Perkembangan Media, Net Generation dan Alienasi

(Ilustrasi Net Generation/Sumber Gambar: Kabar Polisi)

Secara sosiologis, perkembangan bentuk media komunikasi senantiasa sebanding lurus dengan tingkat kecanggihan masyarakat. Mulai dari dominasi komunikasi dalam bentuk lisan pada masyarakat tribal menjadi komunikasi tulis pada masyarakat scribel. Selanjutnya mengandalkan mesin pengganda informasi pada masyarakat mechanic yang merupakan cakupan dari tipologi masyarakat scribel.

Hingga era paling canggih dari masyarakat elektronik yang ditandai dengan kemudahan akses informasi melalui jejaring internet dalam genggaman tangan (Mashud, 2015:VIII-IX).

Alhasil, perubahan wujud pola komunikasi dari masa ke masa merupakan determinasi dari dinamika kemajuan sosial. Di sisi lain, penemuan teknologi informasi dan komunikasi juga berlaku timbal-balik bagi perubahan sosial. Tak pelak lagi, pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi melahirkan sebuah era yang disebut “Net Generation”.

Berbeda dengan era masyarakat yang akrab dengan media seperti televisi dan koran, Net Generation yang ditandai dengan kemudahan teknologi informasi akan semakin aktif mengelolah sebuah informasi.

Bila sebelumnya masyarakat hanya sekedar disuguhi informasi, entah melalui koran, televisi maupun radio, era Net Generation menjadikan masyarakat bukan hanya sekedar memberikan respon langsung terhadap sebuah informasi, melainkan keseluruhan lapisan masyarakat dapat menciptakan informasi-informasi sendiri. Taktisnya, fenomena berita hoax yang kini sedang ramai diperbincangkan merupakan konsekuensi logis dari era Net Generation atau masyarakat informasi (meminjam ungkapan Daniel Bell).

Disamping itu, era masyarakat informasi yang melanda net generation menjadikan intensitas komunikasi dan pertukaran informasi lebih penting daripada substansi atau materi komunikasi itu sendiri. Hal ini disebabkan karena para remaja yang keranjingan jejaring internet telah meleburkan diri dalam realitas semu dunia maya. Mereka tidak sadar telah tercabut dari akar realitas sosial secara nyata.

Aktualisasi dan eksistensi diri telah menjelma di dalam komunitas network society. Gejala asyik dalam kesendirian tapi tidak merasa kesepian yang dialami net generation inilah yang kemudian disebut alienasi (keterasingan) sosial.

Tulisan ini secara khusus menyoroti persoalan dilema alienasi yang menjadi dampak dari perkembangan masyarakat net generation. Sebelum jauh beranjak membahas terkait dampak alienasi bagi net generation, ada baiknya dikupas sedikit terlebih dahulu pengertian mendasar dari Net Generation.

Net Generation

Secara lebih spesifik, Rahma Sugihartati (2004:414) merujuk pada generasi yang lahir pada rentang tahun 1977-1997 sebagai net generation. Sebuah generasi yang tumbuh di tengah perkembangan dan kecanggian internet. Biasanya, kelompok remaja urban ini menghabiskan hari-harinya bersama handphone atau smartphone untuk berselancar di dunia maya dan aktif dalam media sosial apa pun.

Mengutip penelitian Alch, Rahma juga menjelaskan motivasi atau kebutuhan diri dari net generation. Salah satu yang menarik adalah motivasi diri untuk meluangkan sebagian besar waktunya bagi diri mereka sendiri dan memiliki keinginan mendalam untuk tidak terkekang.

Mental demikianlah yang mengindikasikan banyak pihak mewanti-wanti bahwa net generation secara berangsur-angsur tertanam karakter modernis liberal dan semuanya serba instan. Hal ini tentunya terbentuk tidak lepas dari kemudahan akses informasi dan transaksi jual beli online yang hanya cukup klik saja.

Dimensi lain yang tidak bisa dilepaskan dari net generation adalah motivasi dan kebutuhan untuk mencari hiburan. Entah itu untuk berinteraksi dengan siapa pun di dalam jejaring media sosial, melihat tokoh idola, mencari humor, info life style terbaru dan lain-lain.

Bahkan, dalam hal-hal tertentu, memasuki dunia jejaring internet bisa dianggap sebagai pengalihan diri dari tekanan realitas nyata. Dunia maya mampu menjadi teman dalam mengalihkan yang nyata menjadi virtual semu yang menghibur.

Ketika ciri utama dari Net Generation adalah menghabiskan waktu atas dasar berbagai motivasi dan kebutuhanya dengan HP maupun laptop yang tersambung dengan internet di segala tempat, maka bersamaan dengan itu pula net generation mengintegrasikan diri dalam bius teknologi media modern berupa internet.

Akhirnya, baik pikiran maupun perasaan hingga berujung pada tindakan net generation akan tercabut dari realitas dunia nyata dan tersisikan dari kedirian atau akan mangalami alienasi diri yang tidak bisa dihindari.

Alienasi

Para filsuf yang beraliran eksistensialis, sebut saja mulai Kierkegaard, pada dasarnya melakukan pemberontakan besar-besaran terhadap proses dehumanisasi manusia dalam proses kemajuan masyarakat industri. Inilah yang akhirnya mempertemukan gagasan Alkitab tentang alienasi, atau bahasa agama disebut dosa karena syirik, dengan lepasnya menusia dari esensi diri sendiri dan Tuhan (Fromm, 2004:61-62).

Merujuk pemikiran Marx dan Hegel, Fromm memperjelas bahwa konsep alienasi berkaitan dengan eksistensi dan esensi diri. Fakta tersebut merujuk pada upaya pemenuhan eksistensi diri manusia selalu bersamaan dengan hilangnya esensi diri atau teralienasi dari esensi.

Keterasingan diri terjadi karena tuntutan aktualisasi yang mengarahkan pada peleburan diri untuk tidak menjadi apa yang seharusnya menjadi, tapi menjadi apa yang dia dapat menjadi.

Mungkin penjelasan di atas cukup membingunkan dan berbelit-belit. Gamblangnya begini: selaras dengan fitrah kebutuhan manusia atas sebuah aktualisasi diri, maka muara dari aktualisasi diri seseorang tersebut lambat laun akan menghilangkan esensi dari diri.

Keterasingan dari esensi bisa merujuk pada alienasi dari keluarga, lingkungan, benda dan bahkan diri sendiri. Keterasingan membuat kita semakin jauh dari realitas-realitas manusia sebagai makhluk individu maupun sosial. Semuanya hanya mengarah dan tunduk pada kesadaran palsu. Sebuah kesadaran yang seakan-akan nampak nyata padahal hanya ilusi semata. Sebagaimana yang dialami net generation dewasa ini.

Ungkapan Karl Marx yang populer terkait hal di atas adalah, “bukan kesadaran seseorang yang menentukan keberadaannya, melainkan keberadaan sosial yang menentukan keberadannya”. Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, keberadaan sosial dari net generation sudah direpresentasikan oleh media internet.

Kesadaran tersebut akan menjadi ajang dari aktualisasi diri para net generation. Entah dalam bentuk interaksinya dalam media sosial maupun informasi-informasi yang memenuhi jagat media di internet. Dalam media sosial, seorang remaja misalnya akan merasa galau dan kesepihan kalau perangkat berbagai media sosialnya, entah FB, Line, BBM, WA, Instagram dan lain-lain, sepi dari chat atau komentar.

Hal ini menandakan kecenderungan aktualisasi diri dalam media online telah membentuk sebuah kultur dan kehidupan sosial sendiri. Bahkan, menggantikan fungsi dari kehidupan sosial yang nyata. Sedangkan dalam informasi, segala berita (tentu dibarengi iklan) yang tersaji akan membentuk pola pikir dan persepsi tersendiri bagi net generation.

Dalam taraf tertentu, segala tayangan iklan maupun konten berita yang bermuatan entertain misalnya akan membuat sebuah pendefinisian sosial. Cantik adalah berkulit putih, berwajah oval dan seterusnya. Hal ini tentu tidak terlepas dari campur tangan kapital yang mendanai sebuah tayangan diproduksi.

Kesepian tanpa chat maupun pendefinisian atas konsepsi realitas tertentu akan menjadikan net generation menjadi teralienasi dari esensi. Kesadaran-kesadaran seperti kebebasan, gaya hidup, serba instans dan seterusnya akan melemahkan net generation untuk bisa menemukan realitas dirinya secara nyata.

Net generation akan menemukan dirinya ketika mereka sudah memenuhi kriteria-kriteria yang sudah disediakan oleh media. Kehilangan sikap mawas diri dan instropeksi diri menjadikan net generation menyatu dalam media internet tanpa menyadari motif dari perilaku keseharian mereka.

Aktif dalam dunia maya dan media sosial memang menjadi motifasi dan kebutuhan tersendiri bagi net generation seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, namun motif tidak sadar untuk melakukan sesuatu karena kesadarannya telah terkonstruksi oleh media menjadi dilema yang sulit dihindari. Motif tidak sadar bisa dalam wujud cara berpenampilan, membeli HP keluaran terbaru dan seterusnya. Semuanya tanpa dipertanyakan motif yang menjadikan hal-hal tersebut menjadi kebutuhan atau sekedar keinginan.

Pengorganisasian kesadaran yang membuat net generation berperilaku tanpa motif yang disadari adalah penampakkan dari alienasi diri, hanya meluluh soal eksistensi dan menanggalkan esensi.

Penutup

Alienasi atau keterasingan diri akan terus melanda net generation selama mereka terintegrasi total secara pikiran dan jiwa dengan media internet. Aktualisasi di media internet yang menjadi penanda sosial hingga di kehidupan nyata akan menggerus esensi diri. Ini adalah potret kelam alienasi yang dialami net generation. Kesadaran diskursif untuk menemukan diri secara esensi (sebagai makhkuk individu dan sosial) adalah salah cara untuk melepas ketergantungan dari alienasi.

 

DAFTAR RUJUKAN

Fromm, Erich. 2004. Konsep Manusia Menurut Marx. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mashud, Mustain. 2015. Determinasi Informasi dalam Masyarakat Post Industri. Dalam Rio F. Rachman. Menyikapi Perang Informasi. Sidoarjo: Sarbikita Publishing.

Sugihartati, Rahma. 2013. Masyarakat Informasi dan Net Generation di Era Post Industrial. Dalam Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto (ed.). Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

 

Surabaya, Januari 2018

Penulis: Dian Dwi Jayanto

Baca Juga:

Komodifikasi Media dan Unconscious Motives Bagi Masyarakat

Buzzer Politik dan Monopoli Ruang Publik

Post-truth Adalah Omong Kosong yang Menaklukkan Dunia