4 Hal Dasar Tentang Filsafat Stoisisme

Zeno pendiri Stoisisme

Setelah sebelumnya kita membahas Epicurus, kini kita beralih pada mazhab besar terakhir di era Hellenisme: Stoisisme.

Stoisisme memiliki sejarah yang lebih panjang dalam perkembangan filsafatnya dibanding dengan Epikurienisme yang stagnan. Seperti sudah dikemukakan di tulisan sebelumnya, terdapat ikrar bagi murid dan penganut ajaran filsafat Epikureanisme untuk tidak mengubah gagasan pendirinya, yakni Epicurus sendiri.

Berbeda dengan Epikureanisme, ajaran stoisisme semenjak awal pendirinya pada permulaan Abad ke-3 SM oleh Zeno memiliki perbedaan dalam rumusan filsafatnya dengan ajaran Marcus Aurelius di paruh terakhir abad ke-2 SM.

Corak filsafat Zeno lebih berhalauan materialisme ala Heraklitos dan sinisme hingga dalam perjalanannya mengalami penyusutan ketika Stoisisme di pegang oleh penganut Plato yang memiliki kandungan bersifat metafisik.

Berangsur-angsur ajaran stoisisme secara eksklusif menekan aspek etika sebagai pangkal filsafatnya, dan berdasarkan tinjauan teologis hanya dalam rangka menunjang ajaran etikanya tersebut.

Baik Zeno maupun pembesar stoa Romawi lainnya seperti Epictetus dan Marcus Aurelius memandang etika adalah ajaran pokok yang harus ditekankan dalam filsafat. Semua teori-teori filsafat kedudukannya ada dibawah pembahasan etika.

“Filsafat serupa kebun buah-buahan, di mana logika adalah pagar-pagarnya, fisika serupa pepohonan, dan etika adalah buahnya. Atau seperti telur dimana logika adalah cangkarnya, fisika adalah putih telur, dan etika adalah kuning telurnya”.

(Salah satu tokoh stoa generasi awal yang memiliki pandangan lebih mandiri adalah Chrysippus yang meyakini bahwa logika adalah landasan utama).

Perlu dicatat, pemahaman kaum stoa tentang etika itu tidak sebagaimana Aristoteles dimana ia menggangap bahwa moral itu bersifat universal, atau Heredetus yang menilai moral bersifat relatif tergantung konteks budaya zaman.

Kaum Stoa menilai bahwa moral atau etika itu bersifat sangat subjektif di dalam keutamaan diri seseorang. Sebentar lagi kita bahas hal ini.

Terlepas dari berbagai berbagai sejarah perjalanan pemikiran filsafat stoisisme dalam merumuskan ulang kerangka filsafatnya, ada beberapa prinsip yang menjadi patokan tentang dasar filsafat stoisisme.

Saya sudah merangkum empat pondasi penting karakter filsafat stoisisme yang disarihkan dari buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat”, khususnya pada “Bab Stoisisme”.

Apa saja empat hal dasar tentag filsafat stoisisme itu?

  1. Stoisisme adalah Mazhab Filsafat di era Hellenisme

Sewajarnya pembaca masih ingat dalam tulisan sebelumnya kita telah membahas empat Mazhab besar di era Hellenisme (Sinisme, Epikureanisme, dan stoisisme, dengan mengecualikan skeptisisme) memiliki kecenderungan yang sama: lebih menitikberatkan pembahasan bagaimana manusia bisa mencapai keselamatan diri dan kebahagiaan di tengah penderitaan hidup.

Karakter yang menjadi ciri dari filsafat berhalauan antoprosentris (berpusat kepada manusia).

Hal ini wajar karena ekspansi Aleksander dari Makedonia yang membentuk peradaban Hellenisme perlu melakukan berbagai penyesuaian diri agar bisa menjauh karakter filsafat yang hanya cocok bagi kalangan Yunani.

Kaum stoa sendiri berasal dari bangsa Syiria, dan pada generasi akhir dari Romawi.

Seperti sudah disebutkan, stoisisme dalam sejarah awal kelahirannya adalah salah satu mazhab filsafat yang menjiwai era Hellenisme, sehingga memiliki perbedaan mendasar dengan perhatian umum dari kalangan filsuf Athena seperti Aristoteles.

Stoisisme mempersempit pembahasannya dengan condong lebih emosional dan bermuatan religius yang sedang dan akan dibutuhkan oleh dunia, berbeda dari filsuf Yunani yang membahas banyak topik (dari metafisika, fisika hingga etika).

Pembahasan seperti apakah kebenaran itu bisa diperoleh dari inderawi atau dari penalaran, kaprahnya perdebatan Plato dan Aristoteles, membuat Zeno merasa muak dengan topik rumit semacam itu. Zeno tidak terlalu berurusan dengan bahasan metafisik yang sangat pelik.

Zeno pendiri Stoisisme
(Zeno pendiri Stoisisme. Sumber Gambar: Amazon)

Ia lebih mengalihkan perhatian pada bagaimana manusia mencapai keutamaan diri. Pendekatan filsafat seputar fisika dan metafisika hanyalah metode untuk mencapai keutamaan manusia itu sendiri.

  1. Socrates adalah Nabi Kaum Stoa

Sepanjang sejarah stoisisme, Socrates adalah nabi utama mazhab filsafat ini. Bagaimana kisah Socrates menjelang kematiannya; ia menolak melarikan diri, bersikap tenang, dan keyakinannya yang mantap bahwa sebuah perilaku ketidakadilan sebenarnya tidak melukai korban, tapi pelaku ketidakadilan itu sendiri.

Begitu pula dengan kesederhanaan hidup yang ditunjukkan Socrates beserta pembebasan dirinya untuk tidak terlalu mengurusi kenikmatan jasmani memiliki kesesuaian dengan ajaran stoisisme.

Tidak heran pengikut Plato pada awalnya menuduh Zeno menjiplak ajaran gurunya, namun sebenarnya tidak secara keseluruhan. Zeno hanya memalingkan perhatiannya pada bagaimana dengan benar berfilsafat sebagai cara hidup yang dicontohkan Socrates.

Ia tidak mengambil gagasan dunia ide Plato sebagai substansi dasar eksistensi dunia. Kaum stoa lebih dekat dengan pandangan Heraklitos tentang api material yang menjadi dasar proses terciptanya alam semesta.  Stoisisme juga menekankan determinasi kosmik dan kebebasan manusia sebagai salah satu prinsip filsafatnya.

  1. Determinasi Kosmik dan Kebebasan Manusia

Pembahasan seputar poin ini harusnya memerlukan porsi halaman yang lebih banyak, namun sementara kita cukupkan untuk menjelaskan pokok-pokoknya saja.

Kaum stoa berpandangan bahwa tidak ada sesuatu di dunia ini yang bersifat kebetulan, dan semuanya sudah direncakan sejak zaman azali, dan dirancang secara ketat melalui hukum-hukum alam (determinasi).

Hingga hal-hal terkecil apa pun tidak ada yang luput dari ketetapan sang Pencipta Hukum sekaligus sang Penyelenggara alam dan kehidupan manusia. Semuanya senantiasa memiliki tujutan-tujuan tertentu berdasarkan mekanisme ilmiah.

Pada gilirannya, semua determinasi alam bermuara pada maksud yang berkaitan dengan manusia. Sebagian binatang fungsinya dimakan manusia, yang lain membantu pekerjaan manusia, ada pula yang bertujuan menguji keberanian diri manusia. Bahkan nyamuk saja memiliki peran dalam kehidupan manusia. Intinya, semua hal di dunia ada hikmahnya.

Tuhan tidak terpisah dari tatanan kosmik alam semesta, dimana termasuk manusia ada di dalamnya. Dengan demikian, Tuhan tidak terpisah dengan dunia sebagai pijar api jiwa bagi alam semesta. Setiap manusia membawa sebagian Api Ilahi tersebut. Segalanya adalah satu kesatuan sistem yang terhubung dengan Tuhan. Segalanya tundak pada hukum alam.

Namun dalam konteks tertentu, kebebasan manusia harus bisa diarahkan mencapai keutamaan dengan cara seirama dengan alam. Keutamaan sama halnya dengan keselarasan dengan hukum alam. Jika dikaitkan dengan konsepsi kebaikan, keutamaan adalah kebenaran itu sendiri; keutamaan adalah satu-satunya kebaikan.

  1. Mencapai Keutamaan Diri

Oleh karena keutamaan manusia bisa dicapai dengan kehendak subjektif yang ia arahkan sesuai rumus kodrat alam, maka segala sesuatu yang baik dan buruk hanya tergantung pada penggalian diri masing-masing. Hal-hal lain tidak berguna: kekayaan, kebahagiaan, termasuk juga kesehatan.

Bagi kaum stoa, kebaikan bukan sebagai tujuan, tapi yang paling penting adalah keutamaan itu sendiri.

Seperti pendapat Kant bahwa kita tetap berbuat baik kepada tetangga bukan karena demi orang lain, tapi hukum dasar moral yang bersifat natural dalam diri manusia menghendaki hal tersebut.

Jadi, berbuat baik bukan tujuan, tapi mempertahankan keutamaan yang fitrah dalam diri manusia. Pada gilirannya kita hanya perlu mengurusi diri kita dan keutamaan kita, tanpa perlu menghiraukan apa yang ada di luar diri kita.

Keutamaan diri Anda sendiri memang tidak menjamin kebahagiaan, tapi itu apa yang harus kita capai. Caranya adalah dengan melepaskan diri dari belenggu sahwat duniawi.

Manusia bisa jadi hidup melarat atau memiliki cacat fisik, tapi toh kondisi-kondisi demikian tidak dapat menjadi penghalang bagi dirinya untuk mencapai keutamaan dalam kehendak bebasnya. Bahkan kekejaman dan ketidakadilan bagi seseorang semacam hukuman mati bagi Socrates tidak mengubah apa yang ada di dalam keutamaan diri manusia.

Segala perilaku dan persepsi apa pun dari orang lain pada dasarnya adalah hal-hal yang bersifat eksternal, dan sama sekali tidak bisa menggangu satu-satunya yang sejati bernama keutamaan yang ada dalam kendali diri individu.

Itulah makna kebebasan manusia. Kebebasan itu akan semakin penuh ketika manusia bisa membebaskan dirinya dari nafsu-nafsu duniawi. Seorang yang bijaksana akan menjadi tuan bagi nasibnya sendiri di dalam pelbagai hal yang ada di dalam penilaian pribadinya, tanpa ada apa pun di luar dirinya yang mampu memisahkannya dengan keutamaan diri.

 

 

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca juga:

Socrates, Kematian dan Metode Dialektika

Protagoras, Pemimpin Kaum Sofis

Leucippus dan Demokritos, Pelopor Filsafat Atomis

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments