Dialektika Friedrich Hegel: Tesis, Antitesis, Sintesa

Dialektika Friedrich Hegel: Tesis, Antitesis, Sintesa

Geor Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) adalah filsuf yang begitu dipuja sebagai puncak romantisme di Jerman. Bahkan Hardiman (2019) lebih jauh mengungkapkan bahwa ia adalah filsuf terbesar, setelah Immanual Kant, dan sebagai hasil segala bentuk spekulasi perkembangan dalam filsafat era modern.

Setelah Hegel, para filsuf lebih banyak mencurahkan perhatian untuk menyerang pemikirannya, atau sebaliknya, mengembangkannya.

Hegel berpandangan bahwa tujuan utama filsafat adalah mengatasi problem oposisi-oposisi. Sepanjang perbincangan filsafat, kita kerap dihadapkan pada perdebatan rasionalisme versus empirisme, pikiran dihadapkan pada kontradiksi jiwa atau badan, alam semesta atau ruh.

Oposisi semacam itu tak luput mempengaruhi Immanuel Kant dalam membicarakan nomena (subjek kesadaran diri) dan fenomena (realitas inderawi). Keseluruhan itu tidak bisa memberikan kepuasan tertinggi bagi kesadaran rasio.

Hegel berbalik untuk menawarkan cara berpikir kebutuhan dasar rasio adalah menyelaraskan pertentangan antar oposisi. Dengan begitu kita mencapai ruh pemikiran “Yang Absoulut”.

Sayangnya, pemikiran tidak bisa begitu saja terlepas dari fakta penginderaan, maka “tak ada jalan lain, kecuali lewat refleksi, padahal refleksi termasuk dalam intelek yang beroperasi dengan data inderawi… Hegel menggabungkan reflesi dan intuisi menjadi spekulasi filosofis” (Hardiman, 2019: 171-172).

Baik, pelan-pelan kita telaah pemikiran Hegel, karena sekelas Bertrand Russell saja menyatakan bahwa filsafat Hegel sebenarnya rumit karena pertautan metafisika dan logika yang acap kali terkesan rancu. Kita bahas dasar-dasarnya saja.

Titik tolak pemikiran Hegel mengerucut pada apa yang disebut sebagai “Yang Absolut” (das Absolute). Arti Yang Absolut adalah totalitas atau keseluruhan dari kenyataan. Ia adalah subjek mutlak.

Sebagai subjek, ia membutuhkan objek, dan objeknya adalah dirinya sendiri. Yang Absolut adalah subjek yang menyadari dirinya sendiri sebagai rasio. Keseluruhan adalah proses refleksi diri. Upaya refleksi diri ini sangat penting ditekankan karena pada dasarnya realitas bukan sesuatu yang terlepas dari rasio, namun ia adalah kenyataan diri dari realitas itu sendiri melalui proses refleksi.

Penjelasan Russell (2021) bisa membantu kita memahami uraian di atas yang kompleks. Pengetahuan tentang keseluruhan (Yang Absolut) terdiri dari tiga gerakan tritunggal. Pertama, gerakan berawal dari penyerapan inderawi. Kedua, sikap kritis mengajukan skeptis terhadap tangkapan panca indera. Ketiga, akhirnya sampai pada subyektif diri (refleksi diri).

Ini adalah puncak dari pengetahuan diri, dimana subjek dan objek tidak ada lagi namun melebur menjadi keseluruhan proses gerakan.

Gerakan tritunggal inilah yang kemudian disebut sebagai metode dialektika. Upaya dari metode dialektika adalah mencapai keseluruhan proses melalui tesis antitesis, dan sintesa.

Mari kita gunakan contoh untuk bisa lebih memahaminya:

“Rizky adalah ibu Samuel”

Pertama-tama kita nyatakan ada seorang bernama Rizky seorang ibu. Ini contoh tesis. Namun sesuatu itu tidak mungkin ada tanpa ada sesuatu yang mutlak menegasi keberadaannya. Unsur mutlak di dalam predikat seorang ibu adalah memiliki seorang anak.

Jadinya, Yang Mutlak adalah si anak atau Samuel. Maka, yang mutlak ada adalah Samuel. Ini adalah Antitesis.

Muncul keberatan lain bahwa yang mutlak adalah seorang ibu dan bukan anak. Oposisi mana yang mutlak ada, ibu atau anak, melahirkan sintesa bahwa sebutan ibu merujuk pada seseorang yang punya anak, dan seorang anak menjadi penanda bahwa dia memiliki ibu. Jadi ibu dan anak adalah antitesis.

Ada lagi keberatan. Tidak mungkin ada realitas ibu dan anak tanpa seorang ayah. Jadi, ayah adalah kaitan keseluruhan dari anak dan ibu sehingga ayah menjadi bagian dari pedefinisian keseluruhan realitas.

Ibu, ayah, dan anak mengandaikan adanya kedua belah keluarga yang telah mengalami proses pernikahan, maka ada dua kakek-nenek dan seterusnya yang dicakup dalam realitas keseluruhan.

Bisa dilanjutkan lagi ke belakang. Intinya menarik pada setiap keseluruhan proses ke belakang dengan logika belaka untuk bisa mencari apa yang kemudian disebut sebagai “Yang Absolut”.

Sekali lagi penting untuk ditekankan, “di sepanjang keseluruhan proses ini, terdapat asumsi dasar bahwa tidak ada yang nyata-nyata benar kecuali mengenai realitas secara keseluruhan”(Russell, 2021: 954).

Contoh lain, ketika ada teman yang berdebat panjang. Ada yang mengajukan argumen, kemudian dibantah oleh yang lain, kemudian  ada yang melerai perdebatan dan menarik kesimpulan dari dua perdebatan tersebut dengan muatan dua argumen yang berseberangan. Ini adalah tesis, antitesis, dan sintesa.

Dengan demikian, sintesa bukan menghilangkan kandungan dari masing-masing pihak yang beroposisi (tesis-antitesis), namun mengangkatnya ke atas yang lebih tinggi sebagai ramuan kebenaran yang meliputi keseluruhan (Hardiman, 2019).

Ini lah salah satu penjelasan dari ungkapnnya yang terkenal “What is rational is actual and what is actual is rational.” (Apa yang rasional adalah aktual (empiris) dan apa yang aktual adalah rasional).

Metode dialektika demikian sangat mempengaruhi pemikiran filsafat Hegel. Misalnya ketika ia mengatakan sistem filsafatnya terbagai menjadi tiga (logika, alam, dan roh). Logika mempelajari Yang Absolut dengan dalam dirinya sendiri, filsafat alam mempelajari alienasi dirinya yang teralienasi dari Yang Absolut, dan Filsafat roh adalah kembali pada dirinya setelah pengembaraan filsafat alam.

Ringkasnya, “Logika mempelajari yang absolut “pada dirinya”, Filsafat alam mempelajari Yang Absolut “bagi dirinya”, Filsafat Ruh mempelajari yang Absolut “pada dan bagi dirinya”.

Ketika kita memahami dengan baik dialektika semacam itu, pada gilirannya kita sedikit mengurangi kesukaran memahami turunan gagasan-gagasan lain dari Hegel, misalnya tentang filsafat sejarahnya tentang Jerman sebagai roh sejarah dan pemikiran politik tentang negara sebagai roh absolut.

 

Daftar Rujukan

Hardiman, Budi. 2019. Pemikiran Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche. Yogyakarta: Kanisius.

Russell, Bertrand. 2021. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Penulis Dian Dwi Jayanto

 

Baca Juga:

Pengertian Renaisans yang Menginspirasi Pemikiran Sekuler

Garis Besar Pemikiran Karl Marx

Dua Karakter Utama Filsafat Modern

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments