Al-Falsafah Al-Ula (Filsafat Pertama): Metafisika Al-Kindi, Sang Filsuf Arab

Al-Falsafah Al-Ula (Filsafat Pertama): Metafisika Al-Kindi, Sang Filsuf Arab

“Al-Falsafah Al-Ula” merupakan judul buku karya Al-Kindi yang ia hadiahkan kepada Khalifah AL-Mu’tashim dari Dinasti Abbasiyah. “Al-Falsafa Al-Ula” sekaligus merujuk pada nama yang diberikan AL-Kindi terhadap pemikiran filsafat metafisikanya.

Metafisika Al-Kindi menunjukkan keselarasannya dengan pemikiran Aristoteles, terutama tentang gerak yang tidak digerakkan. Konsep gerak yang tidak digerakkan adalah premis dari Aristoteles untuk menelusuri “kebenaran pertama” (sumber pertama) dari materi apa yang menjadi awal menggerakkan segala sesuatu.

Melalui “Al-Falsafah Al-Ula”, AL-Kindi mengembangkan konsep metafisika sebagai upaya membangun landasan teologis bagi keberadaan Tuhan. Ia juga mengatakan bahwa ilmu metafisika adalah ilmu yang derajatnya paling tinggi karena membicarakan Sang Kebenaran Pertama.

Hal ini sekaligus cara Al-Kindi mendefinisikan metafisika sebagai kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat ilahiyah, dan menurut Aristoteles adalah penggerak yang tidak bergerak.

Tentu karena sebuah modifikasi pemikiran seturut dengan kebutuhan dari Al-Kindi tentang Islam, ia tidak terlalu panjang untuk mengupas jalinan pemikiran Aristoteles tentang wujud dari segala wujud (being qua being), Al-Kindi sebatas pada penalaran metafisika tentang Tuhan, perbuatan-perbuatan-Nya, dan kaitannya dengan Makhluk.

Jelas di sini, seperti yang kita bahas pada tulisan sebelumnya, Al-Kindi meski meminjam pemikiran Aristoteles, tapi Al-Kindi membangun gagasan orisinil tentang filsafatnya sendiri.

Filsuf Pertama Islam

Al-Kindi Filsafat ISlam
(Al-Kindi perintis Filsafat Islam. Sumber Gambar: Wikipedia)

Al-Kindi dalam perbincangan tentang filsafat Islam mendapatkan tempat khusus utamanya karena dari segi historis. Ia mengenyam dunia filsafat ketika Islam belum banyak yang berkecimpung pada pemikiran dari luar Islam.

Al-Kindi adalah orang Arab pertama yang memperkenalkan filsafat ke pemikiran Arab atau dunia Islam. Ia mendapat julukan sebagai “Filsuf Arab atau Filsof Bangsa Arab”.

Nama aslinya adalah Abu Yusuf Ya’kub bin Ishak, lahir di Kuffah, Irak, tahun 801 dan meninggal tahun 873. Nama Al-Kindi merupakan nama leluhurnya era pra-Islam sebagai penisbatan.

Ia tercatat pernah menjadi penasihat dan guru Istana di zaman al-Mu’tashim dan al-Watsiq hingga era al-Mutawakkil. Karena terdapat hasutan terhadap dirinya yang terjadi, ia harus meninggalkan istana di zaman al-Mutawakkil.

Kontribusi besar upaya Al-Kindi melakukan penetrasi filsafat ke dunia pemikiran Arab semakin jelas ketika ia dihadapkan pada dua kesulitan besar, baik dari cara memberikan pemahaman maupun dari rintangan kelompok yang menolaknya.

Al-Kindi merasa mengalami kesulitan untuk memberikan pemahaman filsafat dengan terjemah teknis yang asing bagi Bahasa Arab.

Ia menempuh beragam jenis upaya untuk menanggulangi hal ini, misalnya menerjemahkan Yunani ke bahasa Arab murni, menciptakan istilah baru dari serapa Yunani ke dalam bahasa Arab dengan tambahan “iyah”, dan selanjutnya.

Al-Kindi menanggulangi rintangan keduanya dengan beberapa cara:

Pertama, ia berusaha mencari titik temu sehingga menampakkan bahwa Islam dan Yunani adalah ajaran yang selaras. Ia mengarang cerita bahwa nenek moyang Bangsa Yunani bersaudara dengan Arab, misalnya contoh persaudaraan dari Yunan (diambil dari Yunani atau Ionia) yang bersaudara dengan Qathan, nenek moyang bangsa Arab.

Kedua, ia mengatakan bahwa kebenaran bisa datang darimana saja tanpa perlu mempersoalkan darimana kebenaran itu berasal.

Ketiga, ia menekankan bahwa filsafat Islam adalah kebutuhan, bukan buat kemewahan atau gaya-gayaan. Dengan filsafat, ia akan membantu kita berpikir rasional yang pada gilirannya sebagai landasan kita mengemukakan kebenaran agama.

Hal ini sekaligus membantah kalangan fanatik bahwa filsafat bukan bertujuan merongrong wahyu, namun alat untuk menjelaskan kebenaran wahyu melalui penalaran.

Keempat, agama dan filsafat adalah sama-sama merupakan metode untuk mencapai kebenaran dengan derajat yang berbeda. Meski demikian, pendapat Al-Kindi lebih mengarah pada pengetahuan dari wahyu dan ajaran agama berada di atas filsafat dan penalaran rasional.

Kelima, ia berusaha menfasilitasi takwil ajaran agama sehingga bisa sesuai dengan filsafat. Misalnya ketika dalam Quran disebut “Bintang-bintang dan pepohon bersujud” bisa memiliki beragam makna.

Apakah sujud sebagaimana sholat; sujud sebagai makna ketundukan penuh; perubahan yang menuju kesempurnaan; dan sebagainya. Pada gilirannya takwil-takwil demikian membuat agama serasa sangat cocok dengan pemikiran logis berdasarkan metode penafsiran dari segi bahasa menurut Al-Kindi.

Saya kira penjelasan singkat di atas cukup membuat kita merasa perlu memberikan apresiasi kepada Al-Kindi yang mempekenalkan filsafat ke dunia Islam sekaligus berjuang agar pemikiran yang dianggap dari luar Islam dapat diterima masyarakat muslim.

Berikutnya kita masuk pada pembahasan metafisikanya.

 

Metafisika Al-Kindi

Penekanan pertama dari pemikiran filsafat tentang Ketuhanan kaitannya dengan alam semesta adalah pernyataan bahwa dunia ini tercipta yang berawal dari ketiadaan (creation ex nihiilo), sebagaimana yang diyakini umat Islam.

Pemikiran ini juga memiliki padanan dengan Santo Agustinus ketika mengatakan dunia berawal dari ketiadaan (sudah kita bahas dalam tulisan sebelumnya).

Bedanya, Agustinus lebih cenderung berwatak teologis dengan mendasarkan pada Plato yang terkenal religius, sedangkan Al-Kindi membangun argumennya berdasarkan kerangka filosofis dari Aristoteles yang berdasarkan dua hal. Tapi Al-Kindi mengingatkan kita pada filsafat Thomas Aquinas yang sama-sama Aristotelian.

Menurut Aristoteles, segala sesuatu yang pada dasarnya tidak terbatas tidak bisa berubah menjadi terbatas lantaran aktualisasi dirinya. Kedua, gerak, waktu, materi muncul secara serentak.

Al-Kindi lebih jauh memerinci dua prinsip tersebut menjadi Sembilan prinsip:

  1. Dua besaran yang sama, jika diteliti ternyata tidak ada yang lebih besar berarti sebenarnya keduanya sama saja.
  2. Jika sebagian besaran diberikan kepada yang lain, maka mengakibatkan besarannya tidak lagi sepadan seperti poin pertama.
  3. Begitu pula jika besaran lainnya dikurangi untuk yang lain, maka yang salah satunya lebih kecil.
  4. Jika besarannya yang sebelumnya diambil dan dikembalikan ulang, kondisinya menjadi sebagaimana awal yang sama.
  5. Besaran yang terbatas tidak bisa berubah menjadi besaran yang terbatas.
  6. Jika dua besaran itu sama-sama terbatas, keduanya otomatis juga terbatas.
  7. Besarnya apa yang ada dalam “potensi” sama halnya dengan apa yang “aktual”
  8. Dua besaran yang tidak terbatas adalah sama-sama memiliki bobot besar yang tidak terbatas.
  9. Apa yang disebut lebih kecil adalah lawan dari apa yang disebut lebih besar, begitu juga sebaliknya.

Berangkat dari dua premis Aristoteles dan pengembangan Sembilan uraiannya, Al-Kindi beragumen:

Pertama, jika keberadaan alam semesta ini tidak terbatas, maka wujud aktual ini juga tidak terbatas. Padahal, wujud aktual adalah terbatas seperti dikatakan Aristoteles.

Kontradiksi yang ditemukan Al-Kindi menjadi sarana pemikiran untuk menyatakan bahwa pada dasarnya aktualitas alam ini terbatas, karena ia tidak terbatas maka ia tidak bersifat kekal. Segala yang tidak kekal dan terbatas bermula dari hukum ketiadaan.

Al-Kindi tidak menyepakati pemikiran Aristoteles bahwa waktu, gerak, dan materi hadir bersamaan dan abadi. Waktu adalah mekanisme untuk mengukur gerak dalam materi.

Waktu hadir bersamaan dengan adanya materi yang bergerak. Alhasil, waktu itu memiliki keserupaan dengan keterbatasan dengan materi: tidak qodim, tapi bermula dari ketiadaan dan memiliki keterbatasan.

Sesuatu yang mendasari gerak materi dalam ruang lingkup waktu dan gerak haruslah terbebas dari awal ketiadaan dan keterbatasan. Ia tidak berkaitan dengan waktu, maka Ia harus abadi.

Hukum sebab-akibat yang muncul adalah alam semesta berawal dari ketiadaan dan kemudian ada yang mewujudkannya. Pasti ada Pencipta dunia yang disebut Tuhan.

Dengan kata lain, alam semesta tidak bisa menjadi sebab bagi dirinya sendiri, maka ia memerlukan sesuatu lain untuk mencipta dirinya.

Alam semesta bekerja secara teratur dan tertib yang mengharuskan dirinya ada sesuatu yang mengontrolnya dengan baik.

Keseluruhan argument sebab-akibat, tidak bisa menjadi penyebab dirinya sendiri, dan kontrol alam mengarahkan Al-Kindi untuk mengatakan bahwa Tuhan itu ada.

Saya tidak mau secara panjang menjelaskan alur logika keberadaan Tuhan, yang kalau kita cermati sebenarnya memiliki keserupaan dengan pemikiran teolog yang sudah kita bahas sebelumnya seperti Agustinus dan Aquinas, meski dengan bobot yang berbeda-beda. Begitu juga dengan keselarasan alam yang lekat dengan pemahaman kaum stoa.

Sekali lagi, tulisan ini hanya menekankan aspek bahwa Al-Kindi penting dari segi historis karena menjadi filsuf Arab pertama yang memperkenalkan filsafat ke Dunia Arab.

Tulisan ini sekadar untuk menggugurkan janji saya pada tulisan sebelumnya tentang contoh bagaimana filsuf Islam membangun ulang pemikirannya, tidak sekadar membebek pada filsuf sebelumnya karena memiliki akar kebudayaan tersendiri, dalam hal ini Islam. Sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Kindi melalui “Al-Falsafah Al-Ula”nya.

 

*Materi dalam tulisan ini disarihkan dari penjelasan Khudori Soleh (2016) dalam bukunya berjudul “Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kotemporer”, khususnya Bab “Al-Falsafah Al-Ula: Pemikiran Al-Kindi”, hal. 72-90.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca juga:

Review Buku Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam Menurut Seyyed Hossein Nasr

Filsafat Kebahagiaan Epicurus (Epikurus)

Filsafat Sinisme di Era Hellenisme, Ajaran Diogenes dan Antisthenes

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments