Dilema Romantisisme Pada Perempuan : Cinta Tak Harus Politis

Dilema Romantisisme Pada Perempuan : Cinta Tak Harus Politis

Penulis: M. Dirangse Samudra, Akademisi, Mahasiswa S2 Ilmu Politik, Universitas Nasional, Jakarta

Tausyiah ataupun sabda soal harum dan ranumnya cinta merupakan relasi yang begitu menggairahkan dikalangan lintas generasi. Cinta dalam pendefenisiannya yang universal bisa menarik seseorang yang dimana diperankan oleh laki-laki dan perempuan untuk ingin mengenalinya secara totalitas.

Memang benar apabila kita membahas tentang cinta, ini mungkin tidak berujung pada pondasi-pandangan yang pas kenapa bisa dinamakan cinta? Kendati demikian, rasa setiap orang mencintai itu seakan-akan diam-diam menyelinap dan tetap hidup, tidak dapat “tertebak” akan tetapi acapkali “menjebak”.

Pembahasan ini akan lebih kepada keberadaan tubuh perempuan yang mungkin tanpa sadar menghadapi dilema sebelum atau sesudah mencintai hingga berakhir pada proses sakral, yakni pernikahan.

Masa pacaran terkadang menyisipkan duka karena disana ajang menentukan pasangan bagi para pecinta, tak jarang terjadi kekerasan seksual tanpa adanya persetujuan (consent). Sebaliknya, bila pasangan itu melakukannya atas dasar suka sama suka dan kemudian laki-laki let she go hanya untuk mempermainkan perempuan yang dicintainya, itu merupakan tindakan kebiadaban laki-laki.

Terasa sulit bagi perempuan menerima kenyataan pahit yang dialaminya ketika terjebak pada konsep laki-laki yang mengkhianatinya itu mengurai janji manis, tampan, mapan yang dapat menjamin kehidupan materialistisnya. Dari kriteria seperti itu, perempuan terfokus dan akan membabibuta untuk melakukan segalanya demi pria yang sangat ia cintai sehingga ia hanya mendapat penderitaan.

Dari kesalahan itu, seorang psikoanalis Erich From mengemukakan konsepsi gagasan dasarnya, yakni Care (perhatian/kepedulian), Responsibillity (tanggung jawab), Respect (hormat) dan Knowledge (pengetahuan). Setidaknya, dengan memenuhi dan mempelajari konsep tersebut kita dapat menjajaki asmara dengan orang yang benar-benar dicintai, sehingga saling mengimplementasikan secara dua arah untuk tiba pada cinta yang setara.

Romantisme Semu Sembilu

Menanggapi persoalan ini, pada tahun 80-an oleh para feminis yang memandang cinta yang produktif diantaranya Luce Irigay, Julia Kristeva, Bell Hooks, Audre Lodre dan masih banyak lagi, mereka menganggap cinta sebagai ideologi yang melegitimasi penindasan perempuan dan yang membuat mereka terjebak dalam hubungan heteroseksual yang eksploitatif.

(Julia Kristeva. Sumber Gambar: Wikipedia)

Selain itu, cinta juga dipandang membuat perempuan itu sangat rentan, bukan hanya terhadap eksploitasi tetapi juga akan tersakiti oleh laki-laki. Kaum puritan dalam naungan filsuf Rousseau mengatakan bahwa cinta sejati harus diperoleh tanpa hasrat seksual, ditambah lagi oleh kaum pesimis menyatakan “cinta romantis”  akan selalu gagal karena hasrat seksual adalah hal yang paling utama dalam cinta.

Hasrat yang dipengaruhi hormon bisa muncul meskipun bukan kepada orang yang dicintai. Para pejuang perempuan feminis maupun laki-laki yang memiliki “paham” “feminism” melihat perempuan yang memberhalakan cinta romantis (romantic love) secara lebih mendalam dan kritis.

Dikarenakan, mengingat romantis merupakan pusat heteroseksual dan ketidaksetaraan itu berasal. Jadi, sebetulnya kata “romantis” tidak perlu di prioritaskan untuk melihat itu sebagai cinta dan soal cara menyampaikan rasa sayang.

Perempuan jika dilihat dalam kerangka Islam sangat diistimewakan. Selain itu, perempuan juga dinobatkan sebagai kaum “perasa dan agung”. Perempuan sangat mudah sensitif, ketika ada masalah kecil yang dibesar-besarkan, kemudian laki-laki fuckboy alias buaya memilih menyudahi hubungannya tanpa ethic of care, disini perempuan merasa sesak.

Tulisan suara yang ingin membela kebertubuhan perempuan agar supaya ia tidak mudah terjebak ke dalam lubang narasi romantisisme semata meskipun penulis sendiri berstatus lajang bin jomblo bertahun-tahun lamanya.

Kembali ke pembahasan, bukan hanya keromantisan saja yang membuat perempuan terjebak, melainkan perempuan kerap dihadapkan pada soal materi dan mengabaikan bahwa pentingnya menemukan pendamping hidupnya adalah laki-laki yang mempunyai “otak/pikiran berfaham feminism” dalam menuntun sebuah hubungan, ini memang sangat luas jika dijabarkan, namun intinya dengan cara itu kita bisa membawa pasangan pada hubungan yang sehat dan tidak mengecewakan. Karena aktivitas berpikir logis dan obyektif seringkali diabaikan dalam menjalani hubungan.

Institusi Pernikahan

Pemaknaan cinta hanya dapat diraih atau diperoleh secara intuitif, pada tataran perasaan dan tidak dapat dikomunikasikan dengan tepat (Jakson 1999). Apa yang dikemukakan Jakson menginisiasi bahwa cinta dipandang sebagai suatu kebutuhan dan hasrat personal dan lebih cenderung menaruh kata cinta itu ke ruang privat.

Dalam gagasan cinta tersebut tidak dapat terpisahkan dari konstruksi sosial dan budaya yang sebenarnya ikut memengaruhi dan sebagai penuntun dalam menentukan makna dan defenisi dari cinta. Tapi kita sangat abai mengkaji hal tersebut dan diterima begitu saja dengan pasrah. Penafisran cinta memiliki dua tempat dominan (Grossi 2014) dimana cinta itu dipandang mempunyai keterikatan atau hubungan yang sangat kuat dengan Patriarki dan Heteroseksualitas.

Pernikahan yang membawa narasi cinta khususnya bagi perempuan, memang kebanyakan memiliki proposisi yang mengarah pada keluarga, rumah tangga, relasi monogamy/dipoligami, sisi keibuan dan kesetiaan. Dari hal tersebut dapat kita menebak bahwa bagi perempuan cinta dan pernikahannya sebagai seorang istri yang sibuk mengurus rumah dan menjadi ibu.

Kemuliaan seorang perempuan dalam islam adalah menjadi seorang istri yang melayani suami dan mengurus anaknya juga tidak sepenuhnya salah, tapi kita ingin menyetarakan keadaan. Perempuan tidak terikat dengan adanya pembatas sosial. Yang harus diucapkan perempuan itu tentang kebebasan, persamaan dan agensi tanpa penindasan.

Legitimasi kuat dari pernikahan membuat perempuan merasa terkurung ditengah kesanggupannya dalam metode serta bidang kehidupan lainnya. Kerangka tersebut menjadi penyokong bagi ketidaksetaraan gender dan kekerasan terhadap perempuan.

Cinta Tak Harus Politis

Mencintai itu sebuah virtue ethic yang mestinya harus diperlakukan secara filantropis “Politik Etis”, bukan dalam kerangka “Politis” yang menganggap perempuan itu “sama, seolah-olah laki-laki itu mempraktikkan jurus kasih sayang dan segalanya ia berikan atau korbankan hanya untuk sekedar meyakinkan perempuan.

Setelah mendapat “kehendak” ia dapat menentukan kerangka kehidupan perempuan dan ditentukan kembali oleh tindak-tanduknya laki-laki. Disaat itu juga perempuan sebenarnya ditindas secara kultural dan ideologis terutama diruang yang bersifat romantis sesaat. Perempuan tersubordinasi jika dilihat dari identitas maskulinitas sehingga tidak dianggap.

Kiranya sangat perlu diingat adalah ini sebuah peringatan pada intensitas cinta yang paradoks. Kita akan merasa berbahagia dan merasa sakit sekaligus. Ketika kita mencintai seseorang, itu tidak mudah dan akan menyakitkan. Resiko itu adalah keniscayaan yang akan timbul karena dalam mencintai kita siap saling mempelajari dan mempraktikkan cinta yang otentik sepanjang waktu.

 

Baca Juga:

Apakah Agama Harus Selalu Ikut Campur dalam Kompleksitas Kehidupan Hari Ini?

Politik dan Poster: Pemerintah Alergi Terhadap Poster (?)

Dilema Pertumbuhan Ekonomi dan Demokrasi di Tangan Pemerintahan Jokowi

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments