Apakah Agama Harus Selalu Ikut Campur dalam Kompleksitas Kehidupan Hari Ini?

(Ilustrasi orang yang berdoa di Gereja)
(Ilustrasi orang yang berdoa di Gereja)

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Fakta pertama, agama dalam diri manusia menempati posisi sebagai focal point (subjek nilai kesadaran tertinggi dalam hidup yang tidak bisa diganti atau dikalahkan dengan identitas lain, semisal rasa kebangsaan ‘nasionalisme’). Meski telah dihantam pelbagai teori yang menyatakan perkembangan modernisasi lambat laun akan menyurutkan pengaruh agama, maupun gelombang besar gerakan ateisme modern karena kegeraman atas malpraktik beragama yang cenderung destruktif, tetap saja agama tidak ada matinya.

Abad 21 membuktikan kepada kita bagaimana agama tidak begitu saja luntur di dunia yang semakin modern di era globalisasi, bahkan semakin signifikan. Agama ke depannya masih mengambil peran penting dalam perjalanan sejarah umat manusia, dalam berbagai bentuknya. Baik Fukuyama melalui “Identity The Demand for Dignity”, maupun Harari melalui “Sapiens”nya mengamini pernyataan tersebut.

Hal ini juga ditunjukkan, misalnya, bagaimana hari ini wacana agama mengesankan harus mengambil kendali dalam diskursus publik untuk menjawab semua  persoalan-persoalan teknis yang meliputi kompleksitas manusia modern. Kompleksitas di sini merujuk pada dua penanda penting kemajuan zaman, yakni globalisasi dan perkembangan teknologi. Dua hal itu telah banyak mengubah perilaku kehidupan kita sehari-hari.

Buru-buru perlu dinyatakan bahwa tulisan ini tidak menempatkan agama sebagai dimensi tumpuhan manusia meluapkan segala masalahnya kepada sebuah kekuasaan adikodrati untuk mencapai ketenangan batin. (Meski itu, bagi saya, adalah fungsi paling ideal dari agama). Namun, pada soal bagaimana ekpresi keagamaan pada bidang-bidang kehidupan sehari-hari, yang sampai-sampai pada level tertenu muncul untuk menjawab problem teknis kehidupan.

Memang, tidak heran kemudian kuatnya nilai agama dalam diri manusia pada gilirannya turut serta membentuk bagaimana penggambaran cara hidup manusia, meliputi tata ekonomi, politik, kebudayaan dan seterusnya.

Di sisi yang lain, kita juga harus berlapang dada untuk menerima kenyataan bahwa agama itu sendiri adalah hasil dari suatu kompleksitas kebudayaan, politik, ekonomi dan seterusnya yang turut membentuk peradabannya, hingga kita terima hari ini sebagai suatu nilai tertentu. Sehingga ketika suatu nilai agama yang berusaha ditegakkan dalam praktik sosial dikatakan adalah suci, netral, dan bebas nilai tentu adalah pernyataan yang tidak berdasar. Sama saja hal tersebut mengkerdilkan khazanah perjalanan panjang agama itu sendiri (Wattimena, 2019). Terlepas dari jenis agama apa pun itu.

Jika bisa kita sepakati premis di atas, ketika wacana agama hadir memberikan solusi dalam kompleksitas kehidupan manusia modern dewasa ini, apakah bukan berarti suatu seperangkat kebudayaan beserta agama tertentu mencoba memecahkan masalah dalam suatu problematika kebudayaan yang turut hadir belakangan? Untung saja bagi agama yang telah memiliki keakraban khusus dengan peradaban yang mapan hari ini, maka bisa jadi solusi yang diajukan lebih sesuai.

Sebaliknya, bagaimana jika agama tertentu dalam sejarah peradabannya mengalami kemunduran semenjak Abad ke-12 dan hanya menyisakan kenangan atas kejayaan masa lalu, tapi masih antusias menyuarakan nilai yang ia pahami dari agamanya untuk menjawab kebutuhan kebudayaan modern yang berkuasa hari ini?

Kemungkinan akan ada tiga hal yang akan terjadi. Pertama, penganut agama yang tidak bisa menerima kemajuan dan masa depan. Mereka akan membentangkan ulang memori heroik kebudayaan dan agamanya ke masa lalu. Bisa mulai dari taraf sederhana sekedar membanggakan, hingga perilaku yang kurang baik dengan berjuang menegakkan disiplin agamanya dalam kesatuan sistem budaya, ekonomi, dan politik agamanya. Sekali lagi, menurut penafsir orang per orang terhadap kebudayaan dan pemahaman agama yang ia pahami. Sebagian akademisi menamai mereka sebagai kelompok fundamental.

bagaimana jika agama tertentu dalam sejarah peradabannya mengalami kemunduran semenjak Abad ke-12 dan hanya menyisakan kenangan atas kejayaan masa lalu, tapi masih antusias menyuarakan nilai yang ia pahami dari agamanya untuk menjawab kebutuhan kebudayaan modern yang berkuasa hari ini?

Kedua, alih-alih tidak mau senada dengan cara berpikir pertama, mereka “memaksakan” tafsir agamanya harus se-relevan mungkin dengan apa yang dianggap mapan oleh peradaban hari ini. Penafsirannya tidak jauh dari upaya melegitimasi status quo modernitas zaman dengan dalil agama.

Kalau sistem pemerintahan hari ini yang ideal adalah konsep good governance karena kemenangan Barat pasca Perang Dingin, misalnya, tinggal kaitkan saja dalil yang menunjukkan agama memegang prinsip yang sama. Ini bukan soal benar dan salah tentang prinsip tertentu, tapi ini persoalan metodologis yang bersifat “Bias Konfirmasi”.

Ketiga, orang yang menganggap bahwa prinsip agama bersifat substansial dalam urusan di luar ritual keagamaan. Jadi, urusan sosial, politik, dan ekonomi selama masih memenuhi kaidah prinsip nilai-nilai etis (seperti tidak merugikan orang lain atau menyakiti orang lain), masih bisa ditolerir.

Pendapat seperti ini terkesan netral dan cukup ideal, namun menyiratkan makna bahwa agama tidak turut andil dalam peradaban hari ini. Tipe yang bisa dibilang substansial ini menyiratkan makna agama, melalui proses pembentukan panjang kebudayaannya, sudah tidak bisa lagi berbicara apa-apa tentang kemajuan hari ini.

Di antara ketiga pandangan itu, saya lebih menyepakati pandangan ketiga. Kondisi nyata harus disadari bahwa agama tertentu, beserta pergulatan kebudayaan dan peradabannya, telah kalah dengan peradaban apa pun itu hari ini, maka kita tidak perlu menciptakan asosiasi yang kontras dalam pikiran kita bahwa “agama kita pernah berjaya di masa lampau”. Upaya ini akan mentralkan rasa kekalahan dan kemunduran semata.

Tidak perlu juga untuk terlalu memaksa tafsir berlebihan atas agama kita untuk memberikan kesan seakan-akan agama kita sudah mengakomodir peradaban sesuai nash-nash yang ada, tapi padahal hanyalah pencocokkan untuk menyelamatkan muka dalam pergaulan peradaban.

Dan selama bekal perjumpaan kebudayaan agama dengan peradaban modern hari ini belum memadahi, maka sebaiknya kita mengatakan hal-hal yang bersifat normatif saja, tanpa perlu merambah persoalan teknis kehidupan. Dan bagi saya, agama lebih ideal ditempatkan sebagai fungsi spritualitas dan penghayatan atas keberadaaan Yang Trasenden di tengah keterasingan jiwa dalam perkembangan teknologi dan globalisasi manusia modern. Barangkali harus ditambahkan nuansa sisi humanisme dan etisnya. Bukan mengambil alih urusan-urusan teknis!

 

Baca Juga:

Fenomena Politik Identitas Abad 21 dan Gagasan Liberal Fukuyama

Budaya Populer di Indonesia: Sebuah Negosiasi Budaya Global dan Lokal

Pengertian Etnisitas dan Terbentuknya Identitas Nasional

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments