5 Argumen Tuhan Itu Ada Menurut Thomas Aquinas

Thomas Aquinas

5 Argumen Tuhan Itu Ada Menurut Thomas Aquinas

Setelah kita membicarakan Santo Agustinus dalam tulisan sebelumnya, kini kita beranjak kepada sosok lain dari teolog Kristen yang paling berpengaruh di era Skolastik: Santo Thomas Aquinas.

Santo Thomas Aquinas diperkiraan lahir tahun 1225 atau 1226 dan meninggal tahun 1274. Ia disebut sebagai filosof paling dominan era skolastik karena dalam semua institusi pendidikan Katolik yang memiliki mata ajar filsafat, sistem pemikirannya dibakukan sebagai materi pokok sesuai ketetapan Leo XIII pada tahun 1879.

Di sini figur Thomas Aquinas menempati posisi penting dari segi historis karena pengaruhnya.

Jika tulisan sebelumnya kita menyebut bahwa Agustinus lebih mengacu pada Plato dan neoplatonisme dalam membangun kerangka filsafatnya, Aquinas lebih cenderung berkiblat pada Aristoteles. Akhirnya kejayaan filsafat Plato dalam pengaruh Agustinus bergeser pada popularitas Aristoteles di tangan Aquinas.

Dikisahkan ia memiliki pengetahuan mendalam tentang Aristoles karena membaca karya asli  Aristoteles terjemahan yang diberikan oleh sahabatnya bernama William. Setelah menyerap karya-karya filsuf Yunani tersebut, Aquinas menyimpulkan bahwa Aristoteles jauh lebih memadahi daripada Plato sebagai dasar filsafat Kristen.

Karya terpenting dari Aquinas adalah “Summa contra Gentiles (ditulis tahun 1259-1264). Buku ini ditujukan untuk membangun kebenaran teologi Kristen kepada semua orang yang belum masuk agama tersebut.

Salah satu besarnya adalah dalil tentang keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta.

Tulisan ini lebih jauh menitikberatkan pada lima argumentasi yang diajukan oleh Aquinas tentang keberadaan Tuhan.

Sebelum mengupas tentang lima dasar argument tersebut, Aquinas menyatakan bahwa memang jalan menempuh kebenaran tidak sepenuhnya bisa bergantung pada penalaran semata. Ada beberapa topik yang tidak bisa hanya bersandarkan akal semata dan harus benar-benar berlandaskan iman sebagai tolok-ukur kebenaran.

Beberapa topik yang bisa menggunakan dalil aqli misalnya adalah eksistensi Tuhan dan keabadian jiwa, sedangkan yang tidak seperti Trinitas dan Hari Kebangkitan. Keseluruhan ajaran dalam Katolik adalah benar, meski ada yang tidak bisa yang dibuktikan dengan akal dan harus melibarkan wahyu.

Sebagian berpendapat bahwa eksistensi Tuhan hanya bisa dibuktikan melalui iman adalah hal yang tidak benar. Bahkan seseorang yang ekstrem berhalauan empirisme sekalipun mampu mengetahui keberadaan Tuhan melalui ciptaan-Nya yang bisa ditangkap oleh panca indera.

Sebenarnya pengajuan argumentasi keberadaan Tuhan tidak dibutuhkan karena eksistensi Tuhan terbukti dengan sendirinya.

Cara memahami eksistensi Tuhan adalah memahami esensi (kodrat) Tuhan. Esensi tuhan dapat diketahui melalui watak dari universal. Esensi Tuhan meliputi intelek Tuhan yang memiliki segala pengetahuan terhadap makhluknya: kehidupan yang tidak mengetahui adalah tumbuh-tumbuhan, dan kehidupan yang mengetahui tapi tidak memiliki intelektual adalah hewan.

Manusia memiliki pengetahuan, namun pengetahuan manusia dengan Tuhan tentunya berbeda. Esensi Tuhan menyeluruh pada setiap makhluknya dan sekaligus pembuktian terbalik bahwa dengan jalan negasi makhluk berbeda dengan Tuhan.

Misalnya Tuhan memiliki esensi berupa Kehendak, dan akal manusia bisa saja menangkap kemauan-Nya, namun itu tidak mutlak menjadi penerjemahan dari penyebab. Esensi universal dalam alam semesta tentulah mendahului eksistensi sebelum penciptaannya.

Namun bagi Tuhan, esensi tidak mungkin terwujud kalau tidak dibarengi dengan eksistensi. Singkat kata, eksistensi dan esensi yang melekat pada Tuhan sebenarnya adalah hal yang tunggal. Tuhan adalah esensi kebaikan itu sendiri, kehendak itu sendiri, dan penguasa itu sendiri.

Dalam “Summa Theologiae”, Aquinas menyatakan ada lima argumen yang membuktikan Tuhan itu ada berdasarkan sistem pemikiran Aristoteles.

 

Thomas Aquinas
(Lukisan Thomas Aquinas. Sumber Gambar: Wikipedia)
  1. Penggerak yang Tidak Digerakkan

Sewajarnya pembaca ingat kita telah mendiskusikan teori Atom dari Leucippus dan Democtirus. Para filsuf atomis berpendapat bahwa terciptanya alam semesta adalah akibat dari atom-atom yang terus bergerak, dan gerakan tersebut mengakibatkan tubrukan antar atom dalam dimensi ruang.

Pergerakkan yang mengakibarkan benturan tersebut mengakibatkan unsur-unsur atom kadang menyatu jika terdapat kesesuian antar atom. Itulah yang menciptakan segala materi di dunia. Termasuk manusia.

Aquinas mengacu pada Aristoteles tentang penggerak pertama. Aristoteles mengatakan bahwa segala sesuatu di sekitar kita disebabkan oleh perubahan dari sesuatu yang lain. Suatu benda digerakkan oleh yang lain lain.

Sebuah siklus yang mengharuskan adanya keterputusan hingga menjangkau materi terakhir yang benar-benar awal dan menjadi dasar penggerak. Itulah sebab pertama penggerak. Jika sesuatu tidak tergerakkan oleh sesuatu yang lain, maka dia diam dan geraknya bersifat potensial, bukan aktual.

Kereta digerakkan oleh kuda, laying-layang digerakkan oleh angin. Perlu digarisbawahi bahwa makna gerakan ini meliputi segala hal yang ada di alam semesta. Aristoteles mengajak kita untuk mencari subtansi inti yang tidak bisa terpecah-pecah lagi yang menjadi sumber gerak segala sesuatu.

Aquinas beragurmen bahwa tidak mungkin ada sesuatu yang hanya potensial dan menjadi gerakan aktual sedangkan dirinya sendiri dalam keadaan diam. Logika siklus penggerak yang menggerakkan harus diputus pada adanya penggerak yang menggerakkan segala sesuatu tanpa didahului oleh penggerak sebelumnya.

Penggerak pertama atau penggerak yang tidak yang mendahului ini disebut Tuhan. Penggerak pertama ini adalah aktualitas gerak abadi.

  1. Penyebab Pertama

Argumen kedua ini erat kaitannya dengan argumen pertama dari hukum sebab-akibat akan kemustahilan regresi yang tak terhingga. Kita adalah anak dari orang tua kita, dan orang tua kita adalah anak dari nenek kita dan begitulah seterusnya. Orang tua adalah penyebab efisien dari adanya keberadaan kita. Mustahil kita melangkah ke belakang hingga tidak terhingga kecuali sampai pada titik penyebab pertama, dan itu adalah Tuhan.

  1. Sumber Tertinggi dari Keniscayaan

Segala sesuatu di dunia ini berawal dari ketiadaan yang kemudian memungkinka dirinya eksis dan pada gilirannya akan menemui ketiadaan kembali. Ada pula sesuatu yang asalnya tidak ada dan pada akhirnya berakhir tidak ada.

Dari ketiadaan menjadi ada atau diadakan, pasti ada momentum dimana segala sesuatu itu tidak ada dan mengharuskan eksistensi mutlak sesuatu yang menyebabkan segala sesuatu menjadi ada. Keharusan eksistensi sebagai sumber tertinggi dari keniscayaan itu adalah Allah.

  1. Kita Melihat Segala Kesempurnaan di Dunia, Pasti Ada Sumber Berdasarkan Esensi Tertentu yang Benar-benar Sempurna

Poin argumen ini berkaitan dengan staruktur hierarkis moral dari yang terbaik, yang terindah,  dan seterusnya. di sisi lain kita bisa mengungkapkan kata-kata seperti “kurang baik”, kurang indah” dan seterusnya. Ungkapan demikian hadir karena merupakan perbandingan dari adanya kesempurnaan yang bersifat maksimum.

Jika ada sebuah kesempuranaan dan keindahan yang bisa kita amati, pastinya ada yang benar-benar sempurna yang mengakibatkan hal lain memilikinya juga.

  1. Sesuatu yang Maha Cerdas yang Mengarahkan Segala Sesuatu ke Tujuan Tertentu

Hal ini berangkat dari pemahaman bahwa segala sesuatu di dunia telah direncanakan dan diatur sedemikian rupa. Segala sesuatu yang ada di dunia memiliki tujuannya masing-masing secara internal dalam membentuk keselarasan alam semesta. Hanya apa yang hidup yang bisa memiliki tujuan tertentu.

Seorang penembak jitu yang mengenai sasarannya adalah manusia cerdas dan membidik target dengan cermat dan bukannya kebetulan, pasti bertujuan. Pemahat yamg membuat patung dari benda mati mengarahkan ciptaannya menuju tujuan akhir yang ingin ia capai.

Demikian pula kehadiran alam semesta bukanlah bersifat kebetulan dan dirancang sedemikian rupa oleh sesuatu yang cerdas dengan tujuan-tujuan tertentu. Hanya wujud yang hidup yang memiliki tujuan internal tertentu.

Argumen di atas kemudian sekaligus diajukan ketika membicarakan perdebatan klasik “apakah Tuhan memiliki pengetahuan bersifat keseluruhan, atau parsial?”. Menurut Aquinas, tatanan dunia sangat rapi dan tidak mungkin sang Pencipta melewatkan sesuatu sekecil apapun atau sepele apa pun, sehingga pengetahuan Tuhan mencakup keseluruhan, termasuk yang partikular.

Setelah mencermati lima argument di atas, kika kita cukup akrab dengan filsafat Aristoteles, kita bisa membaca pemikiran Aquinas sekadar menafsirkan ulang dengan menyesuaikan ulang seturut ajaran Kristiani. Misalnya saja Aristoteles tidak menyebut materi pertama atau sumber gerak adalah Tuhan.

Dengan lima argument di atas: sumber penggerak, sebab pertama, sumber tertinggi dari semua keniscayaan, perbandingan asas keindahaan mutlak, dan tertib alam dengan tujuan tertentu, Aquinas merasa yakin bahwa Tuhan itu ada.

 

 

*Sumber tulisan ini disarihkan dari buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, khususnya bagian “St. Thomas Aquinas” hal. 598-612.

 

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

 

Baca juga:

Pengertian Negara Agama atau Negara Teokrasi

Socrates, Kematian dan Metode Dialektika

Empat Mazhab Filsafat di Era Hellenisme

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments