Socrates, Kematian dan Metode Dialektika

Socrates

“Orang jenius membicarakan ide, orang biasa membicarakan peristiwa, dan orang bodoh membicarakan orang” Socrates.

“Kematian adalah profesi bagi para filsuf”

Seusai topik Protagoras, kini kita beralih kepada tokoh perintis filsafat klasik:  Socrates.

Istilah “filsafat klasik” atau “filsafat Yunani Klasik” menjadi tipologi pembeda yang menandai dominasi filsuf Athena dengan kalangan pra-Socrates semenjak Thales hingga Demokritos yang lekat dengan filsafat alam.

Filsafat klasik, yang dijembatani oleh kaum Sofis, menjadi era transisi paling sistemik dari periode kosmosentris menuju etnosentris. Pembahasannya tidak lagi berpusat tentang alam semesta, tapi lebih menaruh perhatian pada manusia dan kerangka etis, termasuk kehidupan politik.

Sebagai sosok besar filsafat yang sangat berpengaruh, Socrates menjadi pembahasan pelik tersendiri. Informasi tentang dirinya sangat terbatas. Kebanyakan pengetahuan kita tentangnya lebih mendasarkan pada tulisan-tulisan muridnya, utamanya Xenophon dan Plato. Xenophon dianggap terlalu tendensius ketika menggambarkan Socrates.

Meski beberapa penjelasannya diterima secara luas sebagai kebenaran, misalnya bagaimana aktifitasnya berkeliling untuk menanyi orang-orang.

Begitu juga dengan perawakan Socrates yang digambarkan hidungnya papak, gendut dan tergolong amat buruk mukanya. Ia juga digambarkan berjalan menghampiri banyak orang untuk berdialog tanpa menggunakan alas kaki.

Plato yang dianggap paling mumpuni membicarakan Socrates menimbulkan persoalan rumit lagi. Apakah ketika Plato membicarakan Socrates dalam karya-karyanya benar-benar menunjuk pada sosok pribadi Socrates, atau Socrates itu layaknya Zarathustra dalam karya Nietzsche sebagai figur ciptaan Plato belaka.

Kata lain, Socrates sebagai sosok dalam dialog-dialog karya Plato bisa jadi adalah Plato sendiri yang menghadirkan dirinya melalui sosok Socrates.

Dan kiranya perlu dicatat bahwa Socrates tidak menulis warisan karya tulisannya. Meski pun, dalam beberapa karya Plato tentang penggambaran Socrates seperti dalam “Apology” dianggap cukup mendekati kebenaran tentang Sosok Socrates, namun sebagai seorang filsuf sekaligus sastrawan hebat, unsur ingatan berdasarkan kenyataan berbaur dengan balutan fiksi itu sendiri.

Terlepas dari itu, ada beberapa hal yang bisa dipastikan. Socrates adalah benar-benar warga Athena yang terkemuka. Ia dijatuhi hukuman mati pada tahun 399 SM.

Fakta pertama yang tidak terlalu menimbulkan keraguan adalah tuduhan bahwa Socrates telah meracuni pemikiran anak muda. Anak muda yang kebanyakan adalah kaum bangsawan pada gilirannya menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan yang menimbulkan kecemasan dan bahaya tersendiri bagi status quo yang tengah berlangsung.

Para pemuda bangsawan yang tidak terlalu banyak bekerja dan punya waktu luang sering mengikuti kemana Socrates pergi. Mereka tertarik bagaimana Socrates mampu membongkar pikiran sekaligus kelemahan lawan bicaranya. Para muridnya pun suka meniru metode sang guru untuk menanyai orang-orang lain sampai titik dimana orang yang menjadi lawan dialektikanya tidak lagi bisa menjawab dan terlihat bodoh.

Orang mana yang suka bahwa kedangkalan pemikirannya bisa ditelanjangi, apalagi bagi kalangan atas dalam suatu kelas sosial?

Socrates juga mengatakan bahwa dirinya adalah lalat yang dikirim Dewa kepada Athena untuk mengusik ketenangan hidup. Lalat yang benar-benar dianggap mengusik kemapanan pengetahuan dan kebanggan diri seseorang.

Tuduhan yang lebih serius adalah ketika Socrates dianggap telah menghina para dewa dan agama masyarakat Athena, dan memperkenalkan agama dan dewanya sendiri. Tudingan ini menjadi salah satu ajaran Socrates yang dianggap menyimpang dan turut merusak anak muda karena telah mengajarkannya. Hal ini tentu patut dipertanyakan karena sebagaimana penuturan Meletus, Socrates adalah ateis.

Dua tudingan tersebut belum mengakumulasi tudingan yang terlontar tidak resmi dari pelbagai kalangan. Misalnya tuduhan bahwa Socrates telah menjadi dongeng bagi anak-anak dan mempengaruhi cara berpikir: apa yang benar menjadi salah dan sebaliknya. Socrates juga dianggap mengusut ulang tentang langit yang ada di atas dan bumi yang ada dibawah.

Socrates melakukan pembelaan dengan dalih bahwa ia bukanlah ilmuwan yang berusan dengan pengetahuan alam semesta. Ia juga ketika mengajarkan sesuatu tidak pernah memungut bayaran, layaknya kaum sofis.

Socrates, Kematian dan Metode Dialektika
(Socrates. Sumber Gambar: Britanica)

Dialog menjelang kematiannya tergambar bergitu apik yang ditulis Plato dalam buku “Kematian Socrates” (terjemahan dari “Phaedo”). Socrates meyakini bahwa mati hanyalah suatu transisi jiwa yang selama ini dibelenggu oleh tubuh akan bereksistensi melalui dirinya sendiri, dan ketidakadilan kebijakan para hakim pada dasarnya melukai jiwa mereka sendiri.

Dikisahkan Socrates memiliki peluang untuk kabur dari penjara demi menghindari hukuman mati berupa minum racun. Namun Socrates tidak menyetujui saran dari murid-muridnya tersebut. Ia ingin menekankan, meski harus melalui kematian, ajaran apa yang ia sampaikan begitu serius dan penting. Akhirnya ia berakhir dengan meminum racun sebagai bentuk eksekusinya.

Filsafat Socrates lebih pada kerangka etis daripada kosmologi. Salah satu pandangannya yang paling populer adalah mengaitkan keutamaan moral dengan pengetahuan. Kebijaksanaan dan keutamaan membutuhkan sarana pengetahuan untuk bisa mencapai kesana. Orang yang bertindak menyalahi moral itu karena alpanya pengetahuan.

Akibatnya, sikap pencapaian keutamaan hanya bisa didapat oleh kalangan terpelajar saja. Dua sisi mata koin pengetahun dan keutamaan ini menjadi pembeda dari pemahaman agama, seperti Kristen dan juga Islam, bahwa siapapun, baik kalangan atas maupun bawah, bisa memperoleh keutamaan moral.

Metode Socrates yang kemudian disebut sebagai “dialektika” sederhananya adalah upaya menggali pengetahuan dengan cara tanya jawab. Metode ini sebenarnya bukan berawal dari Socrates, namun dari Zeno, murid Parmenides, berdasarkan penuturan Plato dalam “Parmenides”.

Zeno mengungguli Socrates dengan metode ini sebagaimana Socrates mengungguli lawan bicara lainnya. Bukan pula anggapan yang salah jika Socrates kemudian mengembangkan metode ini lebih lanjut.

Dialog dalam praktik berfilsafat Socrates adalah menanyakan tentang pengertian sesuatu dan kemudian menyusulnya dengan argumen lain, hingga argumen lawan akhirnya tidak ada kelanjutan.

Dalam perlbagai dialog, ia lebih banyak menggali konsep-konsep etik seperti makna keadilan, kebenaran dan sebagainya.

Meski dalam banyak kasus, dialog itu berakhir tanpa kesimpulan. Socrates tetap berargumen bahwa hal ini penting sebagai metode pencarian kebenaran.

Dikisahkan bahwa ketika putusan hukuman mati dijatuhkan, akibat keinginannya untuk membayar amnesti ditolak para hakim, Socrates merasa gembira karena di dunia lain ia akan mengajukan pertanyaan terus-menerus karena ia akan abadi.

Mengapa baginya metode ini begitu penting untuk mencapai kebenaran?

Hal ini berkaitan dengan pandangan tentang “pengetahuan adalah proses mengingat”, salah satu premis turunan dari dunia idea yang menjadi pokok pikiran muridnya, Plato.

Ia meyakini bahwa sebelum manusia lahir, sebenarnya melalui perantara jiwa telah memiliki pengetahuan bawaan yang menyertai manusia. Apa yang disebut belajar atau mendapatkan pengetahuan semata-mata hanya upaya pengingatan semata.

Proses dialektis untuk menanyakan kepada lawan bicara tentang topik tertentu, misalnya tentang demokrasi atau sistem politik, adalah upaya menggali ingatan dasar yang sudah tertanam di dalam diri manusia.

Dia juga meyakini pengetahuan-pengetahuan tentang kebajikan dan keutamaan hidup yang berada dalam kesadaran ingatan bawaan manusia semua sama pada setiap orang. Dengan demikian, upaya dialektis adalah upaya penemuan umum atau standar umum tentang pengetahun dan kebenaran yang mutlak.

Kesadaran itu membuat Socrates menilai apa yang ia lakukan sebenarnya layaknya bidan untuk membantuk kelahiran pengetahuan yang sudah dikandung oleh setiap orang.

Kita tidak akan terlalu mendebat tentang ide bawaan dimana pengetahuan adalah proses mengingat, namun soal bagaimana metode ini memiliki keterbatasan.

Keberatan terhadap pendapat pengetahuan bawaan dengan metode dialektis tentu bermunculan. Misalnya saja ketika harus membicarakan topik seputar geometris yang tidak setiap lawan bicaranya punya bekal yang cukup, pertanyaan pembuka Socrates harus menyiratkan penjelasan terlebih dahulu.

Bisa jadi pada akhirnya Socrates yang menjelaskan dengan metode dialektikanya untuk membantu lawan bicaranya menyusun sistem berpikirnya.

Bayangkan lagi ada temuan tentang bakteri melalui mikroskop. Bagaimana mungkin ada pengetahuan asali tentang hal empiris seturut dengan perkembangan alat yang membantu inderawi yang hadir belakangan.

Alhasil, metode dialektis kurang terlalu membantu, untuk menjauh kata tidak berguna, ketika membicarakan hal-hal empiris yang eksak.

Metode ini bisa bekerja lebih baik pada tataran topik-topik pilihan yang logis, daripada pengetahuan faktual.

Kegunaan praktis dari metode ini adalah bagi lawan bicara yang sudah mempunyai bekal pengetahuan yang cukup mumpuni. Sayangnya, ia tidak bisa menstrukturasi pikirannya. Nah, melalui dialektis, seseorang dapat membantunya untuk bisa menyusun pikirannya berdasarkan pengetahuan yang sudah ia miliki secara lebih sistematis.

Dan sangat tidak mungkin dalam pembelaan dirinya di persidangan menjelang dakwaan, ia bisa secara bebas menggunakan metode dialektika terhadap para hakim.

 

*Tulisan ini disarihkan dari tulisan berjudul “Socrates” dalam buku Bertrand Russell berjudul “Sejarah Filsafat Barat” (2022). Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 101-110.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca Juga

Filsafat Plato Tentang Idea, Etika, dan Negara

Filsafat Heraklitus (Herakleitos): Api Adalah Substansi Segala Sesuatu

Filsafat Pythagoras, Nabi yang Ahli Matematika

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments