Filsafat Heraklitus (Herakleitos): Api Adalah Substansi Segala Sesuatu

Sekarang kita sampai pada pembahasan Heraklitus (Herakleitos) yang bependapat bahwa unsur purba pencipta segala sesuatu adalah api. Pada tulisan-tulisan sebelumnya, kita telah mendiskusikan substansi inti apa yang menciptakan alam semesta, sebuah pertanyaan yang banyak digeluti kalangan filsuf alam pra-Socrates. Thales mengatakan semuanya adalah tentang air. Anaximenes mengatakan bahwa udara adalah subtansi prima tersebut.

Setelahnya, Emplodokes menawarkan kompromi merata bahwa unsur utama adalah keseluruhan yang sudah disinggung filsuf pendahulunya: api, air, tanah, dan dan udara yang berdiri sendiri-sendiri.

Kita kali ini fokus pada Heraklitus.

Ia diperkiran telah mencapai usia dewasa ketika tahun 500 SM dan merupakan warga Epeshus dari kalangan bangsawan. Masa hidupnya kira-kira 540-480 SM. Meski ia adalah orang Ionia, ia tidak memiliki corak pemikiran seperti kalangan Miletos (Thales, Anaximander, dan Anaximenes) yang cenderung mengembangkan tradisi ilmiah. Ia lebih terpengaruh oleh gagasan Pytaghoras yang bercorak mistis.

Ada dua pemikiran utamanya yang sangat populer. Pertama, api adalah unsur prima pencipta segala sesuatu. Kedua, segala sesuatu senantiasa berubah dan selalu dalam “proses menjadi”. Kedua poin ini sebenarnya saling terkait. Dua hal ini yang akan kita bahas secara singkat.

Bagi Heraklitus, dulu, kini, dan selamanya, api terus menyala. Api membakar segala sesuatu sehingga turut menjadi api pula, dan dari pembakaran api menghasilkan abu. Api menghasilkan api dan kemudian menukarnya menjadi semua hal di alam semesta. Layaknya matahari, api, memberikan kehidupan dengan pembakarannya terhadap kehidupan tumbuhan, manusia dan alam semesta. Api tidak selalu menghancurkan apa yang terbakar oleh dirinya, namun mengkombinasikan ulang unsur yang sudah ada di dalam materi itu sendiri menjadi bentuk lain.

Api sebagai inti segala sesuatu tidak berhenti di sana. Ia menjadi semacam perlambangan bagi sesuatu yang bersifat aktif secara mutlak yang terus berproses menciptakan semua hal. Sehingga, menurut Heraklitus, asal-usul segala sesuatu layaknya api adalah apa yang aktif secara mutlak. Akibatnya, dunia ini tidak pernah pasif, ia selalu bergerak.

Segala sesuatu tidak ada yang tetap dan senantiasa mengalir. Kita tidak mungkin melewati aliran sungai yang sama dua kali atau melalui sungai serupa pada pada momen yang berbeda. Segala sesutu terus begerak seperti air. Kita mandi di sungai kemudian di waktu yang lain kita mandi di sungai yang sama, sebenarnya air yang kita gunakan adalah air yang berbeda, meski rupanya sama persis dengan yang kita pakai sebelumnya. Sama dengan bagaimana cara kerja alam semesta yang senantiasa terus bergerak.

Segalanya terus aktif bergerak dan berwatak meniadakan satu sama lain. Seperti yang sudah disinggung, api adalah inti segala sesuatu. Layaknya lampu pijar yang muncul berkat api, maka segala sesuatu pada dasarnya lahir dari ketiadaan yang lain. “Yang satu hidup berkat kematian yang lain. Segala sesuatu lahir dari yang satu, dan yang satu lahir dari segala sesuatu”, kata Heraklitos. Intinya, segala sesuatu lahir dan sirna lewat perselisihan.

Layaknya peperangan abadi yang bekecemuk. “perang adalah bapa semuanya dan raja semuanya”, dari peperangan tersebut sebagian menjadi manusia dan sebagian menjadi dewa. Peperangan dan peselisihan yang bersifat meniadakan ini adalah proses terbentuknya segala sesuatu.

(Heraklitus. Sumber gambar: Wikipedia)

Meski Heraklitus terkenal dengan pemahamannya bahwa segala sesuatu senantiasa berubah, namun ia juga memiliki kesadaran tentang keabadian dengan pemahaman yang menarik. Namun perlu ditekankan makna sifat permenen bagi keabadian bukan sesuatu yang tetap dan tidak berubah, tapi berada pada proses yang terus menerus menciptakan hal-hal lain. Ringkas kata, keabadian bukan merujuk pada substansinya, tapi kepada proses yang terus menerus berlangsung sebagai sifat dan aktifitasnyalah keabadian melekat.

Tidak ada yang abadi. Segala sesuatu bergerak dan berubah, yang abadi adalah perubahan dan pergerakan itu sendiri.

Terakhir, filsafat Heraklitus mirip dengan Anaximander tentang keadilan kosmik agar tetap terjaga secara stabil di tengah perselisihan tiada ujung. Ia menyebut adanya Dewa yang bukan berarti dewa-dewa umumnya dipahami. Dewa ini memiliki kebijaksanaan membimbing manusia dan menata alam semesta. Dewa di sini lekat kaitannya dengan makna keadilan kosmik sebagai wujud keberadannya.

*Tulisan ini disarihkan dari tulisan berjudul “Heraklitus” dalam buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 51-64.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca juga:

Mengapa Yunani Disebut sebagai Tempat Kelahiran Filsafat dan Ilmu Pengetahuan?

Thales, Anaximander dan Anaximenes, Filsafat Alam Mazhab Milesian

Filsafat Aristoteles Tentang Logika, Negara, dan Sistem Pemerintahan

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments