Realitas Puasa di Tengah Pandemi Corona

(Ilustrasi gambar Covid-19/Sumber Gambar: Ayobandung)

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin bagi siapa pun dan dalam kondisi apapun. Sebagai agama, Islam mengajak kepada pemeluknya untuk bersikap fleksibel dalam menjalankan aturannya. Konsep keringanan dan tidak memberatkan dalam Islam merupakan sifat penting yang ditegaskan dalam menjalankan agama. Sebagaimana Allah swt menjelaskan dalam beberapa firmanNya, misalnya QS. Al-A’raf:157, QS. Al-Baqarah: 287, QS. Al-Baqarah: 285, QS. Al-Hajj: 78.

Pernyataan Allah dalam firmanNya tersebut menjadikan agama sebagai tuntunan yang tidak mempersulit pemeluknya dalam menjalankannya, apalagi saat ini sedang berada ditengah pandemi Virus Corona.

Virus Corona menjadi momok mengerikan sejak pertama kalinya muncul dibulan Desember 2019 lalu di China hingga sekarang. Sekian banyak jumlah orang yang positif terjangkit virus Corona di seluruh penjuru dunia bahkan di Indonesia yang terdampak positif virus ini hampir mencapai 11.192 kasus per 3 Mei 2020. Karena penyebaran virus Corona ini begitu masif, pemerintah dan masyarakat mengambil kebijakan dengan mengubah cara pandang dalam aktivitas keseharian secara total dalam sekejap.

Kejadian ini mengakibatkan poros kebiasaan menjadi berubah, sosial masyarakat Indonesia yang biasa memiliki kepribadian yang Extrovet menjadi Introvet. Diantaranya bekerja, belajar, beribadah dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan untuk menghindari penyebaran virus yang bisa terjadi melalui kontak fisik agar supaya virus ini tidak mewabah lebih luas.

Dewasa ini, Virus Corona telah memasuki bulan mulia dalam Islam, yakni Ramadan. Sehingga aktifitas-aktifitas peribadatan, seperti sholat jamaah di masjid, tarawih, sholat Jumat, pengajian umum, dan lain-lain hal yang berkaitan dengan kerumunan masa menjadi terhenti ketika dalam masa pandemi ini. Hal ini  haruslah dipahami sebagai bentuk kebaikan sosial, bukanlah larangan (untuk aktifitas) beragama. Bukan juga karena untuk mencegah meraih kebaikan fadhilah di bulan Ramadan sebagai waktu yang paling mustajab untuk meraih keutamaan beribadah.

Islam sebagai agama yang memiliki ketentuan syariat yang utuh sebagaimana tertulis dalam al- Qur’an dan al-Sunnah. Sebagai agama, Islam menekankan perlunya menjaga kemaslahatan manusia meskipun dalam kondisi apapun. Meskipun dalam kondisi pandemi ini, elektabilitas hukum Islam senantiasa memperhatikan kepentingan kebutuhan manusia secara pluralistik dalam konsep maslahah. Secara praktis Islam menekankan kemaslahatan dalam capaian kehidupan umatnya mencakup kepada tujuan memelihara agama (hifdz al-din), jiwa (hifdz al-nafs), akal (hifdz al-aql), keturunan (hifdz nasl) dan harta benda (hifdz al-mal).

Kelima prinsip di atas, Islam mengaturnya secara komprehensif dalam menentukan suatu hukum. Dalam beragama (hifdz al-din) seseorang tidak hanya mempertimbangkan soal hanya pada menjaga agama itu sendiri, namun menjaga jiwa dan raga (hifdz al-nafs) pemeluknya juga harus dijaga. Apabila dalam pelaksanaan peribadatan, agama ada yang bertentangan dengan prinsip yang lain, maka diperlukan pertimbangan-pertimbangan khusus untuk membuat keputusan hukum yang menyesuaikan situasi dan kondisi saat itu.

Dalam praktik-praktik beragama yang lainnya, juga selalu ada pengecualian dan kemudahan bagi orang-orang yang sedang terancam nyawanya, misalkan dalam kondisi sakit, dan wabah seperti corona saat ini. Beberapa prinsip di atas, masih ada prinsip yang lainnya yakni menjaga akal (hifdz ‘aql), menjaga keturunan (hifdz nasl), dan menjaga harta (hifdz mal).

Dengan demikian, marilah kita tetap menjaga bulan Ramadhan di tengah pandemi ini untuk, pertama; selalu menjaga ketaatan kita kepada Allah dan RasulNya (athi’u allah wa athi’u rasul) dengan cara menjadikan bulan mulia ini sebagai ajang pembuktian diri kepada sang Khaliq untuk  menjaga entitas dan egoisitas diri. Tetap menahan diri dengan berpuasa secara fisik maupun psikis dan berupaya memberikan kemanfaatan baik bagi diri sendiri melalui ibadah vertikal maupun orang lain melalui ibadah horizontal (hablu min allah wa hablu min al-nas). serta selalu mematuhi ketentuan yang berlaku dari pemerintah.

Hal ini sebagai wujud taat kepada ulil amri dan implementasi dari kaidah fiqh untuk menolak kerusakan/bahaya lebih diutamakan dari pada mengambil kemanfaatan (dar al mafasid muqaddamun ‘ala jalbi al mashalih).

Kedua; menjadikan social distancing sebagai upaya menahan diri demi keaslahatan umat, bukan sebagai egoisitas dalam bermasyarakat. Kesadaran diri menjadi kunci dalam situasi pandemi ini. Berdiam diri di rumah bukanlah perkara tabu atau salah pada situasi ini, bahkan hal itu bernilai ibadah dengan tetap berpedoman dan berfikir untuk menghentikan penularan virus itu.

Bukankah para Ashabul Kahfi pun, ke tujuh orang yang namanya tercatat dalam al-Qur’an, menjadi penghuni surga adalah orang-orang yang juga berdiam diri, tertidur didalam gua selama 309 tahun pada saat menghindar dari kejaran musuh raja. Singkatnya, anggap saja dalam situasi ini kita adalah ashabul kahfi yang sedang menjaga diri dari serangan virus Corona.

Ketiga, tetap menjaga rasa solidaritas. Hal ini sebagai ajang pembuktian sosial kemasyarakatan bahwa semua masyarakat yang berada dalam kesatuan bangsa ini yakni bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki rasa persaudaraan yang kokoh, baik itu persaudaraan antarsesama muslim (ukhuwah islamiyah), persaudaraan sebangsa dan setanah air (ukhuwah wathoniyah), maupun persaudaraan antarsesama manusia (ukhuwah basyariyah).

Oleh karena itu, harapan besar untuk segera terlewati ujian berat ini agar segera berakhir. Sehingga dengan semangat ini, agar kita termotivasi untuk menjaga ego dan positif thingking di saat ibadah puasa bulan Ramadhan menjadi berkah dan bersikap bijak.

 

Penulis: David Wildan, Dosen UIN Walisongo Semarang.

Baca juga tulisan menarik lainnya:

Kolaborasi Institusi dan Resiliensi Desa di Tengah Covid-19

Peneguhan Prinsip “Neo-Sufisme” dalam Jaringan Ulama Nusantara Abad XVII dan XVIII

Nahdlatut Tujjar: Gerakan dan Etos Kerja Ekonomi Nahdliyin dalam Menghadapi Kolonialisme-Kapitalisme