Post-truth Adalah Omong Kosong yang Menaklukkan Dunia

(Cover Buku “Post-Truth: How Bullshit Conquered the World” yang ditulis oleh James Ball pada tahun 2017)

Judul tulisan ini merupakan terjemahan dari judul buku yang akan kita bicarakan kali ini, yakni “Post-Truth: How Bullshit Conquered the World” yang ditulis oleh James Ball pada tahun 2017. Buku ini mengulas tentang post-truth (sebagian menulisnya dengan kata “post truth”) yang lebih melihat bagaimana sebuah omong kosong, atau lebih tepatnya sebuah pernyataan yang tidak sesuai fakta, telah menjadi strategi dalam rangka menggaet pembenaran atas tujuan-tujuan tertentu.

Pada bagian pertama buku ini, “The Power of Bullshit”, Ball menunjukkan dua contoh besar bagaimana imbas besar dari sekumpulan omong kosong. Dua peristiwa yang dirujuk adalah kemenangan Donald Trump menjadi presiden Amerika dan peristiwa bersejarah dimana Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit).

Ball menceritakan betapa banyaknya klaim kebohongan yang dilakukan oleh Donald Trump semasa mencalonkan diri menjadi presiden. Misalnya, Donald Trump mengatakan bahwa jumlah pengangguran di Amerika Serikat mencapai 42%, padahal sebenarnya hanya berkisar 5%. Donald Trump juga pernah membuat pernyataan kontroversial dengan menyebut bahwa ketika peristiwa serangan pesawat yang menabrak Twin Tower di Wasinghton DC (09/11), ia melihat orang-orang muslim bersorak gembira menyaksikan kejadian tersebut.

Beberapa pernyataan lainnya seperti rencana akan membuat tembok pembatas sepanjang 2.000 meter untuk memisahkan antara Amerika dengan Meksiko. Rencana tersebut untuk menanggulangi besarnya jumlah imigran ilegal yang datang dari Meksiko. Pada kenyataannya, orang-orang Meksiko malah belakangan banyak yang meninggalkan Amerika. Trump juga menaksir biaya pembuatan tembok sebesar 8 miliar USD. Pernyataan itu pun dibantah oleh kementerian dalam negeri Amerika Serikat yang menghitung estimasi anggaran bisa mencapai 21 miliar USD.

Merujuk pada data sepanjang masa kampanye presiden yang dilansir Politifact, sebagaimana dikutip Ball, dari 373 pernyataan Donald Trump hanya 15 saja yang terverifikasi kebenarannya. Artinya tidak sampai 5% apa yang dikatakan Trump adalah kebenaran.

Terlepas dari berbagai ucapan Trump yang bias data, toh dia akhirnya terpilih menjadi presiden Amerika dengan perolehan suara 304 dari 538 electoral college, sekaligus berhasil menyingkirkan rivalnya Hillary Clinton dalam kontestasi empat tahunan tersebut. Entah bagaimana kita memberikan penjelasan terkait kemenangan Trump, apakah karena desas-desus intervensi Rusia dalam pemilihan di Amerika atau yang lain. Namun, tentu kita tidak bisa menganggap remeh sejumlah ungkapan Donald Trump, baik yang berlandasarkan fakta atau tidak, yang sebagian besar benar-benar mengusik emosi warga Amerika kala itu.

Pola komunikasi Trump dalam melakukan pernyataan yang menyesatkan masih berlangsung ketika ia sudah terpilih menjadi presiden. Salah satunya yang mendapatkan banyak sorotan adalah klaim bahwa yang menghadiri inagurasi pelantikan presiden dirinya melampaui Obama. Pernyataan tersebut mendapatkan banyak bantahan, terutama dari media-media Amerika seperti Washington Post. Menanggapi berbagai pertanyaan wartawan, penasehat Donald Trump bernama Kellyanne Conway menyangkal kalau pihaknya berbohong dan mengatakan bahwa Trump melihat “fakta alternatif” (alternative facts), bukan bohong.  

Peristiwa besar lainnya yang dicontohkan Ball terkait bagaimana omong kosong menaklukkan dunia adalah peristiwa Brexit. Para politisi mengatakan ada masalah besar yang sedang menjadi beban bagi Inggris, yakni imigran. Namun Inggris tidak bisa menyikapi imigran karena selama Inggris menjadi bagian dari Uni Eropa, maka keterbukaan untuk menerima imigran harus tetap diterapkan. Selain itu, gerakan yang mengajak kampanye pro-Brexit maupun pro-BSE (Britain Stronger in Europe) mengatakan bahwa Inggris harus membayar sebanyak 350 juta Pound Sterling seminggu sekali kepada Uni Eropa. Mereka berdalih bahwa uang itu bisa diinvestasikan bagi layanan kesehatan nasional (National Health Service/NHS) yang sedang terancam.

Pematokan angka 350 juta tentu sangat mengerikan. Kenyatannya, jumlah tersebut bisa berubah tergantung pada kondisi perekonomian negara tersebut. Di samping itu, Inggris mendapatkan timbal balik berupa subsidi pertanian dan pembangunan infastruktur. Namun kuatnya narasi wacana klaim 350 juta telah membuat publik Inggris mengabaikan fakta-fakta lain. Pelbagai baliho seperti Britain Stronger in Europe memadati jalan-jalan bersamaan dengan kecaman jumlah uang yang harus dibayarkan. Pada akhirnya seperti kita ketahui hasil dari pemungutan suara, Inggris akhirnya keluar dari Uni Eropa.

Menurut Ball, baik peristiwa kemenangan Donald Trump dan Brexit, keduanya menyiratkan sebuah ekosistem omong kosong yang sedang berlangsung. Ekosistem omong kosong ini berisikan kombinasi kampanye, media, teknologi, yang secara bersamaan menyebarkan informasi yang meragukan dan berusaha memberantas itu.

Secara sederhana, apa yang dimaksud ekosistem omong kosong atau bullshit itu merupakan jalinan yang saling terkait antara kekuatan kampanye atau propaganda, media (terutama media sosial) dan teknologi yang secara serentak memproduksi informasi yang menyesatkan.

Bullshit di sini tidak sekedar kebohongan, tapi bagaimana jalinan berbagai hal tersebut dapat membuat informasi yang tidak benar seakan-akan benar karena mengobok-obok perasaan pembaca dengan berita yang fantastis tanpa perlu memverifikasinya, kemudian informasi itu menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan.

Fenomena post-truth bukan hanya terjadi di kawasan belahan dunia Barat, Amerika dan Eropa, namun telah merabak ke berbagai negara bahkan ke Asia Tenggara. Ross Tapsell (2017) melalui tulisannya berjudul “Post-truth politics in Southeast Asia” menyebut bahwa post-truth juga berkembang di Asia Tenggara. Ia menyebut dua contoh kasus yakni kemenangan Rodrigo Duterte sebagai presiden Filipina dan peristiwa Bela Islam di Jakarta.

(Sumber Gambar: Instagram/Pojok Book Store)

Pada bagian selanjutnya, “Who’s Spreading The Shit”, Ball menerangkan tentang adanya lima aktor utama yang berperan besar dalam membentuk post-truth/bullshit, yakni politisi, media lama, media baru, media palsu, dan konsumen berita itu sendiri. Dari kelima aktor tersebut, media palsu dan dan media baru menjadi faktor kunci bagaimana fenomena ini berlangsung.

Media palsu adalah media yang sengaja menyebarkan berita tidak benar untuk tujuan tertentu, Ball mencontohkan bagaimana berita-berita positif yang mengarah kepada Trump dan negatif kepada Clinton semasa Pilpres berlangsung. Namun perlu dicatat, tidak semua distributor berita palsu hanya bertujuan politik, sebagian malah untuk kepentingan bisnis.

Seperti yang terjadi di Vales. Dari kota yang hanya berpenduduk 45 ribu jiwa berhasil meluncurkan setidaknya 140 situs berita palsu yang membantuk membuat berita baik bagi Trump dan negatif bagi Clinton. Dari penjelasan singkat ini kita bisa menangkap bahwa tujuan awal penyebaran media palsu hanyalah untuk membidik laba, selanjutnya diperluas untuk kepentingan politik.

Selain maraknya berita palsu, penopang lainnya adalah media sosial. Derasnya alur informasi di luar pemberitaan media mainstream memiliki kontribusi luar biasa dalam membentuk opini seseorang. Intensifikasi dari sebuah informasi yang lebih banyak melalui pertemanan facebook (FB) misalnya. Jika seseorang mendapatkan kabar tertentu di beranda FB dari posting keluarganya, sukar untuk tidak mempercayai. Peredaran berita bohong tidak bisa difilter atau dilacak oleh sistem algoritma FB.

Menguatnya pengaruh informasi di media sosial tidak luput karena semakin meredupnya jumlah media cetak belakangan ini. Menurunnya konsumen media cetak karena beralih pada informasi berbasis dunia maya juga semakin menyuburkan proses perkembangan fakta alternatif. Mungkin media seperti New York Times dan Financial Times akan tetap bisa bertahan karena memiliki pembaca dan pelanggan yang rela membayar demi informasi dari mereka.

Namun bagi media-media lokal, daripada menugaskan wartawan berjam-jam mencari berita dan belum tentu menjamin banyak pembaca, lebih baik mereka menggunakan strategi click bait, membuat judul atau potongan berita yang mampu membuat orang penasaran dan akhirnya membaca berita itu. Ini tentu lebih irit dan lebih menguntungkan. Salah studi yang dikutip dalam buku ini menyebutkan 7 dari 10 orang Amerika akan lebih tergugah untuk membaca berita yang berbau konspirasi daripada berita sederhana tapi sesuai fakta.

Selaras dengan Ball yang merujuk media sosial sebagai aktor yang mempercepat perkembangan post-truth, Ross Tapsell (2017) juga mengatakan bahwa “Social media now plays a crucial role in winning the hearts and minds of voters. Media sosial memainkan peran penting dalam memenangkan hati dan pikiran pemilih.

Ia juga menjelaskan bahwa para politisi, seperti Duterte maupun aksi Bela Islam, mengajak untuk tidak mempercayai berita yang bersumber dari pemberitaan di media massa sembari memperkuat dominasi atas media-media yang mereka ciptakan sendiri, baik berupa blog, website, youtobe dan lain-lain. Sama persis dengan Trump yang mengajak masyarakat untuk tidak mempercayai media massa yang ada. Sebab, bagi Trump, media massa adalah musuh bagi masyarakat dan siap perang dengan dunia pers.

Ball tidak lupa menjelaskan mengapa bullshit bisa berhasil mempengaruhi pikiran seseorang. Pada dasarnya, kata Ball, ketika seseorang berada pada lingkungan kelompok tertentu termasuk grup-grup di media sosial, kita akan menyerang seseorang yang tidak sepihak dengan kita.

Pada gilirannya, orang yang sebenarnya mampu berpikir moderat sekalipun dapat terseret pada pola kecenderungan semacam itu. Apalagi yang menjadi anggota dari grup-grup atau penyebar informasi itu adalah orang terdekatnya sendiri seperti keluarga sehingga lebih mudah dipercaya.

Secara psikologis, seseorang akan lebih mudah mengamini sesuatu yang telah menjadi bagian dari pemahamannya dan identifikasi kelompok dirinya dan menolak sesuatu yang berlainan dengan dirinya dan dari kelompoknya. Setiap orang terdorong untuk memiliki persepsi seturut dengan apa yang sudah diyakini selama ini.

Dalam beberapa literatur, kecenderungan demikian bisa disebut bias konfirmasi, kita hanya akan mencari bukti yang hanya untuk menguatkan dugaan kita sebelumnya. Istilah lain yang sering dipergunakan adalah predisposisi, yakni kondisi pra eksistensinya bagi manusia sebelum menerima informasi.

Efek lain dari pola kecenderungan ini, dibantu dengan guyuran informasi dari media sosial yang semakin mengekalkan hal tersebut, menciptakan proses pembelahan kutub dengan cara berpikir oposisi biner, kalau tidak kanan ya kiri, kalau tidak kecebong berarti kampret. Hal ini lah yang dilabeli oleh Ball sebagai “gelembung filter”, pola berpikir yang lebih digerakkan oleh dugaan di awal dan model pencarian informasi sesuai dengan pikiran dan preferensinya. Di sinilah post-truth bekerja, mendasarkan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan emosi seseorang.

Dengan membaca buku ini kita dapat memahami bahwa persoalan utama berlangsungnya post-truth atau bullshit tidak hanya terletak di masyarakat, namun ada produsen bullshit yang bekerja secara masif dalam membentuk karakteristik dari post-truth society.

Penulis: Dian Dwi Jayanto

 

Baca juga tulisan selanjutnya “Bagaimana Menilai Kebenaran di Era Pasca Kebenaran?”