Filsafat Pengetahuan Immanuel Kant

Immanuel Kant

Filsafat Pengetahuan Immanuel Kant

Penulis Dian Dwi Jayanto

Proyek filsafat terbesar Immanuel Kant adalah mengajukan sebuah sintesa antara kecenderungan kalangan empirisme (yang menekankan sumber pengetahuan berdasarkan realitas materi, a posteriori) dan rasio yang menekankan pengetahuan berdasarkan a priori.

Kata lain, bagaimana filsafat pengetahuan, atau cara kita memperoleh pengetahuan, menurut Immanuel Kant merupakan sintesa dari rasionalisme (a priori) dan empirisme (a posteriori). Buku terpentingnya yang membahas ini adalah “The Critique of Reason” (edisi pertama 1781; edisi kedua 1787).

Berkat usahanya merumuskan kecenderungan dua kutub filsafat yang masing-masing ekstrem tersebut, Immanuel Kant kemudian dianggap oleh sebagian penulis sebagai filsuf terbesar di era modernitas.

Setuju atau tidak, saya kembalikan kepada pembaca. Namun, sebagaimana kata Bertrand Russell meski tidak menyetujui pendapat itu tetap mengatakan sangatlah bodoh kalau kita tidak mengakui peran penting Immanuel Kant dalam perkembangan filsafat, khususnya di era modern. Immanuel Kant tetaplah tokoh penting.

Kita akan membahas secara singkat bagaimana bangunan sintesa Immanuel Kant yang kemudian disebut sebagai “Kritisisme”. Ya, filsafat Kant dinamai kritisisme sebagai sebuah negasi tegas terhadap filsafat dengan kecenderungan dogmatis.

Filsafat dogmatisme memiliki kecenderungan untuk begitu saja menerima kebenaran akal tanpa ada kesadaran batas-batas kemampuannya. Kritisisme yang diajukan Kant adalah sebuah upaya untuk terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan keterbatasan rasio sebelum memulai penyelidikan.

Gamblangnya, kritisisme ala Kant bukan mencari isi pengetahuan dengan metode “proseduralisme” yang baku, namun bagaimana proses dalam memperoleh pengetahuan.

Dalam “The Critique of Reason”, Immanuel Kant memaparkan bahwa: kendati pengetahuan kita tidak bisa melampaui pengalaman, namun sebagian dari pengetahuan kita mengandung a priori yang tidak bisa ditarik dari metode deduksi berdasarkan pengalaman kita.

Arti a priori ini adalah sebuah kesadaran yang berasal dari struktur subjek sendiri dan kosong dari pengalaman empiris, serta bukan turunan pengatahuan dari pengalaman.

Misalnya saja ada ungkapan “segala sesuatu pasti memiliki penyebab” adalah contoh bagaimana pengetahuan berdasarkan a priori yang tidak berasal dari keseluruhan rangkaian pengalaman inderawi. Suatu penyebab bagi peristiwa yang hadir belakangan adalah asas a priori yang bisa diterima secara universal untuk membaca peristiwa-perisitiwa di masa depan.

Bagaimana memungkinkan kehadiran a priori dalam pengetahuan?

Kita mulai dari tentang pengetahuan empirik dan pengetahuan a priori.

Kant mengatakan ada jenis pengetahuan “empirik” yang tidak mungkin kita bisa peroleh tanpa bantuan penginderaan dan persepsi, baik penginderaan dan persepsi itu dari kita sendiri atau orang lain yang bisa dipercaya.

Dengan pengertian yang lebih longgar, Kant memasukkan fakta sejarah dan geografi menjadi sejenis layaknya pengetahuan empiris. Begitu juga dengan hukum yang diperoleh dari ilmu pengetahuan yang sudah teruji melalui observasi, maka itu juga merupakan pemahaman empirik.

Sedangkan pengetahuan a priori, kendati dalam kasus tertentu terbantu oleh empirik, namun dasar bagi pengetahuan tersebut tidak seluruhnya dari pengalaman.

Misalnya saja seorang anak kecil yang telah memegang dua butir kelereng kemudian memasukkannya ke dalam sebuah bejana, dan dia merasakan melalui indera peraba ada dua butir lagi di dalamnya karena sesuai dengan apa yang ia genggam. Akhirnya dia mendapati ada empat kelereng di dalamnya. Ini adalah sebuah pengetahuan yang lahir dari pengalaman atau penginderaan.

Namun jika si anak bisa sampai pengertian bahwa dua ditambah dua sama dengan empat, itu tidak secara keseluruhan pengetahuan yang berangkat dari pengalaman, tapi dari pelajaran dasar matematika yang bisa diuji coba kebenarannya dalam kasus-kasus lain.

Tanpa konfirmasi lebih jauh, dua ditambah dua sama dengan empat adalah sebuah proposisi kepastian yang tidak memerlukan induksi hukum yang lahir dari pengalaman. Dengan penjelasan ini, sebuah proposisi dari matematika murni adalah sepenuhnya a priori yang bisa ditunjuk sebagai contoh.

Proses subjektif dan realitas inderawi ini kemudian masing-masing disebut sebagai “nomena” dan “fenomena” menurut Kant.

Kant lebih jauh menjelaskan adanya dua proposisi, pertama prosisi analitik, dan kedua prosisi sintetik.

Proposisi analitik adalah predikatnya merupakan bagian dari subjek. “Pria yang tinggi adalah seorang pria” atau bisa dikatakan dalam bentuk hukum kontradiksi “pria yang tinggi adalah bukan seorang wanita”. Keduanya mengandung kejelasan bahwa predikat merupakan kandungan dalam subjek.

Sedangkan proposisi sintetik adalah predikatnya tidak terkandung dalam subjek sehingga pernyatannya semata-mata adalah pengetahuan melalui pengalaman. Misalnya “Batu Akik adalah tanda keberuntungan”, “Laki-laki itu sangat berbisa”.

Predikat “keberuntungan” bagi batu akik merupakan informasi di luar subjek batu akik itu sendiri.  Putusan analitik merupakan a priori, sedangkan putusan sintesis adalah a posteriori yang disebut “sintesis a posteriori”.

Inti dari penjelasan dua apriori ini bukan pada analitik atau sitesiknya, namun pada bentuk ketiga (sintesis a posteriori), dimana sebuah pengetahuan empiris (a posteriori) menyimpan pengetahuan a priori karena kita tidak butuh menyelidikanya sebelum membuat sebuah kesimpulan.

Dari upayanya menemukan sitesis a posteriori ini kemudian Kant melahirkan teorinya tentang ruang dan waktu. Ia mengatakan dunia luar hanya memunculkan materi sensasi belaka, namun perangkat mental kita sendiri yang menata ulang berdasarkan ruang dan waktu. Ruang dan waktu yang subjektif dalam diri manusia, inilah yang kita gunakan sebagai konsep-konsep dasar memahami sebuah pengalaman. Ia disebut subyektif karena lahir dari persepsi kita.

Misalnya kita menggunakan kaca mata hitam, maka segala yang kita lihat tampak gelap dan bisa sangat yakin dengan pengetahuan itu. Demikian pula, kita senantiasa menggunakan kaca mata berupa ruang, segala jenis pengetahuan yang kita tangkap berdasarkan perspektif ruang yang kita yakini.

Sama halnya dengan geometri sebagai contoh argumen Kant dalam merumuskan sitesa a posteriori. Geometri bersifat a priori, dalam arti segala sesuatu sebagaimana yang kita alami benar adanya, namun tetap tersedia ruang untuk menduga apa yang kita yakini benar tidak selalu adalah kepastian yang pasti benar, yang mana tidak kita alami sendiri.

 

*Materi dalam tulisan disarihkan dari Bertrand Russell. 2021. “Sejarah Filsafat Barat”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, khususnya Bab XX Kant.

 

Baca juga:

Pengertian Renaisans yang Menginspirasi Pemikiran Sekuler

Dua Karakter Utama Filsafat Modern

3 Ciri Zaman Modernitas

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments