11 Cabang-cabang Filsafat Menurut Louis Kattsoff

Cabang-cabang Filsafat

11 Cabang-cabang Filsafat Menurut Louis Kattsoff

Penulis Dian Dwi Jayanto

Cabang-cabang filsasat adalah upaya menyusun kategori-kategori secara umum dari beragam pertanyaan-pertanyaan filsafat berdasarkan minat atau fokus utama penelitian. Pengertian ini tentu bukan definisi baku dalam buku-buku filsafat, tapi sepenangkapan saya dalam memahami apa itu cabang filsafat.

Kita harusnya akrab, misalnya, dengan Thales dan para filsuf alam lainnya mengajukan pertanyaan, “apa subtansi inti yang membentuk alam semesta?” .

(Tentang dialektika fokus Mazhab Miletos bisa baca di sini)

Socrates memiliki fokus berbeda dengan dialektikanya untuk menggali jawaban atas pertanyaan, “apa manusia itu dan bagaimana manusia mencapai kebajikan?”.

(Tentang dialektika Socrates bisa baca di sini)

Filsuf lain seperti Santo Agustinus bertanya, ”apa Tuhan itu dan bagaimana hubungan-Nya dengan manusia?”.

Di era modern, Immanuel Kant lebih menyoroti pertanyaan, “bagaimana cara kita bisa memperoleh pengetahuan yang benar?”.  Ada lagi yang bertanya, “bagaimana bentuk rezim pemerintahan yang baik?”; “apakah jiwa kita sama halnya dengan materi semata?”; dan sebagainya.

Beragam pertanyaan lain bisa dilanjutkan sendiri. Intinya, beberapa pertanyaan di atas menunjukkan kecenderungan para filsuf mencari jawaban atas pertanyaan yang sangat variatif. Nah, cabang filsafat adalah upaya menyederhanakan beragam penyelidikan para filsuf yang berbeda dalam tipologi karakteristik tertentu.

Jika ia fokus pada bagaimana memperoleh pengetahuan dan bagaimana membuktikan bahwa pengetahuan itu benar, maka masuk cabang filsafat epistemologi. Begitu juga misalnya bertanya, “kalau Tuhan itu baik, mengapa ada kejahatan di dunia ini?” adalah pertanyaan dalam cabang filsafat agama.

 

Cabang-cabang Filsafat

Beberapa ilmuwan mengajukan pengelompokkan cabang-cabang filsafat yang berbeda-beda tersebut. Ada yang mengelompokkannya dalam gugus besar.

Misalnya Harry Hamersa (dalam Bernadien, 2011) membaginya menjadi empat garis besar: filsafat tentang pengetahuan (mencakup epistemologi, logika dan kritik ilmu), filsafat tentang keseluruhan pernyataan (mencakup metafisika), filsafat tentang tindakan (mencakup estetika dan etika), filsafat sejarah (mencakup filsafat politik, filsafat agama dan lain-lain).

Ada pula yang memilahnya seperti The Liang gie (dalam Bernadien, 2011) yang mengatakan cabang-cabang filsafat menjadi tujuh: metafisika, epistemologi, metodologi, logika, etika, estetika, dan sejarah filsafat.

Intinya, keseluruhan klasifikasi cabang-cabang filsafat adalah upaya menyederhanakan cakupan cabang seperti apa yang sebenarnya menjadi fokus para peneliti atau para filsuf.

Penjelasan berikutnya kita akan membicarakan tentang cabang-cabang filsafat secara umum tersebut.

Saya mengikuti uraian yang digariskan oleh Louis Kattsoff dalam bukunya berjudul “Pengantar Filsafat”. Kattsoff lebih memilih untuk memerinci dan dalam beberapa cabang memiliki keterkaitan yang tidak terpisah dengan cabang filsafat lainnya.

Terlebih dahulu sebelum mengurai 11 cabang filsafat, Louis Kattsoff menawarkan klasifikasinya dengan meminjam model pemilahan studi modern, dimana ada pelajaran mengenai alat atau ilmu alat (tool studies), dan ada pelajaran mengenai bahan atau materi atau isi (content studies).

Contoh tool studies misalnya adalah bahasa sebagai ilmu alat, dimana pelajaran tersebut yang memungkinkan kita memperoleh pengetahuan yang beragam jenisnya. Mata pelajaran tentang content studies berisikan informasi-informasi , materi-materi dalam disiplin ilmu tertentu, misalnya fisika, kimia, dan seterusnya.

Louis Kattsoff kemudian menerapkannya pula dalam ilmu filsafat. Ia menjelaskan filsafat juga terbagi menjadi tool studies atau ilmu alat dan content studies  atau ilmu bahan.

Apa tool studies dalam filsafat?

Jawabannya adalah logika. Sederhananya, logika adalah metode berpikir secara teratur guna mencapai kesimpulan tertentu, baik deduktif maupun induktif. Di dalam logika mengandung pula ilmu alat lain yang disebut metodologi, di dalamnya membahas observasi, teori yang digunakan, sumber data, analisis data, dan seterusnya.

Logika dan juga mencakup pula metodologi adalah ilmu alat dalam filsafat yang bertugas sebagai sarana mencapai pola pikir sistematis yang menjadi karakter dari aktifitas kefilsafatan.

Dalam beberapa teks buku filsafat, ada yang memasukkan logika dan metodologi sebagai bagian dari cabang-cabang filsafat. Menurut Kattsoff, keduanya bukan cabang tapi merupakan ilmu alat. Dalam arti, ia memilah cukup ketat yang dimaksud apa yang dimaksud dengan cabang-cabang filsafat adalah bahan, isi, atau materi sebagai peminatan (content studies) dalam objek penyelidikan filsafat.

Ini cuma soal pengkategorian saja, tidak perlu diperpanjang. Hanya perlu diingat saja bahwa Kattsoff memilah logika dan metodologi sebagai tool studies, dan content studies adalah cabang-cabang filsafat.

Kattsof kemudian memerinci content studies atau cabang-cabang filsafat menjadi 11.

Berikut masing-masing cabang filsafat dan penjelasan singkatnya:

(1). Metafisika:

Bagian pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan pertanyaan mengenai hakikat ‘yang ada’ yang terdalam. Aristoteles mendefinisikan metafisika sebagai ilmu pengetahuan mengenai ‘yang ada’ sebagai yang ada, dan merupakan lawan kata dari “yang ada sebagai akibat digerakkan” atau “yang ada akibat penjumlahan”.

Andronikos selepas Aristoteles meninggal berusaha menyusun ulang pemikiran gurunya. Ia kemudian membagi metafisika sebagai “yang ada” menjadi dua:  1. Bersifat gaib 2. Bersifat fisik.

Dalam sejarahnya, pemahaman tentang yang gaib lebih dahulu daripada analisis yang fisik, akibatnya muncullah yang namanya metafisika sebagai filsafat pertama.

Cabang metafisika kemudian menelurkan dua cabang lain: ontologi dan kosmologi.

(2). Ontologi:

Istilah “ontologi” berasal dari perkataan Yunani yang berarti “yang ada”, dan mengandung sisipan kata logos. Dengan demikian, ontologi adalah salah satu cabang filsafat yang membicarakan asas-asas rasional dari yang ada. Usaha para filsuf mengemukakan pertanyaan “apakah hakikat ada itu?”, “apa sifat dasar dari kenyataan?”.

Ulasan lebih lengkap tentangontologi kita bicarakan pada tulisan berikutnya.

(3). Kosmologi:

Sama-sama mengandung kata logos seperti ontologi, kosmologi memiliki perbedaan karena lebih menggunakan asas-asas rasional untuk mengungkap “yang ada” yang berjalan secara teratur.

Contoh pertanyaannya: “apakah ada tujuan yang hendak dicapai dari keteratuan alam semesta ini sehingga seluruhnya tampak teratur dan tertib?”, “Bersifat teleologis atau tidak)?”.

Singkat kata, ontologi lebih berbicara tentang hakikat terdalam dari yang ada, dan kosmologi lebih menaruh perhatian kepada upaya memahami ketertiban dan susunannya. Misalnya ontologi yang bersifat materialisme menekankan berarti apa yang disebut ada harusnya memiliki wujud fisik. Hanya wujud fisik yang bisa menciptakan wujud fisik lainnya, bukan hal-hal immaterial.

Kemudian muncul teori evolusi yang menjelasan serentetan peristiwa yang secara tertib perubahan materi menjadi pengetahuan hingga sampai kita saat ini. Evolusi adalah contoh cabang kosmologi dalam filsafat.

(4). Epistemologi:

Epistemologi berkaitan dengan konsep ilmu (pemikiran tentang pengetahuan atau kebenaran sesuai dengan terjemahannya), khususnya tentang bagaimana suatu pengetahuan dapat membawa kita mencapai kebenaran.

Kita akan membahas tentang epsitemologi lebih jauh pada tulisan berikutnya, sementara perlu diingat bahwa espistmologi adalah cabang filsafat yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan dan kebenaran. Contoh pertanyaannya: “bagaimana kita bisa membedakan pengetahuan dan pendapat?”, “bagaimana cara kita bisa memperoleh pengetahuan?”, “bagaimana cara kita bisa mencapai kebenaran klaim berdasarkan pengetahuan yang absah?”.

(5). Biologi Kefilsafatan:

Seperti namanya, cabang filsafat ini berbicara aspek biologi. Sedari para ilmuwan menemukan berbagai bahan-bahan dan merumuskan apa yang mereka temukan, kegiatan dalam cabang filsafat ini bertindak sebagai unsur spekulatif.

(6). Psikologi Kefilsafatan:

Memang sebagaimana biologi kefilsafatan, psikologi kefilsafatan, dan nanti ada filsafat sosial, memiliki kesamaan dengan sebuah disiplin ilmu yang spesifik membahasa hal tersebut.

Pertanyannya kemudian, dimana aspek filsafati dalam cabang ini? Psikologi dibagi sebagai psikologi sebagai ilmu, dan psikologi kefilsafatan. Psikologi kefilsafatan mengajukan pertanyaan terdalam seperti “apakah yang dinamakan jiwa?”, “apakah jiwa tidak lain hanyalah kumpulan saraf, atau ada kekhasan tersendiri? Apa perbedaan pikiran dan jiwa?”

(7). Antropologi Kefilsafatan:

Antropologi kefilsafatan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang manusia. Dalam sejarah filsafat kita mengenal tradisi dari mazhab filsafat alam beralih ke filsafat klasik dengan Scorates yang mengajukan pertanyaan, “apakah hakikat terdalam dari diri manusia?”. Dengan metode dialektikanya, ia menganjurkan untuk mengenali diri sendiri sebagai pokok dalam memahami keseluruhan realitas.

(8). Sosiologi Kefilsafatan:

Cabang filsafat kemasyarakatan ini mencakup filsafat sosial dan filsafat politik. Pertanyaan yang kemudian diajukan adalah “bagaimana hakikat masyarakat dan negara?”, “bagaimana bentuk terbaik dari masyarakat dan sistem negara?”, “apakah peranan pemerintah itu absolut ataukah terbatas kekuasannya?”.

Kita sudah sering mendiskusikan tentang filsafat politik. beberapa tulisan berikut ini bisa dibaca:

Filsafat Politik John Locke Tentang Kontrak Sosial, HAM, dan Pembagian Kekuasaan

Teori Thomas Hobbes Tentang Leviathan dan Kekuasaan Negara

Pemikiran Politik Niccolo Machiavelli dalam “Il Principe”

(9). Etika:

Di dalam berbagai pilihan, kita melabeli sesuatu sebagai baik, buruk, kebajikan, kejahatan, dan sebagainya. Keseluruhan predikat tersebut mengarah pada aspek kesusilaan (etik), dimana pembahasan ini menjadi salah satu cabang filsafat yang bersangkutan dengan tanggapan-tanggapan mengenai tingkah laku yang benar dan juga penggunaan sebutan-sebutan itu.

Contoh pertanyannya adalah, “apakah yang menyebabkan suatu perbuatan baik dianggap baik, dan begitu juga suatu keburukan dianggap buruk?”, “bagaimana kita menentukan pilihan di antara yang baik-baik?”

(10). Estetika:

Singkatnya, estetika adalah “cabang filsafat yang membicarakan definisi, susunan dan peranan keindahan, khususnya di dalam seni, dinamakan estetika” (Kattsoff, 2004: 79). Jika etika berbicara tentang kebenaran dan keburukan, epistemologi berbicara benar dan salah, ada lagi satu aspek penting dalam menilai sesuatu, yakni keindahan (indah atau tidak).

Terkadang sesuatu yang benar sekaligus baik tidak selalu indah. Beberapa pertanyaan dalam cabang filsafat ini kemudian: “apakah yang dinamakan keindahan?”, “bagaimana kaitan kebaikan dan keindahan?”, “apa fungsi  keindahan bagi hidup kita?”, “apa itu seni?”

(11). Filsafat Agama:

Ini merupakan cabang filsafat yang mengakibatkan polemik dan perdebatan panjang. Apalagi dalam kurun waktu yang cukup panjang, filsafat menjadi abdi bagi pondasi teologi semata (era Abad Pertengahan).

Menurut Kattsoff, penyelidikan cabang filsafat agama lebih mengarah pada pertanyaan, “apa agama itu? “apakah bukti keberadaan Tuhan?” “Apakah beragam bukti keberadaan tuhan telah absah secara logika?.

 

Daftar Rujukan

Kattsoff, Louis. 2004. Pengantar Filsafat: Buku Pegangan untuk Mengenal Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Bernadien, Win Ushuluddin. 2011. Membuka Gerbang Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

 

Baca beberapa tulisan berikut sebagai contoh cabang filsafat agama:

3 Hal Dasar Tentang Filsafat dan Teologi Santo Agustinus

5 Argumen Tuhan Itu Ada Menurut Thomas Aquinas

Pengertian Negara Agama atau Negara Teokrasi

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments