Tiga Pendekatan Utama dalam Kajian Politik Keamanan

(Ilustrasi Politik Keamanan/Sumber Gambar: Merdeka.com)

Berakhirnya perang dingin mengakibatkan terjadinya pergeseran atau lebih tepatnya perluasan dari wilayah studi kajian politik keamanan (Buzan, 1997; Ullman, 2007). Pada masa-masa sebelumnya, fokus dari diskusi terkait politik keamanan hanya terbatas pada keamanan dari segi militer, yakni dimana pemerintah menyediakan keamanan nasional dalam wilayah teritori yurisdiksi negara dengan kekuatan militer dari ancaman dan serangan militer negara lain.

Pendekatan ini lebih umum disebut sebagai pendekatan tradisional (traditionalist) atau realist. Pada periode berikutnya, dorongan untuk memperluas kajian keamanan nasional non-militer semakin menguat. Sebagaimana saran Ullman (2007) yang mengatakan perluasan dari pemahaman tentang makna keamanan nasional perlu digalakkan karena dua hal mendasar.

Pertama, fokus berlebih hanya pada keamanan dalam sektor militer akan membuat keamanan nasional di sektor lain menjadi terabaikan. Kedua, ketika setiap negara senantiasa mendefinisikan makna keamanan berarti hanya urusan militer, hal ini sama saja akan meningkatkan rasa ketidakamanan dan rasa saling mengancam antar negara. Hubungan internasional yang kerap terjalin akan dipertimbangkan dari segi kekuatan militer masing-masing negara yang berarti sama saja sebagai suatu ancaman dan paksaan bagi negara lain.

Selanjutnya, Ullman lebih memahami makna keamanan sendiri sebagai suatu kondisi dimana tidak adanya ancaman sebagai lawan dari rasa aman. Ancaman yang dimaksud adalah suatu kejadian yang dapat menghilangkan atau mengurangi kualitas hidup warga negara, mulai dari paling ektrem seperti penghilangan nyawa hingga tidak tersedinya cadangan makanan karena kelangkaan sumber daya alam.

Ullman memberikan contoh-contoh berbagai persoalan keamanan yang perlu untuk dipertimbangkan seperti bencana alam, krisis sumber daya, dan lain-lain.Senada dengan Ullman, Buzan (1997) juga menyatakan telah muncul beberapa pendekatan tandingan dalam studi keamanan nasional untuk menantang studi keamanan klasik pasca Perang Dingin.

 

Tiga Pendekatan

Melalui tulisannya berjudul “Rethinking Security after  the Cold War”, Buzan (1997) menjelaskan paling tidak terdapat tiga pendekatan utama dalam studi politik keamanan pasca perang dingin, yakni traditionalist, widening, dan security study.

Ketika perang sudah mulai tidak semasif dan senampak era sebelumnya, telah berkembang dua isu keamanan yang menjadi perbincangan hangat, yaitu isu lingkungan dan ekonomi. Dua isu kemudian membuat sebagain pengambil kebijakan dan para ilmuwan kajian keamanan untuk mengembangkan kajian di luar paradigma traditionalist.

Isu seperti ancaman kelangsungan hidup karena pertumbuhan populasi meningkat yang tidak diimbangi oleh ketersediaan makanan yang memadahi mengemuka begitu kuat. Selain itu, dalam konteks negara Amerika, pertumbuhan ekonomi pasca perang bergerak cukup lambat dibanding negara-negara semacam Jepang yang habis dihancurkan Amerika ketika perang dunia.

Persoalan-persoalan demikian mendorong banyak pihak untuk mulai berpikir suatu kerangka keamanan yang mulai beranjak dari paradigma klasik. Pendekatan yang menekankan adanya perluasan cakupan isu keamanan non-militer ini kemudian disebut sebagai widening.

Sedangkan security study adalah pendekatan keamanan yang dikembangkan oleh Copenhagen School. Pendekatan ini melampaui perdebatan yang ada di dua pendekatan sebelumnya, baik yang melihat isu keamanan yang terfokus pada isu militer (traditionalist) atau perluasan keamanan di sektor-sektor lain (widening).

Ia tidak menitikberatkan pada apa saja objek keamanan itu seharusnya, namun lebih melihat bahwa mengeksplorasi logika dari proses penentuan keamanan itu sendiri. Ringkasnya, pendekatan ini lebih menekankan kerangka pembentukan wacana tentang “keamanan”. Pada dasarnya, sesuatu yang kemudian dianggap sebagai isu keamanan sebenarnya tidak lebih dari suatu “politisasi”.

Teknisnya, suatu isu akan menjadi isu keamanan ketika pejabat publik, tokoh masyarakat, para intelektual sudah mulai memperbincangkan hal tersebut. Kata kuncinya adalah securitization = politicization or institutionalized.

Teori ini bekerja dengan runtutan seperti ini: suatu isu pada awalnya non-politicized, artinya negara tidak menjadikan isu tertentu tersebut sebagai kebijakan atau perbincangan di kalangan pemerintah. Namun, karena banyak mendapatkan perhatian publik akhirnya isu tersebut menjadi politicized, dimana pemerintah menjadikan isu itu sebagai isu publik dan membutuhkan kesepakatan pemerintah untuk menjadi suatu kebijakan.

Selanjutnya isu tersebut menjadi isu keamanan, artinya pada tahapan dimana telah berhasil menjadi agenda untuk masuk kategori ancaman yang eksistensial sehingga membutuhkan langkah-langkah prosedural dan formal dari sistem politik untuk menjustifikasi isu tersebut.

Ada istilah lagi yang perlu disebut dari runtutan pendekatan ini yaitu desecuritization, dimana suatu isu yang telah diangkat tidak berhasil menjadi isu keamanan. Suatu proses yang membuat suatu isu menjadi masalah bersama kemudian perlu dipertimbangkan untuk direspon bersama karena telah disepakati bahwa isu ini adalah suatu ancaman disebut sebagai teori Speech-act (Buzan, 1997).

Sedangkan menurut Waever (dalam Malik, 2015) suatu isu adalah hasil dari kekuatan bahasa atau perkataan yang membuat isu tersebut menjadi ancaman yang serius. Dua tahapan yang penting dalam membentuk Speech-act adalah, pertama, adanya deklarasi dari elit yang menyatakan bahwa isu-isu tertentu adalah isu keamanan. Kedua, adanya penerimaan atau persetujuan dari publik bahwa memang isu itu benar-benar isu keamanan yang mendesak.

Ringkasnya, pendekatan security study menekankan makna dari keamanan berdasarkan pada proses kontruksi sosial yang berjalan. Jika suatu isu tersebut mendapatkan keabsahan dan legitimasi, maka suatu isu bisa menjadi isu keamanan sebagai bagian dari konstruktifisme sosial.

Daftar Referensi

Buzan, Barry. 1997. “Rethinking Security after the Cold War”. Cooperation and Conflict. Vol. 32 (5): 5-28.

Malik, Shahin. 2015. Constructing Security. Editor: Peter Hough dkk. “International Security Studies: Theory and Practice”. Oxon & New York: Routledge.

Ullman, Richard H. 2007. Redefining Security. Editor:Barry Buzan & Lene Hansen. International Secutiry Volume 1. London, New Delhi & Singapore: SAGE Publications.

 

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca Juga:

Memahami Perang Cyber dalam Konteks Kajian Keamanan

Pengertian Legitimasi dalam Kajian Politik