3 Ciri Zaman Modernitas

Descartes Filsuf Utama Era Modern

3 Ciri Zaman Modernitas

Dari segi bahasa, modern (modernitas) terambil dari kata Latin  “moderna” yang berarti “kekinian”, atau “sekarang”. Dengan demikian, ketika mengatakan sesuatu yang berbau sekarang, secara kata sudah merujuk makna modern.

Dalam konteks sejarah, istilah modern merujuk pada perubahan besar di Eropa semenjak tahun 1500 M, yang lekat dengan arti kesadaran kekinian yang baru sebagai penanda perbedaannya dengan era sebelum kekiniaan.

Artinya, modern di sini bukan hanya merujuk pada sebuah kurun persitiwa tertentu atau makna kekinian belaka, tapi pada kualitas kesadaran baru yang memisahkannya dengan kesadaran sebelumnya.

Pertanyaan lebih lanjut kemudian, apa saja bentuk kesadaran “baru” yang menjadi ciri era modern tersebut?

Budi Hardiman (2019) melalui buku berjudul “Pemikiran Modern: Dari Machiavelli Sampai Nietzsche” menyebutkan tiga ciri kesadaran modernitas: subjektivitas, kritis, dan kemajuan. Ketiga ciri ini satu sama lain saling terkait sebagai sebab dan akibat bagi ciri modernitas itu sendiri.

  1. Subjektivitas

Subjektivitas di sini artinya manusia mulai menyadari bahwa dirinya adalah subjek pertama sebagai ukuran segala sesuatu.

Pemahaman subjektivitas ini kiranya akan lebih mudah jika kita kaitkan dengan era sebelumnya yang kerap di sebut sebagai Abad Pertengahan. Zaman itu adalah sebuah era dimana teosentris (Tuhan sebagai pangkal segala sesuatu) menjadi pondasi kokoh bagi otoritas Gereja mendisplinkan kehidupan sosial.

Manusia dipandang sekadar sebagai subjek yang harus patuh apa yang digariskan oleh wahyu atau Gereja.

Lawan dari teosentris adalah antoposentris, dimana manusia menjadi titik tolak dan pusat segala sesuatu. Pandangan ini menekankan keutamaan manusia yang dianggap rasional mengakibatkan penghormatan terhadap subjektivitas manusia sebagai makhluk yang bebas memahami realitas, tidak harus selalu tergantung dogma maupun konstruksi sosial apa pun yang membentuknya.

Jacob Burckardt, seorang sejarawan Prancis mendeskripsikan bagaimana masyarat di Abad Pertengahan mendefinisikan dirinya sebagai suatu komunitas, keluarga, partai, rakyat, komunitas keagamaan, dan sederet ikatan kolektif lainnya yang dianggap penting bagi manusia.

Pemandangan berbeda berlangsung menjelang akhir abad ke-13, dimana di Italia dan negara-negara Eropa lainnya menunjukkan manusia menjadi individu yang bebas dalam mendefinisikan dirinya.

Kata-kata Descartes yang populer berbunyi “aku berpikir, maka aku ada” mampu mendeskripsikan secara padat semangat subjekvitas manusia. Subjektivitas manusia menjadi dirinya adalah penentu sejarah.

 

  1. Kritik

Kritik tentunya menjadi implikasi dari subjektivitas ketika dihadapkan pada sebuah otoritas yang mengkerdilkan manusia. Berbekal penghargaan atas rasionalisme dalam diri manusia, kritik adalah sebuah konsekuensi upaya pembebasan manusia dari belenggu tradisi, agama, maupun bentuk otoritas lainnya.

Penjelasan di atas sesuai dengan pengertian Immanuel Kant bahwa yang dimaksud kritis adalah berpikir di luar tradisi dan otoritas.

 

  1. Kemajuan

Subjektivitas dan kritis yang berlangsung bersamaan mengandaikan adanya sebuah cita-cita bagi terwujudnya kemajuan.

Dari subjektivitas dan kritis yang mengakibatkan adanya kemajuan penting untuk ditekankan dalam rangka memahami pemahaman modernitas dari konteks pemikiran atau filsafat.

 

Modernitas Sebagai Pergeseran Epistemologis

Jika kita banyak membaca teks-teks seputar era modernitas, kebanyakan akan menggambarkan kondisi-kondisi tertentu sebagai prasyarat lahirnya era keemasan bagi suatu zaman modern. Misalnya perkembangan ilmu pengetahuan, penemuan teknologi, ekspansi ekonomi, perjumpaan kebudayaan antar negara, dan lainnya yang mendorong hadirnya era modernitas.

Budi Hardiman (2019) membalik pemahaman itu ketika dalam rangka perbincangan filsafat atau pemikiran. Adanya subjektivitas dan kritik yang menjadi bentuk kebudayaan baru masyarakat lah yang melahirkan berbagai kemajuan tersebut.

Singkatnya, pergeseran secara epistemologis (dari teosentris menjadi antroposentris) adalah akar dari lahirnya kemajuan, bukan kemajuan menjadi penyebab subjektivitas dan rasionalitas.

Ini hanya soal membalik logika mana yang menjadi penyebab dan mana yang menjadi implikasi. Kita bisa sepakat dengan penjelasan Hardiman.

Sebaliknya, jika kita berpikir dengan corak yang cenderung materalis, tentu kita sepakat proses sejarah adalah hasil pelbagai aktifitas ekspansi ekonomi yang kemudian melahirkan cara berpikir kritis. Sebab, yang namanya pemikiran lahir karena proses materialis, bukan berawal dari ide yang melahirkan realitas.

Kita tidak ingin berlama-lama untuk membicarakan hal di atas. Keseluruhan hanya soal cara pandang, namun sangat penting untuk diperhatikan.

Tiga ciri yang mendasari semangat modernitas mengantarkan sebuah bentuk filsafat yang tentunya berbeda dengan era Abad Pertengahan. Corak yang kentara adalah bagaimana para filsuf modern seperti Nietzsche dan Kant, menjadi pemberontak terhadap otoritas yang dianggap kuno. Lantaran kurang memberikan penghargaan bagi rasionalitas manusia.

Penggulingan dogma Gereja melalui pemberontak intelektual tersebut berusaha untuk menempatkan rasio sebagai gantinya menduduki singgasana wahyu.

Sebagai tindak lanjut upaya alternatif memperoleh kebenaran, maka para filsuf modern tentunya, selain merong-rong kekuasaan Gereja, juga perlu menyediakan alternatif berupa metode penggalian pengetahuan lain selain yang sudah tersedia. Akhirnya, para filsuf modern seperti Descartes menyibukkan diri dalam rangka mencari metode kebenaran lain.

Bisa jadi bukan sebuah kebetulan pemikiran Descartes memiliki kesamaan dengan pemberontakan bersifat teologis yang diusung oleh Martin Luther. Begitu juga semangat modernitas membuat Adam Smith menyibukkan diri untuk merumuskan konsep ekonomi liberal berbasiskan subjetivitas manusia yang individual pada abad ke-18.

Descartes Filsuf Utama Era Modern
(Descartes Filsuf Utama Era Modern. Sumber Gambar: Kumparan)

Pemikiran filsafat kerap kali erat kaitannya dengan situasi sosial dan politik yang melatarbelakanginya. Dengan demikian, menurut Hardiman, filsafat modern juga mencirikan sebuah bentuk pemikiran yang bercirikan modern pula dengan seperangkat gagasan dan metode yang relatif baru dalam penggalian pengetahuan dan kebenaran.

Itulah mengapa kita sering mendengar ungkapan filsafat modern atau pemikiran modern yang merujuk pada hal-hal tersebut. Sekali lagi contohnya adalah Descartes melalui metode kesangsian yang menyediakan basis bagi diskursi-diskusi filsafat di era modern. Metode Descartes kita bahasa di tulisan-tulisan selanjutnya.

 

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Baca Juga:

Filsafat Kebahagiaan Epicurus (Epikurus)

Filsafat Sinisme di Era Hellenisme, Ajaran Diogenes dan Antisthenes

Socrates, Kematian dan Metode Dialektika

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments