Review Buku Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam Menurut Seyyed Hossein Nasr

Review Buku Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam Menurut Seyyed Hossein Nasr

Penulis Dian Dwi Jayanto

Judul: Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam: Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu Arabi

Penulis: Seyyed Hossein Nasr

Penerbit: Ircisod

Tebal: 276

Jika kita membaca buku pengantar filsafat Islam, kaprahnya, struktur bahasan yang disuguhkan adalah aspek kesejarahan dan perkembangan filsafat Islam secara periodik; atau menyoroti tokoh-tokoh/aliran-aliran tertentu dalam filsafat Islam. Menariknya, buku yang ditulis oleh Seyyed Hossein Nasr tidak sekadar menyuguhkan sejarah filsafat Islam semata, namun menawarkan cara membaca filsafat Islam melalui tiga mazhab utamanya, yang di dalamnya secara langsung memuat pula perkembangan sejarah filsafat Islam itu sendiri.

Atau dengan kata lain, hasil pembacaan atas perkembangan sejarah filsafat Islam Seyyed Hossein Nasr itu kemudian diklasifikasikan dalam tiga pendekatan yang berbeda secara periodik yang mewakili tiga mazhab utamanya.

Sebagai seorang pemikir ternama yang namanya bukan hanya besar di kalangan Islam, namun juga di dunia Barat, rumusan bagaimana ia menawarkan klasifikasi dan tipologi dalam tiga mazhab utama tentu patut untuk dibaca dan ditelaah. Apalagi buku ini juga dapat didudukkan sebagai sebagai pengantar yang patut dipertimbangkan sebagai buku pengantar Islam yang menarik.

Bahan buku ini sebenarnya diambil dari makalah yang disampaikan oleh Seyyed Hossein Nasr sebagai dosen tamu di Universitas Harvad, khususnya Centre for Middle Eastern Studies dan Center for Study of World Religious, pada tahun 1962.

Sebelum membahas tentang klasifikasi tiga mazhab utama filsafat dalam Islam, ada baiknya untuk menengok ulasan Seyyed Hossein Nasr terkait bagaimana pemahaman tentang  “Mazhab Filsafat Islam” itu sendiri bagaimana, dan selanjutnya tiga mazhab utama sebagai pintu masuk memahami filsafat Islam itu apa saja.

 

Pengertian Filsafat Islam

Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya ini tidak terlalu memusingkan untuk melakukan penguraian mana yang filsafat Islam dan mana yang sudah terkontaminasi dan tidak layak disebut filsafat Islam. Nasr lebih melihat filsafat Islam secara luas sebagai suatu proses yang mengkristal hasil dari perjumpaan sejarah antara ajaran Islam dan non-Islam.  

Diawali dari penjelasan ekspansi kekuasaan Islam pada periode awal di berbagai belahan dunia menyisahkan satu persoalan mendasar dalam konteks strukturasi masyarakat koloni barunya ke dalam ajaran agama. Teks-teks keagamaan kala itu masih berbahasa Arab beserta dengan keselarasannya dengan kondisi soso-kultural masyarakat setempat, sehingga perlu ada semacam kontekstualisasi ulang di sebuah budaya yang sama sekali berbeda.

Di era itu lah mulai digencarkan penemuan hukum dan tata kelola administratif untuk menjalankan syariat Islam dengan seperangkat metode-metode tertentu. Perhatian besar tersebut dilancarkan di era periode khilafah awal yang kemudian kita kenal sebagai Khulafa’u Rasyidin. Periode ini merupakan awal popularitas ajaran Mazhab Empat.

Periode demikian masih tetap tercurahkan di era Umayah, terlepas dari rezim di era itu yang kurang terlalu memiliki kepedulian terhadap ilmu pengetahuan pra-Islam. Bagaimana pun juga, periode awal ini menandai era awal bagaimana pengembangan Islam yang bersumber dari dasar utamanya untuk menciptakan tafsir-tafsir baru beserta pelbagai perkembangan pesat di bidang keilmuan seperti tata bahasa,sastra, ahli syair dan seterusnya.

Perhatian terhadap khazanah keilmuan pra-Islam memiliki momentumnya di tangan Dinasti Abbasiyah, khususnya ketika kekuasaan dipegang oleh Harus Ar-Rasyid, Al-Makmun, Al-Mu’tazhim. Kala itu penerjemahan buku-buku filsafat dan pengetahuan pra-Islam mulai dijalankan.

Pertanyannya kemudian, “mengapa tiba-tiba di era Khilafah Abbasiyah mendorong penerjemahan naskah-naskah pra-Islam ke dalam bahasa Arab hingga merasa perlu mendanai dengan cara membentuk lembaga dan gedung khusus khusus untuk program ini?”

Jawabannya adalah ketika itu para petinggi Islam sudah memiliki kontak erat dengan agama-agama Yahudi dan Kristen, dimana mereka mempertahankan ajarannya masing-masing. Di saat yang sama pula, bangunan teologis Islam mengalami serangan dengan bekal filsafat ala Aristotelian yang belum dikenal di kalangan Islam.

Dengan penerjemahan buku-buku filsafat dan pengetahuan ke dalam bahasa Arab, tentu bertujuan sebagai perisai sekaligus pedang untuk melindungi kebenaran ajaran Islam dari serangan-serangan agama lain yang terjadi di Damaskus.

Hal yang patut dicatat tentunya berkaitan erat dengan upaya khalifah dalam hal legitimasi. Maksudnya, bukan berarti meragukan komitmen pemimpin Islam terhadap pengetahuan, namun rasionalisasi bagi ajaran Islam diperlukan dalam pergaulan dunia dan agama yang berbeda agar penguasa Islam memiliki legitimasi atas kekuasaannya. Bagaimana pun juga, Islam adalah alat bergantung bagi para khalifah atas otoritas kekuasaannya.

Sejak saat itu, dunia intelektual Islam mulai melahap buku-buku berbahasa Persia, Yunani, India dan sebagainya. Perjumpaannya dengan khazanah ilmu-ilmu baru yang disandingkan atau difilter dengan ajaran Islam pada gilirannya melahirkan banyak perspektif dalam Islam.

Seyyed Hossein Nasr menyebut bagaimana penyatuan wahyu dengan ajaran-ajaran baru tersebut bersifat “terkristalisasi”. Akibatnya, pelbagai aliran tersebut sah disebut sebagai “Mazhab Filsafat Islam”. Sebab, menurut Nasr, “Konsep dan formulasi yang digunakan oleh mereka terintegrasi ke dalam pandangan Islam, sekalipun ia berasal dari yang lain” (Hal. 14).

Dengan demikian, pemahaman tentang mazhab Filsafat Islam itu sendiri sementara waktu perlu kita sisikan tentang mana yang benar dan salah; mana yang filsasat Islam murni dan tidak, namun secara kebanyakan adalah sebuah akulturasi dari titik temu sumber agama dan non-agama (filsafat) yang tetap patut diakui sebagai filsafat Islam.

Saya melihat penjelasan demikian dari Nasr semacam apresiasi atas sejarah peradaban dan kebudayaan Islam dengan pelbagai peradaban lainnya, tanpa perlu secara jauh menyingkirkan mazhab-mazhab tertentu dalam filsafat Islam.

Dari beragam bentuk aliran filsafat periode awal Islam dan perkembangan selanjutnya, Seyyed Hossein  Nasr berargumen bahwa tiga mazhab penting yang perlu dikaji lebih jauh sebagai perwakilan dari manifestasi aliran besar dalam filsafat Islam.

Dengan demikian, di luar tiga mazhab utama filsafat Islam yang dijabarkan oleh Nasr tidak berarti tidak ada ,atau tidak terkait dengan tiga mazhab tersebut. Namun, tiga mazhab utama ini melalui tiga tokohnya “merupakan tokoh yang sangat penting dan memainkan peran signifikan yang istimewa yang dinisbatkan kepada mereka”.

Ketiga mazhab tersebut memiliki cara pandang terhadap dunia dan bagaimana cara mengarungi kehidupan berdasarkan bagaimana yang bergulat atau dihayati dan diamalkan oleh antar generasi ke generasi.

Tiga Mazhab itu adalah Ibnu Sina mewakili ilmuwan-filsuf, Suhrawardi Illuminasionis, dan Ibnu Arabi melalui pendeketan sufi.

Tulisan singkat ini tidak mungkin cukup untuk menjabarkan dengan rinci pemikiran masing-masing tokoh atau mazhab besar seperti apa yang dikembangkan, namun akan dibahas sambil lalu tiga pengertian dan pendekatan masing-masing mazhab tersebut.

 

Filsafat Islam Mazhab Filsuf Ilmuwan

Dalam kajian filsafat Barat, ketika berbicara filsuf awal Islam kerap kali disandarkan kepada tokoh terkemuka bernama Al-Kindi atau dijuluki pula “Filsuf Arab”. Menurut Nasr, mazhab Filsuf Ilmuwan ini mencampurkan ilmu pengetahuan dan filsafat sehingga pada dasarnya pengetahuan itu sendiri bagian dari filsafat.

Melalui Al-Kindi, beragam gagasan filsafat pra-Islam seperti Helenistik dikaji dengan bahasa baru dalam kajian Islam. Sumbangsih dari gagasan Aristoteles, Plato, Neoplatonis, para ahli fisika dan matematika, hermetisis dan phyagorian bersama-sama mendapatkan tempat untuk diperbincangkan dan bahkan mempengaruhi bagaimana melihat Islam dan kaitannnya dengan kompleksitas kehidupan yang lebih luas.

Elemen-elemen yang turut memperkaya kajian Islam kemudian sangat membantu dalam merumuskan ulang kebutuhan psikologis dan intelektual bagi pembentukan masyarakat Islam baru. Bukan sesuatu sekadar yang idealnya terwujud, namun kebutuhan mendesak untuk segera dilakukan. “Sebuah perpektif yang diciptakan dalam pandangan dunia menyeluruh dalam Islam“, kata Nasr (Hal. 27).

Selain Al-Kindi, tokohnya lainnya antara lain muridnya seperti Ahmad bin Tayyib al-Saraskhsi dan Abu Ma’sar al-Baqi yang meneruskan ajaran gurunya hingga sampai pada sosok yang dianggap paling mumpuni di kemudian hari, yakni al-Farabi. Tokoh lainnya sebagai bagian dari mazhab filsuf ilmuwan yang sezaman dengan Al-Farabi adalah al-Razi.

Para pendahulu-pendahulu mazhab filsuf ilmuwan lainnya masih banyak, tapi tidak bisa disebut di sini, yang kemudian turut mengantarkan kelahiran tokoh terbesar mazhab filsuf ilmuwan, yakni Ibnu Sina yang dikenal sebagai “Pangeran Para Dokter”.

Menurut Nasr, Ibnu Sina memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan mazhab filsuf ilmuwan karena dari cakrawala pengetahuannya, yang diwujudkan melalui karya-karyanya, telah merambah aspek observasional, bahkan eksperimental, ke ontology; dari matemika ke gnosis hingga metafisika; dan dari logika ke tafsir Quran.

 

Filsafat Islam Mazhab Illuminasionis

Mazhab ilmuwan (Filsafat Paripatetik) yang memuncak di era Ibnu Sina mendapatkan perlawanan keras dari para ahli fikih. Alasannya, karena dianggap terlalu mengedepankan logika yang menggerus peran agama. Kritik paling santer atas perkembangan mazhab ala Ibnu Sina paling kuat datang dari teologi Al-Asy’ary. Dan berlanjut mulai surut filsafat paripatetik karena muncul sosok pengikut Asy’ary terbesar bernama Al-Ghazali.

Jika di era Mazhab Filsafat Ilmuwan memiliki euforia hingga ke titik puncaknya bagaimana integrasi filsafat pengetahuan dan agama, di era mazhab illuminasionis ini bergulat pada sebuah pergulatan kritik balik terhadap pemikiran filsafat Barat.

Misalnya saja kritik terkenal dari Imam al-Ghazali terhadap filsafat dalam “Tahafut al-Falasifah” yang kemudian dibalas oleh Ibnu Rusyd melalui “Tahafut at-Tahafut”nya. Tema-tema besarnya mengitari persoalan yang cukup menjauhkan pada adopsi ajaran filsafat pra-Islam, namun menyeleksi bagaimana pandangan-pandangan tersebut secara benar dengan agama, apalagi kaitannya dengan wahyu dan akal.

Tidak heran, era ini dengan tokoh besarnya seperti Surahwardi melalui konsep Israqy-nya (meskipun nama ini tidak bergitu sepopuler Ibn Rusyd, misalnya) dan utamanya Al-Ghazali karena pengembangan tasawuf as’ariyah-nya dituding sebagai penyebab kemunduran dunia Islam.

 

Mazhab Sufi

Filsafat mazhab ini termasuk adalah mazhab yang kemudian berkembang belakangan, meski sumber-sumber untuk pengembangannya sudah ada sejak era sufi agung sepanjang masa: Nabi Muhammad. Dimensi utamanya terletak pada intepretasi wahyu yang erat kaitannya dengan ruh dan bentuk lahiriyah.

Beberapa tokoh sufi terkemuka di antaranya adalah al-Halaj dan Ibnu Arabi. Dan tentunya pengaruh besar al-Ghazali yang memberikan dasar rumusan teologisnya sehingga sufisme bisa diterima dalam dunia Islam.

Jauh sebelum era Ibn Arabi, tokoh-tokoh lain sudah banyak. Signifikansi dari Ibnu Arabi melalui karya dan pengaruhnya adalah membangun sistem mazhab pemikiran bagi filsafat sufisme. Gamblangnya, melalui Ibnu Arabi kemudian gagasan mazhab sufisme menjadi artikulatif dan teoritis. Tema-tema yang kerap dikaitkan dengannya, selain metafika secara umum, adalah tema trasendensi.

 

Penutup

Sebagai pengantar , saya kira buku karya ulama besar Seyyed Hossein Nasr ini patut untuk dipakai acuan sebagai pengantar filsafat Islam. Kelebihan buku ini adalah penawaran atas klasifikasi bagaimana pintu memplejari filsafat Islam. Pada dasarnya, ketika membaca buku ini, kita tidak hanya mempelajari tiga tokoh atau tiga mazhab besar yang digariskan Nasr semata, namun juga sejarah filsafat Islam itu sendiri.

Dari segi yang membuat saya kurang nyaman adalah amat terasanya aspek kecondongan Seyyed Hossein Nasr atas Syiah. Hal ini terlihat ketika melakukan kategorisasi dengan menonjolkan nama Surahwardi sebagai manifestasi mazhab tertentu, dan juga muatan di dalamnya. Meski demikian, hal ini saya kira-kira saja, karena Nasr juga memberikan argumennya mengapa ia memilih tokoh yang lekat dengan pemikiran syiah tersebut.

Alhasil, buku ini patut dijadikan sebagai buku pegangan awal memahami filsafat sejarah Islam dengan lebih sistemik berdasarkan klasifikasi mazhab filsafat yang ditawarkan oleh seorang ilmuwan terkemuka.

 

Baca Juga

Pengertian Negara Agama atau Negara Teokrasi

Gerakan Modern Islam Abad 20 dan Respon Kalangan Pesantren

Peneguhan Prinsip “Neo-Sufisme” dalam Jaringan Ulama Nusantara Abad XVII dan XVIII

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments