Tentang Post-truth dalam Film Spider-Man: Far From Home

Belakangan ini saya sedang giat-giatnya mengumpulkan pelbagai literatur tentang kajian post-truth guna kebutuhan tugas kuliah. Di blog yang sama ini juga saya pernah menulis beberapa tulisan tentang post-truth, seperti dalam artikel yang berjudul Post-truth adalah Omong Kosong yang Menaklukan Dunia” dan “Bagaimana Menilai Kebenaran di Era Pasca Kebenaran”.

Ketertarikan saya tentang fenomena post-truth secara lebih spesifik berkaitan dengan perilaku memilih, bagaimana seseorang memutuskan pilihan politik di tengah maraknya gelombang strategi politik abad pertengahan (post-truth) yang melumpuhkan pola pilihan rasional dalam politik.

Saya pernah mendiskusikan topik ini dengan seorang teman yang bekerja di salah lembaga konsultan politik. Ia merekomendasikan saya untuk melihat film “Spider-Man: Far From Home”. Ia mengatakan bahwa dengan menonton film racikan Marvel dan Sony tersebut akan memberikan gambaran bagaimana sebenarnya post-truth itu bekerja.

Akhirnya kemarin saya memiliki kesempatan untuk menyaksikan film ini. Tulisan ini menjadi semacam refleksi kecil saja setelah menyaksikan film tersebut.

Spider-Man Far From Home dan Masyarakat Post-truth

Sebenarnya saya juga seorang Marvelian (penggemar film-film Marvel), namun semenjak “End Game”, saya menduga tingkat keseruan serial film Marvel ini sudah mulai surut. Kekalahan Thanos bagi saya adalah klimaksnya klimaks serial Avenger di Marvel Universe. Apalagi beberapa tokoh utama Avenger seperti Iron Man/Tony Stark, Captain America/Roger, dan Black Widow/Natasha meninggal. Sehingga, saya kurang terlalu minat melihat aksi bocah remaja yang menjadi superhero.

Dugaan saya ada benarnya, dari segi aksi pertarungan, ada penurunan tingkat keseruan jika dibandingkan dengan film-film Avenger lainnya. Mungkin ada benarnya hal ini bertujuan untuk meredam emosi penonton yang sudah diaduk-aduk sedemikian rupa semenjak “Infinity War” hingga akhir dari film “End Game”.

“Spider-Man: Far From Home” mengambil setting waktu beberapa bulan pasca kejadian blip atau decimation oleh Thanos. Semenjak “End Game” berakhir, kehidupan dunia sudah berasngsur-angsur membaik. Namun rasa trauma dan kehilangan masih menggema di seantero dunia atas kepergian para Avenger, terutama Tony Stark. Perasaan tersebut juga masih begitu terasa bagi Peter Parker atau Spider-Man (diperankan oleh Tom Holland).

Di sisi lain, layaknya remaja berusia 16 tahun, Parker mengalami masa-masa labil penuh dengan pergulatan batin, terutama ia ingin mengungkapkan perasannya ketika liburan sekolah ke Eropa terhadap MJ (Michelle Jones yang diperankan Zendaya), wanita yang sudah sejak lama ia taksir.

Secara garis besar, film ini menceritakan kegundahan batin seorang remaja bernama Peter Parker yang ingin menjalani kehidupan normal sebagai ABG pada umumnya. Tidak mau lagi menjadi bagian dari Avenger yang memiliki tanggung jawab menyelamatkan dunia. Bahkan ia meninggalkan kostum Spider-Man ketika berangkat liburan sekolah.

Namun, ketika berada di Italia itulah serentetan aksi serangan heroik yang memaksa kembali Parker untuk menjadi Spider-Man kembali. Di sanalah ia bertemu dengan Quentin Beck atau yang dijuluki sebagai Mysterio (diperankan oleh Jake Gyllenhaal) serta Nick Furry (Samuel L. Jackson) dan krunya.

Dalam beberapa kali kesempatan, Spider-Man dan Mysterio bekerjasama untuk mengalahkan Elemental. Ternyata, Mysterio memiliki agenda terselubung dalam kerjasama tersebut. Setelah Parker memberikan kaca mata super bernama “Edit” yang merupakan warisan dari Tony Stark kepada Mysterio, di situlah bagian dari film itu yang menunjukkan siapa sebenarnya Mysterio.

Mysterio adalah mantan anak buah Tony Stark yang kemudian dipecat. Ia mengumpulkan orang-orang yang memiliki kesamaan dendam terhadap Tony Stark dan Avenger secara umum. Ia menyimpan murka dan sakit hati karena Avenger begitu dipuja oleh penduduk dunia. Ambisinya adalah mendapat pengakuan sebagai pahlawan dunia, dan Avenger dilupakan.

Hal yang manusiawi. Suatu kerusakan besar, baik sudah terjadi atau akan terjadi, mengakibatkan seseorang memiliki ketergantungan terhadap munculnya sosok superhero untuk menjamin keselamatan mereka, dan mengeluarkan mereka dari situsi yang tidak menyenangkan. Apalagi berkaitan dengan keselamatan jiwa. Meskipun sedari awal bisa jadi kita paham bahwa pemicu dari ilusi ketakutan dan kehancuran itu adalah calon superhero itu sendiri.

Untuk melancarkan niatnya tersebut, dia menggunakan drone untuk memanipulasi ilusi yang memunculkan monster yang disebut sebagai Elemental. Kekacauan terjadi dimana-mana akibat Elemental dan Mysterio tampil sebagai pahlawan. Untuk lebih detail ceritanya silahkan tonton sendiri film yang dibalut dengan nuansa humor dan keharuan ini.

Ada beberapa kata yang saya ingat sebagai dialog dalam film tersebut seperti “Mysterio adalah kebenaran”, atau “Mysterio adalah pengendali kebenaran”. Kala itu Mysterio menjebak Spider-Man yang sudah mengetahui tipuannya ke dalam dunia ilusi.

Ilusi yang diciptakan Mysterio benar-benar nampak nyata dan susah untuk disangkal sebagai hanya sekedar tipuan biasa. Meskipun elemen utamanya hanyalah ilusi, pada titik tertentu, sosok Elementer yang berwujud monster bisa juga menghancurkan bangunan, jembatan dan jalan raya yang sebenarnya nyata. Sehingga pembatas yang tegas antara mana kenyataan dan ilusi susah untuk diidentifikasi.

Apa kaitannya dengan post-truth? Sederhananya, post-truth adalah kondisi dimana tolok ukur seseorang meninjau suatu kebenaran bukan berdasarkan fakta obyektik, namun terletak pada sisi emosional dan kepercayaan personal. Suatu kondisi yang membuat orang tidak mempercayai lagi kebenaran ada di rasionalitas dan fakta empiris.

Meskipun elemen utamanya hanyalah ilusi, pada titik tertentu, sosok Elementer yang berwujud monster bisa juga menghancurkan bangunan, jembatan dan jalan raya yang sebenarnya nyata. Sehingga pembatas yang tegas antara mana kenyataan dan ilusi susah untuk diidentifikasi.

Ada salah satu perdebatan yang cukup menarik tentang post-truth ini, apakah kondisi demikian memang benar-benar suatu realitas sosial yang sedang terjadi, dimana kemudian para aktor politik memanfaatkan itu sebagai strategi untuk mendapatkan legitimasi? Atau sebenarnya kondisi masyarakat post-truth sebenarnya diciptakan oleh aktor tertentu (bersifat misterius atau Mysterio dalam bahasa Italia) untuk kepentingan-kepentingan tertentu?

James Ball dalam bukunya berjudul “How Bullshit Conquered The World” menjelaskan bahwa fenomena masyarakat post-truth tidak terlepas dari peran aktor-aktor seperti media dan politisi. Dengan demikian, post-truth di sini adalah suatu produk dari propaganda aktor yang menciptakan masyarakat menjadi demikian.

Dengan mengendalikan informasi hingga ke tingkat fake news, mereka berhasil menciptakan apa yang disebut sebagai “ekosistem omong kosong”, yakni suatu rangkaian antara kampanye dan propaganda melalui media dan kecanggihan teknologi yang bekerja bersamaan untuk memproduksi informasi-informasi yang menyesatkan. Di sinilah susahnya bukan hanya soal menilai apakah ini kebenaran berdasarkan empiris, tapi suatu informasi sarat nilai post-truth itu menjadikan kita seakan-akan melihat kebenaran empiris.

Dengan kata lain, kebohongan sistematis yang menandai post-truth harus bisa mengkombinasikan pebagai perangkat propaganda, kecanggihan teknologi, dan media sehingga membuat orang yang menyaksikan kebohongan tersebut menjadi tidak menyadarinya.

Akibat dari strategi eko sistem kebohongan itu, akhirnya mengakibatkan omong kosong menjadi strategi jitu menaklukan dunia. Ditambah lagi, kebohongan yang dilakukan akhirnya menjadi suatu momok tertentu yang seakan-akan menakutkan. “Butuh suatu kehancuran luar biasa agar sebanding dengan Avenger”, kata Mysterio. Untuk menjadi seorang pahlawan, maka membutuhkan suatu isu yang bombastis agar sosok tertentu itu benar-benar dirasakan kehadirannya.      

Dengan mengendalikan informasi hingga ke tingkat fake news, mereka berhasil menciptakan apa yang disebut sebagai “ekosistem omong kosong”, yakni suatu rangkaian antara kampanye dan propaganda melalui media dan kecanggihan teknologi yang bekerja bersamaan untuk memproduksi informasi-informasi yang menyesatkan.

Hingga bagian akhir film yang termuat dalam credit scene, pergulatan tentang kebenaran ada di pihak Spider-Man kemudian digugat kembali oleh video Mysterio yang ia rekam sendiri menjelang kematiannya. Ia mengatakan bahwa yang menggerakkan drone-drone pemicu ilusi dan kehancuran adalah Spider-Man, yang bukan lain adalah Peter Parker.

Pada akhirnya, pertarungan tentang post-truth bisa jadi melangkah lebih jauh bukan sekedar cara seseorang menentukan mana yang benar, tapi kontestasi siapa yang sebenarnya mengendalikan kebenaran itu. .

Penulis: Dian Dwi Jayanto, Mahasiswa S2 Politik dan Pemerintahan UGM

Baca Juga:

Post-truth Adalah Omong Kosong yang Menaklukkan Dunia

Memahami Perang Cyber dalam Konteks Kajian Keamanan

Memahami Perang Cyber dalam Konteks Kajian Keamanan