Filsafat Aristoteles Tentang Logika, Negara, dan Sistem Pemerintahan

Filsafat Aristoteles Tentang Logika, Negara, dan Sistem Pemerintahan

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Pendahuluan

Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas tentang Filsafat Plato. Dalam kesempatan kali ini, kita akan membicarakan Aristoteles yang dikenal sebagai “Bapak Logika”. Mengingat filsafat Aristoteles membentang panjang dari pelbagai studi keilmuan, mulai dari biologi, metafisika, politik, sastra, dan sebagainnya, agaknya tidak mungkin untuk bisa menguraikan keseluruhan dalam tulisan yang singkat ini.

Dengan beberapa pertimbangan, tulisan ini membahas dua topik sentral dari filsafat Aristoteles. Pertama, yakni logika atau cara berpikir yang terarah sebagai pusat filsafat Aristoteles. Kedua, tentang negara dan sistem pemerintahan.

Namun seperti biasa, sebelum jauh membahas topik-topik di atas. Saya akan suguhkan riwayat singkat Aristoteles terlebih dahulu.

Riwayat Singkat Aristoteles

Aristoteles lahir di Macedonia 384 SM. Ayahnya adalah Nichomacus seorang dokter istana Anyntas II, ayah dari Philip Agung. Semenjak usia Usia 17 tahun belajar di Akademi Plato. Dua belas tahun berikutnya menikah dan memiliki anak Phytias, dan mengabdi sebagai guru putra mahkota Macedonia, Alexander. Pada tahun Tahun 336 SM mendirikan sekolah “Lyceum”.

Situasi politik ketika itu sedang terjadi penaklukan dunia oleh Alexander. Pro-Macedonia berkuasa dimana Aristoteles diangkat sebagai guru Alexander. Namun ketika Anti-Macedonia balik berkuasa, ia dicurigai karena kedekatannya dengan Alexander.

Aristoteles didakwa dan diancam hukuman mati. Karena pembelaannya dia menyelamatkan diri dari Athena untuk mencari perlindungan di Chacis, sebuah kota di pulau Euboa (Wisyastutik, 2015). Ia meninggal dalam usia 62 tahun.

Disebutkan oleh Barnes yang dikutip Miswari (2016), karyanya berjumlah 170 judul, namun yang tersisa hingga hari ini sekitar 40 judul. Beberapa karyanya di antaranya adalah:

“Politics” (Politik) yang mendiskripsikan tentang terbentuknya negara, menguji hubungan otoritas. Selain itu juga “Nichomachean Ethics” yang membahas tentang tujuan alamiah manusia yang memenuhi wataknya adalah kebahagiaan. Menurut Aristoteles, kebahagiaan bisa dicapai dengan mengupayakan kehidupan moral dan kebaikan intelektual. Ada juga “Rhetoric” (Retorika) dan “Metaphysic” (Metafisik).

 

Filsafat Aristoteles Tentang Logika

Semua manusia akan mati (umum); Aristoteles adalah manusia (khusus);  maka, Aristoteles akan mati (kesimpulan). Itu adalah contoh umum yang kerap kita temui dalam pelajaran dasar filsafat ilmu. Metode penarikan kesimpulan tersebut dikenal dengan istilah “silogisme”, atau “natijah” dalam bahasa Arab.  Maksudnya adalah upaya menarik kesimpulan dari pernyataan yang umum dari hal yang khusus (uraian berkunci).

Cara berpikir yang teratur sesuai urutan yang tepat seperti contoh di atas dan bisa menghubungkan sebab akibat adalah definisi paling sederhana dari apa yang kita kenal sebagai “logika”. Peletak dasar secara sistemis (baca tulisan sebelumnya tentang topik Filsafat Klasik) dicetuskan oleh Aristoteles. Berkat hal tersebut, filsuf kenamaan murid dari Plato tersebut mendapatkan julukan sebagai “Bapak Logika” atau “Bapak Analitika”.

Hatta (1996) menjelaskan bahwa metode siologisme seperti itu sebagai pengujian kebenaran ala Aristoteles. Misalnya lagi lebih jauh, “korupsi itu buruk”, pernyataan ini adalah pernyataan umum dan belum bisa dinyatakan sebagai kebenaran hingga ditemukan contoh-contoh partikular yang kongkrit untuk mendukung pernyataan tersebut. Misalnya karena korupsi, maka kesejahteraan rakyat terganggu dan sangat merugikan negara.

Singkat kata, metode kebenaran menurut Aristoteles bukan berarti pengetahuan umum yang menjadi tujuan utama untuk dipahami, tapi jalan untuk mengetahui keadaan yang kongkrit dari suatu kenyataan tertentu, yang di sinilah merupakan tujuan ilmu yang sebenarnya.

Metode pengujian Aristoteles harus melalui investigasi empiris dan kajian bermula dari bagian-bagian yang memperbaiki keseluruhan (cara berpikir induktif).

Bagi Aristoteles, logika adalah perangkat utama untuk mempelajari seluruh disiplin keilmuan. Namun sebelum melangkah lebih jauh tentang bagaimana menalar sesuatu, maka terlebih dahulu harus bisa ditemukan dulu apa itu “esensi” atau “sesuatu”. Kemudian, barulah esensi suatu obyek dapat diketahui oleh nalar manusia melalui abstraksi (Widyastutik, 2015).

Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah “apakah esensi atau sesuatu itu?” atau “apakah yang dimaksud dengan hakikat itu?”.

Perlu dicatat sebelumnya, ketika menyatakan bahwa kita perlu menangkap esensi atau sesuatu itu terlebih dahulu, bisa jadi pendekatan Aristoteles terinspirasi dari para pendahulunya, meski ia menyanggah dan menawarkan cara lain (Miswari, 2016).

Misalnya saja ada yang mengatakan bahwa air adalah inti dari alam semesta. Aristoteles tidak setuju lantaran mengingat air itu sendiri masih bisa dikategorikan kepada hal lain, dan bukan dari esensi itu sendiri. Ia juga menolak filsuf pendahulunya seperti Plato yang menyatakan inti segala sesuatu adalah dunia idea; Herakleitos yang bilang atom adalah “sesuatu” karena tidak bisa didemonstrasikan; juga dengan angka menurut Phytagoras.

Menurut Aristoteles, abstraksi adalah tindakan lebih lanjut yang diambil sesuatu yang harusnya kongkrit, dan bukan sebaliknya seperti pemikiran Plato tentang idea yang sudah kita bahas sebelumnya yang cenderung abstrak. Sesuatu itu harus kongkrit sekaligus menjadi penyebab sekaligus akibat dari sesuatu yang lain. Baru itu dinamai esensi atau sesuatu.

Ketika saya S1 dulu, saya ingat Dosen Filsafat Pak Budi Prasetyo pernah menjelaskan yang dimaksud esensi adalah “sesuatu yang harus ada di dalam sesuatu sehingga sesuatu itu dianggap sebagai sesuatu”. Bisa diteruskan, “jika sesuatu yang harus ada itu hilang, maka sesuatu itu tidak lagi menjeadi penyebab sesuatu dianggap sebagai sesuatu”. Esensi atau hakikat yang melekat pada suatu subjek itu lah yang kemudian membuat kita memberikan atribut atau penamaan terhadap hal tersebut.

Misalnya pengertian manusia adalah hewan (keseluruhan atau umum) yang berpikir (pembatas yang esensial). Aktifitas berpikir itulah yang membedakan esensi berpikir dalam diri manusia dengan hewan. Jika manusia tidak berpikir, maka dia tidak sah disebut manusia.

Dalam istilah ilmu Mantiq kita mengenal jami’ (keseluruhan) dan mani’ (pembatas dari keseluruhan). Dari keumuman dan pembatasan tersebut kemudian lahirlah apa yang disebut dengan definisi atau pengertian dari abtraksi berpikir.

Metode pencarian esensi yang menuju suatu prpopsisi tertentu, inti dari inti, ini ada yang menyebutnya sebagai “principal thinking”, metode berpikir secara prinsipil. Ibarat mengupas sebuah apel, maka kita perlu mengupasnya hingga lapisan terakhir dan tidak bisa dikupas lagi. Dengan demikian kita bisa menemukan inti dari sesuatu itu.

Dari esensi yang bersifat partikulat tersebut kita bisa mengembangkankan lebih jauh kepada hal lain, ia kemudian melahirkan asas kausalitas dengan hal lain untuk bisa mencapai kesimpulan secara umum.

Singkat kata, menurut filsafat Aristoteles, sumber pengetahuan bersumber dari persepsi atau penalaran, namun persepsi bukan pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan itu sendiri adalah realitas empiris dan logika bertugas memproses pengamatan indrawi tersebut. Sebagai logikawan ia menyatakan, sebaik apapun pengamatan panca indra yang sebenarnya adalah pengetahuan, namun yang memutuskan adalah pikiran atau logika yang menangkapnya (Miswari, 2016).

(Ringkasan Tentang Logika Aristoteles)

Filsafat Aristoteles Tentang Negara dan Sistem Pemerintahan

Aristoteles melihat kehadiran negara atau tatanan politik bersifat organik. Maksudnya, terwujudnya suatu negara berlangsung secara alamiah. Dapat didefinisikan negara adalah “komunitas keluarga dan kumpulan keluarga yang sejahtera demi kehidupan yang sempurna (koinonia). Terbentuknya negara karena adanya keterhubungan yang bersifat organis antar warganegara (organisme)” (Widyastutik, 2015).

Begini runtutan terwujudnya organisme negara dan landasan filosofis yang menyertainya (Widyastutik, 2015):

A. Bermula dari keluarga: keluarga adalah bentuk persekutuan untuk pemenuhan kebutuhan biologis dimana manusia berpasang-pasangan. Hal ini dalam tinjauan filosofis Aristoteles diasosiasikan dengan tubuh manusia yang dipenuhi nafsu.

B. Desa: meningkat setelah keluarga dan sekumpulan keluarga-keluarga akhirnya muncul Desa sebagai pemenuhan kebutuhan sosial antar keluarga. Proses ini diasosiasikan dengan jiwa sosial manusia

C. Berakhir Menjadi Polis (Negara Kota): Sekumpulan Desa-desa akhirnya bersatu untuk menujudkan pemenuhan kebutuhan seluruh aspek kehidupan manusia. Diasosiasikan dengan nalar yang dianggap asosiasi yang paling lengkap dan sempurna

Dengan demikian, persekutuan negara didasari oleh keakraban, kelestarian, kesatuan, keutuhan. Lambat laun, negara sebagai persekutuan hidup yang berbentuk polis, dimana harusnya negara tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Dengan gambaran yang ideal tersebut, tidak heran Aristoteles menyatakan kedaulatan negara lebih merupakan kedaulatan moral daripada kedaulatan legal.

Hampir senada dengan pemikiran gurunya Plato, Ariostoteles menyatakan bahwa negara bertujuan mewujudkan kebaikan tertinggi (the highest good) bagi manusia. Dan juga mengupayakan dan menjamin kesejahteraan bersama (kebaikan umum).

Dalam menganalisis bagaimana sistem pemerintahan yang terbaik dan terburuk, Aristoteles menggunakan dua acuan penentu: pertama, jumlah orang yang memerintah. Kedua, tujuan memerintah. Dari dua kategorisasi tersebut akhirnya memunculkan klasifikasi tipologi pemerintahan sebagai berikut (Widyastutik, 2015):

A. Pemerintah baik adalah:

  1. Monarki: satu orang untuk kebaikan bersama.
  2. Aristokrasi: beberapa orang untuk kebaikan kelompok.
  3. Politeia/Demokrasi Konstitusional: banyak orang untuk tujuan bersama.

B. Pemerintahan yang Buruk adalah:

  1. Tirani: Satu orang untuk kepentingan diri.
  2. Oligarki: beberapa orang untuk kebaikan kelompok.
  3. Demokrasi ekstrim: banyak orang untuk kebebasan yang ekstrim.

Sebagai seorang aristokrat yang menjunjung tinggi pengetahuan, pemikiran Aristoteles tentang siapa saja yang masuk kategori warga negara sudah usang. Ia menyatakan bahwa tidak mencakup semua anggota masyarakat. Secara alamiah budak, kelas produsen, petani tidak masuk kategori warganegara dengan alasan: mereka yang tidak memiliki waktu untuk memperluas pengatahuan tentang urusan publik dan mengupayakan kebajikan (Wdyastutik, 2015).

 

Penutup

Meski Aristoteles dieluh-eluhkan sebagai Bapak Logika, ia tidak terlepas dari kritik para filsuf sesudahnya. Cara mengamati yang menekankan empirisme dan berlanjut pada akurasi berpikir formal yang digariskan Aristoteles dipergunakan pula olehnya untuk membaca fenomena-fenomena alam. Ia menulis semua fakta empiris yang dia amati, seperti organ tubuh hewan dan bahkan menulis anekdot para pemburunya.

Bagi ilmuan modern, pengamatan hewa harusnya ada di laboratorium, bukan sekedar melihatnya dengan mata telanjang dan menuliskannya kemudian mencari abstraksi logis dari temuannya tersebut (Miswari, 2016). Meski demikian, jasanya sebagai peletak dasar logika formal tidak bisa disepelehkan hingga hari ini.

Dalam beberapa hal pemikiran Aristoteles dengan Plato terkait sistem pemerintahan memiliki perbedaan. Misalnya Plato mengurutkan sistem pemerintahan dari yang terbaik menjadi terburuk berdasarkan jumlah pemegang kekuasaan, sedangkan Aristoteles menambahkan dengan tujuan kekuasaan tersebut untuk apa. Namun kesamaannya adalah pada fungsi negara sebagai wujud kebutuhan manusia untuk menyempurnakan diri manusia mencapai kebahagiaan dan kebijaksanaan.

Dalam literasi-literasi ilmu politik, pemikiran Aristoteles, Plato, maupun Socrates termasuk pemikiran filsafat klasik yang melihat negara dan politik yang memiliki orientasi untuk mewjudkan kebaikan bersama bagi warga negara. Meski tidak lepas pula dari kritik sebagai sebuah idea yang kurang relevan untuk hari ini menerapkan konsepsi-konsepsi yang ada di langit.

 

Sumber Referensi

Hatta, Mohammad. 1996. Alam Pikiran Yunani. Universitas Indonesia

Miswari. 2016. Filsafat Terakhir: Evaluasi Filsafat Sepanjang Zaman. Unimal Press.

Widyastutik, Dwi. 2015. “Pemikiran Politik Plato”. Bahan Ajar Pemikiran Politik Barat. FISIP Universitas Airlangga.

 

 

Baca juga:

Filsafat Plato Tentang Idea, Etika, dan Negara

Apakah Agama Harus Selalu Ikut Campur dalam Kompleksitas Kehidupan Hari Ini?

Pengertian Negara Agama atau Negara Teokrasi

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments