Filsafat Empedokles: Cinta dan Perselisihan Abadi, Alam Semesta yang Bersifat Kebetulan

Empedokles

Akrobat identitas sebagai seorang nabi sekaligus ilmuwan bisa kita temukan di dalam diri Pytaghoras (baca di sini), dan lebih mencapai titik matang ketika sampai pada Empedokles yang sudah beranjak dewasa sekitar tahun 440 SM.

Itu artinya ia sezaman namun relatif lebih mudah daripada Parmenides. Ajaran Empedokles memiliki beberapa kemiripan dengan Heraklitus, utamanya tentang peselisihan kosmik sebagai dasar terciptanya segala sesuatu.

Empedokles berasal dari Acragas, yang berada di pesisir selatan Sisilia. Awalnya adalah seorang politisi berhalauan demokrat dan mengklaim dirinya sebagai dewa. Sebagian besar negara kota di Yunani mengalami pergulatan panjang tentang sistem demokrasi dan tirani.

Kubu mana yang kemudian kalah bisa berakhir di pembungan. Apesnya, Empdokles pernah mengalami hal tersebut. Selepas itu, entah karena trauma atau mencari profesi lain, ia lebih memilih menjadi cendekiawan daripada seorang politisi yang mengalami pembuangan.

Sebelum masa pembuangan, ia mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan politik, dan setelah mengalami pembuangan dan berawal dari itu pula, ia lebih meniti jalan sebagai seorang nabi. Nampaknya hal ini tidak terlepas dari masa mudanya yang menjadi pengikut agama Orphis.

Berbeda dengan Pytaghoras yang menautkan begitu erat jalinan pemikiran fisafat atau ilmu pengetahuan dengan landasan mistisnya, Empedokles tidak demikian. Pembicaraan tentang ilmu pengetahuan dan agamanya harus secara terpisah.

Padangan agamanya condong ke arah Pyaghorian. Salah satunya adalah keyakinan bahwa orang yang telah mengalami reinkarnasi berulang kali sebagai tahapan penyucian dosanya kelak jiwanya bisa menyatu dengan Dewa.

Kontribusi utama pemikirannya adalah bahwa udara merupakan unsur independen dan merupakan subtansi tersendiri. Hal ini ia kemukakan berdasarkan observasi ketika kita membenamkan bejana secara terbalik di permukaan air. Udara akan menahan laju air masuk ke dalamnya.

Ia mengetahui bahwa tumbuhan memiliki jenis kelamin. Ia juga sangat revolusiner di zamannya ketika mengatakan teori evolusi yang mendasarkan keyakinan bahwa makhluk paling unggul adalah satu-satunya yang bisa bertahan hidup.

Empedokles lah yang mengungkap bahwa udara, tanah, api, dan air adalah empat unsur yang bersifat abadi, dan bisa menjalani kebersamaan atau keterikatan dengan takaran-takaran tertentu. Takaran-takaran tertentu dari empat unsur tersebut adalah cikal bakal pelbagai ragam zat yang terus berubah di dunia ini.

Empedokles
(Empedokles. Sumber Gambar: Wikipedia)

Tentu kalau pembaca rutin membaca dalam artikel-artikel sebelumnya, substansi dasar yang menciptakan alam semesta telah banyak dibahas oleh filsuf terdahulu. Thales mengatakan air, Anaximenes berpandangan udara, Heraklitus berkeyakinan unsur itu adalah api. Empedokles mensintesiskan bahwa keseluruhan unsur (api, air, udara, dan tanah) adalah substansi dasar tersebut.

Ia menambahkan bahwa unsur empat tersebut bisa mencipta karena berpadu dengan Cinta dan Perselisihan. Baik cinta maupun perselisihan adalah dua unsur purba yang sejenis dengan empat unsur utama (air, api, udara, dan tanah). Adakalanya cinta yang dominan dalam perjalanannya, dan kadang mengalami perenggangan sehingga membuat perselisihan yang condong lebih kuat. Zat senyawa yang dihasilkan bersifat fana belaka, sedangkan yang kekal adalah cinta dan perselisihan.

Pemikiran ini mirip dengan Heraklitus yang menekankan aspek perselisihan abadi yang menciptakan segala sesuatu.

Ia berpendapat bahwa dunia yang kita huni saat ini layaknya bola. Terdapat era keemasan dimana cinta yang menaungi dunia kita, dan perselisihan berada di luar bola (dunia). Ada pula era dimana perselisihan mendesak cinta keluar dari bola agar ia bisa menggantikan posisinya di dunia.

Apakah tidak mungkin di titik ekstrem tertentu antara cinta dan perselisihan benar-benar mendominasi dan bersifat tetap menghuni dunia? Empedokles menyatakan tidak, meski ada kurun waktu panjang dimana salah satunya mendominasi ketetapan dunia.

Penjelasan ini dekat dengan pendirian Heraklitus tentang adanya gerak di dunia, dan beroma Parmenides meski tidak berpandangan bahwa gerak itu bisa mencapai titik tertentu yang tidak berubah sama sekali.

Empedokles juga mengatakan bahwa setiap perubahan yang dihasilkan di dunia ini tidak bertujuan apa-apa, segalanya berlangsung secara kebetulan dan keniscayaan. Hal ini menegaskan pendiriannya untuk menolak monoisme tentang ada yang berkuasa menciptakan dan menjaga ketertibannya dengan tujuan-tujuan tertentu.

 

*Sumber tulisan ini disarihkan dari tulisan berjudul “Empedokles” dalam buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 72-78.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca juga ulasan terkait lainnya:

Filsafat Heraklitus (Herakleitos): Api Adalah Substansi Segala Sesuatu

Filsafat Pythagoras, Nabi yang Ahli Matematika

Thales, Anaximander dan Anaximenes, Filsafat Alam Mazhab Milesian

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments