Leucippus dan Demokritos, Pelopor Filsafat Atomis

Demokritos dan Leucippus

Terdapat dua nama pelopor filsuf atomis, yakni Leucippus (Leukippus) dan Demokritos (Democritus/Demokritus). Pendapat tentang permulaan kemunculan teori atom kerap kali menyandarkan sekaligus kepada dua nama tersebut, sehingga menimbulkan persoalan tersendiri: mana pikiran Leucippus dan mana pikiran Demokritos.

Belakangan diketahui bahwa Leucippus bersumber dari Demokritos. Meski ada dugaan pula bahwa sebenarnya manusia bernama Leucippus itu tidak pernah ada sebagaimana penuturan Epikurus. Namun, nama Leucippus muncul dalam tulisan Aristoteles yang menguatkan bukti keberadaan sosok Leucippus.

Leucippus konon telah berusia dewasa pada tahun 440 SM yang berasal dari Miletos (sekali lagi kita sisihkan dulu perdebatan keberadaannya). Seperti berulang kali disinggung dalam tulisan terdahulu, Miletos memiliki tradisi ilmiah dalam menyusun kerangka filsafatnya.

Berbeda dengan Leucippus, Demokritos adalah filsuf yang lebih jelas adanya. Ia berasal dari Abdere di Thrace. Ia pernah mengatakan bahwa usianya masih mudah ketika Anaxogoras sudah lanjut usia pada tahun 432 SM.

Demokritos adalah filsuf yang melancong ke banyak tempat. Ia pernah tinggal di Mesir dan pernah melawat pula ke Persia dan kembali ke Abdera.

Ia hidup sezaman dengan Socrates dan kaum Sofis. Sehingga dalam teks-teks filsafat ketika menyebut filsuf alam atau filsuf pra-Socrates, Demokritos menjadi pengecualian kalau hanya didasarkan aspek kronologis waktu semat.

Meski jika secara tertib mengacu pada corak filsafat yang lebih menaruh perhatian pada alam (kosmologi), ia tetap bisa tergolong pra-Socrates.

Kita masuk saja pada beberapa poin penting tentang pendirian Leucippus dan Demokritos seputar atom.

 

Demokritos dan Leucippus
(Demokritos dan Leucippus. Sumber Gambar: Facts and Details)

Atom berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari “a” bermakna “tidak”, dan “tom” adalah “terbagi”. Atom berarti adalah tidak terbagi secara bahasa.

Leucippus, atau Demokritos, berpandangan bahwa segala sesuatu tersusun dari atom yang dalam kenyataannya tidak bisa terbagi secara fisik, namun tidak dalam geometris (pikiran).

Atom-atom tersebut tidak bisa musnah dan senantiasa ada, dan selalu bergerak. Penjelasan tentang atom berkaitan dengan dasar eksistensi ruang kosong yang memungkinakan atom-atom, yang tidak terbatas jumlahnya dan memiliki ukuran-ukuran yang berbeda, mampu melakukan pergerakan terus-menerus. Gerakan atom juga acak.

Atom-atom berbeda dalam kadar kepanasannya. Atom-atom yang panas dan berbentuk bulat menjadi unsur pencipta api.

Tubrukan antara atom-atom yang bergerak terus-menerus tersebut mengakibatkan pusaran-pusaran tertentu antara materi dan ruang, dimana hal ini yang mengakibatkan terciptanya segala sesuatu.

Pemikiran tentang gerak aktif mutlak memiliki kemiripan dengan Heraklitus, dan dari segi terciptanya dunia juga mirip dengan Anaxagoras. Bedanya, filsuf atomis tidak mendasarkan pada ruh seperti pikiran Anaxagoras, tapi pada proses yang bersifat mekanis.

Demokritos memberikan penjelasan yang lebih lengkap terkait atom. Menurutnya, atom tidak mengandung kekosongan sehingga ia tetap dan tidak bisa ditembus, layaknya pemikiran Parmenides bahwa semuanya tetap (tidak ada yang berubah).

Masih menurut Demokritos, Atom mengalami pergerakan terus-menerus yang akibatnya saling bertubrukan satu sama lain. Adakalanya hasil dari tubrukan tersebut menjadi terkait satu sama lain, jika unsur antar atom terdapat kesesuaian.

Bentuknya sendiri beraneka ragam, ada yang kecil bulat dan panas yang menjadi api. Hasil tubrukan antar atom menciptakan wujud jasmani dan juga jiwa bagi manusia. Ada pelbagai macam bentuk jasmani (fisik), ada yang memiliki satu matahari dan satu bulan, dan ada yang memiliki lebih dari satu.

Tubrukan antar atom tidak hanya menciptakan segala sesuatu, namun ia menjadi akhir dari sesuatu. Dunia ada akhirnya. Jika ada dunia satu bertabrakan dengan dunia yang lain, kehancuran kosmik menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Kiamat!

Demokritos adalah seorang filsuf materialisme sempurna. Dimana ia berpendapat bahwa dunia adalah hasil dari atom-atom yang turut membentuk jiwa. Dan yang namanya sebuah pemikiran adalah sebuah proses jasmani.

Baginya, persepsi dan pemikiran terbagi menjadi dua jenis. Pertama, adalah inderawi, dan kedua adalah pemahaman. Persepsi yang berdasar pada inderawi tergantung pada alat inderawi yang kita gunakan dan cenderung menipu, sedangkan persepsi adalah olahan dari apa yang kita persepsikan.

Pikiran menurut Demokritos sebagaimana Jhon Locke bahwa kualitas seperti hangat, cita rasa makanan, dan warna tidak melekat dari objek tapi hasil olahan inderawi. Sedangkan kualitas seperti bobot, kepadatan, lunak, keras melekat pada objek itu sendiri.

Demokritos menolak kesan religius layaknya Anaxagoras tentang eksistensi roh yang menggerakkan segala sesuatu. Bahkan ia tak percaya agama secara keseluruhan. Ia hanya meyakini bahwa alam semesta ini tidak, atau tepatnya mungkin tidak mau tahu, apakah mengandung tujuan tertentu, namun ia berpandangan alam semesta hasil atom-atom yang dikendalikan hukum alam secara mekanis yang melahirkan determinasi atau hukum alam di dalamnya.

Salah satu penjelasan tentang sifat atom yang menimbulkan perdebatan adalah bahwa “atom tidak tercipta, namun ada dengan sendirinya”.

Apakah pandangan Leucippus dan Demokritos selaras dengan Empedokles yang mengatakan bahwa bekerjanya alam semesta adalah keniscayaan dan kebetulan semata, tanpa ada tujuan tertentu?

Sebaliknya, Leucippus dan Demokritos meyakini faktor determinasi tentang keselarasan hukum alam setelah berpandangan unsur atom yang menjadi inti alam semesta. Artinya, entah bagaimana awalnya atom tiba-tiba ada, setelah alam semesta bekerja, keseluruhan menunjukkan corak untuk bekerja secara mekanis seturut hukum alam, sebagaimana yang telah disebutkan.

Salah satu ungkapan dari Leucippus yang terkenal adalah:

“tak ada yang terjadi tanpa tujuan, sebaliknya segala hal bermula dari dasar tertentu dan terjadi karena keniscayaan”.

Hubungan sebab-akibat yang bersifat mekanis dari atom pasti berawal dari sesuatu, namun tidak bisa dipastikan secara pasti penyebab pertama sekali itu apa.

Pandangan yang umum dalam pemikiran filsafat segera akan membuat mereka berpikir tentang eksistensi Tuhan sebagai pemula segala sesuatu. Bagi Leucippus, dan juga Demokritos, mereka lebih memilih untuk mendiamkan persoalan ini dan lebih menaruh perhatian untuk menjelaskan proses mekanis atom.

Ada dua tipe pertanyaan umum yang bisa membuat kita memudahkan persoalan ini. Pertama, pertanyaan yang bersifat teleologis yang berisi “tujuan apa yang hendak dicapai oleh serentetan peristiwa ini?”.

Kedua, pertanyaan yang bersifat mekanistis berisi “keadaan seperti apa yang mengakibatkan peristiwa semacam ini?”.

Kalangan atomis lebih memusatkan perhatian kepada bentuk pertanyaan kedua untuk menjelasakan jalinan keadaan yang menciptakan sebuah peristiwa. Tanpa perlu menarik ke belakang lagi, darimana asal mula atom dan apa tujuan utamanya. Atau menjawab pertanyaan bagaimana asal mula pergerakan atom-atom tersebut.

Sebaliknya, filsuf selepas Demokritos seperti Socrates, Plato, bahkan Aristoteles (yang banyak mengkritik mereka) lebih tertatik pada persoalan kedua tentang tujuan dari keseluruhan tatanan alam ini apa, dan konsekuensinya menggiring ilmu pengetahuan pada kubangan terdalam bidang rohani.

Menyikapi dua sudut pandang yang berbeda tersebut, adalah suatu dasar yang bisa begitu jenius kalangan atomis memilih mendiamkan penjelasan awal mula penggerak atom, sebab hal ini akan memicu diskusi mekanis menjadi teleologis bersifat religius, karena susah melacak awal dari segala sesuatu.

Uraian di atas menjadi penting mengingat Demokritos adalah filsuf alam terakhir sebelum pada akhirnya orientasi cendekiawan setelahnya lebih berhalauan manusia dan persoalan etis. Dimana, kata Russell, suatu transisi pengetahuan menuju lorong-lorong gelap.

 

*Tulisan ini disarihkan dari tulisan berjudul “Kaum Atomis” dalam buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 88-100.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca juga:

Filsafat Heraklitus (Herakleitos): Api Adalah Substansi Segala Sesuatu

Filsafat Pythagoras, Nabi yang Ahli Matematika

Thales, Anaximander dan Anaximenes, Filsafat Alam Mazhab Milesian

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments