Filsafat Friedrich Nietzsche: Genealogi Moral dan Kematian Tuhan

Friedrich Nietzsche

Filsafat Friedrich Nietzsche: Genealogi Moral  dan Kematian Tuhan

Friedrich Nietzsche bercerita tentang orang gila yang berseru terus menerus, “Aku menacari Allah!” orang di pasar menetawakannya. Tetapi si gila itu malah melompat ke tengah-tengah mereka dan menatap mereka sambil berteriak: “kemanakah Allah?” Aku memberitahu kalian. Kita sudah membunuhnya, kalian dan aku. Kita semua pembunuh.

(Aforisme 125 buku Pengetahuan Ceria, dalam Hardiman, 2019: 270-271)

Penulis Dian Dwi Jayanto

Pada tulisan-tulisan sebelumnya, kita telah mendiskusikan bahwa modernitas, yang bermula dari renaisans hingga pencerahan serta tidak ketinggalan arus balik romatisme, memiliki semangat untuk menjadikan rasio sebagai kemewahan tertinggi manusia.

Intinya, rasio adalah sumber kebenaran dan kebahagiaan sejati. Tentu kita perlu mengeliminasi beberapa pemikir romantisme seperti Rousseau dalam hal ini.

Semangat yang begitu menyala mengantarkan euphoria dalam penyelenggaran festival gagasan para filsuf (dari rasionalisme, empirisme, kritisisme, dan sebagainya). Pola dasarnya adalah pemujaan sekaligus penegaskan bahwa peradaban Barat telah menjadi sebuah sentral bagi kemajuan manusia. Rasio dan kemajuan peradaban Barat seluruhnya bernilai positif.

Nietzsche bangkit dan ingin menghancurkan kebanggaan atas superioritas rasio dan peradaban tersebut. Ia mengincar persoalan terselubung di dalam genealogi pengetahuan para filsuf yang berlindung dibalik kedok rasionalisme dan objektivismenya.

Nietzsche juga tidak ketinggalan melancarkan kritik terhadap agama secara keseluruhan dalam membentuk moralitas budak bagi manusia.

Tulisan ini secara singkat membahas dua hal pokok dalam filsafat Nietzsche: genealogi moral dan kritik terhadap agama (kematian Tuhan dan nihilisme). Kedua tema ini akan coba dihubungan menjadi kesatuan pembahasan.

Bahan tulisan ini disarihkan dari buku Budi Hardiman (2019) berjudul “Pemikiran Modern: dari Machiavelli sampai Nietzsche”, khususnya Bab 10.

Sebagai sebuah pengantar, meski tidak mungkin bisa menyeluruh, paling tidak dua hal ini begitu mendasar bagi bangunan filsafat Nietzsche. Selebihnya seperti topik “manusia atas”, ateisme, dan lain-lain, silahkan baca buku-buku Nietzsche atau tulisan tentang Nietzsche sendiri!

 

Kritik Nietzsche Tentang Genealogi Moral

Cara Nietzsche berfilsafat menggunakan aforisme-aforisme, perumpamaan-perumpamaan, dan cerita-cerita. Aforisme secara sederhaana adalah pernyataan (dalam bentuk tanda kurung dan tanda petik) dengan pernyataan yang jelas dan kadang berlawanan satu dengan yang lain. Pernyataannya bisa lugas, tapi kedalaman maknanya bukan hal yang sederhana.

Menurut Hardiman, model  berfilsafat demikian mengindikasikan metode yang ditempuh  Nietzsche (meski ia sendiri tidak mengatakan sendiri sebagai metode) dengan target: mendobrak kemapanan kebudayaan Barat yang diagungkan sebagai puncak peradaban pengetahuan.

Dengan kata lain, melalui aforisme, Nietzsche ingin menolak metode-metode yang tersusun dari sistem-sistem yang dianggap telah mapan oleh para filsuf pendahulunya. Metode-metode demikian sekaligus mengkaburkan batas yang sudah disusun oleh filsuf sebelumnya tentang mana yang rasional dan tidak, mana yang sistematis dan tidak.

Ciri-ciri kritik terhadap moralitas peradaban Barat disebut sebagai kritik “genealogi moral”. Geneologi di sini berarti “penyingkapan kedok nafsu-nafsu, kebutuhan-kebutuhan, ketakutan-ketakutan, dan harapan-harapan yang terungkap dalam sebuah pandangan tertentu tentang dunia” (Hardiman, 2019: 260).

Kedok itu bernama rasionalitas, objektivitas, atau pandangan yang dianggap universalitas, dimana sebenarnya mengindikasikan sudut pandang terbatas dari penganutnya. Apa yang kemudian dibanggakan sebagai sebuah sistem filsafat tak ubahnya sebuah pengakuan pribadi filsuf dengan kedok rasionalitasnya.

Untuk memahami lebih jauh kaitan kritik Nietzsche terhadap genealogi moralitas, kita perlu menengok tipologi moralitas menurut Nietzsche.

Nietzsche mengkategorikan moralitas ke dalam dua bentuk: moralitas aristokrat (para tuan) dan moralitas budak. Bagi para tuan (aristokrat), moralitas adalah ungkapan hormat pada dirinya sendiri, dan berkeyakinan penuh bahwa seluruh tindakannya benar dan baik.

Moralitas ini tidak berarti menjadi penentu bagi moralitas universal, namun bagaimana setiap tindakan kaum tuan adalah moralitas yang benar adanya. Pada akhirnya, baik dan buruk terikat dalam derajat sosial tertentu antara “ningrat” dan “rendah” atau jelata.

Di sisi lain, moralitas budak adalah lawan dari moralitas aristokrat. Moralitas budak tidak berjalan sendiri, namun menunggu perintah dari para tuan. Sebagai kebalikan dari moralitas ningrat, moralitas budak tidak melihat kejayaan, kekuasaan, kedaulatan diri sebagai kebaikan, tapi simpati, rendah hati, dan sebagainya adalah karakter kualitas moralitas unggulan.

Konsekuensinya, budak melihat kebebasan dan kedaulatan manusia adalah keburukan. Intinya moralitas budak membalik moralitas para tuan.

Moralitas pada budak berlangsung dalam sebuah bentuk reaktif terhadap para tuan yang mengandung rasa takut, namun juga berharap mampu menguasai atau menundukkan para tuan, meski dalam dunia imajinasi semata.

Dari sinilah lahir sentimen kebencian terpedam yang terus dipelihara oleh kaum budak (ressentiment). Pada suatu saat tertentu, gelora ressentiment kaum budak meledak untuk bangkit menyerang kasta para tuan. Pemberontakan ini memang kurang dalam fakta politik, namun melahirkan nilai-nilai moral yang merupakan letupan dari pemberontakan tersebut.

Misalnya Kristen yang menjungkirbalikkan agama Yahudi yang terkesan aristokrat dengan menggantikannya melalui nilai-nilai welas asih dalam tradisi budak yang mengendap melalui ajaran Kristiani.

Hasil dari ressentiment yang melahirkan moralitas budak mengusai kebudayaan Barat. Penjungkirbalikkan apa yang sebelumnya dipandang rendah seperti lemah, miskin, dan seterusnya menjadi berkonotasi baik, dan apa yang dieluh-eluhkan dalam moralitas bangsawan seperti kekuasaan, kemakmuran, kedaulatan tiba-tiba berkonotasi negatif.

Lantas, bagaimana kaitannya dengan rasionalitas yang menjiwai peradaban Barat? Menurut Nietzsche, hal-hal seperti rasionalitas moral dan roh yang kerap muncul dalam perbincangan fisafat modern adalah sebuah “kehendak untuk berkuasa” yang tidak terlampiaskan. Begitu juga dengan seluruh pengetahuan dari era modernitas yang dilahirkannya.

Menurutnya, pengetahuan bekerja sebagai pelampiasan untuk menegakkan kehendak untuk berkuasa. Sehingga, tujuan mencapai pengetahuan tertentu bukan untuk mencari kebenaran absolut, tapi untuk menguasai apa yang ingin diketahui sekaligus kuasai.

(Edward Said, tokoh oritalisme yang pengikut Foucault yang otomatis berkiblat pada Nietzsche, secara sederhana mengatakan “author is authority”, artinya penulis ketika menulis sesuatu melambangkan sebuah upaya autorisasi terhadap objek yang ingin ia kuasai, meski dalam sebuah bentuk dunia imajiner)

“Dengan pengetahuan kita menciptakan tatanan, merumuskan konsep-konsep, dan memasang skema-skema pada kenyataan yang sebenarnya senantiasa berubah. Pengetahuan mengubah Werden (menjadi) yang dinamin menjadi Sein (ada) yang statis” (Hardiman, 2019: 263).

Nietzsche menyangkal secara keseluruhan adanya apa yang ada dalam ilmu pengetahuan berciri “objektif”, bukan dalam arti hasil pengetahuannya, namun pada genealogi moralnya. Genealogi moral dari sudut pandang orang yang menulis senantiasa terikat pada perspektif subjektifnya, dimana persepktif subjektif ini adalah dorongan dari kehendak untuk berkuasa. Penjelasan ini kemudian disebut sebagai perspektivisme Nietzsche.

Alhasil, genealogi moral yang terselubung di dalam kehendak berkuasa adalah cara untuk membongkar susunan kenyataan yang dianggap rasional yang sebenarnya irrasional dalam keadaan sembunyi.

Friedrich Nietzsche
(Friedrich Nietzsche. Sumber Gambar: Wikipedia)

Kematian Tuhan dan Nihilisme

Meski terdidik dari keluarga Kristen yang Saleh, bahkan ayahnya adalah seorang pastur Protestan, Nietzsche adalah seorang ateis, dan berani mengungkapnya secara langsung.

Bukan hanya mendeklar dirinya sebagai Ateis, Nietzsche lebih meramalkan masa depan akan munculnya zaman ateisisme. Kegilaan merambah seluruh peradaban hingga manusia banyak sepenuhnya menyadari sedang kehilangan Tuhan.

“Kematian Tuhan” menurut Nietzsche membuat manusia menjadi sebegitu bebasnya, tanpa peduli apa larangan dan perintah, dan ketika menghadapi sebuah persoalan apapun tak perlu menoleh pada sesuatu yang trasenden.

Manusia tidak perlu bersembunyi dibalik kedok trasendetal karena alasan dirinya adalah pengecut menghadapi dunia.

Ini adalah satu perbedaan mendasar dari Nieztsche dan Schopenhauer. Kehendak bebas Nietzsche mengingatkan kita pada kehendak Schopenhauer, namun perbedaannya Nietzsche terlihat lebih aktif dan siap menghadapi dunia dengan kenyataan kehendak untuk berkuasanya, dibanding Schopenhauer yang pasif, muram, dan lemah menghadapi penderitaan dunia (yang belum baca Schopenhauer, baca di di tulisan sebelumnya)..

Konsekuensi dari “kematian Tuhan” adalah merebaknya fenomena “nihilisme”. Nihihilisme adalah “suatu keadaan tanpa makna, hilangnya kepercayaan akan nilai-nilai dalam agama kristiani karena kematian Tuhan”.

Singkat kata, nihilisme adalah kondisi terombang-ambingnya manusia karena telah kehilangan apa yang selama ini menjadi tumpuhan trasendennya dan sirnanya nilai-nilai turunan yang selama ini mereka yakini.

Nietzsche lebih jauh menjelaskan kondisi nihilisme bisa berlangsung dalam dua bentuk: nihilisme pasif, dan nihilisme aktif.

Bagi penganut nihilisme pasif, yang terjadi adalah kepercayaan bahwa sudah tidak ada lagi yang namanya nilai-nilai dan hidup ini tidak ada tujuan. Mereka sebenarnya merindukan nilai-nilai itu tapi tidak bisa menemukan. Sebuah kondisi resesi daya mental yang akut dalam diri manusia. Schopenhauer bisa jadi adalah kategori nihilisme pasif.

Sedang nihilisme aktif tidak mempersoalkan hilangnya nilai-nilai tersebut, atau merawat ingatan akan kerinduan nilai-nilai masa lalu, namun menciptakan nilai-nilainya sendiri. Tindakannya bukan meneguhkan nilai, tapi peneguhan nilai untuk menyadari sepenuhnya kehidupan dan dunia dengan segala isinya (kepedihan, kebahagiaan, kefanaan, dan lain-lain) adalah sebuah nilai tersendiri.

Sebenarnya gejala nihilisme karena kesadaran atas kematian Tuhan bukan sesuatu yang harus diratapi secara serius. Sebab, pada dasarnya kita secara bersama-sama telah berkomplot untuk membunuh Tuhan. Dulu, pijakan segala hal adalah dogma agama, kemudian lahirlah rasio yang menadai era modernitas di Barat.

Pergeseran dari tuhan sebagai sentral menjadi substansi pinggiran dalam diskusi filsafat adalah upaya yang entah sadar atau tidak adalah kegiatan kolektif membunuh Tuhan.

Tentu sewajarnya kita ingat, beberapa pemikir modern seperti Leibniz dan Bekeley, meski masih mengakui keberadaan Tuhan, paling jauh mengakui peranannya hanya sebatas pencipta dan setelah itu membiarkan dunia bekerja secara mekanis tanpa terlibat lebih jauh (terutama kalangan deisme di Inggris).

Beberapa pemikir lainnya lebih ekstrem untuk memuja rasio sebagai dogma yang menggantikan Tuhan dalam menelaah realitas. Dengan demikian, menempatkan rasio dengan suka cita dan bersorak atas individualisme, rasionalisme, dan subjektivisme modern adalah sambutan atas upaya membunuh tuhan secara serentak.

 

 

Baca Juga:

Pengertian Renaisans yang Menginspirasi Pemikiran Sekuler

Pemikiran Plotinus: Trinitas Suci dalam Metafisika Neoplatonisme

Empat Mazhab Filsafat di Era Hellenisme

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments