Tiga Pendekatan Utama dalam Ilmu Politik

Kaprahnya suatu disiplin keilmuan yang spesifik, ilmu politik juga memiliki seperangkat pendekatan (approach) dalam perkembangan keilmuannya. Beberapa pendekatan yang terdapat di dalam ilmu politik memiliki penawaran berbeda dalam hal bagaimana kita memberikan penjelasan terbaik terhadap suatu fenomena tertentu dalam melakukan penelitian.

Memahami masing-masing pendekatan ini penting guna bisa memahami darimana suatu penelitian berpijak, serta membedakan satu pendekatan dengan pendekatan yang lain meski masih dalam satu rumpun ilmu yang sama.

Ketika melihat fenomena politik tertentu, misalnya fenomena relawan politik menjelang Pemilu, kita bisa memiliki beragam penafsiran tergantung darimana kita melihatnya. Jika menggunakan kerangka ekonomi politik yang kuantitatif, kita akan cenderung melihat bagaimana faktor ekonomi sebagai tolok ukur sebagai determinasi bekerjanya dunia politik: siapa yang mendanai, berapa anggarannya, kemana saja uang dibelanjakan dan seterusnya.

Namun, ketika coba melihatnya dari sudut pandang konstruktivisme, kita bisa lebih membaca penghayatan dari para anggota relawan politik mengapa mereka melakukan itu? Nilai apa yang mereka hayati? Bagaimana daily activity relawan sehingga memunculkan semangat untuk menjadi bagian dari relawan dan seterusnya.

Pada intinya, suatu peristiwa atau fenomena tertentu bisa jadi sama, namun pendekatan (approach) apa yang kita gunakan akan mempengaruhi bagaimana kita melihat sesuatu itu. Dalam ilmu metodologi, realitas politik itu sendiri masuk kategori ontologi, sedangkan metode atau cara kita untuk melihat realitas itu adalah epistemologis. Maka, sekedar untuk menyederhanakan, pendekatan lekat kaitannya dengan persoalan epistemologis dan metodelogi sebagai turunannya.

Apa saja pendekatan dalam ilmu politik? Paling tidak terdapat tiga pendekatan utama yang berlaku dalam kajian ilmu politik, yakni tradisional, behavioral, dan post-behavioral. Masing-masing pendekatan memiliki tawaran terbaik dalam melakukan penelitian, analisis, dan bagaimana memberikan penjelasan terhadap kehidupan politik (Dryzek & Leonard, 1988, dalam Grigsby, 2011) sebagaimana yang sudah dijelaskan.

Pada intinya, suatu peristiwa atau fenomena tertentu bisa jadi sama, namun pendekatan (approach) apa yang kita gunakan akan mempengaruhi bagaimana kita melihat sesuatu itu.

Ada tiga catatan penting sebelum memaparkan secara singkat pengertian masing-masing pendekatan sebagaimana dijabarkan oleh Grigsby dalam tulisannya berjudul “History of discipline” yang termuat dalam buku “21st Political Science”.

Pertama, masing-masing pendekatan merupakan kategorisasi yang luas. Di dalam masing-masing pendekatan masih terdapat banyak cabang-cabang lain yang, sangat kaprah, setiap ilmuwan penganut disiplin pendekatan yang sama berbeda pendapat. Semisal James Bryce yang berpendapat bahwa ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari aktifitas politik manusia yang teratur dan terjadi berulang-ulang untuk menjadi pola yang terbentuk.

Di sisi lain, Woodrow Wilson justru berpendapat sebaliknya, ia menyangkal perilaku politik seseorang bisa senantiasa ajeg. Maka, yang perlu dicari adalah aktifitas yang unik dari politik. Meski keduanya berbeda pandangan, namun keduanya tetap satu kelompok dari ilmuwan penganut pendekatan tradisional.

Kedua, faktor kurun waktu kesejarahan menjadi penentu penting atas kemunculan masing-masing pendekatan tersebut. Tradisionalisme, behavioralisme, dan post-behavioralisme terikat kuat dengan dinamika perkembangan para ilmuwan politik di Amerika Serikat.

Tradisionalisme lekat dengan para ilmuwan awal sejak ilmu ini lahir dan tumbuh menjadi disiplin khusus pada abad 19 dan awal abad 20. Behaviorlalisme setelah pasca perang dunia dua, lebih khusus lagi pada tahun 1920an paradigma ini muncul. Sedangkan post-behavioralisme mulai muncul sekitar tahun 1960-an.

Ketiga, selain ditandai dengan kurun waktu tertentu, kemunculan pendekatan satu dengan yang lebih dulu muncul bersifat kritik atas pendahulunya. Misalnya behavioralisme yang mengkritik tradisionalis dan post-behavioralis merupakan respon terhadap post-behavioralist.

Seperti yang cukup populer, kritik behavioralisme dilayangkan terhadap pendekatan tradisionalis yang dianggap tidak ilmiah. Dengan asumsi bahwa realitas politik harus bisa ditangkap dengan fakta yang bisa diamati (misalnya melalui studi perilaku memilih seseorang dalam Pemilu), bukan melulu pengamatan sejarah yang lumrah dilakukan oleh tradisionalis.

Sama halnya dengan post-behavioralist yang mengkritik behavioralis. Mereka berpendapat, yang terpenting bukan soal saintifiknya, tapi bagaimana penelitian ilmu politik bisa berguna menjawab pertanyaan atau persoalan yang sedang muncul, terutama dalam konteks itu adalah perpolitikan Amerika.

Berikutnya akan dipaparkan secara singkat asumsi utama masing-masing pendekatan.

Tradisionalis adalah “approach defined by its focus on the study of political institutions, law, or a combination of these”, pendekatan yang didefiniskan dengan fokus kajian terhadap institusi atau lembaga politik, hukum, atau kombinasi dari keduanya (Grigsby, 2011: 4). Untuk membantu proses bekerjanya penelitian politik dalam pendekatan tradisionalis, maka sering memadukan analisis sejarah dan hukum.

Ringkasnya, pendekatan tradisionalis sebagai pendekatan tertua dalam kajian ilmu politik yang dekat dengan analisis kelembagaan misalnya tentang cabang trias politika eksekutif, legislatif, dan yidikatif beserta relasi antar ketiganya.

Sedangkan behavioral memiliki fokus “on political actors and
their behavior (or attitudes and opinions), value-free science, and the study of operationalizable questions through hypothesis formulation and empirical, quantitative research”
(Ricci, 1984 dalam Grigsby, 2011: 6). Berbeda dengan tradisionalis yang menitikberatkan pada analisis kelembagaan, behavioralis lebih menekankan pada aspek perilaku politik. Salah satu metode yang lazim dikenal dalam  pendekatan ini adalah survei perilaku memilih. Pendekatan ini membakukan dirinya sebagai pendekatan paling ilmiah dalam kajian politik.

Sedangkan post-behavioral memiliki asumsi dasar diantaranya (a) that political science research should be meaningful, that is, that it should address urgent political problems; (b) science and values are inextricably connected (Grigsby, 2011: 8). Pendekatan ini secara tegas mengecam pendekatan behavioralis yang terlalu mendewakan kebutuhan atas standar politik sebagai kajian ilmiah yang malah membuat peneliti menjadi “buta” terhadap realitas politik secara mendalam.

Mereka juga tidak meyakini, sebagaimana pandangan behavioral, bahwa ilmu politik harus bebas nilai. Padahal, bebas nilai itu tidak mungkin terwujud dan tugas ilmuwan adalah mencari jalan keluar atau paling tidak penjelasan yang dibutuhkan atas kondisi penting yang sedang terjadi.

Meskipun pada perkembangan selanjutnya kita akan mengenal pelbagai pendekatan dalam ilmu politik, namun tiga pendekatan ini merupakan pendekatan yang paling lazim dipahami dalam studi ilmu politik.

 

Rujukan

Grisby, Ellen. 2011. “History of The Discipline”. Dalam Ishiyama, J.T. & Breuning M. 21st Political Science: A Reference Handbook. Los Angels, London, New Delhi: Sage Publications.

Penulis: Redaksi Kajian Politik Pojok Wacana

 

Baca tulisan dalam Rubrik Kajian Politik lainnya:

Pengertian Ilmu Politik dan Apa Saja yang Dipelajari

Tiga Pendekatan Utama dalam Kajian Politik Keamanan

Pengertian Legitimasi dalam Kajian Politik