Filsafat Pythagoras, Nabi yang Ahli Matematika

Pythagoras adalah seorang filsuf pra-Socrates yang sangat berpengaruh dan menarik. Berpengaruh karena warisan ajarannya sangat berbekas pada pemikiran filsuf setelahnya, utamanya Plato dengan pemikiran mistis dan penekanan pengajaran matematika.

Disebut menarik karena dua identitas yang melekat sekaligus pada dirinya, yakni rohaniawan dan ahli matematika.

Pertama, dia adalah rohaniawan, bahkan ia layaknya seorang nabi yang menciptakan perkumpulan ajaran yang kemudian populer dengan sebutan “Pythagorianisme”. Sebuah sekte yang menitikberatkan kecenderungan adikodrati dan penyatuan manusia dengan Tuhan.

Salah satu ungkapannya yang sangat populer dari Pythagoras adalah: “ada tiga jenis di dunia ini. Pertama, Tuhan. Kedua, manusia, dan ketiga Pythagoras”. Kalimat itu bisa bermakna banyak hal, misalnya ia adalah manusia setengah dewa atau ia adalah seorang nabi yang menjadi perantara antara Tuhan dan manusia. Kami persilahkan pembaca menafsirkan sendiri.

Kedua, di sisi yang lain, ia juga terkenal sebagai tokoh besar matematika. Bahkan anggota perkumpulannya adalah penggiat pelajaran matematika.

Temuan utama Pythagoras, dan tentu juga keterlibatan murid-murdinya, adalah proposisi tentang segitiga siku-siku, yakni kuadrat jumlah sisi-sisinya yang membentuk sisi siku-siku sama halnya hasil dari kemiringan kuadrat dari sisi yang lain.

(Pythagoras. Sumber Gambar: Ancient History List)

Hal yang sangat familiar dalam pelajaran dasar matematika. Namun kita tidak sedang membicarakan tentang teori Pythagoras, kecuali menyangkut aspek mistisme di dalam matematika sebagai pondasi filsafatnya.  Jelasnya, Pythagoras membuat matematika memiliki perannya dalam perbincangan filsafat, tepatnya filsafat bercorak mistisme.

Sebagaiman sudah disinggung di awal, seorang tokoh spiritual sekaligus ahli matematika menjadikan sosok Pythagoras terkesan sangat kontradiksi.

Memahami kesulitan filsafatnya tentu sangat beralasan. Kita yang hidup di era modern, dengan dikotonomi yang ketat untuk memisahkan sains dan agama sebagai perbincangan yang terpisah, tak ayal menemukan banyak kebingungan memahami bagaimana gagasan Pythagoras tentang matematika sebagai sarana menuju Tuhan. Padahal, anjuran umumnya menyatakan bahwa untuk menyingkap misteri ilahiyah kerap kali melalui laku spiritual dan kebatinan.

Di tangan Pythagoras, ia menyediakan suatu alternatif pemikiran bagaimana mencapai kesadaran tertinggi keagamaan melalui matematika atau sains.

Kita mulai dulu dengan pengenalan singkat tokoh ini.

Pythagoras berasal dari Samos, kota perdagangan yang menjadi rival dari Miletos (kota yang melahirkan perintis filsafat seperti Thales, Anaximander, dan Anaximenes).

Ada dua versi tentang asal-usulnya. Pertama, dia adalah anak dari bangsawan Samos bernama Mnesarchos. Kedua, sebagian mengatakan ia adalah anak dari Dewa Apollo. Tentu latar belakang kedua patut diragukan, tapi penjelasan itu menguatkan reputasi Pythagoras sebagai sosok spiritual yang dipuja layaknya dewa atau manusia setengah dewa.

Tahun kelahirannya tidak bisa diketahui secara pasti, namun bisa disebut kira-kira tahun 532 SM, Pythagoras sudah menginjak dewasa. Kala itu Samos dipimpin oleh seorang penguasa tiran yang keji bernama Polycates (diperkiran berkuasa pada tahun 535 hingga 515 SM).

Pythagoras tidak menyukai kepemimpinan Polycrates di Samos yang mengakibatkan dirinya hengkang dari kota tersebut. Konon, ia menuju Mesir. Di sanalah kemudian pemikiran mistis merangsang gagasan filsafatnya. Entah bagaimana kisahnya, ia kemudian tinggal di Croton, Italia Selatan.

Di Croton, ia mendirikan perkumpulan keagamaan yang cukup berpengaruh. Hingga pada saatnya ajarannya dianggap sesat dan mendapatkan perlawanan dari penduduk. Hal ini membuat Pythagoras pindah ke Metapontion, wilayah Italia Selatan juga. Ia meninggal di kota tersebut.

Ia adalah seorang pendiri agama atau mazhab dengan pengikut yang kebanyakan berlatarbelakang matematikawan, atau orang yang tertarik dengan matematika. Sebuah adonan religius dan sains yang susah dimengerti.

Beberapa catatan juga menyebut tradisi keagamaan Pythagorian agak aneh. Beberapa diantaranya: tidak boleh makan buncis, tidak boleh memungut sesuatu yang sudah jatuh, jangan menyentuh ayam jago putih, jangan meremukkan roti, dan sebagainya.

Perkumpulan ini memiliki asas kesamaan diantara berbagai anggota, baik laki-laki dan perempuan yang dianggap sederajat. Jika ada sebuah temuan matematika di dalam perkumpulan tersebut, maka itu adalah hasil kolektif dan tidak boleh disandarkan pada satu sosok semata. Kalau dari segi bagaimana matematika bersifat mistis, merupakan buah tangah Pythagoras.

Pada dasarnya, Pytaghorianisme adalah sebuah pembaharu agama Orphisme, sebuah ajaran yang mengajak untuk menyembah Dionysus. Seperti disinggung sebelumnya, ajaran Pytaghorianisme menitikberatkan pada jalan menuju citra keilahian dengan menempatkan keseluruhan aspek penyatuan manusia dengan Tuhan.

Ajaran ini juga mengutuk kehidupan duniawi yang penuh kepalsuan dan khayali semata, tidak nyata. Kehidupan ini adalah tempat yang membuat surgawi tidak bersinar terang dalam diri manusia.

Pythagoras juga kedapatan beberapa kali berkhotbah kepada binatang. Ia meyakini bahwa konsep reinkarnasi, dimana jiwa manusia yang tidak bisa menemukan kesucian akan terlahir menjadi hewan dan makhluk-makhluk lainnya. Kelahiran kembali pada dasarnya adalah siklus manusia pada kehidupan selanjutnya. Akibatnya, eksistensi kehidupan di dunia sebenarnya tidak ada yang baru. Ia juga mengatakan bahwa segala yang lahir ke dunia disertai kehidupan berasal dari segala sumber kehidupan yang satu.

Bagaimana kaitan antara matematika dengan jalan menuju Tuhan?

Pythagoras beranggapan bahwa alam semesta ini bersifat harmoni. Segala sesuatu tampak teratur dan tertib. Salah satu jalan mengungkap harmoni dunia adalah dengan bilangan-bilangan. Dunia ini terdiri dari bilangan-bilangan atau angka-angka. Matematika murni menempati posisi sebagai sebuah ilmu yang menfasilitasi pencapaian kesadaran harmonisasi alam semesta dengan manusia itu sendiri.

Premisnya, matematika adalah sebuah ilmu eksak, pasti dan bisa diterapkan dalam kehidupan empiris. Matematika mendasari cara berpikir ideal, dan mengakibatkan anggapan realitas empiris derajatnya lebih rendah dari pikiran. Itu sebabnya sebuah anggapan kebenaran hanya terletak pada proposisi-prosisi logika ideal di dalam pikiran. Pikiran lebih tinggi daripada observasi. Akhirnya pengetahuan matematika murni tidak mengalami penuntutan untuk menjalankan observasi.

Dalam mendeskripsikan segala sesuatu, kita sering dipandu oleh angka. Contoh saja tentang waktu, berat badan, dan sebagainya. Kita juga memiliki konsepsi matematis tentang segitiga, bilangan piramidal, segiempat, dan sebagainya sebagai alat ukur pikiran untuk menilai apa yang nampak dalam panca indera kita. Pythagoras menilai segala sesuatu bersifat atomis, dunia tercipta dari molekul-molekul tertentu yang kemudian mendapatkan bentuknya. Ia menganjukan aritmetika menjadi bidang studi mendasar bagi fisika maupun estetika.

Dari matematika lahirlah doktrin-doktin mistik yang menyangkut antara hubungan waktu dan keabadian mendapatkan alat penguat berupa matematika murni. Segala konsepsi matematika misalnya segitiga adalah sesuatu yang nyata dalam pikiran yang terbebas dari waktu dan bersifat abadi. Objek-objek yang abadi tersebut menarasikan bagaimana pikiran Tuhan tertanam dalam diri manusia melalui matematika, seturut dengan sifatnya (Tuhan dan bilangan) yang kekal dan tidak terbelenggu oleh waktu. Singkatnya, Tuhan yang maha gaib dapat kita jumpai dengan jalur matematika murni yang mendekati sifat dasar diri-Nya.

Kombinasi dari matematika dan filsafat ketuhan (teologi) yang bersumber dari Pythagoras telah mengilhami perkembangan agama di Yunani, bahkan mempengaruhi cara pikir Abad Pertengahan, hingga zaman modern. Dimana perpaduan antara agama dan penalaran yang menghasilkan dalil teologi bagi kebenaran agama.

 

*Tulisan ini disarihkan dari tulisan berjudul “Pythagoras” dalam buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 39-49.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

 

Baca Juga:

Mengapa Yunani Disebut sebagai Tempat Kelahiran Filsafat dan Ilmu Pengetahuan?

Thales, Anaximander dan Anaximenes, Filsafat Alam Mazhab Milesian

Filsafat Plato Tentang Idea, Etika, dan Negara

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments