Kebangkitan Athena dan Filsafat Anaxagoras

Anaxagoras

Kebangkitan Athena dan Filsafat Anaxagoras

Pada tulisan-tulisan yang lalu, kita telah mengupas filsuf dari Miletos (Thales, Anaximander, dan Anaximenes), Italia Selatan (Pytaghoras dan Peremenides), Sisilia (Empedokles), dan Epeshus (Heraklitus).

Seperti yang sudah disinggung pada bagian sebelumnya, para filsuf yang berasal dari Miletos memiliki kecenderungan tradisi ilmiah, sedangkan dari Sisilia dan Italia Selatan cenderung mistis. Walaupun perlu diingat antar pemikiran filsuf saling mempengaruhi satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak.

Kini, kita mulai bergeser ke Athena, tempat kelahiran para filsuf klasik terkemuka seperti Socrates dan Plato. Termasuk juga Aristoteles mengenyam pendidikan di sana pula. Sebelum kebudayaan Athena bangkit, tokoh-tokoh besar berasal dari Sisilia dan Italia Selatan.

Kejayaan Athena bermula dari terjadinya dua perang Persia, yakni pada tahun 490 SM dan 480-479 SM. Kemenangan gemilang berlangsung ketika Athena mengalahkan Persia yang ketika itu dibawah kekuasaan Darius (490 SM). Kemenangan kedua ketika terjadi konsolidasi kekuasaan di Yunani, dimana Athena menjadi pemimpin atas negara-kota yang lain, melawan Xerxes, anak Darius yang juga menjadi raja Persia.

Wilayah-wilayah Ionia memang kerap kali melakukan pemberontakan terhadap Persia, namun keberhasilan tersebut tidak terlepas dari pengaruh Athena yang mampu mengusir Persia dari Yunani daratan. Sparta, negara-kota besar lainnya, tidak mengambil bagian karena hanya mementingkan wilayahnya semata.

Athena sebagai pimpinan utama kota-kota di Yunani mendapatkan supermasi bahari dan kekayaan dari sekutunya. Aturan kala itu menyebutkan bahwa setiap negara-kota harus menyumbang armada kapal atau mengganti biaya perang. Pilihan terakhir lebih banyak dilakukan. Akibatnya, Athena memiliki sumber daya ekonomi dan legitimasi yang besar di Yunani saat itu.

Imperium Athena dipimpin oleh Pericles yang berkuasa sekitar 40 tahun (terguling dari tahta tahun 430 SM). Dikisahkan kepemimpinan Athena dibawah kekuasaan Pericles adalah era puncak kejayaan negara-kota tersebut. Pericles memberikan perhatian besar kepada aspek perkembangan kebudayaan dan pembangunan kembali peradaban mereka yang sebelumnya porak-poranda akibat peperangan. Sebagaimana Athena pernah ditaklukan Xerxes yang menghancurkan kuil-kuil Acropolis.

Beberapa tokoh penting yang ambil bagian dalam pembangunan kembali kebudayaan Athena adalah Aeshylus yang menciptakan karya seni tragedi Athena melalui “Persae”. Karya ini bertolak-belakang dari naskah populer Yunani berjudul “Homerus” yang mengisahkan Darius.

Jejak Aeshylus diikuti oleh kalangan cendekiawan berikutnya seperti Sophocles dan Euripides. Tokoh penting lainnya adalah Herodotus, aslinya orang Asia kecil yang telah lama bermukim di Athena. Ia diminta negara untuk menceritakan sejrah perang Persia, tentu menurut sudut pandang orang Athena.

Kejayaan Athena yang luar bisa di era Pericles menjadi memungkinkan para filsufnya untuk menganjurkan menjadi pintar sekaligus bahagia, sebagaimana ajaran Socrates dan Plato.

Anaxagoras, Pembawa Filsafat ke Athena

Anaxagoras
(Anaxagoras. Simber gambar: Wikipedia)

Salah seorang filsuf yang menempati posisi penting dalam proses pembangunan ulang kebudayaan di Athena adalah Anaxagoras. Meski kandungan ajaran filsafatnya tidak sehebat Pytaghoras maupun Heraklitus, misalnya, tapi ia adalah tokoh penting yang memperkenalkan filsafat ke Athena.

Anaxagoras lahir di Clazomenae, Ionia, sekitar 500 SM. Ia menghabiskan sekitar 33 tahun hidup di Athena (sekitar tahun 462 sampai 432 SM). Kemungkinan ia diundang oleh Pericles ke Athena untuk membawa semangat ilmiah dan rasional Ionia ke Athena.

Anaxagoras berpendapat bahwa segala sesuatu bisa dibagi-bagi hingga pada pecahan yang tidak terbatas, pada pecahan terkecil itu pun sebenarnya mengandung semua unsur yang ada.

Ketika kita melihat suatu benda, kita menyebutnya sebagai unsur tertentu sebenarnya adalah unsur tertentu itu merupakan unsur dominan, namun tidak mengalpakan keberagaman unsur lain yang terkandung di dalamnya. Misalnya ketika kita melihat api sebagaimana api karena unsur api adalah dominan.

Ia sepadan dengan pendapat Empedokles bahwa tidak ada yang namanya ruang hampa sebagaimana udara di dalam bejana. Ketika bejana dibalik dan dibenamkan ke air, ruang yang tak kasat mata itu tidak hampa tapi berisi udara yang mampu menahan air masuk ke dalamnya.

“Ruh adalah sumber gerak”. Ruh yang menyebabkan rotasi dan kemudian menjalar ke seluruh dunia. Benda ringan bergeser ke pinggir dan benda berat berada di tengah-tengah. Ruh itu sebenarnya seragam, baik yang ada di manusia maupun hewan. Apa yang menjadikan manusia istimewa adalah faktor bentuk jasmaninya saja.

Ia tidak terlalu memiliki perhatian terhadap persoalan etis dan agama, bisa jadi ia adalah ateis seturut dengan dugaan para musuhnya. Ia juga dianggap pengikut aliran Anaximenes yang sama-sama dari Ionia. Menjadi hal yang masuk akal ia lebih mengembangkan tradisi ilmiah daripada ala filsuf Italia Selatan atau Sisilia yang cenderung spiritual.

Sekali lagi, arti penting Anaxagoras terletak pada faktor kesejarahan karena ialah orang pertama yang membawa traidis filsafat ke Athena dan pada gilirannya nanti mempengaruhi pemikiran Socrates.

 

*Sumber tulisan ini disarihkan dari tulisan berjudul “Athena dan Hubungannya dengan Kebudayaan” dalam buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 79-83.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments