Teori Perbandingan Politik di Era Globalisasi

Robert H. Bates melalui tulisannya berjudul “The Future in Comparative Politics” (1998) berbicara tantangan yang sedang dihadapi maupun yang akan dihadapi oleh studi perbandingan politik (study of comparative politics) dan perkembangannya di abad ini. Para pemerhati kajian perbandingan politik banyak yang takut akan pengaruh globalisasi yang nantinya dapat merubah keanekaragaman yang ada di dalam study comparative politics itu sendiri.

Dalam perkembangannya, politik di era globalisasi lebih banyak mengacu pada demokrasi dan ekonomi pasar, terutama setelah runtuhnya dominasi komunisme. Demokrasi kelihatanya sudah dapat menguasai dunia dengan ciri khas lembaga eksekutif dipilih langsung melalui pemungutan suara dan harus berbagi kekuasaan dengan lembaga perwakilan. Di sisi lain, partai politik pun harus bersaing untuk mendapatkan kekuasaan dengan cara berkampanye untuk mendapatkan mayoritas suara dalam pemungutan suara.

Sejak jatuhnya komunisme, perencanaan pusat telah memberikan cara untuk ekonomi pasar. Politik ekonomi di seluruh dunia telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, sebagai dampak dari globalisasi. Orang-orang pemerhati comparative politics yang dimotivasi oleh bentrokan global ideologi, perdebatan antara radikal dan konservatif, Marxis dan liberal merasa terancam atas bidang kajian semacam itu. Runtuhnya polaritas ini telah mengalami disorientasi bagi kajian perbandingan politik.

Sekarang praktik politik di suatu daerah mirip dengan di tempat lain dan menjadi suatu kebutuhan. Di sisi lain, teknologi yang telah disempurnakan untuk penelitian ke dalam demokrasi industri maju dapat diterapkan dimana-mana.

Sifat-sifat tantangan yang dihadapi, homogenisasi jelas, hilangnya variasi, dan hilangnya keuntungan ilmiah. Dari ketigas sifat itu nantinya dijelaskan bagaimana cara meresponnya. Comparative politics yang khas sebagai bagian penting dalam ilmu politik. Hal ini didefinisikan dalam hal metodenya. Salah satu celah untuk masuknya kajian perbandingan politik di tengah homogenititas di satu sisi, dan perkembangan teknologi informasi di sisi lain, menjadikan sisi positif dari segi pengembangan metode dalam kajian perbandingan politik.

Menyadari bahwa metodologi terletak dekat dengan inti fokus ilmu politik mendorong para pemerhati comparative politics untuk kembali mendefinisikan kembali tantangan. Ini bisa jadi bukan sebagai ancaman, sebagaimana disinggung sebelumnya, namun sebagai kesempatan. Sejauh globalisasi mempromosikan homogenisasi mungkin sebenarnya meningkatkan prospek untuk penelitian perbandingan.

Untuk negara-negara berkembang, banyak dari data ekonomi sekarang yang digunakan sebagai acuan. Dengan mengumpulkan langkah-langkah politik yang bersangkutan, karena itu untuk mengeksplorasi dinamika sistem politik, dengan cara ilustrasi, mempertimbangkan argumen berdasarkan dampak institusi pada pertumbuhan dan perkembangan. Unsur dinamis adalah pembentukan modal, dan masalah strategi adalah konsistensi waktu. Dimana periode dengan optimasi periode menghasilkan perbedaan antara preferensi.

Para penganut pemikir institusionalis baru berpendapat bahwa meminjam, bersikap rasional, kemudian mencari cara untuk membatasi dirinya sendiri dan untuk melakukannya secara jelas dan kredibel, sehingga pemberi pinjaman akan menyadari bahwa peminjam akan menepati janjinya. Argumen tersebut telah digunakan untuk menjelaskan kapasitas “negara lemah” untuk mendapatkan akses yang lebih besar untuk modal, dan pada tingkat yang lebih rendah dari pada “absolute”.

Mereka juga telah digunakan untuk memperhitungkan preferensi pemerintah untuk meminjam dari konsorsium yang terorganisir secara politik ketimbang dari pasar modal yang kompetitif.

Infrastruktur dan kontrol variabel, seperti pilihan kebijakan oleh pemerintah model ini untuk amplifikasi politik. Jika pilihan kebijakan dan pengeluaran pemerintah pada sekolah dan infrastruktur dapat diberikan endogen, dan jika stok modal swasta menyesuaikan dengan tingkat risiko politik, maka ada potensi untuk teori politik pertumbuhan ekonomi.

Dan yang lebih penting, terdapat potensi untuk mengembangkan dan menguji teori semacam itu di laboratorium, seolah-olah dari set data cross nasional. Penelitian pertumbuhan yang menghidupkan kembali sebagian besar oleh akumulasi sistematis dari data ekonomi dalam periode pasca-perang. Kemungkinan menganalisa dampak dari hubungan-hubungan produksi pada kekuatan-kekuatan produksi, atau lembaga-lembaga politik terhadap kinerja ekonomi, menggarisbawahi sekali lagi pentingnya melengkapi data-data ekonomi dengan langkah-langkah politik secara teoritis yang relevan.

Upaya ini dapat membantu untuk membebaskan studi pembangunan dari perbudakan dalam politik perbandingan, memungkinkan pemerhati comparative politics untuk fokus pada aspek-aspek dinamis politik dan signifikansi politik waktu.

Sejauh ini Robert H. Bates berpendapat bahwa politik komparatif adalah bidang yang didasarkan pada metode bahwa homogenisasi dianggap politik, secara global, dan adanya koleksi data skala besar. Dalam perbandingan politik didefinisikan dengan metode, Robert H berpendapat, itu berdiri sebagai bidang yang berbeda dalam ilmu politik. Tapi Robert H. juga berpendapat bahwa metode busur tidak berakhir dalam diri mereka.

Oleh karena itu saatnya untuk beralih ke isu-isu substantif: fenomena di mana pemerhati comparative politics mencari wawasan atau yang kami mencari penjelasan. Dengan demikian, pemerhati comparative politics terbaik dapat dimulai dengan kembali ke tema globalisasi. Hampir semua ekonomi politik telah dimasukkan ke dalam ekonomi global dan sebagian besar menjadi semakin jadi.

Hasilnya adalah peningkatan besar dalam potensi untuk menjelajahi istilah beragam penggabungan, misalnya, berbagai tema di mana petani tunduk pada kekuatan dari pasar internasional atau pekerja atau orang lain. Sudah ada literatur kualitatif besar pada tema ini, tapi yang jelas, dengan penyebaran keterbukaan, sekarang saatnya untuk mulai sistematis untuk menilai dan mengevaluasi wawasan yang diperoleh dari eksplorasi tersebut.

Respon

Dari hasil pembacaan tulisan H. Bates ini, kita mendapat sebuah pemahaman bahwa perkembangan dan tantangan yang akan dihadapi study comparative politics pada era globalisasi ini sangat komplek. Tetapi, hal itu bisa dijadikan sebuah tantangan ataupun sebuah kesempatan yang nantinya dapat mempengaruhi perkembangan study comparative politics di era-era yang akan datang.

Di era globalisasi ini, study comparative harus bisa memadukan atau memahami sebuah gejolak transisi dari dominasi faham komunis ke faham demokrasi yang sekarang hampir menguasai seluruh dunia. Ini menjadikan kosentrasi dari study comparative bukan hanya membandingkan antara negara atau lembaga, tetapi lebih pada semua hal yang berhubungan dengan politik itu sendiri.

Dalam study comparative politics era sekarang juga membahas tentang hubungan antara ekonomi dan politik. Dalam hubungan ini menimbulkan suatu gejolak dalam comparative politics bahwa ekonomi dan politik adalah suatu fokus ilmu yang berbeda, tetapi memiliki hubungan yang kuat antara fokus ilmu itu. Apalagi dalam ekonomi politik dapat mempengaruhi pemerintahan dalam membuat kebijakan atau membuat suatu keputusan yang nantinya dapat berdampak  pada  masyarakat atau berdampak pada sebuah negara.

Ilmu politik juga tidak bisa terlepas dari pengaruh ilmu-ilmu lainnya seperti pengaruh dari ilmu ekonomi. Apalagi ekonomi bisa dikatakan sebagai salah satu indikator untuk kemajuan sebuah negara. Webster’s third new international dictionary mendefinisikan ekonomi politik sebagai sebuah “ilmu sosial yang berurusan dengan saling keterkaitan proses-proses politik dan ekonomi”.

Para ekonom biasanya menekankan pencabangan ekonomi dari ekonomi politik. Mandel menyebut ekonomi politik terjadi sejak “perkembangan masyarakat didasarkan pada produksi komoditas kecil” (dalam Chilcote, 2010: 540). Dari penjelasan tersebut kita dapat mengerti bahwa ilmu politik dan ekonomi saling berkaitan. Ilmu ekonomi menjadi sebuah tantangan maupun perkembangan dalam study comparative politics.

Kamus webster mengidentifikasi ekonomi politik diabad kedelapan belas sebagai sebuah bidang pemerintah yang terlibat dengan pengarahan kebijakan-kebijakan menuju perbaikan pemerintah dan kesejahteraan komunitas. Kamus ini menambahkan bahwa di abad kesembilan belas, ekonomi politik adalah sebuah ilmu sosial yang berhubungan dengan ekonomi, utamanya berkaitan dengan pemerintahan ketimbang ekonomi-ekonomi komersial atau pribadi (Ibid: 541).

Dari pendapat kamus Webster ini menunjukan bahwa pengaruh ekonomi politik juga mempengaruhi sebuah bentuk pemerintahan  atau bisa dikatakan mempengaruhi suatu kebijakan dalam suatu pemerintahan yang nantinya berdampak pada masyarakat, kejadian-kejadian ini menimbulkan suatu gejolak perbedaan pandangan dari pemerhati comparative politics tentang pengaruh ekonomi politik terhadap study comparative politics.

Inilah salah satu fokus atau tantangan yang akan dihadapi comparative politics diera globalisasi apalagi dengan adanya sebuah kebijakan-kebijakan ekonomi seperti AEC (Asean Economics Community), yang ini nantinya dapat mempengaruhi suatu kebijakan-kebijakan di negara asean dan sekelilingnya.

Tentunya sebuah iklim politik dalam suatu negara mau tidak mau akan berbuah sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah. Dari sinilah fokus study comparative politics akan menjadi suatu fokus ilmu yang harus bisa menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dan menyesuaikan kondisi politik di masa sekarang dan masa-masa yang akan datang.

 

Daftar Rujukan

Bates, Robert  H. 1998. “The Future in Comparative Politics“. dalam Journal of Chinese Political Science. September, 1998. hal 1-15.

Chilcote, Ronald. 2010.  Teori Perbandingan Politik. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

 

Penulis: Anang Fakrul U.

 

Baca juga:

Pengertian Ilmu Politik dan Apa Saja yang Dipelajari

Tiga Pendekatan Utama dalam Kajian Politik Keamanan

Fenomena Politik Identitas Abad 21 dan Gagasan Liberal Fukuyama