Perubahan Tatanan Sosial Akibat Pandemi Virus Corona: Melihat dari Pengasinan Kecamatan Sawangan Kabupaten Depok Jawa Barat

Penulis: Rina Rachmawati, Jurusan Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Virus Corona menjadi sebuah pandemik global yang menimbulkan efek domino yang luas dalam berbagai aspek kehidupan. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisis bagaimana perubahan tatanan sosial yang terjadi di Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat akibat pandemik virus Corona yang menyebabkan kecemasan, ketakutan, maupun berpengaruh pada disorganisasi dan disfungsi sosial masyarakat. Jenis penelitian yang akan digunakan pada penulisan artikel ini adalah kualitatif deksriptif, dimana time horizon atau dimensi waktu yang digunakan adalah cross sectional yang berarti penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu satu kali dan mencerminkan potret dari suatu keadaan pada satu saat tertentu. Perubahan sosial sendiri menurut Horton and Hunt merupakan perubahan struktur sosial dan hubungan masyarakat Perubahan situasi sosial yang tidak menentu dan berlangsung sangat cepat menyebabkan disorganisasi pada masyarakat sehingga berdampak pada tatanan sosial di masyarakat seperti prasangka dan diskriminasi. Selain disorganisasi, terjadi disfungsi sosial yang membuat seseorang atau suatu kelompok masyarakat tertentu tidak mampu menjalankan fungsi sosial sesuai dengan status sosialnya. Bagi Parsons, sakit bukan hanya kondisi biologis semata, tetapi juga peran sosial yang tidak berfungsi dengan baik. Perubahan sosial yang demikian, perlulah kita seimbangkan dengan suatu perubahan kearah yang lebih positif sehingga ketimpangan dalam hal sosial bisa diatasi perlahan demi perlahan.

Virus Corona atau COVID-19 merupakan salah satu masalah dan tantangan besar yang dihadapi oleh masyarakat nasional maupun internasional. COVID-19 sering dikaitkan dengan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit ringan sampai berat, seperti common cold atau pilek dan penyakit yang serius seperti MERS dan SARS (kemkes.go.id 2020).

Pada mulanya, virus yang diketahui berasal dari kota Wuhan China ini diduga berhubungan erat dengan pasar hewan Huanan yang menjual berbagai jenis daging binatang, termasuk yang tidak biasa dikonsumsi pada kebanyakan masyarakat umum lainnya seperti ular, kelelawar, dan berbagai jenis tikus.

Proses penularannya sendiri terjadi dari hewan ke manusia dan penularan dari manusia ke manusia sangat terbatas dalam artian penularan virus Corona ini umumnya melalui kontak dengan benda yang sering disentuh, tidak menjaga kebersihan tangan, tidak menerapkan etika batuk dan bersin, terjadi interaksi dengan banyak orang, tidak menjalani isolasi diri setelah kembali dari wilayah pandemi, dan lain sebagainya.

Kejadian pada Desember 2019 tersebut terus berlanjut hingga penyebaran COVID-19 mewabah ke seluruh dunia termasuk di Indonesia. Hal ini dikabarkan pada tanggal 2 Maret 2020 oleh Presiden Jokowi yang menyatakan bahwa ada dua warga Indonesia tepatnya di Depok yang positif terjangkit virus Corona.

Situasi seperti ini mempengaruhi kondisi psikologi maupun sosiologis masyarakat Indonesia, terlebih khusus masyarakat yang tinggal di wilayah korban yang positif terjangkit virus Corona atau biasa disebut dengan zona merah. Sikap yang semula cemas kemudian berubah menjadi suatu momok yang menakutkan bagi masyarakat, terlebih lagi kian hari jumlah pasien yang positif terjangkit virus Corona terus bertambah. Hingga kini jumlah pasien positif virus Corona di Indonesia mencapai 17. 514 dengan jumlah pasien yang sembuh 4. 129 sedangkan yang meninggal berjumlah 1. 148 (terhitung pada tanggal 17 Mei 2020 sumber: Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, 2020).

Virus Corona atau COVID-19 tidak hanya berdampak pada satu aspek kehidupan saja. COVID-19 menimbulkan efek domino yang meluas seperti perubahan situasi sosial yang tidak menentu menyebabkan disorganisasi pada masyarakat sehingga berdampak pada tatanan sosial, seperti prasangka dan diskriminasi. Selain disorganisasi, terjadi juga disfungsi sosial yang membuat seseorang atau suatu kelompok masyarakat tertentu tidak mampu menjalankan fungsi sosial sesuai dengan status sosialnya.

Oleh kerena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana perubahan tatanan sosial yang terjadi di Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat akibat pandemik virus Corona yang berdampak pada kecemasan (anxiety), ketakutan (fear) maupun berpengaruh pada disorganisasi dan disfungsi sosial masyarakat.

Diharapkan dari adanya penelitian ini dapat memberikan efek positif kepada masyarakat luas mengenai bagaimana memupuk rasa saling menghargai, menolong, dan lain sebagainya. Selain itu, diharapkan menjadi acuan bagaimana seyogyanya masyarakat Indonesia dalam menghadapi pandemik Covid-19.

Manfaat dari penelitian ini untuk masyarakat Indonesia terutama yaitu sebagai alat bantu untuk membangun kembali rasa kesosialan yang akhir-akhir ini sudah dibatasi ruang gerak dari kegiatan yang mengundang terjadinya interaksi sosial maupun memicu keramaian. Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya rasa solidaritas terhadap sesama, tolong-menolong di tengah situasi pandemik seperti sekarang, saling memberi dukungan baik secara moral maupun materi, dan hal positif lainnya sangat ditekankan supaya poin-poin tersebut dapat terlaksana dengan baik.

Sehingga suatu organisasi maupun fungsi sosial dapat berjalan sebagaimana mestinya. Bagaimana pun menurut Parsons seseorang yang sakit dalam artian bukan soal fisik tetapi dalam hal psikis akan mengakibatkan terganggunya fungsi sosial dimana hak dan kewajiban sosial seseorang terganggu dan berakibat terjadinya disfungsi sosial

Metode dan Analisis

Jenis penelitian yang akan digunakan pada penulisan artikel ini adalah kualitatif deksriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai Perubahan Tatanan Sosial di daerah Pengasinan, Sawangan, Kota Depok Akibat Pandemik Virus Corona. Objek penelitian berupa beberapa buku, artikel, jurnal, serta laporan penelitian yang sudah ada yang berkenaan dengan tema penelitian untuk menggali informasi sebagai panduan pelaksanaan penelitian dimana time horizon, atau dimensi waktu yang digunakan adalah Cross Sectional  yang berarti penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu satu kali dan mencerminkan potret dari suatu keadaan pada satu saat tertentu.

Lokasi penelitian terletak di daerah Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat. Alasan memilih tempat tersebut dikarenakan Kota Depok menjadi kasus pertama yang terjadi di Indonesia yang menimpa dua warga Depok, yakni seorang Ibu (64 tahun) dan puterinya (31 tahun). Di sini yang menjadi subjek penelitian adalah masyarakat Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, terutama warga yang  bertugas melakukan penjagaan di posko-posko setiap wilayah baik lingkup RT atau pun perumahan.

Selain itu ada anak sekolah yang diliburkan akibat pandemik virus Corona, pedagang, dan juga pekerja yang di rumahkan oleh pihak perusahaan. Alasan memilih mereka sebagai subjek penelitian yaitu dikarenakan informan lebih mengetahui tentang informasi mengenai pandemik virus COVID-19 dengan rinci.

Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara atau observasi secara langsung terhadap objek, situasi, konteks, dan maknanya dalam upaya mengumpulkan data dalam penelitian, dengan menanyakan perihal yang terkait dengan pandemi virus Corona terutama sisi psikologis dan sosiologis. Selain itu, penelitian juga dilakukan secara tidak langsung melalui media elektronik seperti yang telah penulis sebutkan mengenai objek penelitian.

Dan terakhir cara menganalisis data dilakukan dengan menyusun hasil survei di lapangan dari catatan lapangan ke rangkaian penyusunan laporan. Alasan memilih menggunakan kualitatif, karena cara ini lebih relevan dibandingkan kuantitatif.

Tabel Desain Penelitian:

Keterangan:

  • T1: Mengetahui dan menganalisis bagaimana perubahan tatanan sosial yang terjadi di Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat akibat pandemik virus Corona yang berdampak pada kecemasan (enxiety) ketakutan (fear) maupun berpengaruh pada disorganisasi dan disfungsi sosial masyarakat.
  • T2 : Mengetahui dan menganalisis mengenai bagaimana cara untuk dapat memupuk rasa saling menghargai, menolong, dan lain sebagainya dalam menghadapi pandemik COVID-19.

Hasil dan Pembahasan

Terkait munculnya kasus pertama positif Corona di kota Depok, Pemerintah Kota Depok akhirnya mengeluarkan surat edaran lockdown sebagai antisipasi dari penyebaran virus Corona yang dikeluarkan pada tanggal 14 Maret 2020 (Amelia, 2020). Saat itu mulai dari Kawasan perumahan, perkampungan, dan juga perkotaan memberlakukan lockdown secara mandiri. Kegiatan yang mengundang orang banyak ditiadakan sebagai antisipasi dari penyebaran COVID-19.

Tidak hanya acara perkumpulan organisasi, tetapi kegiatan seperti belajar-mengajar di sekolah pun diliburkan demikian juga sejumlah perguruan tinggi, majelis-majelis keagamaan ditiadakan, sholat berjamaah dilakukan di rumah, bahkan acara pernikahan hanya dihadiri kerabat terdekat saja, tidak hanya itu sektor industri sebagian menghentikan produksinya. Keadaan yang demikian membuat suatu perubahan dalam hal situasi sosial yang tak jarang menimbulkan disorganisasi dan disfungsi.

Pengertian perubahan sosial sendiri menurut Horton and Hunt merupakan perubahan struktur sosial dan hubungan masyarakat. Perubahan sosial yang tampak dicatat meliputi perubahan pada penyebaran umur, rata-rata tingkat pendidikan, atau angka-angka kelahiran dari jumlah penduduk, menolak keadaan yang tidak normal dan keramah tamahan pribadi Ketika orang-orang bergeser dari kampung ke kota (Sjafari dan Nugroho, 2011: 8). Perubahan sosial menyebabkan adanya perubahan dalam struktur sosialnya sendiri maupun hubungan masyarakatnya.

Sedangkan disorganisasi sosial merupakan gejala lepasnya keterikatan tatanan sosial yang pernah melembaga dari seorang individu (Ruswanto, 2020). Perubahan situasi sosial yang tidak menentu dan berlangsung sangat cepat menyebabkan disorganisasi pada masyarakat sehingga berdampak pada tatanan sosial di masyarakat seperti prasangka dan diskriminasi. Kesadaran masyarakat dalam merespons perubahan tidak berjalan mudah, pada kenyataannya mereka membutuhkan suatu adaptasi dari kondisi yang baru seperti pandemik COVID-19.

Sehingga sebagian masyarakat bisa saja sulit menerima keadaan demikian. Oleh karena itu, situasi dalam masyarakat justru menjadi mengarah kepada suasana yang tidak menentu atau tidak adanya kepastian yang dijadikan acuan untuk hidup bersama. Keadaan seperi inilah yang menyebabkan disorganisasi terjadi.

Selain disorganisasi, terjadi disfungsi sosial yang membuat seseorang atau suatu kelompok masyarakat tertentu tidak mampu menjalankan fungsi sosial sesuai dengan status sosialnya. Wabah virus Corona kini menjadi realitas sosial yang harus dihadapi masyarakat di seluruh dunia baik itu di negara berkembang maupun di negara maju, baik masyarakat yang hidup di perkotaan maupun di pedesaan.

Kekhawatiran dan ketakutan terhadap virus Corona memberi pengaruh terhadap sikap masing-masing individu. Ancaman bahayanya virus Corona terlebih cepatnya pergerakan COVID-19 ini menyebar, bukan hanya merenggut kesehatan seseorang tetapi bisa juga merenggut rasa sosial kita terhadap sesama.

Ketidakmampuan dalam mengelola rasa curiga, takut, sikap over-protektif dalam merespons isu Corona ini memiliki potensi untuk merusak hubungan sosial dengan individu lainnya.

Saya akan mencoba memaparkan mengenai contoh disorganisasi sosial, yaitu contohnya para pedagang keliling merasakan dampak dari adanya disorganisasi yaitu tidak adanya pemasukan dalam berjualan dikarenakan tidak adanya akses untuk memasuki kawasan yang menerapkan lockdown. Semua orang asing yang memasuki kawasan tersebut dilarang memasukinya tak terkecuali pedagang keliling yang biasanya mereka berjualan melewati area tersebut untuk mencari konsumen.

Sikap saling mencurigai terhadap sesama membuat masyarakat enggan melakukan kontak dengan orang asing terlebih lagi bagi mereka yang sering melakukan kegiatan di luar seperti pedagang, pengantar paket, ojek, dan lain-lain. Walaupun, setiap posko menyediakan tempat pencuci tangan dan alat untuk menyemprotkan cairan desinfektan baik pada kendaraan maupun barang paket yang dibawa.

Tentu hal ini sangat dirasa tidak nyaman terlebih lagi para pengantar paket yang dalam sehari bisa berpuluh-puluh kali mengantarkan paket ke alamat yang berbeda. Namun, beda halnya dengan pedagang keliling mereka akan berisiko dagangan mereka turut terkena cairan desinfektan terlebih jika jajanan basah seperti kue, gorengan, sayuran, dan lain-lain.

Maka, sangat repot sekali jika memasuki kawasan yang menerapkan lockdown. Respon terkait virus Corona di masyarakat pun beragam sebagaimana contoh berikut ini sebagian masyarakat menolak pemakaman jenazah pasien Covid-19 di TPU Bedahan, Sawangan, Depok, Jawa Barat pada tanggal 30 Maret 2020. Warga setempat mengaku cemas pemakaman jenazah pasien Covid-19 bakal menularkan virus Corona ke wilayah tempat tinggal mereka. Warga juga mengaku keberatan karena jasad yang dikebumikan bukan warga setempat (Iswinarmo,2020).

Penolakan-penolakan juga terjadi di daerah lain di Indonesia hal ini dikarenakan kurangnya koordinasi maupun sosialisasi tentang bagaimana penyebaran virus Corona maupun sosialisasi pada warga di sekitar pemakaman yang ditunjuk sebagai lokasi pemulasaran jenazah pasien Covid-19. Walaupun akhirnya dinas terkait sudah melakukan sosialisasi dan masyarakat sudah mulai mengerti dan menerima terkait kebijakan pemerintah Indonesia

Disfungsi sosial membuat individu justru megalami gangguan pada kesehatannya. Dalam perspektif sosiologi kesehatan, kondisi sehat jika secara fisik, mental, spiritual maupun sosial dapat membuat individu menjalankan fungsi sosialnya. Jika kondisi ini terganggu-dalam kasus ini terganggu sosialnya. Tentu ini dinyatakan sakit.

Talcott Parsons (1951) dalam bukunya “The Social System” menjelaskan bahwa ia tidak setuju dengan dominasi model kesehatan medis dalam menentukan dan mendiagnosa individu itu sakit. Bagi Parsons, sakit bukan hanya kondisi biologis semata, tetapi juga peran sosial yang tidak berfungsi dengan baik. Parsons melihat sakit sebagai bentuk perilaku menyimpang dalam masyarakat.

Alasannya karena orang yang sakit tidak dapat memenuhi peran sosialnya secara normal dan karenanya menyimpang dari norma merupakan suatu yang konsensual (Hasbi, 2020). Bagaimana pun menurut Parsons seseorang yang sakit dalam artian bukan soal fisik tetapi dalam hal psikis akan mengakibatkan terganggunya fungsi sosial dimana hak dan kewajiban sosial seseorang terganggu dan berakibat terjadinya disfungsi sosial.

Parsons sebagai seorang sosiolog memandang masalah kesehatan dari sudut pandang kesinambungan sistem sosial. Dari susut pandang ini tingkat kesehatan terlalu rendah atau tingkat penyakit terlalu tinggi pada anggota masyarakat merupakan suatu hal yang mengganggu berfungsinya sistem sosial karena gangguan kesehatan menghalangi kemampuan anggota masyarakat untuk dapat melaksanakan peran sosialnya (Rosmalian dan Sriani, 2020: 29).

Seperti contoh salah seorang anggota dalam suatu keluarga terinfeksi penyakit virus Corona maka anggota lain seperti ayah, ibu, atau anak akan mengurangi kemampuannya untuk dapat melaksanakan tugas sehari-hari sehingga berfungsinya seluruh keluarga pun akan mengalami gangguan.

Selain mengganggu berfungsinya manusia sebagai suatu sistem biologis, penyakit pun mengganggu penyesuaian pribadi dan sosial seseorang. Sebagaimana kita tentu dapat membayangkan atau bahkan mungkin pernah merasakan sendiri berbagai jenis perasaan, seperti rasa kesal, malu, rendah diri, menurunnya harga diri ataupun stigma yang menyertai suatu penyakit. Hal inilah yang mengakibatkan disfungsi sosial.

Perubahan sosial yang demikian, perlulah kita seimbangkan dengan suatu perubahan ke arah yang lebih positif sehingga ketimpangan dalam hal sosial bisa diatasi perlahan demi perlahan. Sebagaimana di masa pandemik COVID-19 ini kita bisa menyalurkan donasi melalui program-program penggalangan dana di situs-situs resmi yang diketahui kebenarannya, selain itu bisa juga melalui non-materi seperti memberi ungkapan dorongan semangat yang bisa kita kirimkan lewat media sosial ke orang yang kita cintai seperti keluarga, kerabat, tetangga, sahabat, maupun orang lain yang bekerja sebagai tenaga medis yang menangani pasien positif COVID-19, bersikap waspada tanpa perlu mencurigai orang lain. Apalagi mengasingkan diri bagaimana pun kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan tetap menjaga batas jarak aman dan memperhatika prokol-protokol kesehatan.

Selama masa penerapan lockdown atau pun social distancing kita bisa menikmati waktu dengan keluarga walau hanya sekedar berbincang santai. Sehingga disfungsi atau ketegangan sosial atau penyimpangan sosial pada akhirnya akan teratasi dengan sendirinya melalui penyesuaian tahap demi tahap. Dalam hal ini keburfungsian sosial kembali seperti sedia kala.

Keberfungsian Sosial adalah suatu keadaan dimana individu, keluarga, kelompok, komunitas, organisasi, dan masyarakat dapat melakukan aktivitas hidupnya dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, mampu melaksanakan tugas dan peranan sosial dalam kehidupannya, dan mampu mengatasi masalah sosial. Pencegahan Disfungsi Sosial adalah upaya untuk mencegah keterbatasan individu, keluarga, kelompok, komunitas, organisasi, dan masyarakat dalam menjalankan keberfungsian sosialnya (Dewan Perwakilan Rakyat, 2020).

Kesimpulan

Virus Corona atau COVID-19, merupakan suatu kasus yang dimulai dengan pneumonia atau biasa juga disebut dengan radang paru-paru. Tragedi pada Desember 2019 di kota Wuhan, China terus berlanjut hingga penyebaran virus Corona mewabah ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Keadaan yang demikian membuat suatu perubahan dalam hal situasi sosial yang tak jarang menimbulkan disorganisasi dan disfungsi.

Virus Corona merupakan suatu wabah yang perlu kita waspadai, namun jangan sampai meninggalkan unsur-unsur sosial. Karena bagaimana pun manusia adalah makhluk yang memerlukan hubungan interaksi dengan sesama. Kegiatan positif seperti penggalangan dana untuk membantu mereka yang kesulitan dalam hal ekonomi masih bisa dilakukan dengan ikut menyumbangkan donasi ke lembaga yang dipercaya.

Selain itu, kita bisa juga turut menyemangati tenaga medis yang bekerja di luar sana dalam menangani pasien COVID-19 atau pun tugas dalam hal pengobatan lainnya bisa dilakukan dengan memberi support lewat media sosial atau pun memberi ucapan semangat ketika ada tetangga atau saudara yang bertugas dalam menangani polemik COVID-19 ini. Membangun lingkungan yang bersih serta pola makan yang sehat dan menjaga kebersihan dan berolahraga bisa dilakukan di rumah dalam ikut serta menjaga kesehatan tubuh dan menghentikan penyebaran virus Corona. Sehingga disorganisasi dan disfungsi bisa diatasi secara perlahan.

 

Daftar Referensi

Amelia, Vini Rizki. 2020. “Pemerintah Kota Depok Keluarkan Surat Edaran Lockdown Aantisipasi Penyebaran Virus Corona”. Diakses dari https://wartakota.tribunnews.com, pada tanggal 18 Mei.

Dewan Perwakilan Rakyat. 2017. “Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor Tahun Tentang Pekerja Sosial”. Diakses dari https://www.dpr.go.id, pada tanggal 20 Mei.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. 2020. “Indonesia”. Diakses dari https://covid.go.id, pada tanggal 18 Mei.

Hasbi, 2020. “Wabah Virus COVID-19 dan Perilaku Sosial Masyarakat”. Diakses dari https://kolom.tempo, pada tanggal 18 Mei.

Iswinarmo, Chandra. 2020. “TPU Bedahan Depok Jadi Pemakaman Jasad Pasien Corona, Warga Kami Resah”. Diakses dari https://jabar.suara.com, pada tanggal 18 Mei.

Kementerian Kesehatan. 2020. “Tentang Novel Corona Virus”. Diakses dari https://www.kemkes.go.id, pada tanggal 20 Mei.

Rosmalian, Dewi dan Yustiana Sriani. Sosiologi Kesehatan. 2017. Jakarta:Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan.

Ruswanto, Wawan. 2020. “Pengertian Perubahan dan Disorganisasi Sosial”. Diakses dari https://repository.ut.ac.id, pada tanggal 20 Mei.

Sjafari, Agus dan Kandung Sapto Nugroho. 2020. “Perubahan Sosial”. Diakses dari www.pusdikmin.com, pada tanggal 1 Juni 2020.

 

Dokumentasi

Papan sumbangan berisi sembako maupun sayuran bagi warga yang membutuhkan.

Penyediaan pencuci tangan setiap gang atau blok.

Baner pemberitahuan lockdown setiap gang atau blok.

Pemberitahuan lockdown masal di kawasan Pengasinan

 

Baca Juga:

Organizational Citizenship Behavior (OCB), Cara Sistem Kapitalisme Mengeksploitasi Kemanusiaan Pekerja

Menggugat Paradigma Islam Universal, Refleksi Singkat “Islam Pasca-Kolonial” Ahmad Baso

Kepemimpinan Efektif dalam Sistem Presidensial