lang="en-US"UTF-8"> Sejarah Perkembangan Teori Feminisme - Pojokwacana.com
singlearticle

Sejarah Perkembangan Teori Feminisme

(Ilustrasi feminisme. Sumber Gambar: Harpers Bazaar)

Pada tahun 1884, Friedrich Engels seorang cendekiawan asal Jerman, sahabat dari Karl Marx, menerbitkan karyanya yang berjudul “The Origin of the Family, Private Property and The State. Melalui buku tersebut, Engels mengutarakan pandangannya terkait dengan ketidak-adil-an perlakuan terhadap kaum laki-laki dan perempuan. Pada masa itu, tenaga kerja perempuan tidak digaji, suara dan pendapat perempuan juga tidak diperhitungkan dan didengar (dalam Jackson dan Sorensen 2005).

Selama ratusan tahun lamanya, kaum perempuan diposisikan seolah seperti kaum marginal. Menurut Engels (1884 dalam Jackson dan Sorensen, 2005), kesetaraan pada perempuan dan laki-laki tidak akan pernah terwujud tanpa menghancurkan sistem kapital. Dengan kata lain, penindasan terhadap kaum perempuan merupakan implikasi dari praktik sistem kapitalis yang menciptakan kondisi keterpurukan perempuan.

Pada  akhir abad ke-19 mulai muncul gerakan yang disebut sebagai gerakan feminis. Gerakan ini sebagai respon terhadap fakta-fakta yang menyebutkan bahwa perempuan berkedudukan lebih rendah dibawah laki-laki, dan sebagai bentuk protes terhadap eksploitasi berlebihan terhadap perempuan oleh kaum laki-laki.

Menginjak akhir tahun 1980-an, gerakan feminis mulai dianggap perlu diangkat sebagai bahan kajian. Adam Jones (1996) dalam karyanya yang berjudul “Does ‘Gender’ Makes the World Go Round? memaparkan tiga hal penting tentang perempuan (Wardhani 2013). Pertama, bahwa perempuan memainkan banyak peranan khususnya sebagai aktor politik.

Kedua, bahwa secara keseluruhan pengalaman dan kisah-kisah para perempuan secara epistimologi adalah sama sehingga kemudian hal tersebut dijadikan kajian ilmiah dalam mengembangkan Ilmu Hubungan Internasional. Ketiga, fakta bahwa perempuan secara historikal selalu dipandang rendah, tidak diperhitungkan, dan bahkan dianggap absen keberadaannya.

Dari sudut pandang kesejarahan, feminisme sebagai filsafat dan gerakan berkaitan dengan Era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Setelah Revolusi Amerika 1776 dan Revolusi Perancis pada 1792 berkembang pemikiran bahwa posisi perempuan kurang beruntung daripada laki-laki dalam realitas sosialnya.

Ketika itu, perempuan, baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah, tidak memiliki hak-hak seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, berpolitik, hak atas milik dan pekerjaan.

Oleh karena itulah, kedudukan perempuan tidaklah sama dengan laki-laki di hadapan hukum. Pada 1785 perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda.

Kata feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Pergerakan yang berpusat di Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, “Perempuan sebagai Subyek” (The Subjection of Women) pada tahun 1869. Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama. 

Gerakan ini awalnya ditujukan guna mengakhiri masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Secara umum kaum perempuan merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomorduakan oleh kaum laki-laki (maskulin) dalam bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan politik khususnya, terutama dalam masyarakat yang bersifat patriarki.

Dalam masyarakat tradisional yang berorientasi agraris, kaum laki-laki cenderung ditempatkan di depan, di luar rumah, sementara kaum perempuan di dalam rumah. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datangnya era Liberalisme di Eropa dan terjadinya Revolusi Perancis di abad ke-XVIII yang merambah ke Amerika Serikat dan ke seluruh dunia. 

Adanya fundamentalisme agama yang melakukan opresi terhadap kaum perempuan memperburuk situasi. Di lingkungan agama Kristen terjadi praktik-praktik dan khotbah-khotbah yang menunjang hal ini ditilik dari banyaknya gereja menolak adanya pendeta perempuan, dan beberapa jabatan “tua” hanya dapat dijabat oleh pria.

Pergerakan di Eropa untuk “menaikkan derajat kaum perempuan” disusul oleh Amerika Serikat saat terjadi revolusi sosial dan politik. Di tahun 1792, Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul “Mempertahankan Hak-hak Wanita” (Vindication of the Right of Woman) yang berisi prinsip-prinsip feminisme dasar yang digunakan dikemudian hari.

Pada tahun-tahun 1830-1840, sejalan terhadap pemberantasan praktek perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan dengan adanya perbaikan dalam jam kerja dan gaji perempuan, diberi kesempatan ikut dalam pendidikan, serta hak pilih. 

Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai keterikatan (perempuan) universal (universal sisterhood). 

Pada tahun 1960 munculnya negara-negara baru, menjadi awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya ikut ranah politik kenegaraan dengan diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen.

Gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (seorang Yahudi kelahiran Aljazair yang kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (seorang Bulgaria yang kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis, Derrida.

Dalam “The Laugh of the Medusa”, Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. Banyak feminis-individualis kulit putih, meskipun tidak semua, mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga seperti Afrika, Asia dan Amerika Selatan. 

Gelombang feminisme di Amerika Serikat mulai lebih keras bergaung pada era perubahan dengan terbitnya buku “The Feminine Mystique” yang ditulis oleh Betty Friedan di tahun 1963. Buku ini ternyata berdampak luas, lebih-lebih setelah Betty Friedan membentuk organisasi wanita bernama National Organization for Woman (NOW) di tahun 1966 gemanya kemudian merambat ke segala bidang kehidupan.

Dalam bidang perundangan, tulisan Betty Fredman berhasil mendorong dikeluarkannya Equal Pay Right (1963) sehingga kaum perempuan bisa menikmati kondisi kerja yang lebih baik dan memperoleh gaji sama dengan laki-laki untuk pekerjaan yang sama, dan Equal Right Act (1964) dimana kaum perempuan mempunyai hak pilih secara penuh dalam segala bidang.

Gerakan feminisme yang mendapatkan momentum sejarah pada 1960-an menunjukan bahwa sistem sosial masyarakat modern dimana memiliki struktur yang pincang akibat budaya patriarkal yang sangat kental.

Marginalisasi peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya ekonomi dan politik, merupakan bukti konkret yang diberikan kaum feminis.  Gerakan perempuan atau feminisme berjalan terus, sekalipun sudah ada perbaikan-perbaikan, kemajuan yang dicapai gerakan ini terlihat banyak mengalami halangan.

Di tahun 1967 dibentuklah Student for a Democratic Society (SDS) yang mengadakan konvensi nasional di Ann Arbor kemudian dilanjutkan di Chicago pada tahun yang sama, dari sinilah mulai muncul kelompok “feminisme radikal” dengan membentuk Women´s Liberation Workshop yang lebih dikenal dengan singkatan “Women´s Lib”.

Women´s Lib mengamati bahwa peran kaum perempuan dalam hubungannya dengan kaum laki-laki dalam masyarakat kapitalis terutama Amerika Serikat tidak lebih seperti hubungan yang dijajah dan penjajah.

Di tahun 1968 kelompok ini secara terbuka memprotes diadakannya “Miss America Pegeant” di Atlantic City yang mereka anggap sebagai “pelecehan terhadap kaum wanita dan komersialisasi tubuh perempuan”. Gema ´pembebasan kaum perempuan´ ini kemudian mendapat sambutan di mana-mana di seluruh dunia.

Pada 1975, “Gender, Development, and Equality” sudah dicanangkan sejak Konferensi Perempuan Sedunia Pertama di Mexico City tahun 1975. Hasil penelitian kaum feminis sosialis telah membuka wawasan jender untuk dipertimbangkan dalam pembangunan bangsa. Sejak itu, arus pengutamaan jender atau gender mainstreaming melanda dunia. 

Memasuki era 1990-an, kritik feminisme masuk dalam institusi sains yang merupakan salah satu struktur penting dalam masyarakat modern.Termarginalisasinya peran perempuan dalam institusi sains dianggap sebagai dampak dari karakteristik patriarki yang menempel erat dalam institusi sains.

Tetapi, kritik kaum feminis terhadap institusi sains tidak berhenti pada masalah termarginalisasinya peran perempuan. Kaum feminis telah berani masuk dalam wilayah epistemologi sains untuk membongkar ideologi sains yang sangat patriarkal.

Dalam kacamata eko-feminisme, sains modern merupakan representasi kaum laki-laki yang dipenuhi nafsu eksploitasi terhadap alam. Alam merupakan representasi dari kaum perempuan yang lemah, pasif, dan tak berdaya. Dengan relasi patriarkal demikian, sains modern merupakan refleksi dari sifat maskulinitas dalam memproduksi pengetahuan yang cenderung eksploitatif dan destruktif. 

Berangkat dari kritik tersebut, tokoh feminis seperti Hilary Rose, Evelyn Fox Keller, Sandra Harding, dan Donna Haraway menawarkan suatu kemungkinan terbentuknya genre sains yang berlandas pada nilai-nilai perempuan yang anti-eksploitasi dan bersifat egaliter. Gagasan itu mereka sebut sebagai “sains feminis” (feminist science).

Penutup

Feminisme sebagai filsafat dan gerakan berkaitan dengan Era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Kata feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837.

Pergerakan yang berpusat di Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, “Perempuan sebagai Subyek” (The Subjection of Women) pada tahun 1869. Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama.

Bagian terakhir menunjukkan bahwa keberhasilan-keberhasilan feminis dalam era gegar gender telah member kesempatan bagi perempuan untuk menjajal kekuatan uang, proses pemilu, media massa, dan mendepak ideologi eksklusif  yang kaku. Keberhasilan-keberhasilan ini adalah jalan menuju feminisme yang luwes di era 1990-an.

Teori Feminisme memandang politik melalui tiga cara (Wardhani 2013). Pertama, secara konseptual teori feminisme memberi arti kepada global politics. Hal ini dimaksudkan bahwa, feminisme memberikan warna baru bagi dunia politik global. Bahwa isu gender, feminitas dan maskulinitas memberikan pengaruh cukup krusial dalam dunia internasional, khususnya pada bidang politik.

Semenjak gerakan feminisme dilakukan misalnya, mulai muncul banyak pemimpin perempuan. Perempuan mulai diperhitungkan peranannya, dan tak lagi dipandang sebelah mata. Hal ini dapat dilihat pada bagaimana Margaret Tatcher dipercaya menjadi perdana menteri Inggris selama 11 tahun, dan bahwa selama masa kepemimpinannya, kebijakan-kebijakan yang beliau ambil adalah kebijakan-kebijakan strategis yang beberapa bahkan cukup kontroversial.

Hal ini merupakan salah satu contoh tentang bagaimana teori feminisme berpengaruh pada dunia politik internasional. Kedua, teori feminisme memandang politik secara empiris, yaitu bahwa pendekatan feminis dipandang perlu melihat realitas (Wardhani 2013). Teori feminisme dianggap perlu meningkatkan kepekaan terhadap keadaan sekitarnya, terhadap realitas, memahami penyebab-penyebab terjadinya suatu atau lebih hal dan memprediksi hasilnya.

Hal ini dimaksudkan bahwa teori feminisme perlu mengembangkan dirinya sedemikian rupa, agar dalam penerapannya teori feminisme dapat menganalisis fenomena-fenomena nyata yang terjadi terkait gender khususnya, dan dapat memprediksikan hasilnya.

Ketiga, teori feminisme memandang bahwa dirinya perlu meningkatkan perubahan yang positif khususnya dalam aspek politik.

 

Penulis: Irfai Afham

Baca juga:

Pelintiran Kebencian, Wirausahawan Politik, dan Ancaman bagi Demokrasi

Kewarganegaraan, Kelas Sosial, dan Kapitalisme: Pandangan T.H. Marshall

Citizenship in Indonesia, Tawaran Baru Melihat Kewarganegaraan di Indonesia