Indonesia dan Thomas Cup 1958: Mengepakkan Solidaritas dan Sportivitas Nation State Pasca Kolonial

Indonesia dan Thomas Cup 1958: Mengepakkan Solidaritas dan Sportivitas Nation State Pasca Kolonial

Penulis: Zofrano Ibrahimsyah Magribi Sultani (alumni Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang) dan Gregorius Alberto Zinadine Zidane (alumni Jurusan Ilmu Administrasi Negara Universitas Musamus Merauke)

Pada tahun ini, gelaran Thomas Cup dan Uber Cup 2021 diselenggarakan di Ceres Arena, Aarhus, Denmark. Uniknya, meski diadakan pada tahun 2021 namun nama dari kejuaraan ini adalah Piala Thomas-Piala Uber 2020.

Hal ini dari laporan jurnalis detik.com, Fahri Zulfikar (2021) “Thomas Cup Indonesia, Sejarah Kemenangan dari Tahun 1958 hingga 2021” mengungkapkan lantaran gelaran kejuaraan ini sebenarnya dijadwalkan tahun 2020 namun harus mengalami beberapa penundaan akibat pandemi COVID-19. Awalnya, turnamen dijadwalkan pada 15-23 Agustus 2020 tapi mundur jadi 3-11 Oktober 2020 kemudian mundur lagi hingga ke tahun ini tanggal 9-17 Oktober 2021.

Kemenangan atlet bulutangkis (badminton) Indonesia menjuarai Thomas Cup 2020 di Denmark merupakan prestasi tertinggi yang membanggakan negara dan bangsa yang selama 14 tahun tidak pernah bisa mengalahkan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Kemenangan tersebut terlepas dari kontroversialnya akibat keteledoran Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dan Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) tidak memenuhi administrasi tes doping dari World Anti Doping Agency (WADA), secara historis, Indonesia telah memenangkan kejuaraan kompetisi bulutangkis ini sejak tahun 1958.

Keikutsertaan Indonesia pada Thomas Cup 1958 menghasilkan atlet-atlet bulutangkis yang membawa prestasi terbaik bagi Indonesia pasca merdeka. Pasca Indonesia merdeka memang membutuhkan good imaging melalui olahraga, sebagaimana yang dilakukan Soekarno untuk menunjukkan kepada negara-negara Dunia Ketiga dan negara Barat bahwa Indonesia memiliki modal awal semangat dan motivasi mengikuti kejuaraan di bidang olahraga tingkat internasional meskipun secara fasilitas dan sarana olahraga masa itu minim.

Keikutsertaan Indonesia, menurut Hary Setyawan (2009: 57-58) dalam penelitiannya “Olahraga bulutangkis di Indonesia dari lokal ke internasional tahun 1928-1958” mengutarakan bahwa keikutsertaan Indonesia pada Thomas Cup 1958 tidak lepas dari peranan PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) di bawah kepemimpinan Sudirman melalui Kongres II PBSI tahun 1953 mengupayakan organisasi/lembaga olahraga bulutangkis Indonesia bisa masuk keanggotaan International Badminton Federation (IBF). Tulisan ini menganalisis keikutsertaan/partisipasi Indonesia pada Thomas Cup 1958 dalam mengepakkan solidaritas dan sportivitas antarnegara-bangsa pascakolonial melalui olahraga.

 

Kesiapan Indonesia menghadapi Peserta Tim Thomas Cup 1958

Setelah PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia[Indonesian Badminton Association]) terbentuk tahun 1950 dari cikal bakal Persatuan Badminton Djakarta (Perbad), Indonesia selalu mengirimkan pemain terbaiknya ke juaraan bulutangkis internasional. Pengiriman atlet badminton berasal dari gagasan Ketua Umum PBSI Sudirman yang memiliki tujuan supaya dunia internasional mengetahui kualitas kemampuan pemain-pemain bulutangkis Indonesia selaku negara yang baru merdeka dari Jepang.

Justian Suhandinata dan Umar Sanusi (1997: 330) dalam “Suharso Suhandinata Diplomat Bulutangkis: Peranannya dalam Mempersatukan Bulutangkis Dunia menuju Olimpiade” menyebut pemain yang selalu dikirim sebelum Thomas Cup 1958 yaitu Ferdinand Alexander “Ferry” Sonneville, Olich Solihin, dan Eddy Joesoef berhasil mengalahkan pemain dari Malaya seperti Cheah Tian Kioe, Ong Poh Lim, Ismail bin Marijan, dan Abdullah Piruz akan diikutsertakan pada Thomas Cup 1958.

Hal ini terlihat jelas dengan masuknya pemain bulutangkis Indonesia ke dalam 10 daftar pemain versi IBF (International Badminton Federation) tahun 1954.

Langkah awal yang disiapkan PBSI pimpinan Sudirman untuk menghadapi ajang Thomas Cup 1958 adalah mencari data dan informasi zona/grup yang terlemah dalam kejuaraan bertaraf internasional agar Indonesia dapat tampil dan lolos kualifikasi antarzona.

Dalam penelitian Hary Setyawan (2009: 60), Indonesia berada di zona Australasia bersama Selandia Baru dan Australia. Tim Thomas Indonesia terdiri dari Ferry Sonneville, Eddy Joesoef, Tan Joe Hok, Lie Poo Djian, Tan King Gwan, Njoo Kiem Bie, Tio Tjoe Djen, dan Thiam Beng.

Di dalam pertandingan antarzona Australasia, Indonesia berhasil keluar sebagai pemenang dari zona ini atas Australia dan Selandia Baru dengan masing-masing 9-0. Di zona Australasia, peserta pertama Indonesia memberikan pemberitahuan tentang masa depan bulutangkis internasional dengan menutup Selandia Baru dan Australia untuk maju ke permainan antarzona melalui pemain kunci Indonesia, Ferdinand Alexander “Ferry” Sonneville dan Tan Joe Hok (pemenang All England 1959).

Pemenang dari dua kompetisi zona Asia sebelumnya, India secara meyakinkan dikalahkan 8-1 di babak pertama oleh Thailand yang berkembang pesat. Thailand kemudian memenangkan zona dengan menutup Pakistan dengan skor 9-0 (Scheele, 1967: 74).

Di Zona Eropa, Denmark kembali melaju dengan mudah melalui pemain Erland Kops bersama dengan Finn Kobbero, dua pemain yang sangat berbakat, keduanya masih berusia dua puluhan. Setelah Indonesia menang dari zona Australasia, Indonesia berhadapan dengan tim Denmark, pemenang zona Eropa, yang merupakan tim unggulan.

Tim Thomas Indonesia mampu mengalahkan Denmark dengan skor akhir 6-3. Bahkan pasangan ganda Denmark yang kuat Finn Kobbero dan Jorgen Hammergaard Hansen hanya bisa mendapatkan split dalam dua pertandingan (Suhandinata & Sanusi, 1997: 333-334). Tulisan Ravando Lie (2021) The Magnificent Seven: Si Pembungkam Raksasa di Piala Thomas 1958, Tan Joe Hok sukses melibas Erland Kops maupun Finn Kobbero di Guillemard Road Stadion yang berkapasitas 7.000 penonton.

Sementara itu, pasangan ganda terbaik Indonesia Njoo Kiem Bie/Tan King Gwan juga berhasil menghentikan perlawanan Finn Kobbero/Jorgen Hammergaard Hansen dalam pertandingan yang berlangsung tiga set. Di kualifikasi zona lainnya, untuk ketiga kali secara berturut-turut sejak Thomas Cup digelar, hanya Amerika Serikat (AS) dan Kanada yang berlaga di zona Pan-Amerika. Skuad Thomas AS menutup tim Kanada untuk lolos dari kualifikasi zona Pan Amerika.

Menampilkan kekuatan dan keseimbangan di tunggal dan ganda, Thailand mengirim pulang AS dengan kekalahan 7-2 (Setyawan, 2009: 60). Pertandingan yang menarik dalam pertandingan ini adalah kemenangan Sunthorn Subhabhan dan Kamol Sudthivanich dari Thailand atas pemain ganda AS, Joseph Cameron Alston dan T. Wynn Rogers, dengan skor 18-14 pada game ketiga setelah kehilangan game pertama dengan skor nol (Scheele, 1967: 75).

 

Pemain Thomas Indonesia Berusaha Mendobrak Hegemoni Barat

Ketika Indonesia menghadapi Thailand di babak second round, Thailand diwakili oleh Charoen Wattanasin, tim tunggal putra Thailand yang diprediksi akan menjadi batu sandungan bagi Indonesia. Namun di luar prediksi, Indonesia berhasil menggasak Thailand dengan skor mencolok 8-1.

Satu-satunya kekalahan tim ganda Indonesia diderita oleh pasangan dadakan Tan Joe Hok/Lie Poo Djian dalam pertandingan kesembilan yang tak lagi menentukan. Kemenangan tersebut pun mengantarkan Indonesia bertemu Malaya di laga babak tantangan.

Menghadapi Indonesia pada laga babak tantangan yang dimainkan pada pertengahan Juni, Malaya menghadapi pensiunnya Wong Peng Soon digantikan dengan Eddie Choong, juara bertahan 3 kali.

Permainan Eddie Choong menunjukkan kerentanan kepercayaan orang Melayu mungkin sudah rendah sejak awal tidak mampu memenangkan pertandingan tunggal melawan Indonesia dan akhirnya kalah seri 3-6 langsung dicemooh di luar lapangan oleh rekan senegaranya. Pemain tunggal papan atas Malaya lainnya, Teh Kew San, nyaris menerobos lawan Ferry Sonneville tetapi akhirnya kalah 16-18 di kuarter ketiga (Scheele, 1967: 77).

Setidaknya satu dari kemenangan ganda Malaya tampaknya menjadi hadiah setelah hasilnya ditentukan. Tan Joe Hok dari Indonesia menjalani seluruh kampanye Piala Thomas tanpa terkalahkan di nomor tunggal. Herbert Scheele (1967: 77-78) The International Badminton Federation Handbook for 1967 menganalisis Tan Joe Hok akan memenangkan gelar tunggal All England tahun berikutnya dan untuk sementara waktu akan dianggap sebagai pemain terbaik di dunia sejak Indonesia dipimpin Soekarno.

Untuk waktu yang lebih lama Indonesia menjadi negara yang harus dikalahkan dalam bulu tangkis beregu pasca Soekarno oleh negara Barat dan Tiongkok.

Tim Thomas Indonesia sukses merebut tiga kemenangan dari total empat pertandingan yang diadakan hari itu. Tiga kemenangan tersebut dibukukan oleh Ferry Sonneville yang mengalahkan Eddy Choong dengan skor 15-12, 15-4; lalu Tan Joe Hok yang melibas Teh Kew San 18-14, 15-3; dan Njoo Kiem Bie/Tan King Gwan yang mengandaskan perlawanan Johnny Heah/Lim Say Hup dalam tiga set 7-15, 15-5, dan 18-15 (Lie, 2021).

Satu-satunya kekalahan dialami pasangan dadakan Ferry Sonneville/Tan Joe Hok ketika melawan Oei Teik Hock/Eddy Choong dengan skor 15-18, 5-15. Skuad Indonesia membuat skuad Thomas Malaya makin terpuruk di hari kedua. Harapan Malaya untuk membalik keadaan dibuat sirna ketika Tan Joe Hok mampu mengalahkan Eddy Choong dalam dua set langsung, 15-11 dan 15-6. Di partai lain, Ferry Sonneville juga mampu mengandaskan perlawanan sengit Teh Kew San dalam tiga set yang berakhir dengan skor 13-15, 15-13, dan 18-16.

Skor 5-1 pun memastikan Indonesia merebut Piala Thomas dalam keikutsertaannya yang pertama (Lie, 2021).

Ratusan suporter Indonesia seketika tumpah ruah di lapangan. Mereka mengalungi Tan Joe Hok dan Ferry Sonneville dengan karangan bunga bertuliskan “Hidup Indonesia” (lihat gambar 1). Euforia itu berlangsung selama beberapa menit, sebelum lapangan disterilkan untuk pertandingan selanjutnya yang mempertemukan antara Eddy Joesoef dan Abdullah Piruz. Untuk kesekian kalinya, pemain Indonesia mampu membungkam Malaya dalam pertandingan tiga set, 6-15, 15-10, dan 15-8 (Lie, 2021).

 

(Arak-arakan Kemenangan Atlet Badminton Indonesia Usai Memenangkan Thomas Cup 1958.
(Sumber: Lie, 2021).

 

Merajut Solidaritas dan Sportivitas Olahraga Antarnegara-bangsa Pascakolonial

Hasil dari hubungan antarzona di Singapura memberikan banyak bukti tentang meningkatnya popularitas olahraga di Asia Tenggara dan keuntungan yang dinikmati negara-negara ini dalam bersaing dengan orang Barat di iklim tropis.

Perkembangan pemain-pemain bulutangkis Indonesia pasca merdeka tidak lepas dari peranan PBSI yang mengupayakan agar organisasi olahraga nasional bisa terdaftar di IBF. Walaupun pada awal perkembangan bulutangkis Indonesia masih didukung oleh pemain keturunan Indo-Eropa seperti Ferdinand Alexander Sonneville dan Tan Joe Hok yang merupakan keturunan Tionghoa, tidak menjadikan perbedaan ras dan etnis sebagai penghalang maupun penghambat meraih kemenangan di Thomas Cup 1958.

Olahraga bulutangkis/badminton pada Thomas Cup 1958 menjadi wadah bagi Indonesia untuk mengepakkan semangat sportivitas dan solidaritas antarnegara-bangsa pascakolonial melalui olahraga. Cabang olahraga ini selama Demokrasi Terpimpin sebagai simbol politik Indonesia meraih supremacy imaging dunia bulutangkis di tingkat global, walaupun selama Indonesia merdeka sarana dan prasarana penunjang masih sangat minim tetapi hal itu tidak dijadikan sebagai beban meraih gelar juara.

Perjuangan tim Thomas Indonesia yang bertanding telah mengalahkan Selandia Baru, Australia, Amerika Serikat, dan Denmark yang notabene merupakan negara-negara Barat, mampu mendobrak dinding/sekat pembatas antara negara berkembang dengan negara maju melalui cabang olahraga bulutangkis. Kemenangan yang diraih oleh tim Thomas Indonesia sudah tentu menggugah hasil yang dicapai oleh pahlawan-pahlawan bulutangkis Indonesia generasi pertama seperti Ferdinand Alexander “Ferry” Sonneville, Tan Joe Hok, Eddy Jusuf, Olich Solihin, Tan King Gwan, Njoo Kiem Bie, Lie Poo Djian, dan Thiam Beng.

Cabang olahraga ini merajut persatuan oleh Eko Djatmiko, Mimi Irawan, dan T.D. Asmadi (2004) dalam Sejarah Bulutangkis Indonesia menyebut kemenangan Thomas Indonesia tahun 1958 sebagai pembuktian Soekarno mengenai berdikari bangsa Indonesia mendobrak hegemoni Barat dalam bidang ekonomi dan politik global. Kemenangan Indonesia di Thomas Cup 1958 memberikan pengaruh positif bagi masyarakat Indonesia untuk selalu mensupport pemain bulutangkis negaranya. Soekarno memandang bidang olahraga memiliki kepentingan geopolitik Indonesia bagi pembangunan Indonesia ke depan untuk menjadi tuan rumah Asian Games 1962.

 

DAFTAR RUJUKAN

Djatmiko, E., Irawan, M., & Asmadi, T.D. (2004). Sejarah Bulutangkis Indonesia. Jakarta: Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia dan Spirit Komunika.

Lie, R. (2021). The Magnificent Seven: Si Pembungkam Raksasa di Piala Thomas 1958., https://tirto.id/the-magnificent-seven-si-pembungkam-raksasa-di-piala-thomas-1958-gkqF

Scheele, H. (Ed.). (1967). The International Badminton Federation Handbook for 1967. Canterbury: J. A. Jennings Ltd.

Suhandinata, J. & Sanusi, U. (1997). Suharso Suhandinata Diplomat Bulutangkis: Peranannya dalam Mempersatukan Bulutangkis Dunia menuju Olimpiade. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Setyawan, H. (2009). Olahraga bulutangkis di Indonesia dari lokal ke internasional tahun 1928-1958. Skripsi S1 tidak diterbitkan. Depok: Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Zulfikar, F. (2021). Thomas Cup Indonesia, Sejarah Kemenangan dari Tahun 1958 hingga 2021., https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5766823/thomas-cup-indonesia-sejarah-kemenangan-dari-tahun-1958-hingga-2021 .

 

Baca Juga:

Feminisme dan Pascakolonialisme: Benarkah Feminisme Bagian dari Wacana Kolonial?

Memahami Kegilaan dan Peradaban (Madness and Civilization) Karya Michel Foucault

Problematika Otonomi Daerah: Wacana Membuka Moratorium Pemekaran Daerah dan Jalan Tengah Demokrasi Lokal

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments