3 Alasan Mengapa Filsafat Islam Tidak Sekadar Menjiplak Filsafat Yunani

Filsafat Islam

3 Alasan Mengapa Filsafat Islam Tidak Sekadar Menjiplak Filsafat Yunani

Filsafat Islam merupakan sebuah kajian yang tidak terpisahkan dari khazanah Islam itu sendiri. Keseluruhan proses di dalamnya melibatkan perbincangan panjang, khususnya dalam pergulatan kebudayaan ajaran Islam, hingga akhirnya memampukan kondisi kelahiran apa yang disebut dengan filsafat Islam.

Kebanggaan sebagian pihak atas peradaban Barat yang bermula dari Yunani mengakibatkan kesimpulan yang serampangan dengan mengatakan filsafat Islam tidak lebih dari menjiplak filsafat Yunani, baik Aristoteles maupun neoplatonisme.

Pandangan demikian mudah kita jumpai dalam karya-karya penulis Barat.

Misalnya saja Bertrand Russell melalui buku fenomenalnya berjudul “Sejarah Filsafat Barat” hanya memberikan porsi yang sedikit untuk membahas filsafat Islam. Ia mengajukan pandangan bahwa pergulatan dalam filsafat Islam hanya menyalin ulang pemikiran-pemikiran dari era Yunani.

Sama halnya dengan tudingan dari Ernest Renan filsafat Islam adalah nukilan dari Aristioteles, atau menurut Pierre Durhem tidak lebih dari Neo-Platonisme.

Tidak bisa dipungkiri, Al-Kindi, Sang Filsuf Arab pemula dalam dunia Islam, mengakui hutang budinya terhadap Aristoteles dalam merumuskan ajaran teologi Islam, namun pinjam-meminjam gagasan tidak selalu sama dengan mengikuti keseluruhan gagasannya.

Tulisan ini secara garis besar ingin menampik anggapan berlebihan adanya determinasi Yunani dalam sejarah peradaban Islam. Tentu makna peradaban di sini berkaitan dengan aktifitas keilmuan.

Dengan kata lain, peradaban keilmuan di suatu bangsa tidak otomatis berpengaruh penuh terhadap peradaban yang datang belakangan. Tidak pula, peradaban yang lahir belakangan adalah hasil dari peradaban yang lebih dulu hadir. Intinya tidak deterministik!

Ada tiga argumen yang bisa kita ajukan untuk menyatakan keberatan bahwa filsafat Islam dianggap sekadar menjiplak filsafat Yunani.

Tiga argumen ini saya sarihkan dari penjelasan Khudori dalam bukunya “Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kotemporer” dan uraian senada dari Zarkasyi dalam tulisannya berjudul “Akar Kebudayaan Barat”.

 

  1. Belajar atau Berguru Tidak sama Dengan Meniru

Kita bebas menyerap pelbagai ajaran apa pun dari seseorang, namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan bagi kita dalam proses ulang pembentukan pemikiran kita sendiri.

Begitu juga dengan filsafat Islam, memang filsuf meminjam banyak perangkat pemikiran dari filsuf-filsuf terdahulu, tapi hal ini bukan berarti menjadi penentu bahwa filsuf Islam tidak mampu membentuk pemikiran filsafat Islamnya sendiri.

Santo Agustinus, tokoh terbesar Abad Pertengahan, disebutkan memiliki kecenderungan pemikiran terhadap Plato dan Plotinus, sedangkan figur utama era skolastik adalah Thomas Aquinas yang lebih mengusung pemikiran Aristoteles dalam membentuk teologi kristiani.

Keduanya adalah tokoh besar teolog Katolik yang hidup di zaman yang berbeda, dengan acuan filsuf yang berbeda untuk mencapai sebuah tujuan dan harapan yang sama: membangun kebenaran teologi bagi agama Kristen. Berguru tidak sama dengan menjiplak semata-mata. Agustinus mengeluarkan konsep “bermula dari ketiadaan” dan teori waktu yang asing bagi Yunani.

Hal serupa juga sama kalau kita menengok pemikiran Al-Farabi dan Ibn Rusyd. Keduanya mempelajari filsafat Yunani, namun bukan berarti mereka tidak memiliki bangunan filsafatnya sendiri.

Untuk memperjelas argumen ini, tulisan edisi berikutnya akan membicarakan beberapa filsuf Islam awal: Al-Kindi dan Al-Farabi.

Al-Kindi Filsafat ISlam
(Al-Kindi perintis Filsafat Islam. Sumber Gambar: Wikipedia)

 

  1. Konteks Zaman Filsafat Islam yang Berbeda dan Peradaban yang Telah Matang

Sebuah gagasan, ide, dan pemikiran apa pun tidak bisa terlepas dari konteks zaman yang turut membentuknya. Konteks budaya, tradisi, dan kondisi sosial antara Yunani dan Dunia Islam memiiki ciri khasnya masing-masing.

Menyamakan bahwa dua pemikiran yang lahir dari konteks yang berbeda dapat mengkaburkan arti penting penerjemahan dari filsafat yang sesuai dengan konteks di zamannya.

Penerjemahan dari karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab tentu adalah bagian dari upaya intelektual para cendekiawan Islam yang disamakan dengan konteks kebudayaan mereka. Demikian pula penerjemahan dari teks-teks tersebut akhirnya tidak terlepas dari khazanah Islam yang telah menancap dalam diri mereka sebagai sebuah sistem berpikir.

Membaca realitas tersebut, kita bisa lebih adil mengatakan sebuah peradaban yang mampu meminjam seperangkat sistem pemikiran adalah peradaban yang cukup mapan.

Artinya, baik Agustinus maupun Al-Farabi mestinya berada dalam kondisi dimana peradaban agamanya telah memumpuni untuk mengembangkan sistem lain yang bertujuan untuk menguatkan peradabannya.

Dengan kata lain, sebuah peradaban yang sudah maju dan memiliki corak yang berbeda sekaligus susah untuk mau mengikuti mutlak ajaran peradaban pendahulunya, tanpa mewarnai ulang atau hanya meminjam seturut dengan kepentingannya semata. Baik Kristen maupun Islam sama-sama dalam rangka membangun argumen bagi teologinya masing-masing.

 

  1. Sistem Berpikir Rasional Sudah Dikenal Islam Sebelum Perjumpaannya dengan Ajaran Yunani yang Mendorong Lahirnya Filsafat Islam

Poin ini bisa jadi adalah argumen paling penting dibanding dua argumen yang telah diajukan sebelumnya. Fakta historis Islam telah mengenal sistem berpikir logis jauh sebelum membaca karya-karya terjemahan Yunani.

Karya-karya Yunani memang telah diterjemahkan sedari Era Umayyah (661-750), terutama oleh Ja’far bin Yahya, namun karya-karya filsafat Yunani mendapatkan proses penerjemahan yang serius baru setelah Dinasti Abbasiyah berlangsung (750-1258) dengan tokoh  Al-Kindi sebagai perintis.

Jauh sebelum itu, metode menemukan hukum berdasarkan sistem berpikir tertentu (yurisprudensi hukum Islam) telah lama berkembang, misalnya Ushul Fiqh di tangan Empat Mazhab. Begitu juga sistem teologisnya telah banyak berkembang, misalnya ajaran teologi oleh Wasil bin Atho’  yang pernah menjadi doktrib resmi negara.

Artinya, sistem berpikir rasional sudah dikenal dalam masyarakat Islam sebelum kehadiran teks-teks filsafat Yunani. Tidak betul ketika mengatakan keseluruhan filsafat Islam adalah lahir karena perjumpaan dengan filsafat Yunani melalui penerjemahan karyanya tanpa melalui rekonstruksi ulang pemikiran.

 

Penulis Dian Dwi Jayanto

 

Baca juga:

Filsafat Kebahagiaan Epicurus (Epikurus)

Filsafat Skeptis di Era Hellenisme

Review Buku Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam Menurut Seyyed Hossein Nasr

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments