Filsafat Plato Tentang Idea, Etika, dan Negara

Filsafat Plato Tentang Idea, Etika, dan Negara

Penulis: Dian Dwi Jayanto (Alumni S2 FISIPOL UGM)

 

Filsafat Klasik

Jika kita mempelajari tentang filsafat, tentu kita akrab dengan istilah periode “Filsafat Klasik” atau “Filsuf Klasik” yang merujuk filsafat Yunani dengan tokoh besarnya seperti Socrates, Aristoteles, dan Plato.

Menurut Hatta (1996), istilah Filsafat Klasik sendiri bukan sekadar menandai kurun waktu yang berbeda, namun objek kajian para filsuf juga berbeda dengan era-era sebelumnya. Era filsuf klasik sebenarnya dirintis semenjak pertengahan abad ke-5 dari kelompok Sofis (Sofisme). Tokoh kelompok sofis generasi awal misalnya adalah Protagoras, Gorgias, dan Hippias.

Perbedaanya, kelompok pikir era sebelum sofisme lebih menyukai menaruh perhatian besar pada persoalan-persoalan menyangkut filsafat alam dengan tokohnya seperti Empedokles, Anaxagoras, dan Leukippos, sedangkan era sofisme lebih menaruh perhatian pada persoalan-persoalan menyangkut kemanusiaan.

Kelompok Sofis inilah yang kemudian menjadi pintu gerbang bagi generasi yang kita sebut sebagai filsafat klasik selanjutnya seperti Socrates karena lebih memperhatikan persoalan-persoalan menyangkut jiwa dan kompleksitas kehidupan sosial dan politik. (Meskipun tidak melulu filsafat alam benar-benar ditinggalkan, buktinya Aristoteles masih mempelajari biologi air).

Penegasan lainnya kelompok filsafat klasik dengan kelompok filsuf sofisme adalah, meski sama-sama membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan manusia, namun kaum sofis sangat subjektif, relatif dan skeptis. Karena itu, menurut Hatta (1996), sofisme tidak bisa menjadi pijakan filsafat kemanusiaan dan filsafat secara umum karena tidak sistematis, sehingga tugas itu diambil alih oleh filsuf periode klasik.

Dengan kata lain, kelebihan dari kelompok filsus klasik sehingga ajarannya hingga hari ini masih kita pelajari adalah karena terdapat sistemasi filosofis (sistem berpikir) tertentu sehingga pola-pola tertentu bisa kita jadikan acuan.

Socrates adalah tokoh besar filsafat klasik Yunani yang menandai era ini. Namun, konsep yang ia paparkan tidak terlalu utuh sehingga yang kemudian dijadikan rujukan filsafat klasik adalah muridnya, Plato. Sebab, Plato menguraikan, entah dari gurunya maupun dari dirinya sendiri, sebuah sistem berpikir tertentu yang bersifat sistematis.

Alhasil, pijakan pertama memahami filsafat klasik adalah Plato. Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa tidak ada filsuf yang memiliki pengaruh yang dapat mengalahkan Plato, baik dalam peradaban filsafat Barat maupun dunia sekalipun.

Tulisan ini membahas tentang filsafat Plato dalam tema-tema tertentu. Mengingat begitu luasnya cakupan perbincangan pemikiran Plato, saya membatasi pada tiga topik sentral pemikirannya: Pertama, dunia idea yang menjadi ujung tombang filsafat Plato. Kedua, seputar etika. Ketiga, negara ideal dan berbagai bentuk sistem pemerintahan.

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita mengenal secara singkat siapa Plato itu.

 

Riwayat Singkat Plato

Nama aslinya adalah Aristokles. Nama Plato diberikan oleh gurunya. Ia lahir pada tahun 427 S.M. dan meninggal pada tahun 347 S.M dalam usia 80 tahun. Keluarganya adalah darah biru aristokrasi yang punya pengaruh dalam politik di Athena. Ayahnya bernama Ariston, bangsawan keturunan Raja Kodrus. Tidak heran menjadi pejabat negara adalah cita-cita Plato sejak kecil karena bentukan lingkungan keluarga.

Layaknya anak bangsawan, Plato mengikuti pendidikan yang tersedia di kota itu. Diantara gurunya adalah Kratylos yang merupakan murid dari Herakleitos. Dari Herakleitos ia diajari bahwa segala sesuatu senantiasa bergerak dan berubah, sehingga realitas senantiasa ada dalam proses yang terus menerus. Gurunya yang lain diantaranya Parmenides, Orphisme, Phitagoras (Widyastutik, 2015).

Namun di antara sekian gurunya, yang paling berpengaruh dalam diri Plato adalah Socrates. Plato menjadi muridnya semenjak umur 20 tahun dan tetap setia menemani hingga sang guru meninggal karena hukuman mati.

Menurut catatan Widyastutik (2015), Plato besar pada saat Athena mengalami kekalahan dalam Perang Peloponesos, yang diduga disebabkan oleh kegagalan sistem pemerintahan demokratis. Melihat situasi itu, Plato memiliki keinginan untuk bergabung dalam kelompok 30, pemegang kekuasaan saat itu. Tapi, setelah Plato melihat perilaku diktatornya dalam berkuasa, ia mengurungkan niatnya.

Selanjutnya, setelah Kelompok 30 tumbang dan terjadi pemulihan pemerintahan demokratis, keingainan Plato masuk dunia politik kembali muncul. Sekali lagi, harapan kandas ketika guru pujannya Socrates dihukum mati karena dianggap meracuni kaum generasi muda.

Pebagai kenyataan politik yang ia alami menyebabkan ia berpikir bahwa sistem pemerintahan negara akan menjadi baik manakala dipimpin seorang filsuf, yang dianggap bisa membebaskan rakyat dari kesengsaraan. Tentang pemikiran sistem politik dan negaranya akan kita bahas pada bagian berikutnya dalam tulisan ini.

Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Socrates memiliki pengaruh kuat pada diri Plato. Hal ini misalnya dapat dilihat dari karya-karyanya, yang kebanyakan berupa dialog karena terinspirasi gurunya, dan menjadikan guruhnya sebagai tokoh bijak dalam banyak persoalan dan percakapan. Beberapa karyanya diantaranya: Republik, Simposium, Matinya Socrates, Apologia, dan lain-lain. Menurut Hatta (1996) ada sekitar 34 buah yang belum mancakup puisi dan surat-suratnya.

 

Filsafat Plato Tentang Dunia Idea

Bukan hal yang mudah untuk menjelaskan dengan sederhana apa maksud dari dunia idea sebagai realitas sebenarnya. Namun topik ini harus dijabarkan karena menjadi pondasi utama filsafat Plato.

Mungkin kita bisa memulainya dengan pertanyaan dasar: “apakah yang dimaksud dengan ada?”. Apa yang sebenarnya eksistensi dari sebenarnya itu melekat pada fakta empirisme dari panca indra atau berada pada pikiran. Sesuatu yang ada adalah apa yang ada di dalam dunia idea, dan realitas indrawi adalah gambaran yang bengkong dari dunia idea yang ideal.

Melampaui antara empirisme atau rasional pada umumnya, bagi Plato, ide adalah realitas sebenarnya dari segala sesuatu yang ada dan dapat dikenal lewat panca indra. Oleh karena itu, ide bukan sekedar gagasan yang hanya berada dalam alam pikir manusia. Idea tidak sama dengan pikiran.  Ide bukan sesuatu yang subyektif, tetapi obyektif dari daya pikir manusia. Ide itu mandiri, abadi dan tak berubah.

Hatta (1996) memberikan gambaran yang dapat membantu kita memahami apa itu idea bagi Plato. Semisal kita melihat perempuan cantik, pada dasarnya perempuan dan cantik sudah tertanam dalam dunia idea kita, sedangkan apa yang kita jumpai sebenarnya tidak lebih dari gambaran yang tidak sempurna dari idea kita. Meski tidak sempurna, jika terjadi penyatuan idea ke dalam satu realitas yang ada, maka disebut persekutuan (koinonia).

Di sini Plato memisahkan realitas atau kenyataan menjadi dua. Pertama, kenyataan yang kelihatan dalam dunia lahiriah atau kenyataan yang bertubuh (material). Kedua, dunia idea yang merupakan kenyataan dunia abstraksi pikiran yang sejati. Jelas bagi Plato disini idea adalah realita sesungguhnya, ia bukan hal yang abstrak.

Pertanyaan pentingnya, “bagaimana kita bisa menemukan idea sebagai suatu realitas yang tidak bertubuh itu?”. Menurut Plato, idea tidak bisa kita temukan karena dia berada di dunia yang lain, berbeda dengan dunia kita saat ini. Kita bisa menghubungkannya dengan fungsi jiwa untuk memberikan refleksi dunia idea kepada dunia kita sekarang. Jiwa itu bisa memberikan kita informasi tentang realitas idea yang sebenarnya (Hatta, 1996).

Plato melanjutkan bahwa pada dasarnya mengapa jiwa bisa membaca realita idea karena sebelum manusia menjadi tubuh fisik sekarang, jiwa sudah ada terlebih dahulu dan dekat dengan realita idea. Ketika jiwa mengingatkan kita tentang sesuatu, maka itu disebut ingatan dari dunia idea yang menghasilkan pemahaman. “Segala pengetahuan adalah bentuk daripada ingatan”.

Jiwa manusia senantiasa rindu terhadap idea karena terhalang oleh realita badan. Jiwa selalu ingin merangkak untuk bisa mencapai menemukan puncak dari intisari dunia idea tersebut. Sebab, jiwa berasal dari dunia idea dan ingin kembali ke sana.

Dunia idea juga memiliki tingkat derajat yang berlapis. Tingkatan paling tinggi adalah kebaikan, sifat layaknya Tuhan yang memancarkan apa yang dibutuhkan oleh memberikan kehidupan. Tingkatan berikutnya adalah keindahan (Hatta, 1996).

Satu hal lagi yang penting untuk dikemukakan adalah bahwa Plato menyatakan di antara dunia idea dan dunia badaniah terdapat ruang tengah yang di isi oleh dunia matematika. Dunia ini membentang secara netral yang terdiri dari ilmu ukur dan bangunan.

Melompat mencapai dunia idea tidaklah mungkin terjadi, maka kita bisa menyicilnya dengan menguasai ilmu matematika sebagai alat bagus memahami dunia idea yang luar biasa. Matematika akan bisa menuntun orang pada gilirannya nanti masuk ke dalam dunia idea (Hatta, 1996: 105-106).

 

 

Etika Plato

Para penulis melabeli etika Plato dengan istilah etika cita rasa rasional dan intelektual. Dasar etikanya adalah bagaimana manusia bisa mencapai budi luhur. Dalam arti, budi adalah tahu. Sehingga untuk mencapai suatu etika budi luhur, maka wajib memiliki pengetahuan. Tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan. Tentu bukan dalam arti kebahagiaan duniawi dan materi sifatnya, namun mencapai pengetahuan agar bisa memancarkan budi luhur tersebut.

Etika moral Plato adalah etika moral yang didasarkan pada pengetahuan, sedangkan pengetahuan hanya mungkin dicapai dan dimiliki lewat dan oleh akal budi. Oleh sebab itu, etika Plato sering disebut etika rasional.

Lebih lanjut tentang etika Plato masih terkait erat dengan konsepsinya tentang dunia idea. Ia membagi etika menjadi dua. Pertama, etika yang berdasarkan budi luhur yang timbul dari cerminan jiwa. Kedua, etika atau budi luhur yang tercipta karena dasar kebiasaan moral yang berlaku di suatu masyarakat (konstruksi sosial tentang moral).

Jika yang terjadi dalam realitas sosial bertolakbelakang dengan dunia idea, maka akan dua hal yang bisa dilakukan. Pertama, meninggalkan etika sosial yang salah dan menepi untuk menjalankan hidup sendiri sesuai dengan kehendak dunia idea.

Kedua, berusaha sekuat mungkin untuk menerapkan dunia budi luhur idea ke dalam kebiasaan moral masyarakat yang jauh berbeda.

 

Filsafat Plato Tentang Negara Ideal

Seperti disebutkan sebelumnya, tujuan hidup manusia adalah  pencapaian kesenangan        dan kebahagiaan (pursuit of happiness). Tujuan negara adalah mengupayakan dan memenuhi tujuan hidup manusia tersebut. Kesenangan dan kebahagiaan hidup itu tidak dapat direguk lewat pemuasan hawa nafsu selama hidup di dunia indrawi, karena yang ada di dunia indrawi hanyalah realitas bayangan dari apa yang sesungguhnya yang berada dalam dunia ide.

Kebahagiaan dan kesenangan hidup yang baik sesungguhnya terletak di dalam keberhasilannya untuk menghidupkan kehidupan penuh kebajikan dan kebaikan. Penjelasan ini mengingatkan pertautannya dengan konsep idea kembali. Jika mengaitkan kembali pada dunia idea, maka mengingatkan kembali pada fungsi jiwa manusia yang telah bersatu dan jatuh ke dunia bersama badan.

Jiwa manusia dalam eksistensinya di dunia terdiri dari 3 bagian yaitu: Pikiran (nous), Semangat/keberanian (thumos), dan Keinginan/napsu (ephitumia).

Masing-masing termanifestasikan dalam profesi dan pekerjaan manusia sebagai filsuf, tentara, dan pedagang. Dalam realitas hidup sosial, filsuf harus menjadi pemimpin untuk bisa menjalankan kehidupan sesuai dengan tuntutan nilai tertinggi dari dunia idea agar bisa mencapai kebijaksanaan. Bersamaan dengan para pedagang dan tentara melakukan fungsinya masing-masing.

Dengan demikian, terdefinisikan bahwa negara ideal adalah “suatu komunitas etikal untuk mencapai kebajikan dan kebaikan, yaitu negara yang bersendikan keadilan,selain kearifan, keberanian atau semangat dan pengendalian diri dalam menjaga keselarasan dan keserasian hidup bernegara” (Widyastutik, 2015).

Maka keadilan di suatu negara ideal terwujud ketika orang memahami perannya dan memainkan perannya masing-masing. Yakni, “Berfungsinya kelas yang menghasilkan uang, para pembantu dan para penjaga sebagaimana mestinya, yang masing-masing melakukan tugasnya didalam negara…merupakan keadilan yang akan menjadikan negara itu adil” (Widyastutik, 2015).

Sedangkan berkaitan dengan makna kebebasan bagi Plato dalam negara ideal adalah kebebasan yang paling utama ialah kebebasan untuk mengembang-kan diri, yaitu kebebasan yang memampukan setiap orang menjadi warga negara ideal dalam negara idaman dengan meraih seluruh kebijakan pokok agar manusia dapat hidup dalam kebajikan, kebaikan dan keadilan (Widyastutik, 2015).

Negara ideal tersebut harus diwujudkan oleh manusia karena adanya kebutuhan dan keinginan manusia yang tak dapat  dipenuhi oleh kekuatan dan kemampuan diri sendiri.

Selanjutnya, Plato membagi bentuk negara menjadi lima (Widyastutik, 2015). Perlu dicatat bahwa lima bentuk pemerintahan negara yang digagas Plato pada dasarnya membentuk semacam level-level dari yang terbaik kemudian mundur menjadi yang terburuk.

Berikut ringkasannya:

1. Aristokrasi (the rule of the best)

Pemerintah yang terbaik dan ideal karena dipimpin oleh orang yang terbaik (kebaikan dan kebajikannya) seperti para aristoktat atau para filsuf.

2. Timokrasi (the rule of honor)

Bentuk kemerosotan aristokrasi, ketika aristokrat muda mulai mengejar kepentingan pribadi, dan berorientasi pada kemashuran, kehormatan bukan pada kebijaksanaan.

3. Oligarki

Kemerosotan timokrasi, sebab demi meraih kehormatan dia berlomba memperoleh kekayaan diantara mereka untuk menunjang kepentingannya. Akibatnya rakyat menjadi pecinta uang (lovers of money) dan pemuja kekayaan.

4. Demokrasi

Kemerosotan oligarki, ketika rakyat menyadari  situasi yang semakin buruk, orang miskin bertambah, mereka mau merebut kekuasaan dan membunuh orang kaya, dan dibentuklah pemerintah yang dipilih rakyat.

5. Tirani

Kemerosotan demokrasi, ketika rakyat semakin lama semakin mengejar kebebasan sehingga setiap orang ingin mengatur dirinya sendiri dan berbuat sesuka hati sehingga timbullah anarkhi. Karena situasi chaos perlu penguasa yang kuat dan seseorang diangkat untuk menjadi pelindung dirinya.Karena kewenangan yang besar maka menjadi sewenang-wenang (tiran)

Dari lima tipologi bentuk negara di atas, dapat disimpulkan bahwa negara ideal adalah dipimpin oleh orang sedikit dan memiliki kebajikan (filsuf). Dan bentuk negara seperti demokrasi maupun tirani dengan kekuasaan di tangan banyak orang adalah bentuk negara terburuk karena wujud dari kemrosotan moral suatu negara.

Jika kita kembali pada tulisan ini di bagian riwayat singkat Plato, tentu kita ingat bahwa pemikiran ini tidak terlepas dari pengalaman hidup Plato ketika melihat jatuh-bangunnya kekuaasaan. Dari otoriter maupun demokratis yang mengorbankan nyawa sang guru Socrates, dan dari sini, kerap kali ungkapan belajar filsafat politik mengemuka, “pemikiran tidak jatuh dari langit atau meja perpustakaan, ia lahir dari sekumpulan kondisi yang berkaitan erat dengan filsuf itu sendiri”.

 

Penutup

Dari tulisan ringkas ini kita bisa mengetahui beberapa hal penting. Pertama, Plato adalah filsuf klasik pertama yang menjadi pembeda secara tegas bagaimana filsafat dapat membentuk suatu sistem pemikiran tertentu. Tidak heran ketika belajar filsafat Barat, Plato kerap kali menjadi topik pembuka karena pengaruhnya yang besar.

Kedua, dunia idea adalah konsep utama dalam filsafat Plato. Ketika kita bisa memahami cukup baik makna idea Plato, maka runtutan filsafat Plato lainnya seperti etika, sistem pemerintahan, kehidupan sosial yang ideal dan seterusnya bisa kita pahami lebih lanjut. Karena dunia idea, meminjam istilah Aristoteles, adalah principal thinking, dari filsafat Plato.

 

Sumber Referensi

Hatta, Mohammad. 1996. Alam Pikiran Yunani. Universitas Indonesia

Widyastutik, Dwi. 2015. “Pemikiran Politik Plato”. Bahan Ajar Pemikiran Politik Barat. FISIP Universitas Airlangga.

 

Baca Juga

Apakah Agama Harus Selalu Ikut Campur dalam Kompleksitas Kehidupan Hari Ini?

MUNISPALISME LIBERTARIAN: TAWARAN RADIKAL DEMI RAKYAT YANG BERDAULAT

Garis Besar Pemikiran Karl Marx

 

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments