Problematika Pembelajaran Mahasiswa di Tengah Pandemi Covid-19

(Microscopic illustration of the spreading 2019 corona virus/Sumber Gambar: WHO)

Penyebaran virus corona (Covid-19) yang sangat cepat menjadi kepanikan tersendiri bagi seluruh masyarakat di Indonesia, bahkan dunia. Tercatat per tanggal 5 Mei 2020 jumlah kasusnya mencapai 12.071 positif, 2.197orang sembuh dan pasien yang meninggal berjumlah 872 orang.

Berbagai upaya dari pemerintah juga sudah dilakukan untuk menekan kenaikan jumlah kasus. Salah satunya yaitu dengan cara menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di ibu kota dan beberapa kota besar lainnya, hingga cara-cara lainnya seperti lockdown di beberapa kabupaten, kota dan jalur-jalur masuk perkampungan warga sebagai upaya untuk mencegah dan memutus rantai penyebaran virus corona dari orang-orang asing (yang berasal dari luar daerah/kota)  masuk ke wilayah mereka. Pandemi ini juga berdampak bagi beberapa aspek, terutama aspek ekonomi bagi seluruh lapisan elemen masyarakat, dari pedagang, pekerja pabrik, buruh dan lain-lain.

Kalau kita menelisik lebih dalam, dampak ekonomi ini juga dirasakan oleh para mahasiswa yang orang tuanya mengalami penurunan penghasilan bahkan kerugian yang tidak sedikit dikarenakan kondisi saat ini. Selama kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh, sebagian mahasiswa terpaksa bertahan untuk tidak mudik dengan berdiam diri di kosnya untuk menghemat biaya karena keuangan juga sudah menipis untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan, mereka sampai menjual barang-barang yang ada di kosnya seperti tv, kipas angin, bahkan kendaraan pribadi berupa motor. Hal ini dilakukan demi menyambung hidup, belum lagi tagihan kos dan segala tetekbengeknya yang sudah harus dilunasi awal bulan ini.

Terlihat ada beberapa kampus yang merespon dengan mengadakan penggalangan dana dan memberikan bantuan berupa kuota internet untuk bekal pembelajaran daring selama situasi ini berlangsung, hingga bantuan sembako yang didistribusikan melalui fakultasnya masing-masing. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap mahasiswa-mahasiswa yang terdampak akibat wabah Covid-19 ini.

Karena kebutuhan utama mahasiswa saat ini yang paling mencolok adalah kuota internet, yang digunakan sebagai bekal untuk melakukan perkuliahan daring hingga akhir semester nanti. Salah satu kampus yang memberikan bantuan kepada mahasiswanya adalah Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, melalui aksi Kami Peduli, UII memberikan bantuan untuk mahasiswa yang mata pencaharian orang tua/penanggung biaya kuliahnya terdampak wabah Covid-19.

Aksi ini mungkin tidak dapat memuaskan semua pihak, akan tetapi ini adalah ikhtiyar terbaik yang mungkin dapat dilakukan untuk meringankan beban para pihak terkait. Aksi ini sudah berjalan melalui pengumuman yang diberikan langsung oleh Rektor Universitas Indonesia Prof Fathul Wahid, S.T., M. Sc., Ph.D. pada tanggal 3 April 2020 lalu dan diteruskan kepada seluruh mahasiswa melalui email aktif mahasiswa.

Hal serupa juga dilakukan Universitas Riau (UNRI) yang dipimpin oleh Rektor Prof. Dr. Ir. Aras Mulyadi DEA sebagai bentuk respon terhadap kondisi yang terjadi akibat wabah virus corona. Melalui Tim Satuan Tugas Siaga bencana Covid-19, UNRI menyerahkan bantuan berupa paket sembako dan bahan kebutuhan pokok lainnya untuk mahasiswa yang terdampak.

Masa ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga pendidik, baik guru maupun dosen, dengan adanya Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 4 Tahun 2020 tentang sistem pembelajaran di tengah virus corona. Sistem pembelajaran jarak jauh yang sudah berjalan hampir dua bulan ini pun pastinya banyak dirasakan kurang maksimal, dikarenakan terbatasnya interaksi langsung antara mahasiswa dan dosen yang biasanya kuliah berlangsung secara tatap muka di kelas maupun praktikum di laboratorium terpaksa dilakukan secara online, yang tentunya juga mengubah metode pembelajaran secara keseluruhan.

Banyak alternatif yang digunakan untuk pembelajaran online ini seperti menggunakan e-learning berupa Google Classroom, Google Meet, Schoology, WA Group dan yang paling banyak digunakan adalah aplikasi Zoom Cloud Meeting yang memudahkan bagi dosen dan para mahasiswanya untuk tetap bisa bertatap muka melalui video meskipun sedang berada di tempat tinggal masing-masing.

Bukan perkara mudah untuk melakukan sistem pembelajaran online ini, karena tidak semua materi yang bisa disampaikan begitu saja cukup hanya dengan penjelasan, karena setiap materi memiliki tingkat kesukaran yang berbeda-beda. Ditambah lagi kendala sistem jaringan yang belum merata di seluruh pelosok negeri.

Kendala lainnya yaitu, terkadang mahasiswa mengeluh dengan banyaknya tugas yang diberikan oleh dosen mereka hampir di setiap mata kuliah, sehingga membuat mereka kewalahan untuk menyelesaikan tugas dengan tenggat waktu yang cukup singkat. Hal ini menimbulkan efek jenuh serta bosan dalam melakukan kegiatan pembelajaran online, sehingga semakin hari semakin berkurang antusias mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran.

Tentunya ini merupakan PR bagi para dosen untuk bisa memberikan materi maupun tugas secara proposional kepada mahasiswanya, agar proses pembelajaran online tidak menjadi suatu hal yang monoton dan  membosankan. Kerjasama antara dosen dan mahasiswa selama pembelajaran online berlangsung juga dirasa perlu, tidak hanya sekedar pemberi dan penerima materi saja, akan tetapi dosen juga perlu “merangkul” mahasiswanya dengan inovasi pembelajaran yang kreatif, menyenangkan dan fleksibel namun tetap tepat sasaran sehingga bisa mengatasi rasa bosan dan malas selama belajar dari rumah.

Sebagaimana ada suatu ungkapan yang mengatakan “Al-Thariqah ahammu min al-maddah wa al-mudarris ahammu min al-thariqoh wa ruhu al-mudarris ahammu min al-mudarris” yang artinya: “cara atau metode itu lebih penting daripada materi, dan guru itu lebih penting daripada metode, dan ruh (jiwa) guru itu lebih penting lagi dari gurunya sendiri”.

Ungkapan ini memiliki maksud bahwa suatu profesi akan berhasil jika dijalani sesuai dengan bakat, jiwa dan hobi seseorang, karena banyak sarjana yang dikukuhkan untuk menjadi seorang guru namun ketika di lapangan ia merasa tidak nyaman untuk bertemu dengan banyak murid. Apalagi bertemu dengan murid yang bodoh dan nakal, perasaannya menjadi kesal dan ingin marah.

Maka dari sini bisa dikatakan mengapa jiwa seorang guru itu sangat penting untuk membentuk kepribadian seorang guru seutuhnya. Ungkapan ini lahir dan terkenal ketika disampaikan oleh salah satu pimpinan Pondok Modern Gontor K.H. Hasan Abdullah Sahal kepada santri-santrinya yang sampai saat ini menjadi kata-kata yang paling terkenal di dunia pendidikan Gontor).

Menurut penulis, ungkapan ini juga bisa dikatakan relevan bagi dunia pendidikan secara umum, karena bisa menjadikan motivasi bagi para pendidik di dunia akademik dalam mendidik dan mencetak generasi penerus bangsa yang berkarakter dan berkualitas.

Oleh karena itu, selama situasi ini belum berakhir diharapkan kegiatan pembelajaran tetap berlangsung dengan sebaik mungkin agar mencapai tujuan yang diinginkan. Pesan untuk para mahasiswa, janganlah lengah dan bermalas-malasan karena ini bukan liburan, ini hanya kegiatan belajar dengan cara yang berbeda tetapi tetap untuk mencapai maksud tujuan yang sama.

Percayalah bahwa semua dosen ingin memberikan yang terbaik dengan caranya masing-masing, yang perlu dilakukan hanya belajar dari rumah, mengerjakan tugas bila diberikan dan melaksanakan kewajiban lainnya sebagai mahasiswa dengan baik. Kita semua berharap dan juga berdoa agar pandemi ini segera berakhir, sehingga situasi dan kondisi kembali normal seperti sedia kala. Patuhi instruksi dari pemerintah dengan stay di rumah saja untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 ini agar tidak semakin merajalela di negara kita tercinta.

 

Penulis: Hasna Afifah, UIN Walisongo Semarang

 

Baca juga:

Realitas Puasa di Tengah Pandemi Corona

Kolaborasi Institusi dan Resiliensi Desa di Tengah Covid-19

Gerakan Modern Islam Abad 20 dan Respon Kalangan Pesantren

Tags: