang lebih bermakna, dengan catatan ia memberikan respon dan makna yang benar atas penderitaan yang ia alami.

“Kekuatan di luar kendalimu dapat merampas segala milikmu kecuali satu hal, kebebasanmu untuk memilih caramu menanggapi sesuatu”, ungkapnya.

Dengan kata lain, merespon atau memberikan makna tertentu kepada sebuah penderitaan adalah salah satu cara terbaik bertahan hidup.

Sebagimana judul bukunya, “Man’s Search for Meaning” (Manusia Mencari Makna Hidupnya), buku ini secara garis besar sebuah aliran psikologis yang berbeda dengan misalnnya Psikoanalisis Sigmund Freud, atau juga berbeda dengan konsep the will to power (kehendak untuk berkuasa), beda pula dengan striving for superiority (perjuangan untuk mencari keunggulan)  ala Adler. Frankl lebih menitikberatkan tentang perjuangan manusia untuk mencari makna dan mewujudkannya. Keseluruhan teorinya tersebut tergabung dalam pendekatan yang ia sebut sebagai “Logoterapi”.

Bagian berikutnya membahas secara ringkas beberapa konsep dasar logoterapi yang dikemukakan oleh Frankl.

Logoterapi dan Manusia Mencari Makna Hidupnya dalam Man’s Search for Meaning

Setelah catatan panjangnya di Kamp Nazi yang mengerikan pada bagian pertama buku, Frank mempopulerkan Logoterapi sebagai pendekatan psikologi.

Ia menjelaskan bahwa logoterapi berasal dari logos bahasa Yunani yang berarti ” makna.” Logoterapi juga populer dikenal sebagai “Aliran Psikoterapi Ketiga dari Wina”. Perhatian utamanya adalah tentang makna hidup dan upaya manusia untuk mencari makna hidup tersebut. Gamblangnya, apa yang menggerakkan manusia adalah menemukan makna hidup yang menjadi motivator utama seseorang (will to meaning).

Upaya seseorang untuk mencari makna hidup tersebut bisa mengalami frustasi yang bersifat eksistensial (frustasi eksistensial) .

Frustasi eksistensial tersebut terjadi karena tiga hal mendasar. Pertama, eksistensi atau keberadaan manusia itu sendiri. Kedua, bagaimana eksistensi seseorang menjalani hidup, dan ketiga, perjuangan untuk menemukan makna yang benar-benar kongkrit, yang begitu berarti, bagi dirinya.

Frankl mengutip pendapan Schopenhauer, seorang filsuf kenamaan yang banyak membahas ide-ide kebahagiaan manusia, bahwa seseorang senantiasa terombang-ambing antara dua hal: ketegangan dan kebosanan. Dua hal itu ibarat dua mata sisi uang yang dialami manusia. Mungkin hal ini bisa menjelaskan kenapa banyak anak muda suka marathon nonton film action, yang merupakan perpaduan antara ketegangan dan usaha membunuh kejenuhan hidup.

Bagi Frankl, hal-hal seperti itu adalah wajar belaka karena frustasi eksitensial dapat memicu bentuk tersendiri dari  neurosis frustrasi eksistensial, yaitu
“noogenic neuroses” (neurosis noogenik)

Hal ini terjadi karena ada ketegangan yang dialami manusia dalam tingkatan tertentu, misalnya sebuah ketegangan antara sesuatu yang sudah dicapainya dan tingkatan lebih tinggi untuk bisa dicapai. Bisa juga karena ketegangan realitas hidup hari ini dengan suatu tingkatan tertentu yang hendak dicapai.

Bagi Frankl, pergulatan batin seseorang itu bukan suatu penyakit mental yang harus dihilangkan, bahkan menjadi suatu fase yang dialami seseorang untuk mencapai makna tertinggi dalam hidupnya. Sebagaimana rasa bosan atas eksistensi dirinya adalah suatu kehampaan eksistensial yang berusaha mencari atau upaya mendorong dirinya menemukan makna terdalam dalam hidup seseorang.

Frankl juga mengingatkan bahwa terkadang dalam upaya mengatasi problem eksistensial untuk mencapai makna hidup seseorang, ada gangguan-gangguan yang dialami manusia. Gangguan itu misalnya pelarian diri dari pencarian makna menjadi hanya sekadar keinginan untuk berkuasa, kaya-raya, dan kesenangan duniawi lainnya, utamanya soal seks.

Lantas bagaimana cara seseorang menemukan makna dalam hidupnya?

Victor Frankl sesegera mungkin memberikan penjelasan bahwa makna hidup itu sangat bersifat individual, artinya setiap orang memiliki pemahaman tersendiri tentang apa makna terbesar dalam hidupnya sehingga tidak bisa adanya generalisir.

Meski demikian, melalui penyelidikannya terhadap pasien-pasien dan temuan-temuan bekerjanya logoterapi, Frankl menyatakan bahwa manusia bisa menemukan makna hidupnya melalui tiga hal secara umum:

Pertama, melalui pekerjaan atau perbuatan. Melalui pencapaian atau keberhasilan.

Kedua, mengalami sesuatu atau melalui seseorang. Mengalami sesuatu seperti kebaikan, kebenaran, dan keindahan-dengan menikmati alam. Melalui orang lain misalnya mengalami cinta kepada pasangan. Di sini Frankl menekankan betapa besarnya cinta terhadap seseorang dapat memberikan makna hidup bagi yang mencintainya.

Ketiga, melalui cara kita menyikapi penderitaan yang tidak bisa dihindari. Bukan soal kondisi yang membuat kita harus bahagia atau menderita, tapi bagaimana respon emosi kita pada situasi-situasi tersebut.  “Makna hidup adalah sesuatu yang tanpa  syarat, karena, dia juga mencakup potensi-potensi yang berbentuk penderitaan yang tidak terhindarkan”, kata Frankl.

Sebagai penjelasan sederhana: suatu musibah atau apapun itu bisa berarti objektif, namun bagaimana kesadaran kita terhadap musibah bersifat subjektif. Dalam konteks-konteks tertentu misalnya, kita ketinggalan pesawat atau pemberangkatan pesawat mengalami delay karena faktor cuaca, setiap penumpang mengalami musibah yang sama, kita juga tidak bisa mengubah cuaca yang berarti musibah, namun yang bisa kita lakukan adalah mengubah cara pikir kita atau bagaimana kita melihat suatu derita atau musibah.

Sebagaimana pernyataan Frankl yang musti digarisbawahi “Kekuatan di luar kendalimu dapat merampas segala milikmu kecuali satu hat,kebebasanmu untuk memilih caramu menanggapi sesuatu”.

Sebuah buku yang padat ilmu dan menggugah.

 

Baca Juga:

Review Buku Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam Menurut Seyyed Hossein Nasr

Politik Identitas Abad 21 dan Gagasan Liberal Fukuyama

A Man Called Ahok dan Keberlanjutan Upaya Pencapaian Identitas Tionghoa

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments